Jantung ku berdetak sangat kencang kala pakde Somad mengatakan hal itu, kaki ku lemas hingga aku jatuh ke tanah, aku ambruk di samping ayah ku yang sudah tak bernyawa.
tangis ku pecah, dunia yang ku pujak saat ini terasa berhenti berputar.
bagaimana bisa hal ini terjadi sedangkan tadi pagi aku masih bertemu ayah dan bersenda gurai namun malam ini ayah tiba tiba meninggal dunia.
pak de Somad mengelus pundak ku, ia mencoba menenangkan ku yang masih meraung di sampjng ayah.
"ikhlas kan ayah mu Jasmin, semua sudah menjadi ketetapan Allah" hibur pakde Somad
"bagaimana bisa ini terjadi pak de, bagaimana bisa ayah ninggalin kami sendirian, bagaimana bisa ayah pergi tanpa pamitan sama kita. huhuhu... " raung ku terisak
"bagaimana dengan ibu pak de, ibu pasti akan syok mendengar kabar ini, bagaimana dengan ibu nanti pakde... " lirih ku dengan deraian air mata.
"ayah, ayah bangun ayah... ayah nggak kasihan sama Jasmin, sama ibu sama Jefri yang masih membutuhkan ayah, ayah kenapa tega meninggalkan kami semua... ayah, ayah ayo bangun... " aku mengguncang tubuh ayah ku yang masih terbujur kaku di tanah.
ingin ku memutar waktu agar bisa lebih berbakti dengan ayah, meski ayah tak pernah menuntut lebih. namun aku merasa aku belum bisa melakukan sesuatu yang berarti di masa hidup nya.
"sudah Jasmin, ikhlaskan ayah mu .... "
beberapa warga yang sedari tadi menyimak pun akhirnya mendekati pakde Somad, beliau meminta untuk membawa ayah untuk di bawa pulang.
"pak de, lebih baik kita bawa pak Adam pulang lebih dulu, sekalian kita merundingkan beberapa hal nanti disana" ucapnya.
"baik, lebih baik kita bawa pak Adam pulang saja, kasihan orang rumah menunggu, tolong nanti dua orang, kabari orang rumah ya" ucap pakde Somad
"baik pakde"
tak berselang lama kemudian, mobil pick up datang, beberapa warga bergotong royong mengangkat tu buh ayah menaiki mobil pick up yang sebelumnya sudah di alasi tikar.
"ayo kita pulang, ibu kamu sudah menunggu di rumah" ucap pakde Somad
aku mengangguk, dengan di papah pakde Somad aku berjalan menuju mobil pick up yang mengangkut ayah.
"pak de, bagaimana dengan ibu, apa ibu baik baik saja? " lirih ku bertanya sesuatu yang seharusnya tak perlu ku tanyakan.
aku memilih duduk di belakang menemani ayah, ku pangku kepalanya agar ayah tak merasakan kesakitan.
"insyaallah ibu kamu kuat seperti kamu"
hanya beberapa menit perjalanan kami sudsh sampai di rumah.
terlihat beberapa warga telah menunggu kedatangan kami, namun diantara kerumunan warga, tak ku temui ibu dan juga adik ku.
hati ku mulai resah sebab khawatir akan penyakit jantung ibu yang bisa saja nanti kambuh ketika mendengar kabar ini.
dengan perlahan ayah di turunkan dari mobil kemudian aku menyusul nya dsri belakang, setelah memastikan ayah di rawat dengan baik oleh warga, aku memutuskan untuk masuk menemui ibu, saat ini ibulah yang paling terguncang.
"ibu mana bude? " tanya ku pada bude Eni istri pakde Somad
"ibu di dalam, tadi dia pingsan, ayo kita ke sana" ucapnya sembari menuntun ku menghampiri ibu yang berada di dalam kamar.
"bu... " lirih ku kala melihat ibu yang tengah melamun, namun air matanya terus menerus menetes
ibu menoleh, wajahnya yang bersih kini memerah karena tangis, ibu mengencangkan tangisnya kala aku datang menghampiri ibu "Jasmin.... "
"ayah kamu nak, ayah kamu ninggalin ibu, huhuhu... bagaimana ibu bisa hidup jika ayah kamu pergi terlebih dahulu, ibu nggak sanggup Jasmin"
Ibu yang tadi menangis dalam diam pun meluapkan rasa sedihnya di pelukan ku, akupun sama, sedari tadi aku mensugesti diri agar kuat di hadapan ibu, namun kala melihat beliau, hati ku semakin hancur, apalagi kala Jefri yang sedari tadi hanya diam dengan tatapan kosongnya.
ku peluk dua orang terkasih ku dengan erat, aku mencoba untuk lebih kuat agar ibu dan Jefri lebih tenang.
namun pelukan ibu tiba tiba terlepas dan terasa berat, ibu pingsan lagi.
"bu, ibu bangun bu... "
bude Eni turut membantu ku menyadarkan ibu, ku raih obat ibu di atas meja kemudian membukanya secara kasar.
"obat ibu" ucap ku pada bude Eni, beliau pasti paham tentang apa yang aku maksud, beliau mengangguk kemudian mulai mengoleskan minyak angin ke hidung ibu.
tak lama kemudian ibu siuman, bude Eni langsung menyodorkan air minum dan juga obat agar segera di minum oleh ibu.
"ibu tenang bu, ada Jasmin dan Jefri di sisi ibu, Jasmin janji akan membahagiakan ibu seperti ayah membahagiakan kita, ikhlaskan ayah ya bu"
aku sudah lebih tenang, namun ibu masih menangis, pastilah beliau menangis, kehilangan pendamping hidupnya yang menemani suka dukanya telah berpulang lebih dahulu, ibu pasti hancur.
"bude, maaf sudah merepotkan" ucap ku pada bude Eni yang tengah mengelus pjnggung ibu.
"bude nggak repot sama sekali Jasmin, bude turut berduka cita ya, kamu yang kuat, ibu dan adik kamu butuh kamu " ucap bude Eni, beliau menyeka air matanya, sedari tadi beliau juga menangis, mungkin karena memang bude Eni juga dekat dengan ibu, makanya beliau ikut bersedih.
"ibu di sini dulu ya, biar Jasmin yang mengurus ayah" ucap ku pada ibu, aku segera beranjak keluar kamar setelah menitipkan ibu pada bude Eni
apa yang akan ku lakukan, aku tidak tahu mana yang harus ku lakukan lebih dahulu, aku hanya seorang gadis remaja yang juga butuh penopang agar tak tumbang, namun harus menanggung semua sendiri agar ibu dan Jefri tak terlalu larut dalam duka.
ku buka gorden antara kamar dan ruang tamu, disana ayah sudah di baringkan, beberapa warga juga tengah mengaji di sisi ayah.
ku hampiri pakde Somad yang tengah berbincang dengan beberapa warga laki laki.
"pak de... " panggil ku mendekati beliau.
"kamu tenang saja, biar pakde yang mengurus ayah mu"
"ayah bagaimana? "
"kita akan makamkan langsung malam ini, semua warga sudah setuju dsn bersedia membantu, kamu tensng saja biar pakde yang urus semuanya, lebih baik kamu temani ibu dan adik kamu"
air mata yang sedari tadi ku tahan akhirnya meluncur dengan bebas, itu berarti malam ini adalah malam terakhir aku bisa memandang wajah tampan ayah ku, cinta pertama ku, apa aku sanggup melihat semua ini?
"kamu yang sabar ya Jasmin, kamu harus kuat demi ibu serta adik mu" ucap pakde Somad menenangkan.
aku hanya mengangguk kaku, seberapa kuatnya aku, aku tetaplah seorang wanita, yang akan rapuh kala orang yang di cintai pergi untuk selama lamanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments