Apa yang dilakukan Haris ini benar-benar berbahaya. Pasti dia tidak sengaja melakukannya ketika jemari kami bersentuhan, tetapi saat jari-jarinya mulai menyelip di antara jari-jariku, itu bukan lagi sebuah ketidaksengajaan.
Aku melirik Haris, tetapi pria itu tidak bereaksi apa-apa. Dia tetap memandang lurus ke depan, tanpa menoleh ke arahku. Bodohnya, aku berharap dia menoleh, meski itu akan jadi satu hal yang pasti memantik tanda tanya di benak istrinya.
"Nyonya Diana Teresa, silakan masuk!" Suara perawat yang berjaga di depan poliklinik kandungan terdengar nyaring di telinga.
Istri Haris bangkit dari duduknya, diikuti oleh suaminya. "Ayo, Sayang, kita sudah dipanggil! Hari makin siang, aku bisa ketinggalan meeting kalau begini." Terdengar suara istri Haris yang tampak buru-buru menarik tangan suaminya.
"Iya, iya, sabar sebentar," jawab Haris sambil menyambar tas yang masih tertinggal di kursi sebelahku.
Ternyata namanya Diana Teresa. Sepertinya nama itu tidak asing. Notaris Diana Teresa, iya, nama itu pernah aku dengar sebelumnya. Entah kubaca di sosial media, atau saat aku berkumpul dengan kawan-kawanku dan mereka membicarakannya, aku lupa. Yang jelas, Notaris Diana Teresa tetap menyadarkan posisiku yang bukan siapa-siapa.
Haris sangat beruntung memiliki istri seperti Diana Teresa, perempuan cantik, badannya bagus, punya pekerjaan yang mentereng. Siapa pun lelaki yang bertemu dengan Diana Teresa, pasti akan mengatakan perempuan itu cantik luar biasa. Perpaduan kecantikan dan kecerdasan memang ada dalam diri Diana Teresa.
Seketika aku merasa menjadi orang bodoh yang sempat berangan-angan sangat tinggi memiliki suami seperti Haris. Benar-benar memalukan! Lagi-lagi aku menatap sandal yang aku pakai, mengingatkan bahwa aku ini cuma seorang ibu rumah tangga yang setiap hari menjadi landasan kemarahan sang suami karena dianggap perempuan yang tidak becus apa-apa, bahkan 'hanya' sekadar punya anak pun tidak bisa.
Aku tersenyum kecut karena merasa diri ini benar-benar kerdil.
'Keysha, Keysha ... kamu benar-benar tidak tahu diri, ya, mau menyandingkan dirimu dengan seorang notaris ternama? Bahkan sampai kamu mati pun, tidak akan bisa menandingi pesona Diana Teresa itu.' Aku hanya tersenyum sambil membatin, menertawakan diriku sendiri yang tak tahu diri.
Haris bangkit, mengikuti langkah istrinya menuju ke ruang dokter. Laki-laki itu tak menoleh kepadaku sedikit pun. Lagi-lagi aku merutuki diri. Untuk apa dia harus menoleh kepadaku, sedangkan kami sedang berpura-pura tidak mengenal satu sama lain?
Aku hanya bisa melihat dua sosok mereka yang sedang menjauh. Ketika menyadari ada sesuatu yang terselip di jemariku, aku segera melihatnya. Ternyata Haris menyelipkan secarik kertas di tanganku. Buru-buru aku buka kertas itu yang ternyata berisi nomor ponsel milik Haris.
Irama jantungku sudah tak beraturan sejak tadi, lalu ketika Haris menyelipkan kertas berisi nomor ponselnya, dadaku seperti dipukul palu godam. Aku tak yakin bisa berkonsentrasi pada proses pemeriksaan hari itu. Jadi aku memutuskan untuk pulang tanpa menunggu giliranku tiba.
Di sepanjang perjalanan aku terus menatap secarik kertas itu. Untuk apa Haris memberikan nomor ponselnya? Aku benar-benar tak mengerti, dan semakin membuatku penasaran. Setelah tiba di rumah, aku segera menyibukkan diri, menyiapkan bahan-bahan untuk memasak, tetapi sialnya, saat aku sedang memasak, ingatanku kembali tertuju kepada nomor ponsel yang diberikan Haris.
Muncul satu keinginan untuk menelepon Haris. 'Ah, ini benar-benar gila! Aku tidak akan melakukannya,' batinku.
Lagi pula, untuk apa aku menelepon dia? Berbasa-basi menanyakan kabar? Bukankah kami baru saja bertemu? Atau aku harus menyindirnya karena dia sudah pura-pura tidak mengenalku? Bukan! Karena memang seharusnya begitu, supaya istrinya tidak curiga.
Masakanku sudah matang, tapi aku tidak tahu apakah rasanya seenak biasanya karena pikiranku sedang mengembara ke mana-mana, lebih tepatnya kepada satu nama, Haris. Haris pasti punya tujuan sendiri memberikan nomor ponselnya.
'Okelah! Kalau Haris memberiku nomor ponselnya, sebaiknya aku simpan saja di ponsel supaya tidak hilang. Aku rasa, untuk sementara hanya itu yang bisa aku lakukan.'
Belum sempat aku mengetikkan nomor ponsel Haris, tiba-tiba Mas Andre datang. Aku segera meletakkan ponsel, lalu menyambut kedatangan suamiku itu.
Mas Andre menghampiri meja makan, inilah saat di mana kami harus berinteraksi. Entah mood apa yang ia bawa ke rumah hari ini, tetapi apa pun itu aku sudah siap, seperti biasanya.
Mas Andre menyendok nasi dan oseng tauge tahu telur yang aku siapkan untuknya. Ada juga ikan mujair goreng, beserta sambal jeruk limau, menu sederhana kami malam itu.
Mas Andre terlihat lahap menikmati masakanku. Jika sedang dalam mode kalem, Mas Andre menyenangkan sebagai suami. Dia tidak pernah rewel dengan masakan apa pun yang aku suguhkan.
Perhatianku sekarang teralih kepada nomor ponsel Haris yang belum sempat aku simpan. Aku memberanikan diri untuk mengetik satu per satu nomor yang tertera di kertas itu.
"Gimana hasil pemeriksaan hari ini?"
Suara Mas Andre mengagetkanku sehingga tanpa sengaja aku justru menekan tombol panggil pada nomor Haris yang sudah aku ketikkan di ponsel, tetapi belum sempat aku simpan.
Tut ....
Aku sudah tak sengaja melakukan panggilan keluar, dan Haris menerimanya! Apa yang harus aku lakukan sementara di depanku Mas Andre sedang mengawasiku bak elang yang sedang menatap mangsanya? Jantungku berdegub kencang.
Kalau Mas Andre tahu aku melakukan panggilan telepon ke laki-laki lain, tamatlah sudah riwayatku. Akan tetapi, entah dorongan apa yang membuatku bangkit dari tempat duduk, lalu berniat untuk berbicara kepada Haris.
"Mas, sebentar, ya? Aku terima telepon Ayu dulu," ucapku berbohong saat Mas Andre menatapku seolah-olah meminta penjelasan karena aku sibuk dengan ponselku dan mengabaikan pertanyaannya.
Aku tak sempat memikirkan reaksi Mas Andre. Aku buru-buru pergi sambil membawa ponsel.
Langkah kakiku terasa ringan saat berjalan menuju teras karena tidak mau obrolan ini didengar oleh Mas Andre.
Baru kali ini aku bertindak sangat berani. Meski sudah tahu resikonya Mas Andre akan marah jika tahu aku menelepon laki-laki lain, tetapi aku tetap nekat. Setelah ini rasanya aku harus segera menyiapkan diri karena bisa habis aku dimakinya.
[Halo? Ini dari siapa?] Terdengar suara maskulin Haris, suara yang meskipun baru mengucapkan sedikit kata, tetapi sudah mampu memporak-porandakan hatiku.
Aku benar-benar gugup dan tak tahu harus bagaimana menghadapi situasi yang tidak aku sangka-sangka ini. Bagaimana tanganku bisa salah memencet tombol panggil, padahal seharusnya simpan?
[Halo?] Suara itu terdengar lagi.
"Eh, iya, maaf. Haris, ini aku, Keysha," jawabku tersendat-sendat sambil menahan agar suaraku tidak terdengar hingga ke meja makan.
[Keisya, kau kah itu? Aku sampai tidak percaya akhirnya kamu menelponku. Terima kasih, aku sangat senang mendengar suaramu.] Ucap Haris lagi.
Sesenang itukah mendapatkan telpon dariku? Sebenarnya aku ingin menjelaskan kesalahpahaman ini, bahwa barusan aku tidak sengaja memencet nomornya. Tetapi bukankah itu akan semakin mengukuhkan kalau aku memang berniat untuk menelepon dan hanya mencari-cari alasan karena malu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
list_tyo
ciee Keysha, yang teleponan sama Haris 🤭
2023-04-16
0
Vera TV
wah wah wah... rumput tetangga ga bagus.. jangan diintip... hahaha... dilihat langsung aja.. hahaha... gas keun kak ismi.... semangat
2023-03-21
1