"Astagfirullah, kenapa tak ada satupun warga yang membantu memadamkan api," ucap seorang Ustadz
"Itu karena si pemilik rumah pelaku pesugihan ustadz, dia yang sudah menjadikan Herman sebagai tumbal nya," jawab Warsi
"Tetap saja, kita tidak boleh membiarkannya mati didepan kita tanpa menolongnya,"
"Dia pantas mati dan tidak boleh ada yang menolongnya,"
"Astaghfirullah, jangan bicara seperti itu. Jika sampai ia mati gara-gara tak ada seorangpun yang menolongnya maka kita sama saja dengannya bahkan lebih jahat karena melakukannya saat kita masih memiliki iman," jawab sang ustadz
Pria itu berpamitan kepada Warsi dan berlari menuju kediaman Tini yang terbakar.
Setibanya ia di sana, pria itu tertegun saat melihat pintu rumah itu yang sengaja di beri palang-palang agar wanita itu tidak bisa keluar.
"Astaghfirullah," ucap pria itu mengelus dada
"Tolong!!" terdengar suara Tini dari dalam berusaha meminta pertolongan, wanita itu bahkan menggedor-gedor pintu rumahnya berharap ada seseorang yang datang menolongnya.
Lelaki itu segera mendekat dan mencabut semua palang yang terpasang di pintu rumah tersebut.
Sementara itu Tini yang sudah tak kuat lagi akhirnya ambruk di lantai.
*Bruughhh!!
Lelaki itu segera mendobrak pintu dan mencari keberadaan Tini ia segera menggendong wanita itu dan membawanya pergi.
Keesokan harinya, Tini sangat terkejut saat dirinya tiba-tiba berada di sebuah rumah sakit.
Seorang pria tersenyum menghampirinya.
"Assalamualaikum," sapanya begitu ramah
"Waalaikum salam," jawab Tini dengan tatapan cemas
"Alhamdulillah akhirnya mbaknya siuman juga,"
"Maaf Mas nya siapa ya?" tanya Tini
"Saya Zainal kebetulan semalam saya sedang lewat di desa mbaknya dan melihat rumah mbak kebakaran dan membawa mbak ke sini,"
"Jadi Masnya yang nyelamatin saya?"
"Lebih tepatnya perantara, karena sejatinya yang menyelamatkan mbak itu Gusti Allah," jawabnya lugas
"Iya, sekali lagi terimakasih Mas atas pertolongannya. Aku gak tahu kalau gak ada Mas pasti akh sudah mati," jawab Tini
"Berterima kasihlah sama Gusti Allah karena dia yang menolong mbaknya, mustahil saya bisa menerobos api kalau tanpa bantuannya,"
"Terus caranya gimana kalau saya berterima kasih sama Gusti Allah?"
"Kembalikan ke jalan yang benar, sholat dan perbanyak membaca Alqur'an," jawab Zainal
"Itu yang saya gak bisa, apalagi sekarang saya sudah masuk lembah dosa jadi mustahil aku bisa kembali," tutur Tini
"Tidak ada yang tidak bisa selama masih ada niat, aku bisa membantumu jika mau," jawab Zainal
"Tapi aku tidak mau membahayakan nyawamu, biar aku saja yang akan menanggungnya,"
"Tidak ada manusia yang bisa memprediksi bala apalagi kematian semuanya itu sudah takdir Gusti Allah, jika memang aku ini di takdirkan mati menolong mu ya walaupun kita gak saling kenal, ataupun apalah tetap saja aku pasti akan menolong mu. Jadi jangan khawatir," terang Zainal
"Iya Mas, makasih banyak atas perhatiannya," tutur Tini
"Kalau begitu aku pamit ya, semoga cepat sembuh," ucap Zainal berpamitan
"Iya makasih,"
"Sama-sama, assalamualaikum,"
"Waalaikum salam," Tini segera membereskan barang-barangnya setelah kepergian Zainal.
Merasa dirinya sudah membaik ia pun segera keluar dari rumah sakit dan kembali ke rumah. Namun ia mengurungkan niatnya saat melihat banyak warga yang mengerubungi kediamannya.
"Sebaiknya aku pergi dari desa ini agar tidak ada yang tahu jika aku masih hidup. Karena aku yakin mereka pasti akan mencoba membunuh ku lagi saat tahu aku masih hidup," Tini segera memesan ojek online
Ia memutuskan untuk hidup di Jakarta. Setibanya di kota metropolitan itu Tini kebingungan karena ia tak membawa uang sepeserpun.
Ia kemudian melepaskan cincin yang dipakainya dan dijual untuk biaya hidup selama di sana.
Karena belum mendapatkan rumah Tini menginap di sebuah hotel.
"Boleh saya duduk di sini?" tanya seorang pemuda
"Silakan," jawab Tini
Pemuda itu kemudian menyantap makanannya tanpa sedikitpun rasa canggung terhadap Tini.
Selesai makan pemuda itu masih melihat Tini yang masih termenung sambil menonton televisi.
"Boleh kenalan gak?" tanyanya hati-hati
Tini mengangguk membuat Pemuda itu menyunggingkan senyumnya.
"Rahman, panggil saja Aa," ucap pemuda itu mengulurkan tangannya dan Tini langsung meraihnya
"Tini," jawabnya singkat
"Wah nama yang unik dan sedikit erotis," jawab Rahman sambil tertawa
Tak suka dengan pemuda itu yang dianggap menghina namanya Tini segera meninggalkannya.
"Hmm, kenapa dia pergi??" ucap Rahman kebingungan
Malam itu Tini termenung mengingat perkataan lelaki yang menolongnya. Kegamangan tampak terlihat jelas di matanya.
"Apa aku masih bisa bertobat, tapi setahuku sulit bagi pelaku pesugihan untuk bertobat kecuali dia ingin mati," tuturnya berperang melawan batinnya
"Tapi aku masih ingin hidup, aku masih ingin menikmati hidup ini," gadis itu kemudian merebahkan tubuhnya di ranjangnya
Keesokan harinya Tini mulai mencari rumah untuk tinggal. Ia sengaja menjual perhiasan yang dipakainya untuk biaya menyewa rumah.
Ia akhirnya mendapatkan rumah sederhana dan segera menempatinya.
"Uangku sudah menipis, aku harus segera mencari pekerjaan untuk menyambung hidup,"
Tini kemudian membuat beberapa lamaran pekerjaan sesuai keahliannya.
Dari puluhan surat lamaran yang ia kirimkan hanya satu yang membalas.
Ia begitu senang karena mendapatkan kesempatan interview pagi itu. Ia sengaja berhias secantik mungkin agar bisa diterima di perusahaan tersebut.
Tini terlihat begitu tegang setibanya di sana, seorang wanita mengantarnya ke ruang HRD.
"Silakan duduk," ucap seorang pria
Tini segera duduk di depannya.
"Perkenalkan saya Candra yang akan mewawancarai mu pagi ini," ucap Pria itu mengulurkan tangannya
Tini segera menjabat tangan pria itu, namun ia segera melepaskannya karena merasakan panas saat menyentuh telapak tangan pria itu.
"Panas!" serunya membuat Candra memperhatikannya
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Candra
"Iya," jawab Tini segera menjauh dari pria itu
"Syukurlah, jadi silakan perkenalkan dirimu," lanjut Candra
Tini segera memperkenalkan dirinya secara rinci kepada pria itu.
"Ok cukup, silakan anda tunggu pengumuman dari kami selanjutnya," ucap Candra mengakhiri sesi interview hari itu
Tini buru-buru meninggalkan tempat itu dan memeriksa telapak tangannya yang melepuh.
"Aneh, kenapa tanganku bisa seperti ini. Sebenarnya siapa pria itu??" Gadis itu terlihat kebingungan dengan sosok candra yang dingin dan misterius
Ia kemudian membasuh tangannya yang melepuh dan mengikatnya dengan tisu basah.
"Kenapa masih sakit ya," ucap Tini meniup tangannya.
Tini kembali termenung sambil menatap wajahnya di cermin, "Apa nasibku akan seperti Bude Arsih, apa tangan ini sebagai pertanda hidupku akan segera berakhir," ujarnya gusar
Tini kemudian mengambil tasnya dan meninggalkan yg tempat itu.
"Buughh!!
"Aww!" Tini memekik kesakitan saat seorang pria menabraknya
Gadis itu terkesiap saat melihat seorang pria tampan mengulurkan tangannya.
Saat ia hendak meraihnya Candra langsung menepisnya. Tini segera bangun dan menolak uluran tangan darinya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya pemuda itu
"Iya aku gak papa," jawab Tini gugup Gadis itu sengaja mengalihkan pandangannya saat Candra terus menatap tajam kearahnya.
"Tapi sepertinya tanganmu terluka, bagaimana kalau kita ke rumah sakit untuk mengobatinya," imbuh pria itu
"Biar saya saja yang mengurusnya Mas, sebaiknya Mas segera ke ruang rapat karena sudah di tunggu," sergah Candra
"Ok, kalau gitu tolong bawa mbaknya ke rumah sakit ya, maaf jadi merepotkan kamu dek,"
"Iya Mas santai saja," jawab Candra
Pria itu kemudian menghampiri Tini dan mengajaknya ke rumah sakit, namun Tini langsung menolaknya.
"Gak usah biar aku obati sendiri saja," tolak Tini
"Kalau kamu tidak mau ke rumah sakit, sebaiknya ikat lukamu dengan sapu tangan ini," ucap Candra kemudian memberikan sapu tangan kepadanya
"Terimakasih,"
Candra juga memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu untuk biaya berobat kepadanya, namun lagi-lagi Tini menolaknya.
Tini segera naik keatas ojek online yang dipesannya dan menutupi tangannya yang terluka dengan sapu tangan pemberian Candra.
Ajaib setibanya di rumah telapak tangan Tini yang melepuh seketika sembuh. Tentu saja hal itu membuatnya merinding saat mengingat sosok Candra.
"Siapa dia??"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Al Fatih
siapakah Candra itu...
2023-10-29
0
Yuli Eka Puji R
ga boleh jabat tangN takut jd tumbal berikutnya untung ada candra jd selamat
2023-05-11
0
Yuli Eka Puji R
itu di hotel apa dimana sih
2023-05-11
0