(Pov Andre)
Keysha menerima telepon saat kami sedang makan malam. Sikapnya cukup aneh karena dia langsung terburu-buru menerima panggilan dari Ayu. Yang lebih mengherankan, kenapa dia harus menerima panggilan itu di teras, bukan di meja makan? Padahal aku tetap bisa mendengarkan obrolannya.
Memang hal itu tidak sering ia lakukan, jadi tidak terlalu menarik perhatianku juga. Keisya tidak akan ke mana-mana, jadi apa yang harus aku khawatirkan?
Hidupnya selama ini hanya di rumah dan tempat terjauh yang bisa ia jangkau adalah rumah sakit. Selama ini dia tidak punya daya kekuatan apa pun untuk melawan kekuasaanku. Istri lemah dan tidak bisa punya anak, bagaimana bisa melawan suami yang sudah menafkahinya dengan bekerja dari pagi pulang malam? Keyshaku akan baik-baik saja di rumah.
Sore ini aku baru saja pulang. Keysha seperti biasa, menyambutku dengan senyumnya yang manis. Kata orang, istriku mempunyai senyuman yang menawan, padahal menurutku dia biasa-biasa saja. Masih banyak teman-temanku di kantor yang punya wajah lebih cantik dan mereka juga pandai berdandan, hingga membuat siapa pun yang melihatnya menjadi tertarik.
Dengan mengenakan daster midi selutut, Keysha mengambil tas kerja dan meletakkannya di atas meja.
“Hari ini aku masak gurami bakar kesukaan Mas Andre. Ada juga sambal kecap. Mau makan sekarang?” tanya Keysha, saat melihatku keluar dari kamar mandi lalu melempar handuk sembarangan di atas seprai kamar.
Tanpa berkata apa-apa, Keysha mengambil handuk basah yang aku lemparkan itu, lalu segera menjemurnya di depan kamar mandi.
Dulu, Keysha berkali-kali mengingatkan aku untuk menjemur handuk yang habis aku pakai di depan kamar mandi. Sudah tersedia jemuran khusus handuk di sana. Tapi kalau aku harus melakukannya sendiri, apa fungsinya dia sebagai istri?
Tanpa menjawab, aku segera melangkah ke meja makan, yang mengeluarkan aroma ikan bakar yang sangat menggugah selera. Keisya memang pandai memasak, aku harus mengakui itu. Anggaran belanja bulanan kami tidak pernah membengkak karena Keisya sangat pintar mengelola, bahkan dari uang bulanan tidak seberapa yang aku berikan kepadanya.
Aku juga tidak pandai berhitung, tetapi dia masih bisa pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan diri secara rutin. Padahal menurutku, itu hanya buang-buang uang saja.
“Kamu masih tetap datang ke rumah sakit dan menemui dokter bodoh itu?” tanyaku ketus.
Biasanya Keysha dengan takut-takut akan memandangku sambil menundukkan kepalanya.
Kali ini dia hanya mengangguk tanpa menoleh ke arahku, bahkan tanpa berkata apa-apa.
“Berapa kali lagi aku harus bilang, tidak usah datang ke dokter itu lagi, cuma buang-buang uang. Sudah berani membantah ya?!”
Aku memang selalu mengatakan hal itu untuk memberitahu Keysha, bahwa zaman sekarang tidak mudah mencari uang. Kita harus pandai berhemat, apalagi kalau hanya untuk diberikan kepada dokter kandungan yang sejak pertama kali dia datang hingga sekarang, tidak pernah menunjukkan hasil yang berarti.
“Iya, Mas. Maaf.”
Hanya itu yang keluar dari mulut Keysha. Biasanya dia akan menjawab, tetapi kali ini sepertinya dia malas menanggapi omonganku, entah apa yang terjadi dengannya.
Setelah kami makan malam seperti biasa, Keisya juga langsung membereskan meja makan, mencuci piring, dan dilanjutkan membereskan dapur.
Beberapa kali aku mendapati Keysha duduk di sofa ruang tengah sambil asyik memegang ponselnya. Sesekali istriku itu tersenyum, lalu mengetikkan sesuatu di ponsel. Aku pikir dia sedang mengobrol dengan kawan-kawannya karena akhir-akhir ini Keisya cukup aktif berkomunikasi dengan kawan SMA-nya. Bahkan, beberapa minggu lalu dia juga sempat mengadakan reuni kecil-kecilan.
Karena penasaran aku mendekati Keysha.
“Kamu sedang chat sama siapa?” tanyaku.
Keisya kaget melihat kedatanganku.
“Ini, Mas. Aku lagi daftar untuk jadi guru les.”
“Jadi guru les? Yang benar saja! Kalau kamu harus memberikan les keluar, lalu bagaimana dengan rumah ini? Siapa yang akan mengurus?” tanyaku.
Memang aku akhir-akhir ini bilang kepada Keisya, bahwa dia harus bekerja. Setidaknya dia harus tahu seberapa sulitnya mencari pekerjaan di luar, jadi perempuan itu tidak akan seenaknya sendiri menghambur-hamburkan uang yang susah payah aku hasilkan dari pekerjaanku.
Namun, kalau sekarang dia bilang akan menjadi guru les, itu artinya dia akan lebih sering berada di luar rumah. Kenapa seolah-olah aku tidak rela kalau dia berada di luar rumah?
“Tenang saja, Mas. Rumah akan aku bereskan. Pokoknya kalau aku nanti diterima sebagai guru les, tidak akan ada pekerjaan rumah yang terbengkalai, kok. Aku akan tetap beres-beres juga masak seperti biasa. Aku juga akan tetap berada di rumah saat Mas Andre pulang.”
Belum sempat aku mendebat ucapannya itu, Keysha sudah masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu.
Ada-ada saja, bagaimana mungkin dia bisa mendapatkan pekerjaan sebagai guru les dalam waktu dekat? Siapa yang mau menerima dia sebagai guru les? Aku hanya mentertawakan Keysha sambil menenggak bir kaleng dingin yang aku ambil dari kulkas.
Pagi ini, aku datang ke kantor seperti biasa. Masih pagi, tetapi sudah banyak karyawan-karyawati yang berkumpul, berkerumun seperti sedang punya bahan gosip baru.
“Halo, selamat pagi semua.”
Aku menyapa mereka satu per satu dengan senyuman palsu. Memang harus begitu, kita harus menunjukkan kalau kita adalah orang yang paling bahagia di dunia, di depan para kawan kantor yang sudah terkenal dengan dunia fake-nya.
“Morning, Andre. Cerah sekali wajahnya. Tuh, Rendy. Seperti Andre, dong, suami yang baik dan penyayang sampai sekarang. Meskipun istrinya belum memberikan anak, Andre tidak pernah macam-macam, tuh,” ucap Rista salah satu biang gosip di kantor ini.
“Iya, ya. Sampai sekarang Andre belum punya momongan. Kasihan juga, ya, sama dia.”
Aku yang tidak sudi dikasihani oleh mereka, menjawab dengan lantang. “Kalian semua jangan begitu, aku memang belum ingin punya anak karena masih mau pacaran dengn Keysha,” jawabku.
“Ya, tapi kamu juga harus hati-hati. Kamu tahu tidak cerita Ratih, anak marketing yang selingkuh sama anak kantor sebelah? Itu juga karena suaminya tidak bisa memberikan dia anak, karena itu Ratih cari pelarian di luar. Aku bukan mau memanas-manasi, hanya khawatir aja. Takut kamu nanti ending-nya begitu, Ndre,” ucap Rendy.
Pria itu memang menyebalkan, selalu mengurusi urusan orang lain. Padahal dirinya sendiri juga belum beres.
“Beda Ratih beda juga Yosi. Kalau dia memang sudah terbukti mandul tidak bisa punya anak. Sudah pindah-pindah ke dokter kandungan juga, diagnosanya tetap sama, dia tidak bisa punya anak dan sekarang juga mau cerai dari suaminya,” sahut Siska.
Sebenarnya aku malas dengan obrolan pagi-pagi yang hanya membicarakan tentang orang lain. Lagi pula, mana mungkin Keysha selingkuh? Perempuan itu terlalu lemah. Bahkan untuk menentukan sikapnya sendiri saja, dia tidak bisa. Siapa juga yang mau dengan Keysha? Perempuan yang tidak bisa punya anak dan masih terus bergantung denganku.
Aku segera menghindari obrolan itu dan berjalan menuju ke meja kerjaku.
“Pokoknya, Ren, kamu mulai sekarang harus lebih peka. Kalau istrimu sudah mulai asyik dengan dunianya sendiri terus tidak peduli padamu, dikit-dikit dia pegang HP, kadang-kadang dia senyum-senyum sendiri, itu artinya istrimu sudah mulai ada tanda-tanda selingkuh. Nah, coba kamu pikirkan, selama ini sikap istrimu begitu tidak?” Suara Rista terdengar lagi. Perempuan itu memang paling jago kalau menjadi kompor untuk teman-temannya, dijamin apinya langsung panas hingga ke jantung.
“Jangan mengarang Rista! Menyerang istriku sejak tadi. Tidak mungkin Keysha selingkuh, dia itu cinta mati denganku. Kamu kalau datang ke rumahku pasti akan lihat, deh. Dia itu bucin banget, kalau aku belum pulang aja dia menunggu sampai tengah malam.”
“Yakin dia belum tidur sampai tengah malam itu karena menunggumu? Jangan-jangan dia sedang asyik chat dengan pria lain.”
Meskipun tidak sengaja menyindirku, tetapi ucapan Rista ini benar-benar membuat dadaku bergemuruh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments