Bab 15

Tini mempersilakan Zain masuk. Lelaki itu kemudian duduk di sofa panjang sembari mengamati semua perabot rumah itu yang tampak antik dan mewah.

"Aku kira kau akan menelpon ku tahunya malah kau mengagetkan aku dengan datang ke rumah tanpa mengabari ku lebih dulu," ujar Tini duduk disampingnya

Zain tersenyum lebar mendengar keluhan wanita cantik itu.

"Maaf kalau sudah mengejutkan. Sebenarnya aku hanya ingin memberikan surprise saja," jawab Zain

"Benarkah, aku senang sekali mendengarnya. Karena jarang-jarang loh cowok yang mau kasih surprise ke aku," jawab Tini begitu girang

"Tentu saja, buktinya kedatangan ku saja sudah membuat mu terkejut, nah itu namanya surprise Tin," tutur Zain

"Ah kamu bisa aja, btw kamu mau minum apa?" tanya Tini

"Apa aja Tin," sahut Zain

Tini bergegas menuju ke dapur untuk membuatkan minuman Zain. Tidak lama wanita itu kembali dengan membawa dua gelas kopi hangat lengkap dengan camilan.

Zain langsung menyeruput kopi buatan Tini.

"Apa kamu seorang desainer gaun pengantin?" tanya Zain saat menatap tiga gaun pengantin tergantung di lemari.

"Bagaimana kamu tahu?" tanya Tini mengernyitkan keningnya

Zain menunjuk kearah lemari didepannya.

Tini tersenyum lebar dan kemudian memasang wajah sedih.

"Sebenarnya itu adalah tiga gaun pengantin ku, kebetulan aku tiga kali gagal saat akan menikah," ucap Tini gusar

"Kenapa bisa begitu," telisik Zain

Tini menghela nafas dan mulai menceritakan bagaimana hubungannya dengan ke tiga calon suaminya. Zain terlihat prihatin saat mendengar cerita pernikahan Tini yang selalu kandas saat gaun pengantinnya sudah selesai di jahit.

Sebenarnya banyak tanya yang memenuhi benak pemuda itu. Bagaimana bisa semua valon suaminya pergi di saat gaun pengantinnya selesai di jahit. Kenapa juga Tini harus menjahit gaun pengantinnya sendiri jika sudah sering mengalami kejadian horor seperti itu.

Namun demi menjaga privasi Tini, Zain mengurungkan pertanyaan tersebut kepadanya. Ia tahu pasti jika Tini memiliki alasan kenapa memilih menjahit gaun pengantinnya sendiri apalagi dia seorang desainer.

Begitupun dengan kematian calon suami Tini ia menganggapnya sebagai takdir Tuhan.

"Sorry kalau aku sudah membuat mu sedih," ucap Zain berusaha menenangkan Tini yang mulai berkaca-kaca

"Tak apa lagipula sekarang aku sudah bahagia dengan calon suami baru, doakan saja kali ini aku bisa sampai pelaminan," jawab Tini

"Aamiin,"

Keduanya kemudian melanjutkan pembicaraan mereka hingga kedatangan Faaz membuat keduanya menyudahi pembicaraan mereka.

Tini kemudian ,memperkenalkan Faaz kepada Zain.

"Zain, kenalkan dia Faaz calon suami ku," ujar Tini

Faaz kemudian mengulurkan tangannya dan Zain segera menyambutnya.

Tini tak lupa memberitahu Faaz jika Zain adalah sahabatnya atau bisa dibilang mantan tetangga kosnya dulu.

Zain mencoba mengakrabkan diri dengan Faaz. Ia mengajak Faaz berbincang di beranda rumah sembari menikmati semilir angin saat Tini sedang membuatkan minuman untuknya.

Meskipun Zain hanya membahas tentang pekerjaannya namun Faaz tampak senang mendengar ucapan santun dan gaya bicara Zain yang menyenangkan.

Senang dengan sikap ramah Zain dan pembawaannya yang sederhana dan santun membuat Faaz ingin menjadikan Zain sebagai sopir pribadinya.

"Sebenarnya aku sedang mencari seorang sopir, jika kau tidak keberatan maukah kau menjadi sopir pribadiku?" tanya Faaz

"Tentu saja, hanya saja aku masih terikat kontrak sampai akhir bulan ini, kalau anda masih berkenan mungkin bulan depan saya akan menerima tawaran anda," jawab Zain

Faaz terlihat kecewa mendengar jawaban Zain.

"Padahal aku sangat berharap kamu langsung menerima tawaran ini, tapi ya sudahlah kau boleh mulai bekerja bulan depan,"

"Baik, kalau begitu aku pamit," ucap Zain

Namun Faaz menahannya, "Kenapa buru-buru sekali, kenapa tidak nanti saja pulangnya setelah makan siang,"

Melihat Faaz yang begitu keras menahannya membuat Zain tak bisa menolak keinginan pria itu.

Mungkin ini seperti firasat bagi Faaz yang menginginkan Zain tetap bersamanya.

Ia kemudian mengajak Zain dan Tini makan siang di sebuah restoran tak jauh dari kediaman Tini. Tak ada yang ganjil dengannya. Faaz bersikap seperti biasa bahkan menikmati makan siangnya dengan lahap.

Namun entah kenapa tatap matanya tiba-tiba kosong setelah adzan dhuhur berkumandang. Ia pamit ke toilet karena merasa mual.

Tini yang khawatir karena Faaz sudah hampir satu setengah jam tak juga kembali, memerintahkan Zain untuk menyusulnya.

Zain beranjak dari duduknya menuju toilet.

Toilet tampak sepi tak terlihat seorangpun di sana. Zain mengira jika Faaz sudah kembali. Ia menghubungi Tini untuk memberitahukan jika Faaz tidak ada di toilet.

Tini segera menghubungi ponsel Faaz untuk memastikan keberadaannya. Namun Faaz tak menjawab teleponnya, hingga membuat gadis itu semakin khawatir.

Berkali-kali ia menghubunginya namun Faaz tak menjawabnya.

"Ya ampun kamu dimana sih Mas," ucap Tini tampak frustasi

Ia bahkan menghubungi ke rumahnya untuk mengetahui apa dia sudah pulang atau belum.

Asisten rumah tangga Faaz mengatakan jika majikannya belum pulang. Tentu saja hal itu membuat Tini semakin ketakutan.

Wajah Tini mulai berkeringat, perasaannya mulai tak tenang dan firasatnya mengatakan jika sesuatu yang buruk terjadi pada calon suaminya itu.

Saat hendak meninggalkan toilet, Zain mendengar suara air mengalir dari salah satu toilet.

Suara gemericik air itu tampak berbeda hingga membuat pemuda itu penasaran.

Ia kemudian bergegas memeriksanya. Pria itu terkejut saat melihat darah mengalir dari keran salah satu westafel.

Ia segera mematikannya, dan tak lama terdengar suara seseorang memuntahkan sesuatu di wastafel sebelahnya.

Matanya melebar saat melihat sosok Faaz muntah darah di sebelahnya.

"Faaz!!"

Tak ada suara terdengar meskipun Faaz menyalakan kran untuk mengguyur sisa muntahannya berkali-kali.

Zain menempelkan tangannya ke bahu Faaz membuat lelaki itu seketika menoleh kearahnya.

Zain terkesiap melihat wajah pria itu yang terlihat begitu menakutkan.

"Subhanallah, La hawla wala qu wata illah billah," ucap Zain saat menatap sosok Faaz

"Siapa yang sudah membuat mu seperti ini??' ucap Zain

Faaz masih membisu, pria itu tak bisa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.

Hanya bola matanya saja yang bergerak ke kanan dan ke kiri.

Zain mengambil air dengan tangannya. Tak lupa ia membaca kalimat toyibah dan mengusapkan air itu ke wajah Faaz.

Seketika Faaz langsung memeluknya erat seperti orang yang ketakutan.

Zain menepuk-nepuk punggung pria itu sambil membisikkan ayat kursi di telinganya.

Tidak lama Faaz melepaskan pelukannya. Kini pria itu tampak memegangi lehernya yang terasa panas.

Zain menyuruh Faaz meminum air keran untuk menghilangkan rasa dahaga dan panas dalam dirinya.

Benar saja setelah meminum air Faaz merasakan tubuhnya terasa adem.

"Terimakasih Zain, sudah datang menolong ku," ucapnya lirih

"Siapa yang sudah membuat mu seperti ini?" tanya Zain

Terpopuler

Comments

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

klu bisa tolonglah si Faaz Zain kasihan dia klu harus jd korban selanjutnya

2023-04-04

1

✰͜͡w⃠Husna ✪⃟𝔄ʀ

✰͜͡w⃠Husna ✪⃟𝔄ʀ

akankah Faaz jadi korban Tini juga tidakkah si Zain menghentikan itu agar tidak terjadi korban lagi

2023-04-04

2

⸙ᵍᵏ𝐙⃝🦜Titian Mentari 🦈

⸙ᵍᵏ𝐙⃝🦜Titian Mentari 🦈

Tini belum buat gaun pengantin tapi Faaz udah muntah darah 🤔

2023-04-04

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!