Tiba di Hongkong

Perjalanan Ke Tokyo

Kalila memencet layar monitor dari kamar nya dan melihat para kakak sepupunya sudah berkumpul di dalam pesawat.

"Semua datang, Lex" ucap Kalila dan Alexander pun berdiri di belakang gadis itu.

"Kalian serius akan menyerbu Hongkong?" tanya Alexander. Sejujurnya dirinya agak cemas karena dia adalah pangeran Qatar dan bisa menjadi skandal internasional.

Alexander mengusap wajahnya. Apa kata kakek kalau tahu calon cucu menantu nya memiliki keluarga bar-bar dan brutal.

"Mas Bayu tampak ngamuk" ucap Kalila.

"Tuan Bayu bukannya memang panasan, Nona?"

"Well, kita semua itu panasan Lex." Kalila berbalik dan nyaris bertabrakan dengan Alexander yang reflek memegang bahu gadis itu.

Alexander menatap wajah Kalila yang terkejut karena nyaris bertabrakan. Calon istriku cantik juga..

"Alex! Kamu ngapain?" tanya Kalila bingung dan tiba-tiba terjadi turbulensi membuat keduanya jatuh diatas tempat tidur dan tanpa sengaja bibir Kalila menyentuh bibir Alexander.

Pria itu reflek memegang wajah Kalila dan Melu*mat bibir gadis itu. Kalila yang terkejut tidak bisa melepaskan diri karena turbulensi membuatnya tidak bisa leluasa bergerak.

Setelah agak tenang, Kalila baru melepaskan diri dari pelukan dan ciuman Alex. Gadis itu tampak marah namun dia harus menahan diri karena tidak mau membuat kakak-kakaknya mendengar dirinya disini. Gadis itu berdiri dan menatap Alexander dengan tatapan ingin membunuh.

Alexander duduk memandang Kalila dengan wajah yang tidak bisa dijabarkan.

"Kalila... tadi itu..."

BUGH!

Kalila meninju wajah Alexander membuat dirinya terjatuh diatas tempat tidur. "Brengsek kamu Lex!" umpat Kalila dengan nada tertahan.

"Itu reflek Lila..." jawab Alexander sambil mengusap rahangnya.

"Itu pencuri kesempatan, jacka$$!"

"Tapi itu sangat wow Lila!"

"Itu tidak wow, Alex!"

Alexander menarik tubuh Kalila dan keduanya duduk berhadapan. "I'm sorry, Lila. Tapi aku tidak bisa melepaskan bibirmu yang ranum itu."

Kalila hendak menghajar Alexander lagi tapi pria itu menahannya dengan memegang tangan gadis itu. "Kamu mau semua kakakmu mendengar keributan kita? Dan rencana kita berantakan?"

"Jangan sentuh aku!" ancam Kalila. "Kalau kamu tidak mau menjadi makanan piranha!"

Alexander melepaskan pegangannya. "Baik Lila."

Kalila menatap Alexander judes. "Kamu tidur di bawah! Dan panggil dengan nona. Bukan nama!"

"Gabriel memanggil Garvita dengan nama..."

"Well I'm not Garvita dan kamu bukan bang Gabriel!" balas Kalila galak.

Alexander hanya bisa mengangguk. Damn, bibirnya enak juga. Tunggu, kalau baru kena cium saja aku sudah ditinju, apalagi kalau Lila tahu aku siapa... Bye bye world.

***

Perjalanan ke Tokyo pun mendarat dengan mulus dan lagi-lagi Kalila harus di kamar bersama dengan Alexander. Gadis itu melihat dari jendela semua kakaknya turun dari pesawat dan dirinya bersyukur semua tampak sehat termasuk Jayde dan Sadawira.

"Apakah kita harus memakai paspor diplomatik?" tanya Alexander.

"Yup. Kamu punya kan? Daddy buatkan khusus untukmu?" balas Kalila.

"Yes nona." Alexander berusaha menjadi Alexander Husayn pengawal Kalila meskipun semakin kemari perasaannya ke calon istrinya makin kuat. Entah sejak kapan Alexander mulai menyukai Kalila tapi yang jelas semua bayangan dirinya tentang putri manja, tidak ada di gadis yang dijodohkan untuknya.

Gadis badass yang tidak ragu jika menolong saudaranya, tidak perduli apapun yang penting keluarga. Alexander kagum dengan keluarga Kalila dan prinsip gadis itu sendiri karena dia tahu, dirinya lah yang mencuri ciuman pertama calon istrinya.

Alexander menatap Kalila yang masih sibuk melihat saudara-saudaranya yang berjalan menuju pintu keluar VIP. Sepertinya aku kualat pada kakek. Aku jatuh cinta dengan gadis yang dijodohkan kepadaku

***

Hongkong

Kalila mendengar dari earpiece yang dipasangnya saat mereka mendarat di Hongkong, bahwa mereka hendak menyerbu markas Triad Wong pada pukul lima pagi.

"Sekarang pukul 3.30. Alex, kita keluar sekarang dan siapkan paspor diplomatik kamu!" Kalila pun keluar dengan membawa Baby yang sudah dia preteli hingga mirip dengan barang - barang yang tidak jelas.

Alexander pun menyiapkan diri dengan paspor diplomatik nya dari Qatar. Bagaimana pun, dia lebih aman menjadi dirinya sendiri saat masuk ke sebuah negara asing.

Keduanya pun keluar dari dalam pesawat dan masuk ke pintu VIP. Pihak imigrasi yang bertugas disana memeriksa masing-masing paspor diplomatik dan Alexander berharap Kalila tidak melihat pasport diplomatik nya berbeda dengan milik gadis itu. Alexander memang dibuatkan oleh Enzo tapi menurutnya lebih mudah jika dia memakai paspornya sendiri.

Alexander bersyukur karena Kalila keluar lebih lama dibandingkan dengan dirinya karena masih ada pemeriksaan barang. Pria itu mengakui kalau gadisnya cerdas dengan mempreteli baby nya agar tidak dicurigai.

"Sudah?" tanya Alexander yang menunggu putri Emir Al Jordan itu keluar pintu imigrasi.

"Sudah. Mereka memeriksa baby tapi karena aku membuatnya seperti barang yang tidak berbentuk, mereka tidak curiga" jawab Kalila. "Ayo, kita naik taksi. Aku tahu alamatnya."

Keduanya naik taksi dan Alexander baru tahu kalau gadis itu bisa berbahasa Mandarin hingga sopir taksinya tidak bisa berbuat curang.

***

Satu Blok dari Markas Triad Wong, pukul 4.45 pagi

Kalila mempelajari gedung markas Triad Wong yang ditunjukkan oleh sopir taksi itu dan mulai melihat gedung yang cocok untuknya mengintai gedung milik Triad Wong.

"Gedung itu cocok Lex!" ujar Kalila sambil menunjuk gedung yang tertulis 'For Sale'. Kalila dan Alexander pun berjalan menuju gedung itu dan menemukan tangga darurat di samping tembok gedung. Keduanya pun naik bertepatan dengan matahari terbit.

Kalila memeriksa sekelilingnya dan dirasa aman, dia mulai membuka duffle bagnya yang berisi baby yang sudah dia preteli. Dengan cekatan, gadis itu mulai memasang bagian per bagian senapan Barrett M82 itu tanpa salah. Alexander yang melihat bagaimana Kalila tampak serius itu menatap kagum bagaimana seorang putri Emir bisa dengan santainya memasang kembali senapan sniper itu.

Kalila memeriksa kembali Baby Sabine dengan mengkokang dan mulai mentarget sasaran dari rifle nya. Gadis itu lalu memasang magazine yang memang dia bawa. Petugas imigrasi tadi meloloskan karena Kalila memiliki ijin menembak internasional ditambah paspor diplomatik nya apalagi tidak ada senjata utuh disana.

"Itu peluru apa Nona?" tanya Alexander yang melihat peluru yang belum pernah dilihatnya.

"Peluru dari Tante GM. Katanya bisa menembus tembok tapi sementara aku memakai peluru biasa dulu." Kalila dan Alexander melihat ke bawah dimana banyak mobil yang terparkir seperti barikade. Keduanya melihat para kakak Kalila turun dengan senjata di tangan dan posisi sudah dalam kondisi menodong.

"Ambil teropong di dalam tas aku, Lex. Ada dua disana. Kita bisa melihat menembus tembok dengan posisi thermal tubuh dan scanner" perintah Kallia yang juga memasang iPad di sebelahnya dan melihat GPS semua saudara nya di gedung Triad Wong.

Alexander meneropong kondisi di gedung itu dan suara tembakan pun mulai terdengar.

"Here we go!" Kalila memposisikan dirinya tengkurap dan mulai mengawasi keluarga nya.

***

Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa

Thank you for reading and support author

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu ❤️🙂❤️

Terpopuler

Comments

Ninik Rochaini

Ninik Rochaini

edaaaannn....keren Lila... /Kiss//Heart//Heart//Heart/

2024-09-03

1

Sandisalbiah

Sandisalbiah

dan gegeran pun dimulai..!! siap² speechless dgn kepiawaian calon istrimu Lex... 🤔🤔🤔

2024-01-20

1

英

Seru kan Alex dpt calon isteri mcm Kalila... selalu waspada LoR kamu

2023-07-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!