Gedung Kosong Tiga Lantai
Kalila memeriksa melalui teropong canggihnya yang terpasang di atas Barrett M82 milik Sabine. Gadis itu bisa melihat bagaimana sepupunya dengan santainya menghajar para anak buah Triad Wong bahkan dia bisa mendengar suara Omar Zidane yang beristighfar terus selama bersama Nadya, Chisato, Jayde dan Sadawira.
"Kasihan Omar" kekeh nya membuat Alexander menoleh.
"Aku kalau menjadi Omar pun akan sama Lila..." ucap Alexander tanpa memanggil nona di depan nama Kalila. "Melihat bagaimana Wira, Nadya dan Chisato bertarung dengan batonnya seperti itu, aku bisa auto pening."
Kalila memilih untuk tidak mengoreksi ucapan Alexander karena dia sudah mengalihkan intaiannya ke kakak sepupunya yang di Dubai. "Mas Sendra dan mas Damian juga gelut tuh bareng Gabriel, Hunter dan Doogie."
"Apakah mereka bisa mengatasi nya?" tanya Alexander yang masih mengawasi tim Omar.
"Jangan remehkan anak-anak Dubai, Alex. Mereka sama brutalnya dengan mas Bayu dan Bang Luke" jawab Kalila.
Gadis itu mengarahkan teropongnya ke Luke, Bayu dan Radeva. Terdengar suara omelan Luke ke kedua orang yang jago tembak itu karena brutal dan boros peluru.
"Apakah mereka tidak mendengarkan percakapan kita, Lila ?" tanya Alex sambil melihat bagaimana anak - anak Dubai berhasil melumpuhkan anggota Triad Wong dengan tangan kosong.
"No, aku belum mengaktifkan percakapan dua arah..." Tiba-tiba keduanya mendengar suara tembakan senapan UZI, AK47 dan AK12. Kalila mendengar umpatan Bayu dan baru melihat bagaimana tiga kakak sepupunya dibombardir dengan senapan semi automatic dengan memiliki magazine sekitar 600 peluru.
Alexander bukannya tidak paham senjata, dia sangat paham senjata meskipun di depan Kalila dia berlagak tidak terlalu jago. "Gila! UZI!" gumamnya.
"Aku bisa melihat pelakunya Lex." Kalila mengkokang Barrett M82 nya dan langsung menarget tiga orang yang membawa senjata semi automatis. "Untungnya kaca" seringai Kalila yang langsung menembak ketiganya.
Pop! PoP! POp !
Suara Barrett M82 memang diberikan silencer agar tidak terdengar oleh siapapun, termasuk Ken dan Pedro yang berada di bawah sedang merawat korban luka dan melobi kepolisian Hongkong bersama dengan Lucas Syahputra, yang diketahui sebagai agen BIN.
"Siapa yang menjadi sniper?" gumam Bayu yang membuat Kalila dan Alexander memencet earpiece mereka.
"Hello boys! Do you miss me?" goda Kalila.
"Kalila?" seru semua orang disana. "What the hell are you doing?" bentak Bayu.
"Well, aku ikut kalian barengan sama Alex" jawab Kalila cuek.
"Kamu menyelinap ke pesawat?" hardik Damian melalui earpiece.
"Yup. Bawa si baby nya Oma lho... Hahahaha" tawa Kalila membuat semua kakaknya melotot.
"F*** you Lila! Apa kata Daddy!" hardik Ken yang berada di area halaman karena bertugas sebagai logistik untuk mengobati yang terluka.
"Ini disuruh Oma Sabine dan Daddy. Jadi..."
"Penjelasannya nanti saja! Sekarang kamu bagian bersih-bersih!" potong Bayu antara kesal dan gemas tapi senang ada sniper.
"Oke mas Bayu." Kalila dan Alex yang bertiarap di dua gedung dari gedung Triad itu sambil mengawasi semua anggota keluarganya.
"Sisi barat ada yang hendak menghadang tim Jayde" ucap Alex melalui teropong canggihnya.
"Mereka bisa membereskan" jawab Kalila kalem.
"Lila! Bagaimana kamu bisa masuk Hongkong?" tanya Pedro yang memilih menyingkir untuk mengatur emosinya karena mereka sedang berdebat dengan kepolisian Hongkong dan HKSS. "Dan bagaimana kamu bisa membawa Baby?"
"Aku dan Alex memakai paspor diplomatik. Soal baby, aku bawa masuk dalam bentuk pieces. Sampai di gedung sini, aku susun ulang kembali lah!" jawab Kalila cuek. "Tapi aku masih kalah cepat dengan Radeva kalau soal menyusun senjata dari nol."
Pedro mengusap wajahnya sambil menggelengkan kepalanya. Astaghfirullah! Nadira, adik-adikmu nggak ada yang beres!!
Tak lama terdengar suara tembakan senapan mesin yang membuat rombongan bersembunyi.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Kalila sambil melihat dari teropong canggihnya.
"Lila, apa kamu bisa menembak si pelaku?" tanya Jayde.
"Nggak bisa Jayde, tertutup asap!" jawab Kalila.
"Apa ada yang bawa granat?" tanya Luke.
"Aku ada flashbang, Luke!" ucap Hunter sambil menyerahkan granat cahaya itu.
Luke pun melemparkan granat itu setelah membuka pin nya ke arah pintu itu dan tak lama terdengar suara ledakan.
"NOw!!!" teriak Luke yang menodongkan senjatanya lalu melumpuhkan pelaku penembakan itu.
"Nadya! Lengan bang OZ terluka itu!" ucap Kalila dari teropongnya. "Bang Omar! Apa kamu baik-baik saja?" Dia dan Alexander melihat Omar berusaha melindungi Nadya sedangkan Sadawira langsung melindungi Chisato.
"Lengan kamu OZ!" ucap Nadya.
"I'm fine Nadya. I'm fine Lila. Ayo!" ajak Omar sambil membantu Nadya berdiri.
Alexander mematikan earpiece nya agar tidak didengar oleh keluarga. "Lila..." Pria itu memberikan kode untuk mematikan earpiece sementara dan Kalila mematikan sebentar.
"Ada apa Lex?"
"Omar dan Nadya?"
"So?"
"Wow! Aku setuju!" ucap Alexander.
"Memang kamu siapa main bilang setuju?" balas Kalila judes.
Aku calon suamimu. "Aku pengawalmu, nona Kalila dan aku setuju dengan mereka berdua!"
Kalila menyipitkan matanya. "Percakapan unfaedah!" Gadis itu lalu menyalakan earpiece nya dan mendengar suara Sadawira dan Jayde yang bertemu dengan Bramastyo dan Mark Wong.
"Brengseeekkk! Aku tidak bisa melihat dari balik tembok!" umpat Kalila.
Alexander yang sudah menyalakan earpiece nya mendengar bahwa Bayu dan Luke sudah bertemu dengan Gary Wong, agen Lee dan agen Tang.
"Lila, kamu pilih mana dulu?" tanya Alexander.
"Chisato! Ada berapa?" tanya Kalila lewat earpiece nya.
"Sepuluh nona" bisiknya.
"Aku tidak bisa melihat dari sini! Damn it!" umpat Kalila yang melacak Sadawira dan Jayde berdasarkan GPS mereka.
"Ganti thermal!" perintah Alexander yang terdengar di semua earpiece klan Pratomo.
Kalila mengganti magazinenya dengan magazine yang dibilangnya adalah pemberian dari Jang Geun-moon. Dengan cekatan, gadis itu memasang magazine dan mengkokang Barrett M82 nya.
Jayde dan Sadawira menatap ke arah orang-orang yang berdiri di hadapan mereka.
"Kamu kalah orang Wira" kekeh Bramastyo.
"You think?" seringai Sadawira.
BANG! BANG! BANG!
Total sepuluh orang pengawal Mark dan Bramastyo terkapar tidak bernyawa setelah kepala mereka ditembus peluru membuat dua orang itu melongo. Tembok di belakang mereka pun bolong akibat peluru yang dikirim oleh Kalila.
"Damn it Lila! Kamu pakai peluru apa?" desis Jayde.
"Bullet wall. Baru. Dari Tante GM" jawab Kalila kalem dengan menggunakan teropong thermal canggih yang bisa menembus tembok hingga lima meter tebalnya.
"Well, tampaknya tinggal kamu berdua. Kita lakukan jalan beradab atau fight?" tantang Sadawira.
Mark dan Bramastyo mengeluarkan pedangnya dari balik meja. "Peluru terlalu mudah! Dimana fun nya?"
"Chisato, kamu jaga Jayde dan Wira! Aku akan bantu bang Luke dan mas Bayu!" perintah Kalila.
"Baik nona!" jawab Chisato.
Alexander pun langsung mengalihkan teropongnya ke sayap kanan gedung dimana Bayu, Luke dan Radeva saling menodongkan pistolnya ke arah Gary Wong, agen Tang dan agen Lee.
Kalila yang melihat dari teropong Barrett M82 nya hanya bisa menahan nafas melihat Luke melakukan provokasi.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Sandisalbiah
dr Kemaren baca.. dr mulai Bayu.. ke Zinnia dan yg kau.. taunya kan cuma gergeran hongkong... dan ternyata di rumah Kalila dan Alexander ini baru tau aksi mereka.. tp ini kan persi Kalila... seru ternyata...
2024-01-20
1
英
oh oh oh
2023-07-16
1
nuraisah
tegang bacanya😯😯😇
2023-04-07
1