Aku sedang menikmati perjalanan pulang menaiki commuter line. Bayangan Haris saat makan siang tadi masih terus bermain di pelupuk mata. Pria pemalu, tetapi sekaligus juga penyemangat bagiku. Senyumnya yang ramah sempat membuatku berpikir betapa beruntungnya wanita yang menjadi istri Haris.
Lantunan lagu dari “Yura Yunita” Dunia Tipu-tipu pelan-pelan menemani perjalananku pulang. Suara merdu Yura memang menjadi candu bagiku. Lalu aku membayangkan wajah Haris yang kalimat-kalimatnya telah menghipnotisku dalam pertemuan kami tadi.
Istrinya pasti jarang mendengar Haris mengucapkan nada tinggi, berteriak, memaki, atau bahkan terang-terangan menyindir dan berbicara sarkasme kepadanya.
Di sepanjang perjalanan, rasanya bibir ini selalu menyunggingkan senyuman setiap mengingat bagaimana Haris berkata-kata sambil melirikku. Hati ini menghangat, lalu tanpa aku sadari aku tersenyum sendiri.
Tidak terasa aku telah memasuki halaman rumah. Senyum itu tiba-tiba sirna, raib begitu saja seolah-olah diambil paksa dari bibir ini.
Aku telah kembali ke dunia nyata, dunia di mana aku harus menerima kata-kata keras untuk kesalahan yang terkadang aku sendiri bingung karena merasa tidak berbuat apa-apa.
Mungkin karena aku tidak bisa berbuat apa-apa itulah, suami yang aku cintai kini seolah-olah membenciku begitu rupa.
Meskipun sesaat, tetapi pertemuanku dengan Haris tadi terasa indah. Aku rasa sampai mati pun aku tidak akan bisa melupakannya.
Aku memasuki rumah lalu meletakkan sepatu di tempatnya. Buru-buru aku membuka kulkas untuk menyiapkan bahan makanan setelah melirik ke arah jam dinding. Sebentar lagi Mas Andre pasti pulang.
Benar saja, Mas Andre tiba saat aku baru menyalakan kompor.
“Belum siap masakannya?” tanya Mas Andre sembari melirikku ke arah dapur.
“Belum, Mas. Tunggu sebentar, ya.”
“Memangnya apa yang kamu kerjakan seharian sampai malam begini meja makan masih kosong?”
Suamiku merebahkan diri di sofa, tangannya memegang ponsel. Tidak lama kemudian dia sudah larut dengan benda pipih di tangannya itu.
“Aku baru saja pulang dari periksa kandungan, Mas.”
“Dokter kandungan lagi? Sampai kapan kamu akan menghambur-hamburkan uang untuk diberikan pada dokter kandungan itu, Keisya? Uang itu hasil kerja kerasku! Kamu lihat, sampai jam segini aku baru pulang untuk mencukupi kebutuhan kita, tapi kamu tidak pernah mau berhenti menghamburkan uang untuk dokter sialan itu?”
Hatiku menjerit mendengar ucapan Mas Andre yang selalu hitung-hitungan perkara uang. Padahal dia tahu kami sedang menjalani program kehamilan yang tentu saja semua ini tidak gratis.
Aku juga bukan wanita yang suka menghambur-hamburkan uang. Kalimat pedas Mas Andre ini benar-benar menggores hatiku.
Tunggu, hati? Memangnya aku masih punya hati? Sepertinya aku sekarang sudah menjadi robot hidup yang tidak perlu memasukkan kata-kata sampah, yang selalu ditumpahkan suamiku untuk merendahkan istrinya.
Aku tidak boleh mendengarkan kata-kata buruk dari Mas Andre yang selalu ia lontarkan untuk melemahkan mental ini. Sekarang yang terbayang di hadapanku adalah Haris yang sedang makan sambil memandangku dengan senyumnya yang khas, senyum yang meneduhkan hati.
“Dasar wanita tidak berguna! Suami capek-capek kerja, tapi sampai jam segini makan malam juga belum siap. Aku berusaha menghemat-hemat tidak makan di luar, ternyata sampai rumah kosong, tidak ada makanan.”
Samar-samar masih terdengar suara omelan Mas Andre, tapi aku mengabaikannya. Aku lebih suka membayangkan Haris yang selalu menguatkan dengan mengatakan: Kamu berharga, Keisya.
“Jadi wanita bisa tidak, sih, berguna sedikit untuk suami? Ditinggal seharian bekerja, bukannya di rumah malah selalu pergi dan beralasan ke dokter kandungan. Mau sampai kapan kamu terus-terus mendatangi dokter itu?”
Tidak! Aku tidak mendengarkan kata-kata itu, meskipun pada kenyataannya telinga ini masih bisa menangkap dengan jelas ketidakikhlasan suamiku melepas istrinya periksa rutin ke dokter kandungan, untuk mewujudkan impian punya anak yang selama ini sangat dirindukan.
“Makanannya sudah siap, Mas,” ucapku sambil menyuguhkan cah buncis, telur balado, serta tempe goreng tepung.
Seperti biasa, kami menikmati makan malam dalam diam, terutama aku yang tidak ingin mengeluarkan sepatah kata pun. Karena kalaupun aku bersuara, bagi Mas Andre itu tidak lebih dari aksara-aksara yang beterbangan tanpa guna.
Keesokan harinya, aku terbangun karena suara alarm. Suara alarm itu memang tidak bisa di-setting lebih pelan. Fungsinya untuk membangunkan, tetapi hal itu juga memantik kemarahan Mas Andre.
“Sial! Bisa tidak matikan saja alarmnya? Mulai sekarang tidak perlu bangun pakai alarm. Jadilah berguna sedikit, setidaknya untuk suamimu.”
Luar biasa. Pagi-pagi aku sudah mendapatkan amukan dari pria yang kusebut suami.
Sudahlah, tidak perlu ditanggapi. Toh, hal-hal seperti ini sudah biasa terjadi.
Seperti biasa, rutinitasku setelah bangun adalah memasak untuk sarapan, lalu makan pagi bersama Mas Andre. Pria itu terus memandang ponselnya, jarinya dengan lincah mengetikkan rangkaian huruf yang ia kirim entah kepada siapa.
“Mas, hari ini aku mau bertemu dengan teman-teman,” ucapku sedikit takut. Biasanya Mas Andre tidak mengizinkan aku untuk keluar rumah tanpa dia.
“Untuk apa kamu keluar menghabiskan waktu dengan kegiatan tidak berguna? Kumpul-kumpul sama teman-teman yang tidak jelas. Lebih baik gunakan waktumu untuk mencari penghasilan,” jawab Mas Andre.
“Aku masih menjalankan program kehamilan, Mas, jadi belum bisa kerja,” ucapku jujur.
“Selalu begitu saja alasanmu. Percuma, Keisya. Sudah tujuh tahun kamu mondar-mandir pergi ke dokter kandungan, mana hasilnya? Tidak ada! Yang ada justru kamu menghabiskan uang tabungan kita.”
Aku hanya bisa menghela napas panjang. Kata-kata seperti itu, hampir setiap hari aku dengar. Aku hanya bisa bersabar menghadapi Mas Andre, mencoba memaklumi dia sebagai kepala keluarga. Mungkin ia merasa keberatan dengan beban hidup kami, meskipun kami tidak hidup kekurangan, dan yang aku lakukan ini untuk kebaikan rumah tangga ini. Namun, tetap saja semuanya terasa salah di mata Mas Andre.
“Keisya, terus terang aku kadang bingung dengan cara berpikirmu. Capek-capek suamimu kerja, kamu habis-habiskan. Kamu kasih uangnya buat dokter kandungan yang sampai sekarang tidak ada hasilnya. Kenapa kamu tidak coba untuk kerja supaya kamu tahu di luar sana itu persaingan sangat sulit? Supaya kamu tahu dan lebih berpikir dua kali saat akan menghamburkan uang.”
“Maaf Mas.”
Hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku enggan untuk membela diri dan memang rasanya juga tidak ada gunanya aku menjelaskan. Kepala kami isinya berbeda.
“Kalau bodoh, ya, bodoh saja. Untuk bekerja pun mungkin tidak ada satu perusahaan yang mau menerimamu. Itulah kenapa aku selalu mengingatkanmu untuk berhemat uang yang sudah aku dapatkan, jangan begitu mudah kamu berikan kepada dokter yang tidak kompeteb itu, apalagi sudah tujuh tahun lamanya. Kamu ini bodoh atau apa, sih? Masih percaya sama dokter. Sudah jelas-jelas tidak bisa punya anak, ya, terima saja, Keisya.”
Hampir saja air mata ini menetes, tetapi sekuat tenaga aku menahannya. 'Kamu tidak boleh lemah, Keisya. Kamu harus kuat untuk dirimu sendiri'. Aku membayangkan Haris yang mengatakannya padaku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Astri Tri
wah ada yah laki model gini
2023-05-11
0
lina
tuh kan andre pngn bininya kerja lagi
2023-03-25
1
Vera TV
ini serasa punya suami yg tulalit... memangnya anak dr usaha istri doang ? hellow.. suami juga harus ikut andil...
kalau suami udah mulai perhitungan gt, siapkan diri untuk balik kerja... lanjutttt
2023-03-20
1