Seperti seorang terkena pelet Herman benar-benar menjadi tergila-gila dengan Tini.
Pria itu berkali-kali mendatanginya dan mengajaknya pergi berdua atau sekedar menawarkan bantuan untuknya.
Tini yang membenci pria itu selalu menolaknya. Namun semakin ia menolak semakin Herman terus mendekatinya.
Malam Itu, Tini terkejut saat melihat kedatangan Nyi Ratu di kediamannya.
Wanita itu berdiri didepan ruang kosong sembari menatapnya tajam seolah ingin menusuknya.
Tini segera bersimpuh dihadapannya dan meminta ampun, namun saat ia mendongakkan wajahnya wanita itu sudah menghilang. Hanya bau busuk yang menyeruak sepeninggalnya hingga hampir membuatnya muntah-muntah.
*Hueekk!!
Ia buru-buru mengambil pewangi ruangan dan menyemprotkannya di sekitar kamar itu.
Karena bau busuk itu Tini bahkan tak bisa tidur hingga pagi menjelang.
Saat matahari mulai naik dan menebarkan kehangatan wanita itu baru bisa memejamkan matanya.
Namun baru saja matanya terpejam suara ketukan pintu membangunkannya.
"Ah siapa sih yang datang pagi-pagi buta begini!" gerutunya
Dengan mata yang masih terpejam ia bangkit dari ranjangnya dan membukakan pintu rumahnya.
Seorang pria berdiri didepannya dengan menggunakan pakaian serba hitam membuat Tini seketika membelakakan matanya.
"Ki Jaka??"
Wanita itu buru-buru merapikan penampilannya dan mempersilakan pria itu masuk kedalam.
"Ada hal penting apa hingga Aki menemui ku pagi-pagi begini?" tanyanya dengan wajah penasaran
Melihat ekspresi wajah Ki Jaka yang terlihat sangat dingin membuatnya merasa ada yang salah dengan dirinya.
"Apa ada yang salah denganku?"
Gadis itu berusaha memecahkan teka-teki yang membuatnya ketakutan.
"Hmm," ucap Ki Jaka
"Tolong beritahu kesalahan ku Aki dan jangan membuat ku mati penasaran," sahut Tini
"Apa Nyi Ratu mendatangi mu?" tanya pria itu sontak membuat Tini semakin ketakutan
"Memangnya apa salahku sehingga Nyi Ratu tampak begitu marah padaku?" tanya Tini
"Saat kau sudah membuat kesepakatan dengan Nyi Ratu maka kau harus melakukannya dengan sepenuh hati. Kamu tak boleh pilih-pilih lelaki mana yang akan kau tumbalkan Kepada Nyi Ratu. Siapapun pria yang datang padamu maka kamu harus menumbalkannya kepada Nyi Ratu, karena jika tidak maka kau yang akan menjadi tumbal selanjutnya," terang Ki Jaka
Seketika wajah Tini memucat, bibirnya terkatup rapat tak berani menjawab ucapan Ki Jaka.
Tatapan matanya mulai kosong mengingat apa yang akan terjadi dengan Herman, meskipun ia sangat membenci pria itu, tapi tak sedikitpun terbersit dalam pikirannya untuk menjadikannya sebagai tumbal pesugihannya.
"Baik," hanya kata itu yang keluar dari bibir tipisnya
"Semua tumbal sudah di pilih oleh Nyi Ratu dan kau hanya perlu menjalankan tugasmu," imbuh Ki Jaka sebelum berpamitan pulang.
Tini tak habis pikir bagaimana Herman akan menjadi tumbal selanjutnya padahal ia bukan pria kaya. Lalu apa yang akan ia dapatkan darinya?.
"Semua tumbal sudah di pilih oleh Nyi Ratu. Jangan khawatir kau akan tetap mendapatkan kekayaan sesuai mahar yang kau berikan jadi kau hanya perlu menjalankan tugasmu dengan baik," ucap Ki Jaka seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Tini.
Lelaki itu kemudian berpamitan pulang setelah menyampaikan semua pesannya kepada Tini.
Seketika Tini merasa lemas, keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Lalu bagaimana jika suatu hari aku jatuh hati dengan seorang pria yang akan menjadi tumbalku, aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanku saat itu," ucap Tini gusar
*Tok, tok, tok!!
Suara ketukan pintu membuat Tini terhenyak dari lamunannya.
Ia segera menutup kembali pintu rumahnya saat melihat pria yang berdiri di depan pintu adalah Herman.
"Tin, buka dong, aku mau ngomong bentar!" seru Herman sambil terus mengetuk pintu rumahnya
Saat Tini hendak menghardiknya, tiba-tiba pesan Ki Jaka terngiang-ngiang di telinganya membuat wanita itu kembali membuka pintu rumahnya.
"Maaf Mas Herman, saya tidak mau di cap sebagai pelakor jadi tolong jangan temui aku lagi," ucap Tini mencoba mengusirnya dengan halus
"Tapi aku ke sini kan cuma mau minta maaf saja Tin, aku merasa bersalah karena sudah mengecewakan kamu," jawab Herman
"Ok sudah saya maafkan, jadi silakan kembali ke asalnya," jawab Tini sinis
Sementara itu mengetahui suaminya pergi ke rumah Tini membuat Maudy murka.
"Dasar wanita murahan, beraninya dia menggoda pria beristri. Dasar tak tahu malu, awas saja aku pasti akan memberikan pelajaran padamu,"
Maudy kemudian mendatangi rumah Tini. Ditengah perjalanan saat ia melihat air got yang meluap, ia berpikir untuk menyiram Tini dengan air comberan itu.
Benar saja, amarahya seketika meletup-letup saat melihat suaminya memberikan sebuah cincin emas kepadanya.
"Anggap ini sebagai ucapan permintaan maaf dari ku, jadi tolong diterima ya," ucap Herman memberikan cincin pernikahannya kepada Tini
"Dasar wanita gatel, udah diputusin masih aja ngejar-ngejar suami orang dasar tak tahu malu!" cibir Maudy
Wanita itu kemudian menyiramkan air got yang dibawanya ke wajah Tini membuat gadis itu seketika mengepalkan tangannya.
*Byuurr!!
"Maaf Mas tapi saya tidak menerima hadiah cincin pernikahan, kalau mas mau memberikan sesuatu kepadaku sebagai bukti permintaan maaf maka belikan Tini cincin dari berlian, baru setelah itu aku akan memaafkan mu dengan tulus dan tentu saja memperbaiki hubungan kita yang sempat retak," jawab Tini kemudian mengembalikan cincin pemberian Herman
Seketika Maudy semakin murka dan berniat menjambak rambut Tini, namun dengan sigap Tini langsung menangkap tangannya.
"Kali ini aku memaafkan kamu karena kamu tidak tahu permasalahan sebenarnya antara aku dan Mas Herman. Tapi aku tidak bisa memaafkan mu jika kau melampaui batas lagi," tutur Tini kemudian segera masuk kedalam rumahnya.
Setelah kejadian hari itu Herman langsung mengambil uang tabungannya untuk membelikan cincin berlian untuk Tini.
Ia bahkan sampai bertengkar dengan istrinya karena masalah itu. Lelaki itu bahkan tak segan-segan menampar Maudy saat ia menghalanginya untuk menemui Tini.
Melihat sikap Herman yang berubah membuat Maudy meminta bantuan kepada orang pintar untuk mengobatinya.
"Sepertinya suami anda memang terkena guna-guna, tapi kekuatan si pemilik guna-guna ini sangat kuat dan aku tidak bisa melawannya," ucap seorang dukun membuat Maudy panik
"Lalu dimana aku bisa bertemu dengan dukun sakti yang bisa menyembuhkan suamiku?" tanya Maudy
"Sebaiknya datang saja ke Ki Daman yang ada di desa sebelah, aku yakin dia pasti bisa menyembuhkan suamimu," jawab sang dukun
Keesokan harinya Maudy datang ke desa tetangga untuk bertemu dengan Ki Daman. Meskipun ia harus mengantre panjang hingga ia bermalam di kediaman sang dukun demi mengobati Herman.
"Tolong bantu saya Aki, suamiku terkena pelet mantan pacarnya," ucap Maudy saat bertemu sang dukun
"Dimana suamimu?" tanya pria itu
"Dia di rumah, saat saya mengajaknya ke sini dia tak mau ikut," jawab Maudy gusar
"Kalau dari penglihatan ku suamimu bukan terkena guna-guna atau pelet, tapi dia harus menebus kesalahannya dengan menjadi tumbal pesugihan," jawab sang dukun membuat Maudy nyaris pingsan
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
🦈Mom Panji
ternyata kau juga ngk tega ya menjadikan Herman tumbal
2023-04-03
1
✪⃟𝔄ʀ Mubarok🦈
saatnya pembalasan bagi sang pengkhianat
2023-03-24
2
⸙ᵍᵏ𝐙⃝🦜Titian Mentari 🦈
gak bisa lolos Herman dari tumbal pesugihan tini
2023-03-22
2