Malam itu Tini hampir tak bisa memejamkan matanya. Semalaman ia harus menahan rasa takut yang tiba-tiba menderanya saat ia mulai merasakan ada sesuatu yang aneh di kamar itu. Mulai dari wangi melati yang membuatnya merinding. Ditambah bunyi derit ranjang di kamar kosong membuat suasana semakin mencekam.
Pagi harinya Tini melihat Arsih terlihat muram. Wanita cantik itu terlihat gusar sembari menatap lekat gaun pengantin miliknya.
"Kenapa Bude?" tanya gadis itu penasaran
"Sepertinya kita mengalami nasib yang sama Tin,"
"Maksudnya?" tanya Tini terlihat penasaran
"Mas Pram juga tiba-tiba menghilang tanpa kabar, padahal baru minggu kemarin dia datang memberikan uang untuk biaya pernikahan kami," jawab Arsih
"Memangnya Om Pram juga punya wanita idaman lain?"
"Bukan, kabar terakhir yang aku terima dia bangkrut dan menghilang entah kemana," jawab Arsih
"Bude yang sabar ya, mungkin ada yang lebih baik dari Om Pram yang akan menjadi jodoh Bude," hibur Tini
"Sepertinya tidak ada pria lain sebaik Pram, andai saja aku tidak mendekatinya mungkin semua takkan berakhir seperti ini," jawab Arsih terlihat begitu sedih
Sore harinya seorang pengusaha muda datang menemui Arsih. Lelaki itu terlihat seumuran dengan Tini dan sangat tampan.
Melihat kedekatan Arsih dan pria itu membuat Tini curiga.
"Katanya lagi sedih tapi kok udah mesra-mesraan aja sama cowok lain, mana ganteng banget lagi cowoknya. Salut sama Bude meskipun ia sudah tua tapi banyak banget penggemarnya. Gak tanggung-tanggung semua cowok yang mendekatinya semuanya bukan orang sembarangan, andai saja aku bisa seperti dia," ucap Tini sembari menatap koleksi gaun pengantin milik Arsih.
Wanita itu kemudian menghitung satu persatu gaun pengantin itu.
"Ada sembilan gaun pengantin, berarti Bude sudah sembilan kali gagal menikah. Alhamdulillah aku baru sekali dan mudah-mudahan ini yang terakhir," ucap Tini kemudian menutup lemari itu
Tidak lama dua orang pria bertubuh kekar datang mencari Tini.
"Maaf apa benar ini Mbak Kartini?" tanya salah seorang dari mereka
"Iya memangnya ada apa ya Pak?" tanya Tini
"Perkenalkan saya pengurus koperasi simpan pinjam Harapan Baru, kebetulan Mas Herman calon suami Mbak meminjam uang sejumlah dua tujuh puluh juta rupiah katanya untuk biaya pernikahan. Dia bilang uangnya ada sama anda dan meminta saya untuk menagih hutangnya kepada anda," jawab wanita itu seketika membuat Tini tercengang
"Kok bisa saya yang bayarin, lagipula kami sudah tidak ada hubungan apa-apa jadi aku tak bisa membayar hutang-hutangnya," jawab Tini
Pria itu kemudian menyerahkan sebuah salinan kwitansi kepada Tini.
Seketika Tini merasa sesak saat menerima kwitansi itu darinya.
"Ya Allah tega banget kamu Mas. Padahal uang sewa gedung ini adalah uang tabungan bersama tapi kamu menganggap itu uangmu dan menyuruhku membayar hutang-hutangmu," ucapnya gusar
Tini menatap wanita itu dengan wajah gusar. Ia benar-benar tak menyangka jika harus membayar hutang Herman.
Herman yang sudah tidak bisa dihubungi pasca batal menikah terpaksa membuat Tini mendatangi
mendatangi kediaman Herman di desa sebelah untuk memastikan apakah mereka sudah kembali dari Jakarta atau belum.
Meskipun ia tahu mereka belum kembali setidaknya Tini bisa memberitahu keluarga Herman tentang hutangnya.
Seperti sebelumnya hanya Bibi Herman yang bisa ditemui oleh Tini.
Saat Ia memberitahu tentang hutang Herman wanita itu memang membenarkan jika keponakannya sengaja meminjam uang di koperasi karena saat itu ia tak bisa mengambil uang pada pemilik gedung karena harus mendapatkan persetujuan dari Tini.
"Dia bilang uang yang dipakai untuk membayar gedung adalah uangnya jadi dia hanya meminta setengahnya saja untuk melunasi hutang sisanya ia ikhlaskan buat kamu,"
Seketika Tini tertawa mendengar ucapan itu.
Wanita itu kemudian menyerahkan kwitansi pembayaran gedung kepada Bibi Herman.
"Sebenarnya uang sewa gedung itu ada sekitar 70 jutaan, tapi karena di potong denda pembatalan saya hanya menerima 60 juta rupiah, dan uang ini adalah uang tabungan kami berdua, jadi uang milik Mas Herman hanya 30 juta saja, jadi terus terang saja saya keberatan jika harus melunasi sisanya. Apalagi Mas Herman sudah mengambil uang catering makanan. Jadi kedatangan saya berharap bibi bisa menyampaikan hal ini kepada Herman," tutur Tini
Namun Bibi Herman menolak wanita itu memberitahukan kepada Tini jika ia sudah tidak berhubungan lagi dengan Herman. dan keluarganya.
Tini terpaksa kembali tanpa membawa hasil. Setibanya di rumah ia langsung menuju ke rumah Arsih untuk mengantar hasil jahitannya.
Melihat Tini yang terlihat murung membuat Arsih bertanya apa yang terjadi padanya.
Tini kemudian menceritakan tentang hutang Herman yang berjumlah 70 juta rupiah. Ia mengatakan jika dirinya hanya memiliki uang 60 juta dan itupun akan dipakainya untuk modal usaha.
"Sudah jangan sedih, nanti biar Bude yang bayarin," jawab Arsih dengan entengnya
Meskipun tak enak hati karena selalu merepotkan Arsih tetap saja ia merasa lega karena sudah mendapatkan uang untuk membayar kekurangan hutang Herman.
Malam itu Tini sengaja menolak menginap di kediaman Arsih.
Sebelum pulang ke rumah gadis itu terkejut saat melihat seorang wanita melempari rumah Arsih dan melabarak wanita itu.
"Dasar wanita Iblis, pelakor, perusak rumah tangga orang kembalikan suamiku, kembalikan harta bendanya juga!" seru wanita itu sambil terus melempari kediaman Arsih dengan batu.
Namun anehnya Arsih tetap diam dan acuh dengan wanita itu. Ia malah menyuruh satpam rumahnya untuk mengusir wanita itu.
"Aneh, biasanya Bude paling berempati dengan orang lain kenapa sekarang ia berubah. Ia cenderung lebih cuek saat menghadapi wanita itu,"
Namun karena tak mau ikut campur dengan urusan Arsih, Tini memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Tepat pukul sebelas malam Tini mendengar suara berisik warga memberitahukan kebakaran rumah . Namun karena kelelahan Tini yang enggan bangun dari ranjangnya memilih melanjutkan tidur tanpa mencari tahu rumah siapa yang dilalap api.
Pagi harinya saat mendatangi kediaman Arsih gadis itu benar-benar tercengang saat melihat istana megah Arsih sudah habis terbakar. Hanya kepulan asap dan sisa-sisa bangunan yang bisa ia lihat.
Ia kemudian mendatangi rumah kerabat Arsih dan seketika gadis itu menangis histeris saat melihat jenazah Arsih yang tewas terbakar
Kini ia kebingungan mencari uang untuk membayar sisa hutang Herman. Saat gadis itu kebingungan seorang pria datang menemuinya untuk mencari Arsih.
"Maaf anda siapa, dan ada perlu apa dengan Bude Arsih?" tanya Tini
"Saya Jaka Kelana, kebetulan saya datang kesini untuk mengambil benda pusaka yang di pinjam oleh Arsih, karena perjanjian kami sudah berakhir maka aku harus mengambil pusaka itu lagi," jawab pria itu
"Benda pusaka apa Mas, mungkin saya bisa membantu mencarikannya?"
"Sebuah baju Pengantin," jawab Pria itu membuat Tini tercengang
"Tapi semua barang-barang milik Bude habis terbakar satupun yang tersisa," jawab Tini
Namun seolah tak percaya dengan Tini pria itu kemudian mendatangi kediaman Tini yang sudah habis terbakar.
Betapa terkejutnya Tini saat pria itu menemukan sebuah Gaun pengantin yang sama sekali tidak tersentuh api diantara tumpukan barang-barang yang sudah terbakar.
"Bagaimana mungkin Baju itu masih bersih tanpa tersentuh api??"
Setelah menemukan baju itu pria itu pamit undur diri. Namun Tini menahan pria itu karena penasaran.
"Kalau boleh tahu benda pusaka apa baju pengantin itu sampai tak bisa disentuh oleh Api?"
"Ini adalah pusaka pesugihan," jawab pria itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Al Fatih
jangan2 setelah ini,, Tini yang akan melanjutkan pesugihan itu....
2023-10-29
1
🌈 єνιʝυℓιє ♓ℹ️🅰🌴
wow keren 😎
2023-09-29
0
Yuli Eka Puji R
katanya utangnya dua tujuh puluh thor, lain kali di chek lg tulisannya thor
2023-05-10
0