Candra merasa tubuhnya semakin lemas dan ia merasa sekelilingnya mulai gelap.
Tini segera melepaskan tangannya saat melihat pria itu terkulai tak berdaya, ia segera menyeret pemuda itu dan memindahkannya ke belakang.
Ia kemudian mengemudikan mobil itu dan mengeluarkan Candra di jalanan.
Pagi harinya Tini terkejut saat mendapati dirinya ada di rumah sakit.
"Kenapa aku bisa di sini?"
Tidak lama Arga datang menghampiri Tini bersama sekarang perawat.
"Syukurlah kau sudah siuman," ucap Arga terlihat begitu.lega
"Memangnya apa yang terjadi denganku?" tanya Tini
"Benarkah kau tidak mengingat kejadian semalam?" tanya Arga
Tini langsung menggelengkan kepalanya, "Aku tak ingat apapun kecuali saat pamit pulang padamu," jawab Tini
Sebelum menjawab pertanyaan Tini, Arga mempersilakan perawat itu untuk mengecek kondisi Tini.
"Bagaimana keadaannya sus?"
"Tekanan darahnya bagus, denyut jantungnya pun stabil, kita tinggal tunggu dokter saja pak,"
"Baik, terimakasih banyak sus," jawab Arga kemudian mengantar wanita itu hingga bibir pintu
Ia kemudian menghampiri Tini dan menceritakan kejadian semalam.
"Semalam polisi menemukan mobil Candra menabrak pembatas jalan, tapi kami tidak menemukan Candra. Kami hanya menemukan dirimu yang sudah tak sadarkan diri dalam mobil," ucap Arga
"Jadi mobil yang aku tumpangi semalam kecelakaan?" tanya Tini
"Iya, aku khawatir sekali dengan Candra, dimana dia sekarang dan bagaimana keadaannya?" tutur pria itu terlihat panik
"Apa kau sudah menghubunginya?"
"Berkali-kali, tapi sepertinya ponselnya mati," jawab Arga kemudian merebahkan tubuhnya di kursi
Tini merasakan tubuhnya seperti remuk redam, kepalanya juga terasa sangat berat membuat gadis itu terlihat memijat kepalanya.
"Apa kepalamu sakit?" tanya Arga
"Iya sakit sekali, rasanya seperti di tusuk-tusuk ribuan paku, dan tubuhku juga terasa sangat sakit seperti habis membawa beban yang sangat berat," jawab Tini
Tidak lama seorang dokter datang menghampiri mereka.
"Selamat pagi semuanya?" sapa sang dokter begitu ramah
"Pagi dok," jawab Arga dan Tini bersamaan
Pria itu segera mengambil stetoskopnya dan mulai memeriksa denyut jantung Tini.
"Apa yang kau rasakan setelah siuman?" tanya sang dokter
"Kepalaku sakit dan tubuhku juga terasa sakit," jawab Tini
"Hmm, itu normal karena kepala anda terbentur dan tubuh anda terguncang hebat saat kecelakaan terjadi sehingga sendi-sendi tulang anda merasa nyeri setelahnya," jawab dokter
"Melihat hasil pemeriksaan pagi ini, anda sudah bisa pulang namun jika anda merasakan kepala anda masih sakit setelah tiga hari makan silakan kembali lagi untuk melakukan CT scan," ucap sang dokter
"Baik dok," Tini segera turun dari brankarnya kemudian membereskan barang-barangnya.
Arga mengantarnya pulang.
"Terimakasih banyak pak," ucap Tini sebelum turun dari mobil
"Sama-sama, kalau kamu masih merasa belum fit, besok tidak usah masuk," ucap Arga
"Baik," jawab Tini
Pria itu segera turun dan membukakan pintu untuknya. Bukan hany itu Arga bahkan mengantar hingga masuk kedalam kosan.
"Terimakasih banyak Pak, suda mengantar aku pulang,"
"Sama-sama Tin, panggil Arga saja jika di luar kantor," jawab pria itu
"Iya Pak, eh Arga," jawab Tini terlihat kikuk
Arga tersenyum menatap Tini yang tampak cantik meskipun tanpa riasan. Jujur Arga memang sudah jatuh hati dengan Tini sejak pertama kali bertemu dengannya.
Hanya saja selama ini ia menahannya karena Candra sudah menjodohkannya dengan keponakannya.
"Kalau gitu aku pamit ya. Sebaiknya kau istirahat biar cepat pulih, pastikan untuk meminum obatnya jangan sampai telat," ucap Arga
"Iya terimakasih sudah diingatkan," Tini mengantar Arga hingga ke depan pintu.
Sejak hari itu hubungan Tini dengan Arga semakin dekat. Arga semakin intens menanyakan kabar atau sekedar mengingatkan gadis itu untuk tidak telat makan.
Bukan hanya intim di telepon saja, keduanya pun kerap jalan berdua menghabiskan akhir pekan bersama atau sekedar makan bersama.
Arga juga sering mengirimkan berbagai macam hadiah kepada gadis itu apalagi setelah ia resmi mengatakan perasaannya kepada gadis itu. Semua kebutuhan Tini dipenuhi olehnya termasuk membelikan sebuah rumah mewah di sebuah kompleks perumahan elite.
Keseriusan Arga bahkan di nyatakan saat ia merayakan ulang tahun Tini yang ke 25 tahun.
Tini tak menolak, karena ia juga menyukai pria itu. Wanita itu kemudian mengajak Arga untuk membeli kain yang akan ia buat untuk menjahit gaun pengantinnya.
Keduanya bahkan sepakat memilih sebuah model gaun pengantin classic di sebuah rumah mode.
Meskipun Arga ingin mempercayakan pembuatan gaun pengantinnya pada seorang desainer ternama, namun Tini bersikeras untuk menjahitnya sendiri.
"Aku lebih sreg bila memakai pakaian yang aku jahit sendiri Mas, jadi biar aku saja yang menjahit gaun pengantinnya. Untuk kebaya yang akan dipakai saat akad nikah dan jas kamu bisa kok di buat di desainer langganan kamu," tutur Tini
"Ok sayang terserah kamu aja, aku tinggal terima beres aja," jawab Arga
Tini pun mulai menjahit baju pengantinnya, dan sejak hari itu ada yang berbeda dengan Arga.
Pria itu mulai terlihat pucat dan badannya semakin kurus meskipun ia adalah pria yang rajin berolahraga.
Pihak keluarga yang khawatir dengan kondisi Arga menyarankan ia untuk memeriksa kondisinya ke rumah sakit.
Namun saat diperiksa di rumah sakit dokter tidak menemukan adanya penyakit dalam diri pemuda itu dan mengatakan ia baik-baik saja.
"Mungkin Mas Arga kebanyakan pikiran karena sebentar lagi akan menikah, jadi saran saya sebaiknya Mas Arga ambil cuti dan coba jalan-jalan ke tempat wisata biar pikiran fresh,"
"Baik dok, insya Allah besok rencananya saya memang akan pergi ke luar kota bersama Tini, sekalian saya mau nyekar ke makam kedua orang tua saya," jawab Arga
Keesokan harinya saat Arga hendak pergi menjemput Tini, tiba-tiba ia merasakan tubuhnya lemas hingga ia jatuh terkulai ke tanah.
Arga berusaha menggerakkan kakinya untuk bangun, tapi entah kenapa ia merasakan tulang-tulangnya seolah mati rasa hingga tak bisa di gerakkan lagi.
"Arrghhhh!!" pekik Arga berteriak saat ia tak bisa menggerakkan kakinya.
Saat ia benar-benar putus asa, seorang pria datang mendekatinya.
"Andai saja kau mendengarkan aku Mas, kamu pasti tidak akan seperti ini. Nasi sudah menjadi bubur dan aku tidak bisa menolong mu," ucap pria itu menatapnya sendu
"Candra??" ucap Arga seketika meneteskan air matanya
"Aku sudah tahu semuanya, kau tidak perlu merasa bersalah ataupun minta maaf. Sekarang yang kamu harus lakukan adalah berobat ke luar negeri dan biarkan aku yang mengurus perusahaan mu,"
Candra kemudian memapah pria itu masuk ke dalam kamarnya.
Malam itu Tini merasa sangat sedih saat menggantung gaun pengantinnya yang sudah jadi.
"Selamat tinggal Mas Arga, semoga kau tenang di alam sana,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Al Fatih
ga tau aq akhir kisahmu Tini....,, tak kira pas d selamatkan ustadz,, kau sudah tobat,, ternyata.....
2023-10-29
0
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
selamatkan Arga kasihan orang baik klu harus meninggal dengan cara seperti itu...kejam kau Tini
2023-03-31
2
☠ᵏᵋᶜᶟ 𝕸y💞Sarinande⒋ⷨ͢⚤
berharap bukan Arga yg jdi tumbal saat ini...
2023-03-31
1