Bab 8

Melihat Maudy terkapar membuat Herman ketakutan.

Ia segera menghampiri wanita itu dan mengguncang tubuhnya untuk membangunkannya.

"Bangun Maudy, bangun!" serunya dengan nada panik

"Sebaiknya bawa pulang istrimu, aku tidak mau terjadi sesuatu denganku karena kejadian ini," tutur Tini

Herman segera menggendong Maudy dan membawa wanita itu pulang ke rumahnya.

"Apa yang terjadi?"

"Maudy pingsan saat melihatku dengan Tini," jawab Herman

"Tidak mungkin dia pingsan kalau hanya melihat saja, aku yakin pasti ada sesuatu yang membuatnya pingsan. Katakan padaku apa yang kalian lakukan padanya hingga membuat dia pingsan?" desak Warsini

"Aku hanya memukulnya saja, tapi aku tidak sengaja karena ia mencoba menyakiti Tini," jawab Herman membuat Warsini naik pitam

"Sebenarnya apa yang kau lihat dari Tini. Dulu kau ingin meninggalkannya sekarang kenapa kau malah tergila-gila padanya. Sepertinya yang dikatakan Maudy benar, kau sekarang seperti ini karena terkena ajian pesugihan Tini. Sebaiknya kau jauhi dia jika tidak mau terjadi sesuatu denganmu,"

"Jangan fitnah Ibu!" seru Herman

Melihat Herman yang langsung mengamuk saat ia mengatakan jika akan menjadi tumbal, Warsi kemudian menelpon saudaranya yang merupakan seorang ustadz.

Ia memintanya datang dan menemui Herman. Namun saat ia datang Herman langsung mengusirnya.

Ia bahkan mengancam akan membunuhnya jika pria itu tak pulang.

"Sepertinya Jin yang menguasainya begitu kuat hingga aku sulit untuk menghentikannya," ucap sang ustadz

"Lalu apa yang harus aku lakukan, ia bahkan sudah tega menyakiti istrinya aku takut terjadi sesuatu dengannya," jawab Warsi

"Kalau begitu aku akan kembali lagi nanti malam setelah isya,"

"Baiklah, aku tunggu,"

Sementara itu Maudy yang baru sadar segera mencari suaminya. Ia melihat Herman sedang menonton televisi di ruang tengah.

Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk memberinya minuman yang telah diberi obat tidur.

Setelah berhasil membuat Herman terlelap Ia kemudian meminta seseorang memindahkannya kedalam mobil dan membawanya ke rumah sang dukun.

Malam itu Tini sengaja menyelesaikan gaun pengantinnya.

"Akhirnya selesai juga," ucap Tini kemudian menggantung baju pengantinnya

"Harusnya baju ini aku pakai saat pernikahan kita Mas, tapi karena kau mengkhianati aku maka aku akan memakainya di pemakaman mu nanti,"

*Kediama Ki Daman!!

Herman tiba-tiba melebarkan matanya saat Aki Daman menyiramkan darah ayam cemani ke tubuhnya.

Pria itu segera bangun dan melepaskan Sempur warna merah yang terpasang di kepalanya. Melihat Herman bangun dan berdiri membuat sang dukun segera mengambil senjata pusakanya dan mendekatinya.

"Sebaiknya kau jangan ikut campur anak muda, aku tidak punya urusan denganmu jadi jangan menganggu ku," ucap Herman yang kini memiliki suara perempuan

Tini seketika menjauh saat Ki Daman memberikan isyarat kepadanya.

Wanita itu terlihat tegang saat melihat Ki Daman mulai melawan suaminya menggunakan kemampuan supranaturalnya.

Sementara itu di Warsini berkali-kali menghubungi Maudy menanyakan keberadaannya dan suaminya.

"Maaf Ibu saya membawa Mas Herman ke rumah Ki Daman, saya lupa memberitahu Ibu karena buru-buru," ucap Maudy

"Kenapa kau membawanya ke dukun kau tahu hanya Ustadz yang bisa menyelamatkan Herman. Kalau cuma dukun dia pasti tak cukup kuat untuk melawan jin yang ada dalam diri Herman," jawab Warsi

"Saya Percaya Ki Daman bisa mengobati Mas Herman, buktinya sudah banyak pasien Ki Daman yang sudah sembuh setelah berobat padanya," tutur Maudy

"Tapi Herman bukan sakit Maudy, dia itu di tumbalkan beda nak," jawab Warsi dengan nada ketakutan

"Doain saja semoga Mas Herman cepat sembuh Bu," Maudy buru-buru mematikan ponselnya saat mendengar suara benda jatuh di ruang pengobatan

Wanita itu mengintip apa yang terjadi melalui celah jendela. Maklum saja Ki Daman memang tak mengizinkan siapapun melihat ritualnya saat menyembuhkan pasiennya.

Netra wanita itu seketika melebar saat melihat suaminya jatuh terlentang di lantai.

Ia buru-buru membuka pintu ruangan itu untuk melihat keadaan suaminya.

Wanita itu seketika menjerit histeris saat melihat Herman yang tewas mengenaskan. Seluruh isi kepalanya tercecer di lantai, dengan bola mata keluar dari tempatnya.

Ia semakin terkejut saat melihat sosok Ki Daman yang tewas tertusuk senjata pusakanya.

Maudy segera lari meninggalkan padepokan Ki Daman. Saat wanita itu hendak menyalakan mobilnya ia melihat sosok wanita memakai baju pengantin berdiri di depan mobilnya.

"Tini,"

Keesokan harinya seperti janjinya, Tini menghadiri pemakaman Herman dengan menggunakan gaun pengantin yang di jahitnya.

Tentu saja hal itu membuat keluarga Herman berang dan marah padanya.

Mereka bahkan mengusir Tini saat gadis itu tiba di pemakaman.

"Dasar wanita Iblis, bisa-bisanya kau datang ke pemakaman Herman setelah menjadikan ia sebagai tumbal pesugihan mu. Dan juga kau benar-benar tak punya empati bagaimana mungkin kau menghadiri pemakaman dengan menggunakan gaun pengantin apa kau sudah gila!" seru Warsi kemudian mendorong Tini hingga gadis itu jatuh terjungkal

"Maaf kan saya Ibu, saya tidak pernah bermaksud menjadikan Mas Herman sebagi tumbal pesugihan, dia sendiri yang datang dan menyerahkan dirinya dan aku tak bisa menolaknya. Baju pengantin ini harusnya aku pakai saat pernikahan aku dan Mas Herman, tapi sayangnya ia memilih meninggalkan aku dan menikah dengan wanita lain. Jadi aku akan memberikan baju pengantin ini kepadanya agar ia tidak mencari ku, karena aku sudah memenuhi janjiku untuk menjadi istrinya," jawab Tini

Wanita itu kemudian melepaskan gaun pengantin yang di pakainya dan meletakkannya di atas pusara Herman.

Semua mata menatap kearah wanita itu yang hanya memakai pakaian dalam saat meninggalkan pemakaman.

"Dasar sinting, memang kalau manusia sudah bersekutu dengan iblis pasti hilang rasa malunya, lihat saja dia kok berani gak pakai baju jalan-jalan ke kuburan," cibir Warsi

Bukan hanya Warsi namun para pelayat pun menggunjingkan wanita itu.

Tini yang baru siuman segera mendatangi kediaman Tini. Wanita yang tampak putus asa itu menyiramkan minyak tanah ke rumah Tini dan membakarnya.

Malam itu tak seorangpun yang berani menolong Tini yang berteriak meminta tolong.

Semua warga yang sudah mendengar apa yang dilakukan Tini. kepada Herman merasa itu adalah hukuman yang pantas untuk wanita itu.

"Nyawa harus di bayar nyawa, kamu gak pantes hidup di desa ini Tin. Kamu itu Iblis bukan manusia!" seru Maudy

Sementara itu Tini berusaha keluar dari rumahnya, ia mencoba mendobrak pintu rumahnya yang di kunci dari luar oleh para warga.

Saat gadis itu mulai mengalami sesak nafas dan pingsan. Tidak berapa lama Tini mulai sadar saat membuka matanya samar-samar ia melihat sosok lelaki yang mendekat kearahnya. Pria itu menyelamatkan nyawanya dan membawanya pergi dari desa itu.

Terpopuler

Comments

Risna Inna

Risna Inna

yang fokus dong autor nulisnya

2023-10-04

0

Hanna

Hanna

Kena karma

2023-06-03

0

Yuli Eka Puji R

Yuli Eka Puji R

tini kerumah tini

2023-05-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!