Bab 17

"Dia memilih mu, temanilah ia beberapa hari di rumahnya," ucap Candra

Ia kemudian membantu Faaz turun dari ranjangnya dan membawa mereka ke parkiran mobil.

Tini buru-buru masuk kedalam mobil karena ia juga ingin mengantar Faaz pulang.

Candra mengernyit saat melihat Tini masuk kedalam mobilnya. Lelaki itu mengomelinya dan menyuruhnya turun dari mobilnya.

"Bukankah kau bisa mengantarnya dengan naik mobil mu sendiri, jadi turunlah!" ucap Candra dengan suara lantang

Melihat wajah Tini yang sendu membuat Zain turun dari mobil dan menawarkan diri untuk membawa mobil Tini.

Wanita itu merasa senang dengan Zain yang begitu mengerti dirinya. Ia kemudian memberikan kunci mobilnya kepada pria itu.

"Sekali lagi terimakasih banyak ya A," ucap Tini sumringah

"Sama-sama," jawab Zain

Lelaki itu segera masuk kedalam mobilnya dan melesat meninggalkan halaman parkir rumah sakit.

Sementara itu Candra terus memasang wajah cemberut dan mendengus kesal saat melihat Tini berusaha memamerkan kemesraannya dengan Faaz .

"Sial, kau pikir aku ini sopir kalian apa!" cibir Candra

*Ciit!!

Candra menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Faaz diikuti oleh Zain yang memarkirkan mobilnya di sebelahnya.

Sementara itu Tini segera menggandeng lengan Faaz dan mengajaknya masuk kedalam rumah.

"Tolong jaga Faaz selama ia sakit. Ia masih belum bisa bicara karena masih Shock, tapi dia bisa berbicara dengan tulisan jadi kau tidak akan kesulitan untuk memahaminya. Oh iya ini nomor ponselku, tolong kabari aku jika terjadi sesuatu dengan Faaz, atau kau menemukan hal-hal ganjil selama menjaganya," ucap Candra

"Baik Mas," jawab Zain

Tak lupa Candra juga memberikan dua lembar uang ratusan ribu kepada pria itu.

"Anggap saja itu buat uang rokok kamu selama menemani Faaz,"

"Terimakasih banyak Mas,"

"Sama-sama, kalau begitu aku tinggal ya," jawab Candra

"Loh Masnya gak mau masuk dulu?" tanya Zain

"Tidak usah aku masih ada urusan di kantor, jadi tolong jaga Faaz dengan baik, aku percayakan dia padamu!" jawab Candra

Zain mengangguk, pria itu kemudian mengantar Candra menuju ke mobilnya.

Sementara itu Tini mengintip kepergian Candra dari balik tirai.

"Sebaiknya kau pergi saja, itu akan lebih baik untuknya," ucapnya lirih

Zain segera masuk kedalam setelah kepergian Candra.

Sementara itu Tini buru meletakkan sesuatu di bawah tempat tidur Faaz dan buru-buru keluar saat sang pemilik kamar memasuki ruangan itu.

"Sayang, maaf ya aku sepertinya gak bisa lama-lama di sini karena harus menyelesaikan gaun pengantin kita," ucap Tini bergelayut manja dalam pelukan Faaz

Faaz mengangguk dan mengantarnya turun.

"Aa, aku pulang dulu ya, titip Faaz, tolong jagain dia," ucap Tini menghampiri Zain

"Iya Tin," jawab Zain

Tini kemudian berlalu pergi meninggalkan kedua pria itu.

Faaz kemudian duduk di beranda dan mengeluarkan rokok dari saku celananya.

"Rokok?"

Faaz memberikan rokoknya kepada Zain.

"Kenapa, kau pasti bingung ya kenapa aku bisa bicara tapi tak mau bicara pada mereka?" ucap Faaz

Lelaki itu menyalakan rokoknya kemudian menghisapnya perlahan.

"Itukan pilihan Mas jadi sah-sah saja sih," jawab Zain

Faaz memberikan korek api kepadanya dan kembali menyampaikan kegundahan hatinya.

"Aku suka denganmu yang tak kaku, makanya aku memilih mu untuk menemaniku sekarang," Faaz mengepulkan asap rokoknya perlahan-lahan

"Jangan terlalu berlebihan. Aku tidak sebaik yang kau pikirkan," jawab Zain

"Itulah yang aku suka darimu, membumi dan tak mau semua orang tahu kebaikan mu. Terimakasih atas bantuannya," ucap Faaz menatapnya sendu

"Memangnya apa yang sudah aku lakukan?"

"Kau bahkan tak bertanya kepada ku apa yang terjadi denganku, padahal kau yang begitu panik saat tahu aku menghilang di toilet,"

"Itu...itu karena aku tak mau membebani mu yang baru siuman. Bagiku melihat mu sudah kembali sehat itu yang terpenting. Lagipula untuk apa menanyakan kejadian yang hanya akan membuat mu ketakutan, bukan begitu?" jawab Zain tampak gugup

"Benar, apa yang kau katakan benar. Aku suka sikap to the point mu, great... and I like it," ucap Faaz

"Kondisi ku sudah baik-baik saja, jadi kalau kamu mau pulang silakan," imbuh Faaz

"Apa kau mengusir ku?" tanya Zain mengerutkan keningnya

"Bukan begitu, semuanya terserah padamu kau boleh stay atau pulang karena aku sudah baik-baik saja. Aku hanya berakting sebentar karena aku tidak suka perdebatan antara Candra dan Tini. Aku tak mau dua orang yang aku sayangi bertengkar hanya karena aku, itulah alasannya aku memilih mu,"

"Ok, aku paham. Tapi aku harus menjalankan amai yang sudah di berikan oleh Candra untuk menjagamu sampai malam ini saja. Aku akan memutuskan akan tinggal atau pulang besok pagi. Apa kau tidak keberatan?" jawab Zain balik bertanya

"Tentu saja, terimakasih banyak Zain kamu selalu membuat keputusan yang tepat,"

Faaz menepuk-nepuk pundak Zain.

*********

Tini tampak semakin gusar saat para maintenance tak menemukan apapun di cctv rumahnya.

"Jika tidak ada yang mencurinya, lalu kemana hilangnya baju itu," ucap Tini tampak frustasi

Ia kemudian menghubungi Ki Jaka untuk menanyakan hal itu padanya.

"Apa yang harus aku lakukan Aki, aku benar-benar takut. Aku takut jika Faaz tidak menjadi tumbal maka aku harus menggantikannya," ucap Tini begitu cemas

"Jangan khawatir mencuri baju pengantin itu tak akan mengubah apapun. Dia akan tetap mati dan menjadi tumbal karena sudah berhubungan badan denganmu," jawab Ki Jaka

"Syukurlah kalau begitu, aku sempat berpikir untuk membuat gaun pengantin baru untuk menggantikannya,"

"Tidak perlu siapkan saja semuanya seperti biasa,"

"Baik Aki, Terimakasih atas informasinya," Tino tampak lega setelah mendengar jawaban Ki Jaka,

Namun tetap saja ia penasaran siapa yang sudah berusaha menggagalkan rencananya dengan mencuri gaun pengantinnya.

"Apa Candra pelakunya, bukankah hanya dia yang mungkin melakukan hal ini,"

Wanita itu kemudian mengambil tas kecilnya dan bergegas menemui Candra di kantornya.

Setibanya MG Company seorang wanita menyuruhnya menunggu di ruang tunggu.

Tak lama Candra menemuinya.

"Ada perlu apa kau datang menemui ku?" tanya Candra

"Dimana gaun pengantin ku?" jawab Tini menatap tajam pria itu

"Kenapa bertanya padaku, memangnya aku petugas laundry!" sahut Candra

"Jangan bercanda, gaun pengantin ku hilang, aku tahu itu perbuatan mu jadi cepat kembalikan!" ucap Tini dengan nada tinggi

"Bukankah sudah ku bilang, aku tidak tahu jadi kenapa kau bertanya padaku,"

Tini menarik sudut bibirnya dan memasang wajah bengisnya

"Hanya kau yang tahu makna gaun pengantin itu, aku yakin kau sengaja mencurinya karena ingin menyelamatkan temanmu. Tapi sayangnya apapun yang kau lakukan semuanya sia-sia saja, karena Faaz tetap akan mati," bisik Tini

Terpopuler

Comments

Anisha Andriyana Bahri

Anisha Andriyana Bahri

kejamnya km tini.. org" yg g bersalah jd tumbalmu pdhl mrka smua bnr" mncintaimu.

2023-04-04

0

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

Faaz apakah dia sebenarnya tau siapa Tini dan kenapa dia percaya betul dengan Zain semoga Zain bisa membantu Faaz

2023-04-04

1

✰͜͡w⃠Husna ✪⃟𝔄ʀ

✰͜͡w⃠Husna ✪⃟𝔄ʀ

benarkah Faaz akan tetap mati tak ada cara lain kah menyelamatkan jiwanya...kejam kau Tini

2023-04-04

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!