Pergilah Kalila!

Hongkong

Kalila mengawasi Luke yang sedang memprovokasi Mark Wong sedangkan disisi ketua Triad itu terdapat agen Lee dan agen Tang yang menodongkan pistolnya ke Bayu dan Radeva, yang juga menodongkan ke kedua agen HKSS.

"Lila, Jayde dan Wira berantem pakai baton!" ucap Alexander.

"Lawannya?"

"Pakai pedang."

"Gak papa."

Alexander menoleh ke Kalila. "Nggak papa? Nggak papa?"

"Dengar Alex, Jayde itu menekuni anggar, Wira pecinta Kendo. Jadi don't worry!"

Suara adu pedang dan baton antara grup sayap kiri terdengar membuat Alexander penasaran.

"Chisato, ini Alexander Husayn, pengawal nona Kalila Al Jordan. Bagaimana kondisi disana?"

"Mereka masih beradu pedang dan baton Alexander-san" jawab Chisato.

Kalila masih mengawasi sayap kanan dan dia bisa mendengar kalau Luke dan Gary Wong terlibat adu mulut.

DOR!

Suara tembakan membuat Kalila terlonjak begitu juga dengan Alexander yang melongo melihat Sadawira menusuk Bramastyo dengan batonnya.

"Bang Luke!" teriak Kalila.

Tak lama terdengar suara tembakan dan Kalila melihat Bayu dan Radeva menembak Agen Lee dan Agen Tang. Katrin Jaeger menembak Gary Wong dengan peluru biusnya.

"Jika kalian mau menembak kami, peluru sniper akan menembus kepala kalian dalam waktu kurang dari satu detik!" ancam Bayu. "Plus Granat ini akan membunuh kita semua! Pilih mana?"

Semua anggota Triad Wong pun memilih untuk menyerah daripada harus mati konyol gara-gara granat. Bagaimana pun, mereka masih sayang nyawa mereka dan para boss pun sudah pada tewas.

"Bang! Bang!" panggil Bayu ke Luke.

"UHUK! UHUk! Aduuuh... rasanya seperti ditubruk Hyde kalau main smackdown!" gerutu Luke yang membuat Kalila menghela nafas lega.

Alhamdulillah.

Alexander tersentak ketika lengan Jayde kena pedang hingga berdarah. "Lila, Jayde kena sabetan pedang!"

Kalila mengalihkan pandangannya dari sayap kanan ke sayap kiri. Mata hijaunya melotot sempurna melihat lengan Jayde berdarah.

"Jaydeee! Are you okay?" teriak Kalila panik. Sudah bang Luke kena tembak meskipun pakai kevlar, sekarang Jayde kena sabet!

"Just finish him Jayde! You're too long ( Kamu kelamaan )!" ucap Sadawira yang terdengar di earpiece Kalila dan Alexander.

Jayde pun mengangguk dan disaat posisinya menguntungkan, putra Taufan Abisatya itu menusukkan jarum di ujung batonnya di bahu Mark. Sama dengan Bramastyo, Mark pun langsung tercekik dan tak lama, dirinya pun ambruk.

Jayde pun akhirnya jatuh terduduk karena tidak kuat lagi. Kemeja putihnya pun sudah bersimbah darah. Sadawira lalu merobek kain gorden tipis dan mengikatnya di luka Jayde yang berteriak kesakitan.

"Sakit monyong!" teriak Jayde.

"Sorry" jawab Sadawira kalem. "Bawa dia ke Dokter Ken! Kalau perlu, papah dia!" perintah Sadawira ke kedua agen mossad itu.

"Baik Mr Yustiono." Kedua orang Mossad langsung memapah Jayde dan membawa nya keluar menuju Ken yang bertugas sebagai dokter disana.

"Anda baik-baik saja Wira-san?" tanya Chisato.

"I'm fine."

"Wira! Kamu hajar pakai apa?" tanya Kalila di earpiece Sadawira.

"Serum black mamba. Harafiah!"

"What?" seru Kalila dan Alexander bersamaan. "Kamu mengerikan Wira!"

"Bagaimana Jayde?" tanya Gasendra.

"Kena luka sayat tapi dia akan hidup" jawab Sadawira kalem.

"Kamu memang pantasnya jadi dokter forensik!" celetuk Damian. "Mana ada mayat protes kena scalpel!"

Sadawira hanya tersenyum. "Aku dan Chisato akan ke tempat bang Luke."

"Just be careful" pesan Gabriel.

***

Kalila membalik tubuhnya hingga terlentang menghadap langit. Ya Allah, hamba hari ini sudah berdosa tapi hamba lakukan karena untuk melindungi saudara-saudara hamba dari orang jahat. Maafkan hamba... Ucap Kalila dalam hati sambil memejamkan matanya. Bagaimana pun, Kalila merasa bersalah telah membuat banyak orang kehilangan nyawa.

Tak lama Kalila merasa ada yang menutupi wajahnya dan perlahan membuka matanya. Di hadapannya ada wajah tampan Alexander yang menatapnya penuh concern.

"Are you okay, nona?" tanya Alexander.

"I'm fine."

Alexander mencium kening Kalila. "You're doing great today ( kamu berbuat hebat hari ini)... Kita harus segera bergerak karena para polisi Hongkong pada berdatangan."

Kalila hanya bisa termangu saat Alexander mencium keningnya. Dan dirinya semakin terkejut melihat pria itu dengan santainya melucuti Barrett M82 milik Sabine menjadi bagian per bagian seperti halnya tadi dia lakukan.

"Bagaimana bisa kamu melucuti baby?" tanya Kalila sambil terduduk.

"Well, saya jadi pengawal anda dan salah satunya adalah harus bisa melucuti senjata api, model apapun!" jawab Alexander kalem.

Kalila hanya mengangguk karena memang salah satu persyaratan menjadi pengawal keluarga inti istana Al Jordan adalah harus bisa melucuti senjata api.

Gadis itu melihat bagaimana cepatnya Alexander melepaskan bagian per bagian, mengingat kan dirinya pada Radeva yang merupakan atlet menembak nasional dan internasional di bawah bendera Amerika Serikat.

"Sudah Lila. Kita turun sekarang. Kita bantu Ken!" ajak Alexander yang langsung membawa duffle bag berisikan Baretta M82 dan semua magazinenya plus peralatan yang dibawa Kalila tadi.

***

Keduanya langsung menuju TKP dan melihat Ken sedang membebat luka Jayde.

"Ken!" panggil Kalila ke saudara kembarnya.

"Lila, kamu dan Alex temani Jayde ke rumah sakit! Masuk ambulans sekarang!" perintah Ken Al Jordan.

"Tapi kamu?" Kalila menatap saudara kembarnya sedangkan Alexander memapah Jayde.

"Go! Nanti kamu masuk penjara!" bentak Ken. Keduanya berbicara dengan bahasa Arab yang tidak diketahui banyak orang.

Kalila mengambil duffle bag yang dipegang Alexander agar mempermudah memapah Jayde dan mereka masuk ke dalam ambulans. "去!现在!- Qù! Xiànzài ( Pergi! Sekarang! )!" perintah Kalila ke supir ambulance dan petugas kesehatan.

Ken menatap kepergian saudara kembarnya di dalam ambulans dengan perasaan lega. Bagaimana pun Ken tahu resikonya kalau bakalan dipenjara karena kasus ini dan dia tidak mau kalau sampai dua putra putri Enzo Al Jordan masuk penjara semua.

"Ken!" panggil Nadya. "Tolong Omar!"

Ken pun bergegas membantu Nadya yang berjalan bersama Omar Zidane.

"Bang, aku jahit lukamu dulu ya?" ucap Ken.

"Oke Ken!" jawab Omar. Nadya tampak cemas melihat kondisi agen FBI itu. "I'm fine Nadya. Don't worry!" Omar Zidane memegang tangan Nadya lembut. "I'm fine. Ini hanya luka kecil."

"Tapi darah nya banyak Omar. Ken... apakah bisa berhenti darahnya?" tanya Nadya.

"Kena pembuluh darahnya, Nad. Aku jahit nanti akan berhenti kok" jawab Ken sambil menjahit luka Omar Zidane usai diberikan suntikan bius lokal.

"See, tidak perlu khawatir Nadya." Omar tersenyum ke arah gadis cantik itu.

Nadya mengangguk. Tak lama terdengar suara Bayu di earpiece mereka masing-masing.

"Kita pindah tidur saudara - saudara" ucap cicit Duncan Blair itu.

"Bayu ngomong apa Nad?" tanya Omar karena pria itu menggunakan bahasa Indonesia.

"Kita semua akan masuk penjara, Omar." Mata hijau kecoklatan Nadya menatap pria berdarah Mesir itu serius.

Ken hanya bisa terdiam.

***

Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa

Thank you for reading and support author

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu ❤️🙂❤️

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

sebagai keluarga.. mereka semua totalitas dlm membantu saudaranya... warbiasa banget ini sih... 🤔🤔🤔

2024-01-20

1

🍭ͪ ͩ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦ꍏꋪꀤ_💜❄

🍭ͪ ͩ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦ꍏꋪꀤ_💜❄

cium kening lagi.... ditempat 1 nya Oz sama Nadya dan disini lila sama alex.... 😁😁😁😁

2023-04-10

2

wonder mom

wonder mom

q koq jd malah baper sm kedekatan OZ dan Nad. kedekatan yg terjalin diantara masalah. pindah tidur bareng2 abis tu bongkar aib bareng2

2023-04-09

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!