tawaran berangkat bersama

Setelah kedatangan ayah ke kamar, aku memutuskan untuk kembali ke kamar ku untuk melanjutkan tidur karena memang hari sudah sangat larut.

keesokan paginya aku terbangun seperti biasanya, setelah sholat shubuh aku langsung ke dapur untuk membantu ibu memasak sarapan, namun ketika sampai di dapur, tak ku dapati ibu disana, hanya ayah yang tengah berada di depan kompor.

"ibu mana yah? " tanya ku mendekati ayah, ku lihat ayah tengah menyeduh kopi dan teh karena terlihat ada dua gelas di meja dapur.

"ibu masih di kamar, sepertinya kurang enak badan karena kejadian semalam. nanti ayah mau nganter ibu periksa, kamu nggak apa apa kalau harus ke sekolah jalan kaki? " tanya Ayah ku.

Pasti beliau kebingungan antara mengantarkan aku sekolah atau mengantarkan ibu periksa, sebab dokter praktek disana hanya memeriksa sampai jam setengah tujuh karena dokter praktek disana juga harus tugas ke rumah sakit.

sementara jika ke pusat kesehatan desa, kata ibu, beliau kurang cocok jika memeriksakan diri disana, dan lebih nyaman mendatangi dokter langganannya.

aku tak ingin membuat ayah ku kepikiran, lebih baik aku berjalan kaki, lumayan untuk olahraga di pagi hari

"aku jalan kaki aja nggak apa apa yah, kasihan ibu kalau harus nunggu dokter nanti malam" jawab ku.

ayah mengelus puncak kepala ku, setelah itu kembali ke kamar untuk memeberikan teh hangat untuk ibu.

aku bergegas mencuci beras untuk di masak, setelah itu lanjut menyiapkan lauknya, hari ini aku hanya membuat tempe dan tahu goreng dan juga sambal terasi karena tak memakan waktu yang banyak.

setelah semua matang, gegas aku mandi sementara ayah sedang menyiapkan keperluan adik ku.

setelah berganti seragam aku langsung ke dapur untuk membungkus bekal pada kotak makan ku, hal itu sengaja ku lakukan agar nanti tidak terlambat ke sekolah jika harus sarapan terlebih dahulu.

selesai

satu kotak nasi dengan lauk tahu dan tempe goreng beserta sambalnya telah siap, aku bergegas menuju kamar ibu untuk berpamitan.

ku lihat ibu tengah tertidur, mungkin ia hanya memejamkan mata sebab setelah ini ayah akan mengantarkan ibu ke dokter praktek.

"bu... " panggil ku.

ibu mmebuka matanya "udah mau berangkat kak?"

"iya bu, Jasmin pamit dulu ya, ibu cepat sembuh" ucap ku.

"maaf ya kak, karena ibu sakit kamu harus jalan kaki ke sekolah"

"nggak apa apa bu, lagipula masih pagi ini, itung itung olahraga, yakan... " aku mencoba menghibur ibu agar beliau tidak bertambah banyak pikiran.

setelah mencium tangan, aku segera beranjak menghampiri ayah yang sedang memanasi sepeda motornya.

"aku berangkat dulu ya yah" pamit ku, dan langsung ku cium tangannya.

"hati hati kak" pesan ayah.

aku pun mengangguk dan langsung berangkat sekolah dengan berjalan kaki.

***

"hei Jasmin" tiba tiba dari arah belakang, ada seseorang yang menyapa ku, ku paling kan wajah ku untuk melihat siapa yang tengah menyapa ku.

Haris, rupanya pria itu juga hendak berangkat sekolah dengan mengendarsi motornya.

"e-eh hai Ris" aku tergagap, karena ini adalah kali pertama aku berinteraksi langsung dengannya.

"tumben jalan kaki? " tanya nya, ia masih mengendarai motornya dengan pelan, menyamai langkah kaki ku.

"ayah sedang ada urusan jadi aku jalan kaki, kamu kok jam segini udah berangkat, ini kan masih sangat pagi, biasanya kamu selalu mepet jam masuk sekolah baru sampai di sekolah? " tanya ku mencoba mencari topik pembicaraan

"iya, pagi ini mau latihan voli dulu sama temen temen, makanya berangkat pagi. mau bareng? " tawarnya

ku tahu tawaran itu berlaku hanya karena aku sahabat Rania, bukan karena ia tertarik atau hanya memang sedang ingin menawarkan tumpangan untuk ku.

aku menggeleng, meski aku ingin akan tetapi aku tak mau jika kebaikkannya pada ku hanya karena aku sahabat Rania.

"nggak usah, lagipula udah deket ini, jalan lima menit lagi sampai" ucap ku menolak.

Haris mengangguk, ia kemudian berpamitan untuk jalan terlebih dahulu.

di jalan, aku hanya menggerutu, aku merutuki kebodohan ku yang menolak ajakan pria yang aku sukai dari lama.

'kamu memang bod*h Jas, udah di tawarin tumpangan, eh malah pake acara nolak segala sih'

aku menepuk pelan kepala ku untuk menyadarkan pikiran ku dari kenyataan.

"semangat Jasmin! " seru ku kala melihat gerbang sekolah yang tak jauh dari tempat ku saat ini.

"hei, maaf ya aku lama" ucap ku ketika ketiga sahabat ku tengah menunggu ku di depan gerbang.

"aku juga baru sampai kok Jas, yuk masuk" ucap Vidya.

kemi berempat masuk, ketika melewati lapangan, dapat ku lihat Haris tengah berlatih voli bersama dengan teman temannya seperti perkataannya tadi.

mata ku tak beralih dari wajah Haris yang menurut ku menjadi lebih bertambah tampan kala ia sedang berkeringat.

Haris melambaikan tangan ke arah kami, ku kira ia tengah melambaikan tangan ke arah ku. seolah terhipnotis, aku coba untuk membalas lambaian tangannya, namun ketika hendak mengangkat tangan, Rania lebih dulu melambaikan tangannya ke arah Haris.

aku mengurungkan krmbali niat ku kemudian fokus pada langkah kaki ku menuju ke kelas.

"sepertinya ada yang sedang jatuh cinta nih" goda Naila kepada Rania. sedangkan yang di goda tampak melotot, namun dapat ku lihat ia sedikit menyunggingkan senyumannya.

"apaan sih, enggak ya. kita cuma teman!" tegas Rania.

"lebih dari teman juga boleh kok Ran, kan kalian sama sama jomblo" ucap ku.

ada tangan tak kasat mata yang tengah mere mas hati ku, kenapa hati ku sakit setelah aku mengatakan hal itu, padahal aku tahu jika mereka berdua saling suka.

"enggak lah, dia bukan tipe ku" ujarnya.

kami pun mengangguk, memaklumi Rania yang masih malu malu untuk memperlihatkan tentang perasaannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!