"Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un...."
Zain menurunkan Faaz dan membaringkannya di sofa.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Tini membelakakan matanya
"Sepertinya Tuhan lebih menyayanginya, hingga ia tak membiarkannya menderita terlalu lama," jawab Zain
"Tidak mungkin dia mati, masih ada tiga hari lagi untuk kami bersama tapi kenapa dia malah lebih dulu meninggalkan aku...." Tini tak mampu lagi mengontrol emosinya.
Dadanya terasa sesak hingga membuatnya ambruk dan terduduk di lantai.
Seketika tangisan Tini pecah melihat wajah pucat Faaz yang terbaring di depannya.
Ia menangis tersedu-sedu di depan jenazah calon suaminya.
"Kenapa bisa seperti ini, harusnya kau pergi ke luar kota hari ini agar aku tak bisa melihat mu. Tapi kenapa kau belum juga pergi. Apa kau ingin menghukum ku!" seru Tini tersedu-sedu
Sementara itu Zain meminta Assisten rumah tangganya untuk menghubungi pihak keluarga agar mengurus pemakaman Faaz.
"Tapi Mas Faaz itu yatim piatu Mas, dia gak punya siapa-siapa. Setahu saya dia masih punya kakek dan nenek tapi di kampung. Nanti saya pasti kabari mereka, hanya saja mungkin hari ini mereka tidak bisa datang karena mereka jauh di Sumatera,"
"Ya sudah kalau gitu biar aku yang akan mengurusnya," Zain kemudian masuk kedalam kamar Faaz, untuk membereskan barang-barangnya.
Ia terkejut saat melihat sebuah tas tergeletak di bawah tempat tidur.
Ia menarik tas itu dan membukanya.
Zain menutup kembali tas itu dan mendorongnya masuk ke kolong tempat tidur.
Tini memasuki kamar itu dan mendekatinya. Baru kali aku melihat kematian seseorang yang aku sayangi di depan mataku. Aku tak bisa berbuat apa-apa jadi tolong bantu aku mengurus pemakaman Faaz," ucap Tini dengan suara parau
"Jangan khawatir, sebaiknya kau istirahat saja biar aku yang akan mengurusnya,"
Zain kemudian menghubungi Candra dan mengabari pria itu tentang kematian Faaz.
Tidak lama Candra datang melayat.
"Dimana wanita itu?" tanyanya dengan nada geram
"Wanita apa yang kau maksud Tini?"
"Tentu saja, memangnya siapa lagi wanita licik yang ada di sini selain dia?" jawab Candra
"Meskipun aku tahu kau dan Tini tidak memiliki hubungan yang baik. Tapi aku mohon hari ini saja kau tidak bertengkar dengannya untuk menghormati almarhum Faaz, jadi mari kita sama-sama mengurus pemakamannya dengan layak," tandas Zain
Meski dengan berat hati Candra akhirnya menurut dan mengikuti keputusan Zain.
Selesai melakukan pemakaman Zain kembali membereskan kamar Faaz.
Zain memutuskan untuk tinggal di rumah itu untuk mengurus semua keperluan pasca pemakaman Faaz hingga 40 hari kematiannya.
Candra tampak senang mendengarnya, bagaimana pun juga harus ada yang mengurus tahlil dan semua urusan yang berkaitan dengannya apalagi Faaz tidak memiliki keluarga di Jakarta.
"Kalau ada apa-apa beritahu aku, aku pasti akan membantumu," ucap Candra
Zain kemudian menunjukkan tas yang ia temukan kepada Candra.
Lelaki itu segera menarik riseleting tas untuk melihat isi di dalamnya.
Seketika Candra menganga saat melihat isi tas itu.
"Gaun pengantin??"
Candra tampak shock melihatnya hingga beberapa kali harus menghela nafasnya.
"Bukankah gaun ini seharusnya ada di rumah Tini, lalu kenapa bisa ada di sini?. Apa Faaz yang mengambilnya, lalu untuk apa?" Zain mencoba menelaah mengapa gaun pengantin itu ada di kamar itu.
"Sepertinya dia benar-benar ingin membuktikan ucapanku," jawab Candra menerawang
Lelaki itu masih ingat bagaimana ia meyakinkan Faaz untuk memutuskan hubungan dengan Tini karena ia tak mau pria itu berhasil sama dengan Arga.
Meskipun ia sudah menjelaskan semuanya secara rinci namun di jaman modern seperti ini siapa yang percaya hal mistis seperti itu.
"Rupanya Faaz yang tak percaya jika Tini menggunakan pesugihan untuk menaklukannya berusaha mengambil gaun ini darinya untuk membuktikan kebenaran ceritaku," kenang Candra
Pria itu kemudian menyalakan rokoknya untuk menenangkan pikirannya yang mulai di landa penyesalan.
"Aku mengatakan kepadanya jika ia akan mati setelah Tini menyelesaikan gaun pengantin itu. Dan biasanya si tumbal sengaja menjauh darinya di hari menjelang pernikahan mereka. Namun semuanya akan berubah jika ia berhasil mengambil gaun itu darinya, bisa terjadi hal sebaliknya jika ia berhasil mendapatkan gaun pengantin itu sebelum sang pemilik menyelesaikannya," Tutur Candra kemudian menghisap lagi rokoknya
"Aku kira dengan mengambil gaun itu akan menyelematkan nyawanya, tapi ternyata aku salah," imbuhnya
Candra memukulkan tangannya ke dinding untuk meluapkan kemarahannya.
"Aaarrghhh!!"
Candra berteriak dan memukulkan tangannya ke tembok hingga tangannya berdarah.
Zain menepuk bahunya dan berusaha menenangkannya.
"Semuanya bukan sepenuhnya salahmu. Mungkin inilah yang terbaik dan semoga akan ada hikmah dibalik musibah ini. Aku yakin Allah memiliki rencana terbaik untuk Faaz. Bukankah ia tidak meninggal di luar kota seperti para tumbal lainnya. Dia bahkan meninggal tiga hari sebelum hari pernikahannya, jadi aku yakin Faaz meninggal bukan karena jadi tumbal tapi ia meninggal karena takdir Allah,"
Zain menepuk-nepuk pundak Candra dan berlalu pergi.
Candra menyusul Zain keluar dengan mambawa gaun pengantin di tangannya. Ia kemudian meletakkan gaun itu di beranda rumah dan menuangkan minyak ke atasnya.
Saat ia akan membakarnya Zain melarangnya, pria itu kemudian mengambil baju itu dan membawanya masuk.
"Mau kau apakan baju itu?" seru Candra
"Aku akan menyelesaikannya," jawab Zain
"Memangnya kau tahu apa soal gaun pengantin itu. Gaun itu bukan gaun biasa. Hanya orang tertentu yang bisa membuatnya dan juga harus menggunakan ritual dan persembahan. Memangnya kau bisa?" tutur Candra
"Meskipun aku bukan dukun seperti dirimu, tapi dengan izin Allah aku yakin bisa menyelesaikan Gaun pengantin ini,"
Zain meminta jarum dan benang kepada Bi Darsih. Ia mengeluarkan dua bunga kantil dari saku celananya.
"Bismillahi rahmani rahim,"
Zain mulai menjahit bagian lengan Gaun itu dan memasang dua bunga itu sebagai aksesoris di bagian depan gaun.
Setelah selesai ia kemudian menggantung gaun itu di kamar Faaz.
"Selanjutnya kau akan apakan gaun itu?" tanya Candra
"Aku akan mengembalikan kepada pemiliknya agar tidak ada korban lagi," jawab Zain
"Apa kau akan menemui Tini?"
Candra terlihat tak percaya dengan Zain.
"Tini bukanlah pemilik gaun ini. Aku akan mengembalikan kepada pemiliknya tepat di hari pernikahan Faaz dengan Tini,"
"Apa kau yakin??" Candra mengernyitkan keningnya saat mendengar jawaban Zain
"Tentu saja,"
"Jangan gila, meksipun kau punya kekuatan supranatural tingkat tinggi tapi kau mustahil bisa mengalahkannya," jawab Candra
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kita benar-benar berusaha,"
"Kau hanya akan menyerahkan nyawamu jika nekad melakukan hal itu,"
"Hidup dan mati adalah tanahnya Tuhan jadi tak satupun mahluk di dunia ini bisa menentukan kematian seseorang,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
Candra begitu geram ma Tini Krn akhirnya Faaz meninggal juga
2023-04-06
1
Anisha Andriyana Bahri
bener banget zain.. ayo slsaikan smuanya .kasian org" yg g berdosa jd tumbalnya tini.
2023-04-06
1
⸙ᵍᵏ𝐙⃝🦜Titian Mentari 🦈
ternyata faaz bener2 jadi tumbal pesugihan
2023-04-06
1