Aku harus kuat, aku tidak boleh lemah meskipun berkali-kali Mas Andre berusaha melemahkan. Aku butuh penyaluran emosi yang kian menggelegak di dada, dan wortel ini akhirnya menjadi pelampiasan kemarahan.
Aku memotong-motong wortel itu dengan keras, membuatnya tidak berbentuk dan tidak beraturan. Bukan hanya wortel, pada kentang juga kulampiaskan kemarahan yang sama. Lalu kol, aku bukan hanya memotongnya, tapi hampir mencincangnya kecil-kecil, sebelum akhirnya tersadar bahwa aku akan membuat sup iga.
Beginilah caraku untuk meredam ucapan-ucapan Mas Andre yang selalu merendahkan. Sebetulnya aku ingin berlama-lama di dapur, tetapi aku teringat Mas Andre sedang menunggu masakanku matang.
“Kenapa hambar sekali rasa sup iga ini? Encer ... sepertinya kamu tidak memasukkan bumbu, Keisya. Lihat ini, masa sup iga tidak pakai bawang goreng?”
Aku hanya diam saja mendengar kata caci maki yang terus keluar, seolah-olah tidak ada habisnya dari bibir suamiku. Menanggapinya hanya akan membuat perdebatan panjang tanpa akhir, dan pada akhirnya aku lagi yang harus menahan luka supaya tidak melebar ke mana-mana.
Setiap hari lukaku selalu menganga, sepertinya tidak pernah benar-benar kering, tidak pernah terobati, dan setiap hari juga Mas Andre menambah luka baru. Mungkin luka lama sudah bernanah, menjadi borok, dan berbau busuk. Terkadang aku muak dengan diriku sendiri.
“Besok aku akan kontrol lagi ke rumah sakit, Mas.”
“Cih! Tidak bosan-bosan, ya, kamu ini mengunjungi rumah sakit yang sama. Ketemu lagi sama dokter itu. Baru saja aku bilang, Keisya. Sekali saja dalam hidupmu, lakukan hal yang berguna. Menurut aku, mendatangi dokter kandungan hampir setiap minggu itu tidak ada manfaatnya. Kapan, sih, kamu pintarnya?”
“Program kehamilan ini sudah aku jalani dan tidak bisa berhenti di tengah jalan begitu saja, Mas. Sayang karena sudah berjalan separuh waktu.”
“Hei, Keisya. Ini sudah berjalan tujuh tahun dan tidak ada hasilnya. Aku ingatkan lagi barangkali kamu lupa. Oh, ya, satu lagi. Kalau program kehamilan yang sekarang kamu jalankan ini tetap tidak membuahkan hasil, maka kamu harus mengembalikan uang yang sudah kamu buang-buang untuk dokter tidak berguna itu.”
Aku terhenyak mendengar semua perkataan Mas Andre. Uang itu bentuk lain dari ikhtiar kami, dan sejak awal aku dan Mas Andre sudah berdiskusi. Kenapa dia baru komplain sekarang, padahal sejak awal dia tidak keberatan? Dia tidak secara tegas mengatakan aku tidak boleh mengikuti program hamil itu.
“Sekarang sudah separuh jalan, tidak mungkin aku menghentikan program ini secara sepihak, sedangkan dokter memberitahu bahwa kemungkinan aku bisa hamil itu masih sangat besar.”
“Kamu dengar 'kan, omonganku, Key? Kamu harus mengganti seluruh biaya yang sudah kamu keluarkan untuk program hamilmu yang tidak berguna itu kalau sampai ini gagal lagi,” tegas Mas Andre.
Tanganku menggenggam kuat-kuat di bawah meja. Ada sesuatu di dalam diri ini yang minta untuk dilampiaskan, kemarahan yang sudah tidak bisa lagi ditahan.
Mungkin akan bagus kalau aku menghantamkan tangan ini ke atas meja makan. Paling-paling mejanya pecah, kalau enggak tanganku yang berdarah atau sakit. Aku sedang mencoba menahannya hingga tangan ini merasa gemetar, badanku pun ikut bergetar.
Inhale. Exhale.
Aku teringat metode untuk meredakan kemarahan. Yang pertama kali adalah mengatur napas, itulah yang selama bertahun-tahun ini aku lakukan. Menarik napas dalam-dalam lalu menahannya sebentar sebelum mengeluarkannya berkali-kali. Aku lakukan itu supaya paru-paruku mendapatkan pasokan oksigen yang segar, hingga kepalaku tidak berdenyut nyeri menahan kemarahan ini.
“Ingat, Key. Aku tidak main-main sama ucapanku ini, sudah capek rasanya aku menuruti keinginanmu selama tujuh tahun dengan harapan yang sia-sia.”
“Lalu Mas Andre maunya bagaimana?” tanyaku dengan suara getir.
Sebenarnya aku takut menanyakan ini, aku takut jawabannya di luar ekspektasi, aku takut mendapatkan rasa sakit baru yang nyerinya berkali-kali lipat dari yang telah aku dapatkan sehari-hari.
“Yang aku mau, kamu tahu diri jadi istri dan jadi perempuan. Kalau memang kamu tidak ditakdirkan untuk bisa melahirkan anak, ya, sudah jangan ngeyel. Terima saja.
Seharusnya api harapan itu tetap membubung tinggi ke angkasa karena memang masih sebesar itu. Aku berusaha menjaga nyalanya di dalam dada ini, tetapi berulang kali Mas Andre berusaha memadamkannya.
“Sampai kapan kamu akan terus berusaha, Keisya? Sampai kapan kamu akan terus menghabiskan uangku untuk memenuhi keinginanmu yang tidak mungkin terwujud itu?” bentak Mas Andre, membuatku tersentak di kursi.
Suaranya menggelegar keras, seolah-olah aku ini makhluk bodoh yang pantas untuk dibentak-bentak.
‘Iya, Mas, iya. Aku akan menggantinya nanti.’
Ingin sekali aku mengatakan kalimat itu dengan lantang. Ingin sekali aku membuktikan kepadanya bahwa aku punya kemampuan untuk menghasilkan uang.
Namun, rasanya bibir ini kelu untuk mengucapkan kata-kata perlawanan. Aku tahu urusannya tidak akan sesederhana itu. Mas Andre pasti akan terus berusaha meyakinkan, bahwa aku tidak bisa berbuat apa-apa dan aku harus menerima keadaan ini.
“Kamu tidak bisa jawab kata-kata aku, 'kan? Itu karena memang semua yang aku katakan benar adanya, Keisya. Mulai sekarang, berhentilah berharap karena itu hanya akan menyakitimu.”
‘Kamu yang menyakiti aku, Mas. Ucapan-ucapan tajam dari mulutmu itu yang sudah memotong-motong hatiku sejak dulu,’ batinku berkata lirih. Kenapa hanya di batin saja dan aku tidak bisa mengucapkannya di lidah ini?
“Maaf, Mas.”
Lagi-lagi hanya kata maaf yang keluar dari mulut ini dan aku sangat membencinya. Aku sangat membenci kata maaf yang meluncur begitu saja tanpa bisa kukendalikan, padahal aku tidak melakukan kesalahan apa-apa.
Bukan kesalahanku kalau aku tidak bisa hamil, bukan kesalahanku kalau sekarang Tuhan belum memercayakan keturunan kepada kami, bukan salahku kalau orang lain punya anak dan aku belum. Lalu kenapa aku harus selalu minta maaf?
“Bisamu cuma minta maaf, nangis, tapi besok kamu ulangi lagi. Semakin bertambah umur bukannya semakin dewasa, tapi malah seperti anak kecil.”
Aku menggigit bibirku sendiri, meredam semua kata-kata racun yang diucapkan suamiku. Racun ini tidak apa-apa jika terpaksa harus kutelan. Mungkin akan menjadi imun yang kelak dibutuhkan tubuhku, supaya kebal terhadap kata-kata caci maki yang tidak pernah berkesudahan meluncur dari lisan Mas Andre.
“Sudahlah, Keisya. Aku capek setiap hari terus mengajarimu sesuatu yang kamu sendiri mungkin tidak paham maksudku. Dasar perempuan bebal.”
Mas Andre segera bangkit dari kursi makan, melemparkan serbet ke atas meja dengan kasar. Pria itu lalu menyambar tas dan kunci mobilnya. Tanpa pamit padaku, dia segera pergi bekerja.
Aku kembali mengatur napas, menahan hati yang terus bergejolak. Aku ingin marah dan berontak, tetapi aku tidak memiliki kemampuan. Aku masih bergantung pada Mas Andre.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Astri Tri
ihh gemess sama cewek nya jdinya
2023-05-11
0
Vera TV
wah.. ada udang di balik rempeyek ini suaminya...
ancang2 cari penghasilan sendiri, back 2 work...
lanjutttt
2023-03-20
1