Bekerja

Lima menit setelah aku berjalan kaki menuju rumah, Yuda telah kembali dan menghentikan motornya tepat di depan ku, ia tersenyu manis kemudian segera memutar balik sepeda motornya.

"ayo aku antar pulang sekalian, ibu ku masih ngobrol sama yang lain katanya" jelasnya tanpa ku minta.

aku segera naik ke jok belakang, karena untuk menolak pun tidak mungkin karena pasti Yuda akan memaksa.

"makasih ya Yud, selama beberapa minggu ini kamu baik banget sama aku" ucap ku tulus, motor melaju pelan menuju ke rumah ku.

"santai aja kali Jas, namanya juga sama temen harus saling tolong menolong, lagipula kita kan juga tetanggaan, meski nggak deket sih" jawabnya.

inilah yang ku sukai dari Yuda, ia tak mrmandang bulu untuk berteman dengan siapa pun.

Tiba di rumah, Yuda segera berpamitan karena tak ingin membuat ibunya menunggu di sekolah.

setelah mengucapkan terima kasih dan Yuda menghilang dari pandangan, aku segera masuk menemui ibu di dalam.

"assalamu'alaikum, ibu... " salam ku ketika membuka pintu.

"wa'alaikumsallam, ibu di dapur Jasmin" jawab ibu dari arah dapur.

ku lirik tas sekolah Jefri yang ada di atas meja ruang tamu, itu berarti dia sudah pulang dan mungkin sedang makan bersama ibu di dapur.

ku gelengkan kepala ku melihat kebiasaan adik ku yang seperti itu. "kebiasaan kalau pulang sekolah nggak langsung di simpan ini tasnya, aku sembunyiin baru tahu rasa itu anak" gumam ku sembari menyimpan tas milik Jefri di kamar ibu.

setelah selesai berganti baju aku menghampiri ibu dan Jefri di dapur.

"ibu sudah makan? " tanya ku ikut duduk di kursi makan.

"sudah, tadi adik mu minta di suapi, jadi sekalian ibu makan siang"

aku mengangguk kemudian mengambil piring dan sendok di rak piring.

"ibu berencana mau menjual semua sapi sapi kita kak" ucap ibu tiba tiba.

aku yang tengah menyendokkan nasi ke dalam piring pun berhenti kemudian menoleh ke arah ibu.

"kenapa tiba tiba bu, bukankah itu peninggalan ayah yang mesti kita jaga? "

"iya ibu tahu itu, tapi kondisi kita saat ini nggak memungkinkan kak, apalagi sebentar lagi kamu akan melanjutkan sekolah lagi, pasti butuh biays yang nggak sedikit"

"kan masih satu tahun lagi bu, biarkan saja dulu, nanti kalau seumpama kita bener bener kepepet baru lah kita jual, kalau sekarang lebih baik jangan dulu, ibu jangan terlalu banyak pikiran biar Jasmin yang atur semuanya"

"untuk sekolah Jasmin nanti, kalau Jasmin nggak bisa lanjut pun nggak masalah, yang penting ibu dan Jefri nggak terbebani. jangan bebankan semua masalah di pikiran ibu, nanti ibu bisa sakit" ucap ku.

jujur saja aku tak ingin sesuati yang buruk terjadi karena ibu terlalu banyak pikiran, kepergian ayah beberapa minggu ini sudah membuat kesehatan ibu menurun, aku tak ingin jika masalah ku pun ibu turut kepikiran hingga membuatnya kembali drop.

"baiklah, ibu menurut apa kata mu kak" ucap ibu kemudian.

aku mengangguk senang, setidaknya ibu bisa memasrahkan semua beban pada ku.

***

Hari libur sekolah telah tiba, aku menggunakan waktu libur 2 minggu kali ini untuk bekerja karena ibu sudah mengurangi jumlah pelanggan yang akan menjahit karena kesehatannya yang menurun dan itu membuat pemasukan kami berkurang.

jika dulu ayah setiap hari bekerja dan pulang membawa rezeki, kini kami hidup dengan mengandalkan uang simpanan ibu dan hasil dari menjahit.

pagi ini aku telah siap, setelah selesai sarapan aku bergegas mengunjungi rumah tetangga ku yang terbilang berada, karena beliau sedang membutuhkan jasa cuci gosok dan bersih bersih rumah.

"bu, Jasmin berangkat sekarang ya biar nanti nggak kesorean pulangnya" pamit ku pada ibu yang berada di ruang jahit.

"iya kak, semangat ya kerjanya, maafin ibu karena belum bisa membahagiakan kamu dan adik mu" ucap Ibu

kemarin aku memang baru memberitahu ibu jika aku hendak bekerja, awalnya ibu tak menyetujui dan bahkan melarang dengan tegas ketika aku meminta izin untuk bekerja, namun karena sedikit merayu dan mengiba akhirnya ibu menyetujuinya, lagipula pekerjaan ku hanya untuk bersih bersih rumah sekaligus cuci gosok, yang mana hal itu sudah biasa ku kerjakan sendiri.

bu Parni, wanita paruh baya yang terkenal dermawan juga kaya raya di kampung ku, dua hari yang lalu aku tak sengaja bertemu beliau di persimpangan jalan ketika hendak pulang dari pasar

melihat beliau kerepotan akhirnya aku mencoba membantunya, rupanya ia juga baru saja pulang dari pasar dan memang sengaja pulang dengan naik ojek, namun belum sampai rumah, ban motor ojeknya kempes, akhirnya beliau memilih untuk berjalan kaki menuju rumahnya yang tak jauh dari persimpangan.

aku segera mendekat dan membantu membawakan barang belanjaannya.

ternyata asisten rumah tangganya sedang cuti karena suaminya sedang di rawat di rumah sakit, hal itu membuat bu Parni akhirnya berbelanja di pasar sendirian.

dengan banyak pertimbangan akhirnya aku menawarkan diri untuk menjadi pembantu sementara di rumahnya sembari menunggu art nya kembali.

tanpa ku duga beliau langsung menyetujui tawaran ku karena beliau memang cukup kerepotan jika mengerjakan semuanya sendiri apalagi kini usianya sudah tak lagi muda.

aku tersenyum menatap ibu kemudian membelai jari jemarinya. "Jasmin nggak merasa terbebani bu, justru Jasmin merasa berguna, setidaknya selama Jasmin libur sekolah, Jasmin bisa sedikit membantu meringankan beban ibu"

"kalau begitu Jasmin berangkat sekarang bu, hari sudah semakin siang takutnya bu Parni nungguin Jasmin karena nggak datang datang" pamit ku

"ya sudah, baik baik kerja disana kak, jangan mengecewakan bu Parni... " pesan ibu.

aku mengangguk, setelah berpamitan dan mengecup tangan ibu, aku bergegas berangkat menuju rumah bu Parni yang rumahnya sekitar 400 meter dari rumah ku.

***

aku tiba di rumah tingkat berwarna putih yang tak begitu besar, setelah mengetuk dan mengucap salam, akhirnya pintu pun di buka, bu Parni menyambut ku dengan senyum merekah.

"akhirnya kamu datang Jasmin, ibu kita kamu nggak jadi datang" ucap bu Parni

"iya bu, maaf karena di hari pertama Jasmin bekerja, Jasmin malah kesiangan" ucap ku sungkan

"udah nggak apa apa, kerjaan kamu juga santai kok nggak di buru waktu juga, ya sudah ayo masuk, ibu akan jelaskan beberapa pekerjaan yang nanti akan kamu kerjakan" ajaknya dengan menarik tangan ku untuk di bawa masuk ke dalam rumahnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!