Mimpi Indah

(Pov Haris)

Aku benar-benar memuntahkannya, mengeluarkan kembali pil biru yang sudah dijejalkan Diana di mulutku. Kalau aku harus menyetubuhi istriku, itu harus berdasarkan kemauan dan kesadaran diri, bukan paksaan seperti ini. Jika begini, seolah-olah aku adalah gigolo yang selalu dituntut untuk memuaskan para pelanggan yang sudah membayar.

Begitulah kira-kira perasaanku ketika Diana terus-menerus minta supaya kami lebih sering melakukan hubungan suami istri.

Aku bukan tidak mau, bahkan aku merindukan saat-saat dulu kami bergumul dengan panas seperti awal-awal menikah.

Namun, entah ke mana semua rasa itu. Diana sekarang sudah berubah seiring dengan pencapaian kariernya yang menjulang. Menjadi notaris ternama itu memang impiannya sejak dulu. Aku berusaha mendukungnya mati-matian, mengorbankan egoku yang ingin melanjutkan kuliah S2 demi dia.

Sekarang istriku sudah menapaki tangga tertinggi sesuai yang ia mau, ironisnya hal itu mengubahku menjadi sosok seperti laki-laki kerdil di hadapannya. Diana memang tidak secara terang-terangan merendahkan pekerjaanku. Namun, dari bahasa tubuhnya, Diana sering bersikap seolah-olah aku ini tidak pantas mendampinginya.

Tanpa sadar, Diana sering menceritakan kehebatan kawan-kawannya sesama notaris yang sudah menempuh pendidikan magister, hingga akhirnya berhasil mendirikan perusahaan sendiri.

Sementara aku, masih menjadi budak korporat karena ingin memuaskan ambisinya.

Dia tidak punya waktu untuk hamil saat itu, dia sendiri yang meminta untuk menunda kehamilan demi karier cemerlang impiannya.

Aku hanya bisa menuruti kemauannya, yang penting dia bahagia. Sekarang setelah semua impian itu berhasil ia genggam, Diana mulai gelisah mendengar suara-suara sumbang di luar sana.

Diana resah dan siapa lagi korbannya kalau bukan aku?

Aku yang sekarang sudah kehilangan jati diri dan harga diri di hadapannya.

***

Aku sedang menunggu di kafe tempat pertemuan dengan Keysha, gadis sederhana yang tampak manis dan tanpa cela di hadapanku.

Masih ada waktu dua puluh menit lagi. Tiba-tiba ponselku bergetar, ada panggilan masuk dari Diana. Dengan malas aku mengangkatnya.

[Kamu lagi di mana, Sayang?]

“Di mana lagi kalau bukan di kantor?” jawabku ketus.

[Bisa tidak kita makan siang bareng?]

“Sekarang?”

[Iya, sekarang. Ada beberapa klien yang ingin bertemu. Aku ingin memberikan citra positif untuk mereka. Aku rasa makan siang bersama itu bagus, supaya ke depannya urusan pekerjaan lebih lancar.]

Lagi-lagi aku yang diperalat Diana untuk melancarkan pekerjaannya.

“Maaf, aku juga sedang ada klien, sebentar lagi kami ada janji makan siang, jadi aku tidak bisa menemani kamu.”

[Selalu begini. Kamu memang tidak bisa diandelin, ya, Haris? Tinggal batalkan saja janji di sana lalu kamu susul aku sekarang.]

Ucapan Diana membuatku tidak berselera mendengarkan. Segera aku tutup telepon sebelum ia selesai bicara.

Aku harus menyimpan dalam-dalam luka ini, luka akibat dilecehkan istriku sendiri.

Terkadang aku berpikir, apakah dia bisa menjadi ibu yang baik jika benar kelak kami dipercayakan untuk memiliki anak? Sedangkan waktunya habis tersisa untuk pekerjaan. Dia pulang ke rumah sudah dalam keadaan lelah dan sering marah-marah. Diana sangat berbeda dengan Keysha.

Perempuan itu beberapa waktu lalu bertanya, apakah dia bisa menjadi guru TK? Dia sudah memasukkan lamaran online di sebuah lembaga kursus ternama. Tanpa sadar, Keysha bercerita bahwa dia pernah menjadi guru TK.

Itulah kenapa aku melihat Keysha sangat berbeda, seperti ada sifat keibuan yang secara alami muncul. Ternyata itu alasannya, dia pernah menjadi guru TK. Perlahan-lahan, terlintas bayangan Keysha sedang dikelilingi anak-anak kecil karena dia seorang guru.

Lalu di waktu lain, muncul bayangan Keysha sedang menggandeng anak kecil yang cantik. Gadis cilik cantik itu anaknya dan Keysha menggamit lenganku. Aku berada di sampingnya. Ah, itu khayalan terindah yang pernah aku rajut di dalam benak.

Lamunanku buyar saat melihat seraut wajah manis yang sejak tadi aku bayangkan, muncul di depan pintu kaca. Perempuan itu sangat anggun. Baru kali ini aku melihat Keisya berpenampilan seperti wanita berkelas, memakai gaun dengan warna yang tidak mencolok, tetapi justru menonjolkan kecantikannya.

Baru kali ini juga kulihat Keysha juga memakai riasan make-up yang tidak terlalu tebal, tetapi membuat wajahnya lebih segar. Dasarnya dia memang sudah cantik, jadi saat memakai make-up tipis-tipis seperti itu, justru membuatnya lebih bersinar.

“Hai, Key! Ayo masuk,” ucapku sembari membimbing tangannya, lalu menarik kursi untuk ia duduk. Keysha memandangku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Pandangan itu seperti sebuah ungkapan rasa terima kasih tidak terhingga, padahal aku tidak melakukan apa-apa, hanya mengambilkan kursi. Satu hal yang tidak perlu dibanggakan.

“Aku kira kamu tidak jadi datang,” ucapku saat kami sudah duduk berhadapan

“Justru aku yang merasa tidak enak, takutnya kamu tidak ada waktu karena sibuk kerja.”

“Kalau aku yang ajak, itu artinya aku sudah mengatur semua jadwal pekerjaan dan bisa keluar kantor. Makanya, kamu tidak perlu khawatir, Key. Jangan merasa bersalah karena aku yang mau mengajakmu bertemu.”

“Baiklah kalau begitu, aku jadi lebih tenang. Maksudku tidak ngerasa bersalah lagi.”

“Memangnya selama ini ada yang menyalahkan kamu?”

Keysha terlihat gugup mendengar pertanyaanku. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan rumah tangganya. Apakah selama ini dia selalu disalahkan oleh suaminya? Atau bahkan dia sendiri yang selalu merasa kurang dan salah? Namun, saat melihat tatapannya tidak nyaman, aku memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan.

“Aku sudah memesan menu yang paling spesial di kafe ini. Aku pingin mencoba semuanya, jadi tugasmu sekarang bantu aku menghabiskannya.”

Keysha tersenyum sangat manis. Senyuman yang beberapa waktu belakangan ini selalu menari-nari dan melekat erat di benakku. Senyuman polos perempuan rapuh. Seperti kuncup bunga yang mekar, tetapi malu-malu. Kini kuncup bunga itu telah mekar sempurna di hadapanku. Aku senang menjadi satu-satunya orang yang menikmati pemandangan indah ini.

Kami sibuk menikmati menu makan siang dengan obrolan ringan. Keysha sering tergelak saat aku menggodanya. Aku selalu suka melihat semburat merah di pipinya yang putih. Tawanya begitu lepas, seolah-olah beban batinnya terangkat.

“Jangan ngeliatin aku kayak gitu, Haris. Aku jadi malu.”

Berkali-kali kami bertemu pandang dan pada akhirnya Keysha menyerah. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan itu membuatku gemas.

"Jangan menutupi kecantikanmu, Key. Itu terlalu indah untuk kamu tutupi. Meskipun kamu berusaha begitu keras, tapi pancarannya tetap menyilaukan,” ucapku sedikit menggombal. Padahal aku tidak bermaksud membual, memang begitulah kenyataannya. Di mataku, Keysha seperti peri cantik yang tidak bosan-bosan aku pandangi.

“Habis ini kita jalan-jalan sebentar, ya.”

“Memangnya kamu tidak telat lagi masuk kantor?”

“Udah, kamu tidak perlu khawatir tentang kerjaanku. Pokoknya kamu harus ikut aku jalan-jalan sebentar.”

Kami turun dari mobil lalu berjalan mengitari taman kota, sampai akhirnya aku punya ide untuk membawanya ke sebuah pantai yang tidak terlalu jauh.

“Kamu suka pantai juga?” tanya Keysha.

Aku menganggukkan kepala sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.

“Udaranya segar. Lihat langitnya sangat indah. Biru dan putih berpadu kontras sekali,” ucapku sambil mendongakkan kepala.

“Bentuknya tidak beraturan, tapi tetap indah dipandang.” Keysha bergumam sambil memandang gulungan awan putih di atas langit yang biru cerah.

“Keysha, aku ingin sekali pergi ke suatu tempat yang indah dan damai, di mana tidak ada satu orang pun yang mengenalku,” ucapku lirih.

Keysha seperti tidak percaya mendengarnya, perempuan itu segera berpaling ke arahku.

“Kalau ada tempat yang bisa menyembuhkan kesakitan dan membebaskan dari belenggu, aku juga mau ke sana,” balasnya pelan.

Terpopuler

Comments

Vera TV

Vera TV

nahhhh itulah kadang yang bisa menyebabkan perceraian dan perselingkuhan... kalo salah 1 dari pasutri udah ada yg serba mau menang sendiri, merasa lebih baik, merasa lebih hebat... alhasil komunikasi udah main komando aja, tanpa melihat apapun....

2023-03-27

1

lihat semua
Episodes
1 Penantian
2 Kartu Karyawan
3 Dewi Penolong
4 Kembali ke realita
5 Rasa Kasihan
6 Pertikaian
7 Jari yang terpaut
8 Nomor telepon
9 Gosip
10 Andre Curiga
11 Sebuah pesan
12 Debaran Baru
13 Batas Haris
14 Mimpi Indah
15 Sakit tak terperi
16 Tingkah aneh Andre
17 Sandiwara Andre
18 Jaga Sikap
19 Pergolakan batin Haris
20 Ketakutan Keysha
21 Setelan Pabrik
22 Melepas Rindu
23 Keluhan Diana
24 Pelukan Hangat
25 Diana datang?
26 Ketahuan!
27 Semakin Sakit
28 Luapan Amarah
29 Diana Nekat
30 Ingin Pisah
31 Percuma!
32 Jalan Baru
33 Ide Gila
34 Paksaan
35 Gelap Gulita
36 Dilema
37 Tidak Rela
38 Batin Keysha
39 Diana tidak menyerah
40 Tetangga Keysha
41 Mengungsi
42 Foto Haris
43 Memulai hari baru
44 Siapa dia?
45 Rindu menggebu
46 Korban Lain
47 Diana Mabuk
48 Telepon Ayu
49 Pembalasan Setimpal
50 Menginap dengan Haris
51 Hampir Terjadi
52 Hanya alat
53 Andre sadar?
54 Berhak Bahagia
55 Bujukan Haris
56 Tinggal bersama
57 Mencari Kontrakan
58 Melunasi Hutang
59 Tetangga
60 Nasi Goreng
61 Dimana Haris?
62 Penumpang Misterius
63 Kenangan tertinggal
64 Membawa koper
65 Harapan Diana
66 Keysha Pergi
67 Dipecat?
68 Petir di siang bolong
69 Putus asa
70 Bantuan tidak terduga
71 Berita Buruk atau Baik?
72 Kabar Keysha
73 Kemenangan Diana
74 Keputusan yang tidak berubah
75 Perang Dingin
76 Wajah yang fimiliar
77 Sikap Ibu
78 Bantuan Keysha
79 Patah untuk kesekian kali
80 Baby Shower
81 Salah paham
82 Amarah Haris
83 Pertemuan tidak terduga
84 Tertangkap juga
85 Sebuah rahasia
86 Tipu daya Diana
87 Tidak ada yang salah!
88 Ibu Syok
89 Diana diusir
90 Sudah tidak mempan
91 Status Baru
92 Surat panggilan
93 Masuk Rumah Sakit
94 Karpet merah
95 Bukan kebetulan
96 Benang merah
97 Ingin terus tapi takut
98 Mendapat jawaban
99 Harapan Keysha
100 Akhir Kisah?
101 Bonchap 1
102 Bonchap 2
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Penantian
2
Kartu Karyawan
3
Dewi Penolong
4
Kembali ke realita
5
Rasa Kasihan
6
Pertikaian
7
Jari yang terpaut
8
Nomor telepon
9
Gosip
10
Andre Curiga
11
Sebuah pesan
12
Debaran Baru
13
Batas Haris
14
Mimpi Indah
15
Sakit tak terperi
16
Tingkah aneh Andre
17
Sandiwara Andre
18
Jaga Sikap
19
Pergolakan batin Haris
20
Ketakutan Keysha
21
Setelan Pabrik
22
Melepas Rindu
23
Keluhan Diana
24
Pelukan Hangat
25
Diana datang?
26
Ketahuan!
27
Semakin Sakit
28
Luapan Amarah
29
Diana Nekat
30
Ingin Pisah
31
Percuma!
32
Jalan Baru
33
Ide Gila
34
Paksaan
35
Gelap Gulita
36
Dilema
37
Tidak Rela
38
Batin Keysha
39
Diana tidak menyerah
40
Tetangga Keysha
41
Mengungsi
42
Foto Haris
43
Memulai hari baru
44
Siapa dia?
45
Rindu menggebu
46
Korban Lain
47
Diana Mabuk
48
Telepon Ayu
49
Pembalasan Setimpal
50
Menginap dengan Haris
51
Hampir Terjadi
52
Hanya alat
53
Andre sadar?
54
Berhak Bahagia
55
Bujukan Haris
56
Tinggal bersama
57
Mencari Kontrakan
58
Melunasi Hutang
59
Tetangga
60
Nasi Goreng
61
Dimana Haris?
62
Penumpang Misterius
63
Kenangan tertinggal
64
Membawa koper
65
Harapan Diana
66
Keysha Pergi
67
Dipecat?
68
Petir di siang bolong
69
Putus asa
70
Bantuan tidak terduga
71
Berita Buruk atau Baik?
72
Kabar Keysha
73
Kemenangan Diana
74
Keputusan yang tidak berubah
75
Perang Dingin
76
Wajah yang fimiliar
77
Sikap Ibu
78
Bantuan Keysha
79
Patah untuk kesekian kali
80
Baby Shower
81
Salah paham
82
Amarah Haris
83
Pertemuan tidak terduga
84
Tertangkap juga
85
Sebuah rahasia
86
Tipu daya Diana
87
Tidak ada yang salah!
88
Ibu Syok
89
Diana diusir
90
Sudah tidak mempan
91
Status Baru
92
Surat panggilan
93
Masuk Rumah Sakit
94
Karpet merah
95
Bukan kebetulan
96
Benang merah
97
Ingin terus tapi takut
98
Mendapat jawaban
99
Harapan Keysha
100
Akhir Kisah?
101
Bonchap 1
102
Bonchap 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!