Jayde v Alexander

Markas Triad Chen Hongkong

Alexander menatap judes ke Kalila yang seolah tidak paham kalau semutan itu jangan dikeplak... makin menjadi rasanya.

"Oooohhh sakit ya? Sini-sini aku elus-elus... " goda Kalila.

"Nggak usah, nona!" tolak Alexander. Bisa bahaya kalau dielus - elus sama kamu. Yang paha sembuh, yang lain menongol. Aku masih sayang dengan wajahku.

"Tapi Lex?"

"Sudah... Tidak apa-apa. Oh tadi ayah nona menelpon."

"Oh, kamu terima?"

Alexander mengangguk. "Maaf jika saya harus menerimanya, nona."

"It's okay."

Suara pintu kamar terbuka membuat keduanya menoleh dan tampak Jayde keluar dengan wajah berantakan masih mengantuk.

"Pada kemana, Lila?" tanya Jayde.

"Ke penjara membawakan baju. Kita bertiga di sini Jayde. Aku telpon Daddy dulu. Oh ada dimsum dan bakpao halal tuh. Buat ganjal perut."

"Thanks." Jayde mengambil piring kertas dan meletakkan bakpau serta dimsum. Pria itu mengambil botol teh dan air mineral lalu dibawa ke meja tamu. "Kalian sudah makan?"

"Sudah. Tadi kamu masuk kamar, kami makan duluan" jawab Alexander.

Jayde mengangguk. "Semoga nanti Sky membawakan makanan karena hanya makan seperti ini, mana kenyang?"

"Dasar badan besar!" cebik Kalilia. "No, daddy aku bicara dengan Jayde."

Jayde dan Alexander tertawa mendengar Kalila pasti kena tegur oleh Enzo.

"Kalau lagi telepon, jangan komentar yang di luar orang telepon, Lila" senyum Alexander. Kalila menyipitkan matanya ke arah Alexander sambil menjulurkan lidahnya.

"Kalian itu macam Gabriel dan Garvita. Tidak bisa akur!" kekeh Jayde.

"Nggak bakalan!" balas Kalila. "Iya Daddy, Lila disini."

Jayde dan Alexander terbahak.

"Padahal barusan dibilangin" ucap Jayde sambil menggigit bakpaonya. "Ayam charsiu?"

"Yup. Ada coklat, keju, ayam charsiu, ayam lada hitam..." jawab Alexander. "Rasanya jauh lebih enak daripada yang aku makan di Dubai."

"Kan memang ini pusatnya masakan Chinese enak-enak."

Suara pintu besar ruang kerja Sky Chen terbuka dan tampak pria itu membawakan banyak makanan. "Ayam Hainan dan berbagai macam makanan halal lainnya" ucapnya.

"Thanks Sky, bakpao dan dimsum tidak kenyang!" ucap Jayde bahagia.

***

Ketiga orang disana sedang menikmati makan malam yang dibawakan Sky ketika pintu besar itu terbuka dan tampak seorang pria berdarah Italia dan berdarah Asia masuk.

Kalila dan Jayde tersenyum melihat siapa yang datang. "Akhirnya datang juga Oom" sapa Jayde sambil berdiri dan Salim ke keduanya.

"Oom Luca! Oom Hoshi!" seru Kalila sambil Salim dan memeluk dua Oomnya.

"Kalian baik-baik saja?" tanya Luca.

Alexander pun datang menghampiri dan bersalaman dengan kedua pria itu.

"Jayde, kena berapa jahitan?" tanya Luca saat melihat lengan keponakannya terbebat perban dan harus memakai arm sling sekarang setelah merasakan sakit.

"24 jahitan Oom."

"Nice! Kalian berdua tidak apa-apa? Lila, apa butuh konseling Deya atau Zee karena kamu sudah membunuh banyak orang?" tawar Hoshi karena tahu pasti berat buat gadis belia yang baru masuk awal usia 20 an harus menghadapi situasi seperti ini. "Nanti biar Oom Hubungi Zee atau Deya."

"Nggak usah Oom. Lila bisa menghandle nya. Nanti biar aku konsultasi dengan mommy dan Oma. Oma Sabine pasti tahu cara menghandle bagaimana emosi kita setelah melakukan sniper."

"Benar ya! Kamu harus konsultasi dengan Oma Sabine. Atau kamu konsultasi dengan psikolog keluarga." Hoshi menatap serius ke keponakannya. "Oke Lila?"

Kalila mengangguk. "Baik Oom." Alexander merangkul bahu Kalila dan memberikan usapan menenangkan membuat gadis itu sedikit terkejut tapi rasa nyaman dan terlindungi terasa di sana.

"Oke. Sekarang kita tinggal menunggu para generasi kelima datang. Lho itu kan tas nya Luke?" tunjuk Luca ke jejeran tas dan koper yang mereka tahu adalah milik anak dan keponakan keduanya.

" Iya Oom, tas nya disini tapi isinya sudah di penjara. Aku tadi yang mengantarkan ke penjara karena mereka semua kan butuh baju ganti. Apalagi Wira, sempat terpeleset di genangan darah." Sky menjelaskan kepada Hoshi dan Luca.

"Bagaimana tadi Jayde? Kamu bunuh siapa?" tanya Luca.

"Mark Wong. Pakai bisa black mamba" jawab Jayde kalem membuat kedua Oomnya melongo.

"Seriously?" tanya Hoshi.

"Serius. Itu idenya Wira" jawab Jayde.

"Aku yang mendapatkan bisa itu Oom. Ini Hongkong, black market kami punya segalanya" senyum Sky.

"Kamu taruh dimana bisa itu?" tanya Luca.

"Ujung baton kami. Baton kami sudah kami sudah dimodifikasi jauh sebelum kita ke Hongkong untuk membela diri dengan memasangkan ujung pisau kecil. Dan bisa menusuk jika tombolnya dipencet untuk memunculkan ujung pisau itu."

"Dan kalian balur dengan bisa black mamba?" Hoshi menatap Jayde.

"Yes. Hanya satu drop sudah bisa membuat kuda mati."

Luca dan Hoshi menggelengkan kepalanya. "Dasar Vampir!"

***

Hoshi dan Luca memesan satu lantai khusus di Ritz Carlton Hotel di Hongkong dan Kalila merasa sangat senang bisa tidur di kasur yang empuk. Alexander hendak pergi karena dia akan sekamar bersama Jayde.

"Kamu mau kemana, Lex?"

"Tidur di kamar bersama Jayde."

Penthouse yang ditinggali Kalila memiliki dua kamar tidur dan tiga orang itu berada dalam satu ruangan. Kalila menempati kamarnya sendiri sedangkan Jayde sekamar dengan Alexander di kamar satunya yang punya dua tempat tidur.

"Temani bentar... Aku baru merasa jantung aku berdebar setiap teringat tadi aku sudah membunuh banyak orang..." ucap Kalila pelan.

Alexander menghampiri gadis yang sedang tiduran. "Aku akan menemani nona sampai tertidur..."

"Pegang tanganku Lex. Biasanya mommy yang akan selalu memegang tanganku jika aku sedang panik atau tidak bisa tidur." Kalila mengulurkan tangannya yang kemudian digenggam Alexander. Pria itu duduk di pinggir tempat tidur.

"Tidurlah pirncess. Aku akan selalu disini menemanimu..." ucap Alexander sambil mengusap rambut Kalila. Pria itu menatap mata gadis itu yang semakin lama semakin terpejam dan nafas teratur terdengar dari hidungnya.

Alexander bisa memahami sekuat-kuatnya Kalila tapi membunuh orang itu berbeda rasanya apalagi Kalila mungkin baru kali ini membunuh banyak orang.

"Aku tahu kamu lebih mementingkan para saudara mu dibandingkan dengan perasaan kamu tapi kalau kamu tidak kuat menghadapi semuanya, kamu harus tahu kalau aku akan selalu ada disisi kamu..." Alexander mengusap wajah Kalila yang tampak sedikit gelisah dalam tidurnya.

"Be strong Kalila... " Alexander mencium kening Kalila. "Love you." Pria itu mencium bibir gadis itu lembut dan setelah nya dirasa Kalila tenang, Alexander keluar dari kamar gadis itu.

Betapa terkejutnya Alexander ketika melihat Jayde berdiri disana dengan tatapan tidak suka.

"Apakah kamu tahu kalau Kalila sudah dijodohkan?" ucap Jayde dingin.

"Ya saya tahu."

"Jangan sampai kamu merusak semuanya Alexander!"

"Saya tidak akan merusak semuanya, Mr Abisatya" jawab Alexander. Sebab calon suami Lila adalah aku.

"Jangan sampai Lila menghajarmu karena kamu sudah berani menciumnya!"

Alexander hanya tersenyum kecut.

Itu yang bakalan akan terjadi suatu saat nanti!

***

Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa

Thank you for reading and support authOr

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu ❤️🙂❤️

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

gue calon suaminya Jayed..!! tp ngeri² sedap kalau sampai ketahuan Lilla udah nyosor dia... 🤭🤭

2024-01-20

1

英

Jayde...u Sepatutnya tahu 😌😂😂🤣

2023-07-19

1

🍭ͪ ͩ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦ꍏꋪꀤ_💜❄

🍭ͪ ͩ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦ꍏꋪꀤ_💜❄

siapin mental dulu al....
mungkin bukan hanya bogem yg akan kamu dapat nanti 😁😁😁

2023-04-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!