Andre Curiga

(Pov Andre)

Aku mulai menyibukkan diri dengan pekerjaan. Banyak berkas yang harus aku periksa sebelum diserahkan kepada bos. Pekerjaan accounting membutuhkan ketelitian. Aku enggak mau kerja dua kali karena bos marah sebab masih ada hitungan yang meleset, atau data penting yang terlewatkan. Namun, obrolan beberapa teman sambil bekerja ini cukup mengganggu konsentrasiku.

Kupikir obrolan tentang perselingkuhan ini sudah berlalu, ternyata Rista masih saja membahasnya. Setali tiga uang, Rendy juga meskipun asyik di depan laptop, tetapi sesekali tetap menimpali obrolan Rista.

“Kamu tahu tidak? Akhirnya Ratih menggugat cerai suaminya, dong.” Rista memulai obrolan beracun. Bagiku berita-berita seperti ini adalah berita sampah, tetapi karena ruanganku memang jadi satu dengan mereka, mau tidak mau aku harus mendengarkan obrolan tidak penting ini.

“Harusnya tuh suaminya yang menggugat cerai, Ratih yang selingkuh kenapa malah dia yang gugat cerai? Gimana, sih? Dunia udah kebolak-balik kali, ya?” jawab Rendy acuh tak acuh.

Tangannya sibuk mengetik di keyboard, mulutnya sibuk menanggapi omongan Rista, dia benar-benar multitasking sekali.

Pekerjaan Rendy memang cukup rapi, sehingga bos kami juga sangat tergantung padanya. Akan tetapi, pria itu lebih sering mengobrol saat bekerja. Sepertinya justru obrolan-obrolan tidak penting seperti ini menjadi asupan gizi bagi otaknya.

“Kalau menurut gosip yang aku dengar, sih, sekarang suaminya Ratih itu udah mulai sakit-sakitan. Padahal belum terlalu tua usianya. Ya, sama Ratih 'kan, terpaut delapan tahun. Nah, sejak dia cerai dengan Ratih, sudah tidak ada yang ngurus lagi . Mantan suaminya ini kabarnya jadi beban hidup keluarga dan terlunta-lunta. Pokoknya kasihan sekali.”

Kali ini Siska yang menanggapi. Perempuan itu sedang menyeduh kopi di dekat dispenser, tetapi telinganya tetap saja bisa mendengarkan bahan gosip yang ditebar oleh Rista dan Rendy.

“Itulah, lelaki tuh tidak usah semena-mena sama perempuan, giliran ditinggal aja langsung lumpuh seketika. Sudah lumpuh badan lumpuh pikiran, siapa yang rugi coba? Ya diri sendiri. Selama pasangan masih setia sama kita, harusnya dihargai. Dengar, Rendy, ini aku bicara khusus untukmu, biar tidak semena-mena dengan istri.”

“Lah! Kok, jadi aku yang diserang lagi? 'Kan aku sudah bilang, istriku tidak bakalan begitu. Dia itu bucin parah pokoknya. Hidupnya isinya cuma Rendy seorang, tidak ada yang lain,” sahut Rendy dengan bangga.

“Cih! Kamu percaya diri sekali, Ren. Terus kenapa pagi ini kamu cerita istrimu nangis-nangis minta pulang ke orang tuanya dan kamu bilang khilaf udah marahin dia. Kalau memang istrimu sebucin itu, dia pasti akan terima semua perlakuanmu," timpal Rista.

“Eh, tapi jangan salah. Perempuan yang awalnya menerima semua perlakuan lelaki dan hanya diam tidak bisa ngelawan, itu cuma semacam bom waktu. Suatu saat dia pasti akan bertindak. Mungkin dia tidak akan banyak omong, tetapi seperti gunung berapi, tiba-tiba .... Duar!!! Memancarkan lahar yang mampu menghabiskan segalanya sekaligus,” imbuh Siska.

Mendengar kata-kata Siska, kenapa bulu kudukku jadi merinding begini?

Ah, Keysha tidak mungkin seperti itu. Istriku tidak mungkin selingkuh, dia juga tidak akan mungkin mau bercerai karena dirinya tanpa aku, dia tidak akan punya kekuatan apa pun.

“Kadang aku, tuh, suka males pulang kalau istri sedang merajuk, tahu tidak? Jadi tidak semangat. Apa aku suruh dia tidak usah kerja aja, ya?” tanya Rendy meminta pendapat kawan-kawannya.

Usia pernikahan Rendy hampir sama dengan usia pernikahanku dengan Keisya. Bedanya, Rendy sudah punya anak satu sedangkan kami belum.

Istrinya bekerja juga, bukan perempuan perumahan seperti istriku. Sebenarnya aku sudah lama mendengar mereka cekcok karena kedua-duanya bersikap egois dan saling mencurigai. Terkadang Rendy yang curiga istrinya selingkuh, terkadang istrinya yang meragukan kesetiaan Rendy. Mereka seperti dua anak kecil yang sedang belajar berumah tangga, sungguh sangat menggelikan.

Tidak jarang rekan-rekanku memang membawa masalah rumah tangga mereka ke kantor, hingga secara tidak langsung kami jadi tahu urusan dalam rumah tangga masing-masing.

Hanya aku yang jarang bercerita karena buat apa? Toh, tidak ada yang menarik dari kehidupanku. Rumah tanggaku bersama Keisya baik-baik saja.

Mereka hanya tahu bahwa kehidupan pernikahan kami berjalan seperti seharusnya. Tentang belum hadirnya momongan, aku selalu berkilah bahwa kami memang memutuskan untuk belum mau punya anak. Bukankah itu suatu alasan yang masuk akal?

“Kalian mau seharian bergosip kayak gini terus atau mau kerja? Nanti kalau tiba-tiba bos datang dan kerjaan kalian belum beres, terus minta tolong sama aku. Denger, ya, aku tidak akan bantu kalian kalau kerjanya hanya bergosip aja dari pagi,” hardikku.

Mereka langsung terdiam seketika.

Meskipun berusaha untuk tidak mengingatnya, nyatanya obrolan Siska, Rista, dan Rendy tadi masih terus mempengaruhi pikiranku hingga aku tiba di rumah.

Melihat aku datang, sikap Keysha santai saja. Padahal biasanya dia akan menyambutku dengan hangat, tetapi kenapa hari ini dia seperti cuek?

Keysha lebih tertarik menata makanannya di meja makan. Ya, meskipun memang aku yang meminta dia untuk menyiapkan makan malam, supaya aku jadi tergugah selera untuk makan di rumah. Akan tetapi, melihatnya lebih asyik dengan makanan aku jadi merasa tersingkir.

“Udah siap, Mas. Maaf, ya, aku cuma masak sederhana. Tapi enak, kok.”

Aku menoleh ke meja makan dan mendapati ayam geprek yang dari tampilannya cukup menggoda selera. Ada juga lalapan lengkap, masih ditambah sayur daun singkong. Semuanya terlihat enak. Aku yang tidak sabar langsung mengambil nasi.

Saat makan Keisya sibuk dengan ponselnya, padahal biasanya hanya aku yang sibuk dengan ponsel saat makan. Kalau aku wajar karena banyak urusan kantor.

Sebenarnya bukan urusan kantor juga karena aku lebih sering scroll media sosial, melihat video-video tidak penting untuk mengalihkan perhatian, supaya tidak terganggu dengan Keisya. Bagiku dia mengganggu pandangan karena saat melihat dia hanya membuatku kesal.

Namun sekarang, saat dia sibuk dengan ponselnya, tetap saja dia membuat aku sebal karena lebih mementingkan ponsel daripada suaminya. Hanya aku yang boleh main ponsel saat makan.

Aku nyaris tersedak saat melihat Keysha tersenyum menatap ponselnya. Bukankah ini tadi yang dikatakan oleh Riska? Salah satu tanda-tanda perempuan berselingkuh: dia lebih asyik dengan ponselnya lalu sesekali tersenyum. Ini benar, Keysha tersenyum meskipun samar dan berusaha menyembunyikan senyuman itu dariku.

Aku menggebrak meja cukup keras, membuat Keisya tersentak kaget.

“Bisa tidak kalau makan jangan main ponsel?” bentakku, membuat wajah Keysha langsung memucat seperti biasanya.

Aku senang karena dia masih mendengarkan perkataanku. Memang harus begitu caranya membuat Keysha takut dan patuh. Dia hanya bisa diam dengan suara keras. Kami pun melanjutkan makan malam, kali ini tidak ada lagi ponsel di tangan, yang ada hanya keheningan dan tatapan kosong mata Keysha.

Episodes
1 Penantian
2 Kartu Karyawan
3 Dewi Penolong
4 Kembali ke realita
5 Rasa Kasihan
6 Pertikaian
7 Jari yang terpaut
8 Nomor telepon
9 Gosip
10 Andre Curiga
11 Sebuah pesan
12 Debaran Baru
13 Batas Haris
14 Mimpi Indah
15 Sakit tak terperi
16 Tingkah aneh Andre
17 Sandiwara Andre
18 Jaga Sikap
19 Pergolakan batin Haris
20 Ketakutan Keysha
21 Setelan Pabrik
22 Melepas Rindu
23 Keluhan Diana
24 Pelukan Hangat
25 Diana datang?
26 Ketahuan!
27 Semakin Sakit
28 Luapan Amarah
29 Diana Nekat
30 Ingin Pisah
31 Percuma!
32 Jalan Baru
33 Ide Gila
34 Paksaan
35 Gelap Gulita
36 Dilema
37 Tidak Rela
38 Batin Keysha
39 Diana tidak menyerah
40 Tetangga Keysha
41 Mengungsi
42 Foto Haris
43 Memulai hari baru
44 Siapa dia?
45 Rindu menggebu
46 Korban Lain
47 Diana Mabuk
48 Telepon Ayu
49 Pembalasan Setimpal
50 Menginap dengan Haris
51 Hampir Terjadi
52 Hanya alat
53 Andre sadar?
54 Berhak Bahagia
55 Bujukan Haris
56 Tinggal bersama
57 Mencari Kontrakan
58 Melunasi Hutang
59 Tetangga
60 Nasi Goreng
61 Dimana Haris?
62 Penumpang Misterius
63 Kenangan tertinggal
64 Membawa koper
65 Harapan Diana
66 Keysha Pergi
67 Dipecat?
68 Petir di siang bolong
69 Putus asa
70 Bantuan tidak terduga
71 Berita Buruk atau Baik?
72 Kabar Keysha
73 Kemenangan Diana
74 Keputusan yang tidak berubah
75 Perang Dingin
76 Wajah yang fimiliar
77 Sikap Ibu
78 Bantuan Keysha
79 Patah untuk kesekian kali
80 Baby Shower
81 Salah paham
82 Amarah Haris
83 Pertemuan tidak terduga
84 Tertangkap juga
85 Sebuah rahasia
86 Tipu daya Diana
87 Tidak ada yang salah!
88 Ibu Syok
89 Diana diusir
90 Sudah tidak mempan
91 Status Baru
92 Surat panggilan
93 Masuk Rumah Sakit
94 Karpet merah
95 Bukan kebetulan
96 Benang merah
97 Ingin terus tapi takut
98 Mendapat jawaban
99 Harapan Keysha
100 Akhir Kisah?
101 Bonchap 1
102 Bonchap 2
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Penantian
2
Kartu Karyawan
3
Dewi Penolong
4
Kembali ke realita
5
Rasa Kasihan
6
Pertikaian
7
Jari yang terpaut
8
Nomor telepon
9
Gosip
10
Andre Curiga
11
Sebuah pesan
12
Debaran Baru
13
Batas Haris
14
Mimpi Indah
15
Sakit tak terperi
16
Tingkah aneh Andre
17
Sandiwara Andre
18
Jaga Sikap
19
Pergolakan batin Haris
20
Ketakutan Keysha
21
Setelan Pabrik
22
Melepas Rindu
23
Keluhan Diana
24
Pelukan Hangat
25
Diana datang?
26
Ketahuan!
27
Semakin Sakit
28
Luapan Amarah
29
Diana Nekat
30
Ingin Pisah
31
Percuma!
32
Jalan Baru
33
Ide Gila
34
Paksaan
35
Gelap Gulita
36
Dilema
37
Tidak Rela
38
Batin Keysha
39
Diana tidak menyerah
40
Tetangga Keysha
41
Mengungsi
42
Foto Haris
43
Memulai hari baru
44
Siapa dia?
45
Rindu menggebu
46
Korban Lain
47
Diana Mabuk
48
Telepon Ayu
49
Pembalasan Setimpal
50
Menginap dengan Haris
51
Hampir Terjadi
52
Hanya alat
53
Andre sadar?
54
Berhak Bahagia
55
Bujukan Haris
56
Tinggal bersama
57
Mencari Kontrakan
58
Melunasi Hutang
59
Tetangga
60
Nasi Goreng
61
Dimana Haris?
62
Penumpang Misterius
63
Kenangan tertinggal
64
Membawa koper
65
Harapan Diana
66
Keysha Pergi
67
Dipecat?
68
Petir di siang bolong
69
Putus asa
70
Bantuan tidak terduga
71
Berita Buruk atau Baik?
72
Kabar Keysha
73
Kemenangan Diana
74
Keputusan yang tidak berubah
75
Perang Dingin
76
Wajah yang fimiliar
77
Sikap Ibu
78
Bantuan Keysha
79
Patah untuk kesekian kali
80
Baby Shower
81
Salah paham
82
Amarah Haris
83
Pertemuan tidak terduga
84
Tertangkap juga
85
Sebuah rahasia
86
Tipu daya Diana
87
Tidak ada yang salah!
88
Ibu Syok
89
Diana diusir
90
Sudah tidak mempan
91
Status Baru
92
Surat panggilan
93
Masuk Rumah Sakit
94
Karpet merah
95
Bukan kebetulan
96
Benang merah
97
Ingin terus tapi takut
98
Mendapat jawaban
99
Harapan Keysha
100
Akhir Kisah?
101
Bonchap 1
102
Bonchap 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!