Pagi itu setelah Mas Andre berangkat kerja, aku nekat pergi ke rumah sakit tempat aku biasa memeriksakan kesuburan seperti hari-hari sebelumnya. Tak ada yang berubah, aku datang membawa sebongkah harapan ke tempat yang aromanya sangat aku benci. Pernah suatu hari, saat sedang menunggu dokter kandungan datang, dan aku pusing akan bau obat-obatan dan alkohol, tiba-tiba saja aku melihat pasien korban kecelakaan datang. Saat itu juga, rasanya, seluruh isi perutku minta dimuntahkan.
Dulu aku masih menganggap rumah sakit adalah tempat yang menakutkan, tetapi berbeda dengan sekarang. Aku sudah mulai berdamai dengan keadaan, dan menganggap rumah sakit sebagai sarana untuk menggantungkan harapan.
Aku mengenakan celana kulot hitam dan blus longgar bermotif bunga. Aku tidak tahu kenapa, tetapi mengenakan baju bermotif bunga yang bermekaran itu seolah-olah dapat mewakilkan perasaanku, perasaan penuh harap bisa mendapatkan pemandangan yang menenangkan hati saat aku keluar rumah.
Aku tak pernah tenang berada di dalam rumah, terutama saat Mas Andre juga ada di sana. Hatiku selalu was-was jikalau menerima perlakuan yang tidak menyenangkan, apalagi Mas Andre selalu berhasil menemukan kesalahan dan kelemahan diriku.
Datang ke rumah sakit itu membuat ingatanku bergulir pada pertemuanku dengan seorang pria yang sampai sekarang, jika mengingatnya, membuat pipiku menghangat. Dengan senyum samar, aku memasuki lobi poliklinik kandungan.
Pertemuan dengan Haris seminggu lalu masih menyisakan sesuatu di dalam dada ini. Sesuatu yang meletup-letup, tetapi tak ingin aku muntahkan karena aku menikmatinya. Aku seperti terperangkap dalam rasa yang tak bisa aku jelaskan.
Aku berdoa, semoga hari itu aku tidak bertemu sama dia. Aku pasti akan gugup di hadapannya karena teringat akan pertemuan terakhir kami saat makan siang. Dia memperlakukan aku dengan begitu manus, dan aku tak memungkiri jika kenangan itu masih tersimpan rapi di dalam memoriku.
Setelah mendaftarkan diri dan mendapatkan nomor antrian, aku duduk di bangku panjang yang tersedia di depan ruangan praktek dokter kandungan. Itu adalah tempat menunggu favoritku, bangku besi yang menurutku cukup nyaman.
Aku hafal dengan setiap detail yang ada di sana. Poliklinik kandungan itu berada di sisi kiri rumah sakit. Di sepanjang selasar yang menuju ke sana, ada pot-pot besar berisi tanaman rindang. Kemudian di ujung yang lain, ada minimarket kecil yang menyediakan aneka kebutuhan.
Meskipun bukan hari Senin, cukup banyak pasien yang datang. Padahal aku sengaja memilih hari yang kusangka tidak terlalu sibuk, tetapi ternyata tetap saja ramai.
Rupanya, harapan untuk tidak bertemu dengan lelaki yang telah mencuri perhatianku itu sia-sia belaka. Aku melihat Haris datang, lalu tersenyum ke arahku.
Deg!
Jantung ini berdegub lebih kencang. Aku ingin membalas senyumannya, tetapi saat kulihat seorang perempuan ada di sebelahnya, senyumku luruh seketika. Perempuan itu menatap tajam kepadaku seolah-olah sedang memberi peringatan.
'Jangan di sini! Jangan duduk di sebelahku,' do'aku dalam hati, mencoba menghalau Haris dengan kekuatan pikiran supaya tidak duduk bersebelahan denganku meski kursi lainnya memang sudah mulai dipadati oleh pasien.
Aku khawatir kalau Haris merasa tidak nyaman saat duduk berdekatan denganku. Jadi sebaiknya, dia harus mencari tempat yang jauh dariku.
Aku menahan napas karena laki-laki itu ternyata benar-benar memilih untuk duduk di dekatku. Haris duduk di sebelah kiriku, sementara istrinya duduk di sebelah kirinya. Secara tak sengaja, aku dan istrinya seperti sedang mengapit Haris. Perlahan-lahan, aku mengembuskan napas, sangat halus, khawatir Haris bisa mendengarnya.
Aku masih berusaha menenangkan debaran di hatiku yang lebih mirip deburan ombak, sangat kencang, dan nyaris tak bisa aku kendalikan. Sejenak kami tadi saling bertatapan, saat dia baru membuka pintu poliklinik. Aku melihat kehangatan dalam tatapan mata Haris.
Ya, Tuhan, mungkin aku sudah gila, tetapi tatapan itu sangat menenangkan. Tatapan teduh Haris seolah-olah menawarkan kesejukan. Namun saat berada di sampingnya, kenapa aku justru kegerahan?
Aku menundukkan kepala, berharap Haris tak mengenaliku, tetapi sepertinya harapanku sia-sia. Aku masih bingung, kenapa dia justru memilih duduk persis di sebelahku?
Istri Haris menoleh ke arahku, kami saling berpandangan untuk sesaat. Sepertinya perempuan itu mengenaliku, mungkin dia sedang mencoba mengingat-ingat siapa aku. Aku yakin sebenarnya dia ingat. Tetapi dengan cepat, perempuan itu memalingkan wajahnya seolah-olah tak mengenali aku, bahkan sekadar menyapaku pun, sepertinya dia tidak berminat.
"Semoga antriannya tidak terlalu lama karena banyak sekali pekerjaanku di kantor hari ini."
Aku mendengar kata-kata istrinya Haris.
"Sabar dulu, nanti juga dokternya datang," ujar Haris.
"Aku heran, loh, Sayang. Kenapa, sih, pelayanan rumah sakit di Indonesia itu tidak bisa on time? Katanya praktek jam sembilan, tapi dokternya datang jam sepuluh, malah kadang jam sebelas. Rasanya sia-sia, buang-buang waktu saja di sini! Padahal kalau di kantor, aku bisa melakukan banyak hal," omel istri Haris.
"Iya, tapi kalau kamu banyak mengeluh juga tidak akan mengubah apa-apa. Jadi sebaiknya bersabar saja," ucap Haris menenangkan istrinya itu.
"Sayang, aku hari ini harus memenangkan tender untuk pelepasan tanah yang mau dibangun proyek jalan tol. Kalau aku terjebak di sini terus-menerus, bisa-bisa aku tidak sampai tepat waktu," keluh perempuan itu lagi.
"Tunggu dulu, sebentar lagi juga dokternya datang. Kamu 'kan, bisa suruh asistenmu untuk datang duluan? Buat apa kamu menggaji mereka mahal-mahal kalau semuanya harus kamu sendiri yang turun tangan?"
"Beda, dong, sayang, kalau notaris yang datang langsung dibandingkan dengan asistennya saja yang datang. Pasti dari pihak lain juga notarisnya yang datang langsung. Asisten hanya ikut untuk membantu."
Jadi rupanya, profesi istrinya Haris adalah seorang notaris. Sungguh profesi mentereng dan idaman bagi semua orang. Apalagi perempuan bisa menjadi notaris, pasti butuh pendidikan yang tinggi. Pantas saja cara berbicaranya berkelas, pintar, juga cerdas.
Aku hanya menundukkan kepala. Tak sengaja pandanganku tertumbuk pada sepasang sepatu stiletto yang dipakai oleh istri Haris. Perlahan-lahan, aku menarik kakiku. Saat itu aku hanya memakai sandal rumahan, tak ada sepatu yang membungkus kakiku. Tas yang kupakai juga bukan tas mahal seperti yang sedang dipegang oleh istri Haris.
Aku cuma perempuan rumahan, istri yang tidak bisa bekerja, dan selalu menggantungkan hidup pada suami. Ditambah satu lagi kelemahanku, tidak bisa punya anak. Lalu apa yang bisa aku banggakan?
'Keysha, malang sekali nasibmu,' batinku mengasihani diri sendiri.
Tiba-tiba aku merasakan sentuhan pada jemari tanganku. Aku tersentak dan melihat apa itu? Aku membeliakkan mata karena mendapati jari Haris yang ternyata menyentuhku. Aku kira itu sebuah kesalahan, ketidaksengajaan, jadi dengan reflek aku hendak menarik tangan kiriku. Akan tetapi jemari itu menahanku dengan menautkan di antara jariku. Aku masih belum lepas dari keterkejutan karena diam-diam pautan itu berubah menjadi sebuah genggaman.
Ya, Tuhan, apa yang dilakukan Haris? Bagaimana kalau istrinya tahu? Degub jantungku semakin tak beraturan, dan napas ini seperti tersumbat di dada, sesak yang teramat sangat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Aze_reen"
bangkit dan berusaha mandiri donk, buka usaha key.. bukan meratap dan mengasihi diri gtu...
2023-03-30
1
Vera TV
berasa selingan itu indah.. tapi di depan.. berikutnya dosa euy .... cerai dulu lah.. main sergap jari istri orang... hahahaha....
2023-03-21
2