“Anda benar-benar dewi penolongku,” ucap pria yang bernama Haris. Ia terus memuji hingga membuatku malu.
“Saya tidak melakukan apa pun, hanya mengembalikan kartu milik Anda.” Aku mengibaskan tangan, menepis pemikirannya yang berlebihan.
“Tidak, aku akan kesulitan tanpa kartu ini. Aku membutuhkannya untuk bisa memasuki ruang kerjaku,” jelasnya.
Aku mengangguk mengerti.
***
“Maaf, aku hanya bisa membalasnya dengan makan siang,” sesalnya.
“Tidak perlu repot-repot, kopi saja sudah cukup.”
“Aku tidak akan tenang jika hanya segelas kopi.” Seorang pelayan menghampiri dan memberikan daftar menu pada kami.
Haris memaksaku untuk makan siang bersama sebagai ucapan terima kasih. Aku sungguh merasa sungkan karena jasaku tidak terlalu besar. Lain halnya bila aku menolongnga dalam sebuah musibah mungkin, malah aku akan meminta lebih banyak. Tentu saja, itu hanya karanganku saja. Mana berani aku menagih seperti itu?
“Di sini terkenal dengan pizzanya, bagaimana? Mau?” tawarnya.
“Apa saja, aku bukan orang yang pemilih.”
“Sempurna,” ucapnya riang lalu memesan beberapa menu untuk kami pada pelayan.
Saat pelayan pergi, Haris kembali memberikan senyum menawan. Aku tidak terbiasa berbicara
dengan lawan jenis selain dengan Mas Andre, apalagi sikapnya sangat berbeda. Pria ini memperlakukan aku dengan sangat baik. Hingga membuatku canggung.
“Ngomong-ngomong, aku belum tahu nama Anda?”
Aku terperanjat dengan malu. “Maaf, nama saya Keysha!”
“Keysha!”
Aku mengangkat wajah karena ia langsung memanggilku.
“Namaku Haris, itu lebih enak di dengar.”
Aku menarik setiap bibirku yang hampir setiap hari mengatup rapat. Aku sudah lebih dulu tahu namanya. “Ya, itu lebih baik,” sahutku setuju.
***
Tidak lama pesanan kami sampai, berbagai hidangan menggugah selera tersaji. Haris pun memesan dua kudapan untuk pencuci mulut. Saat semua pesanan telah terkumpul, Haris mengajakku untuk segera menyantapnya.
Kami makan dengan khikmat, entah mengapa makan siang kali ini sangat berkesan. Selain
hindangannya yang lezat, mungkin karena aku ditemani orang semenyenangkan Haris. Aku sampai tidak sadar jika sudah menghabiskan 4 potong pizza seorang diri. Seperti bukan diriku yang selalu tidak berselera ketika waktu makan tiba.
“Ah, aku sangat kenyang.” Haris mengusap perutnya yang sedikit membuncit dan itu membuatku refleck terkekeh geli.
“Mau tambah lagi?” tanyanya.
Aku menggeleng pelan. “Tidak! Aku sudah menghabiskan hampir semua makanan. Maaf, pasti memalukan.”
“Justru aku yang malu, ternyata kita pernah di poli yang sama dan aku tidak menyadarinya,” ucap Haris.
“Tidak apa-apa,” ujarku memaklumi. “Haris selalu datang bersama istrinya, ya?”
Wajah Haris tiba-tiba berubah, binar di wajahnya sedikit meredup. “Hampir setiap konsultasi.”
Aku menepuk tangan. “Aku sangat iri dengan istrimu.”
Haris yang ingin menyesap kopi hanya mengedikkan bahu. “Tidak perlu? Itu adalah hal normal.”
Aku menggeleng dengan senyum tipis. “Aku selalu datang sendirian, karena itu aku sangat
senang melihat pasangan yang selalu datang bersama-sama ke poli. Karena aku tidak bisa seperti kalian.”
Hening sesaat hingga Haris berdehem. Ia membuka kembali pembicaraan.
“Berapa lama kamu ikut program kehamilan?”
"Tujuh tahun," jawabku cepat.
Haris tampak terkejut. “Tujuh tahun? Aku baru jalan empat tahun. Pasti sangat berat.”
“Yah, aku berusaha menjalani yang aku bisa. Berbagai treatment aku lakukan, tapi belum membuahkan hasil. Aku terus mencoba dan mencoba hingga tanpa sadar tujuh tahun sudah
berlalu. Kadang aku merasa depresi ketika melihat temanku sudah mempunyai momongan
melalui jejaring sosial.”
Haris meletakkan cangkir lalu merubah rautnya menjadi serius. “Aku mengerti bagaimana rasanya, aku juga pernah mengalaminya sampai menutup akunku agar tidak terpengaruhi dunia luar.”
Aku melebarkan mata setengah percaya. “Jadi, pria pun bisa merasakan hal seperti itu?”
“Tentu saja bisa! Aku sering iri dengan saudara atau temanku yang telah memiliki anak. Sampai
atasanku pernah berkata jika tidak mempunyai anak, kita tidak memiliki tujuan hidup dan itu membuatku kesal.”
Aku sampai menutup mulutku merespon perkataan Haris, ternyata ia pernah seprustasi itu. “Itu adalah pelecehan verbal.”
“Semua akan terjadi karena kami satu gender. Bahkan kadang lebih menyakitkan," ucapnya dengan tawa renyah.
Kami menghabiskan waktu cukup lama dengan membicarakan banyak hal, hingga tanpa sadar hari telah menjelang sore. Aku sampai tersentak melihat jam di ponselku lalu memperhatikan sekitar. Langit telah mulai menampakkan kemerahan.
"Ya ampun, bagaimana ini? Haris tidak kembali ke kantor? Ini sudah waktunya pulang," seruku panik.
"Tidak masalah, kebetulan sehabis istirahat tadi aku tidak ada pekerjaan lagi."
Aku menghela napas lega mendengar hal itu. Kami pun keluar dari restaurant. Haris mengantarku sampai ke stasiun.
"Terima kasih untuk traktirannya. Sungguh sangat menyenangkan, aku sudah lama tidak merasa sebebas ini."
Haris tersenyum sambil menatapku. "Aku yang seharusnya berterima kasih." Ia mengusap tengkuknya. "Aku tidak memiliki banyak orang yang bisa aku ajak berbicara masalah ini, aku senang kita di dalam situasi yang sama."
Aku mengangguk lalu menunduk. Barusan terlintas wajah Mas Andre yang selalu memasang ekspresi datar. Berbanding terbalik dengan Haris yang sejak tadi memberikan senyum penuh ketenangan. Seolah menyalurkan energi kehidupan dan, itu membuatku senang serta sedih di waktu bersamaan.
"Ini memang benar-benar sangat menyenangkan," ucapku lirih. "Apa yang harus aku lakukan? Ini
terlalu menyenangkan."
Aku tidak bisa mengendalikan diri karena bulir air mataku menetes tanpa permisi. Emosi jiwaku memuncak tidak terbendung yang malah membuat hatiku amat pedih. Sayup-sayup aku mendengar Haris yang memanggil namaku, ada kekhawatiran di nada suaranya.
"Keysha, kamu baik-baik saja?"
Aku menggeleng. "Aku di ambang batas lelah. Semua orang disekelilingku telah menjadi seorang Ibu, sedangkan aku? Tidak peduli seberapa keras aku mencoba. Dia bilang bahwa aku tidak layak sebagai wanita, Jika Tuhan berkata seperti itu mungkin aku akan menerimanya, hingga bertahun-tahun berlalu suamiku tidak menginginkanku lagi. Sebagai seorang wanita atau sebagai manusia, aku tidak memiliki tempat di hatinya."
Tidak ada suara sampai aku tersadar telah bertindak berlebihan. Aku baru saja mengumbar aibku, kekuranganku pada Haris. Aku menyeka kasar jejak air mata yang masih saja mengalir.
"Maaf, tidak seharusnya aku berbicara hal tidak penting padamu," aku memalingkan muka dan berniat untuk pergi dari sana. Namun, Haris mencekal pergelangan tanganku. Kami pun
saling bersitatap,
"Hidupmu sangat bernilai. Kamu boleh mengabaikannya, tapi sejak kita saling mengenal satu sama lain. Aku merasa kita memiliki kesamaan dalam berbagai hal. Bahkan hari ini, waktu yang aku habiskan denganmu terasa sangat spesial. Dan, jujur ... aku mengajakmu
untuk makan siang adalah karena bagiku kamu menarik sebagai wanita."
Aku tercenung dengan segala perkataannya. Apa aku seperti itu, apa aku benar-benar sangat berharga?
"Jadi, jangan merasa rendah diri. Karena kamu istimewa, Keysha."
Apakah Haris seorang malaikat di kehidupan yang lalu? Karena sejak kami mulai berbicara hanya kebaikan yang tercetus dari lisannya. Tidak ada hujatan, tidak ada kebencian. Yang ada hanya
keakraban yang membuatku nyaman.
“Ah, selain itu sebagai rasa terima kasihku karena telah menemukan kartuku,” tambahnya salah tingkah. Aku dapat menangkap semburat merah di telinganya. Pria itu malu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Astri Tri
saking keasikan baca sampe lupa komen
2023-05-11
2