Pelajaran pertama diisi oleh guru Sejarah, kami berlajar dengan sangat tenang sebab guru yang mengajar pun humble dan sangat sabar, kini pelajaran sejarah telah selesai, saatnya pelajaran kedua, yaitu olahraga.
aku, dan ketiga sahabat ku bergegas menuju toilet untuk berganti seragam olahraga, layaknya seperti seorang saudara, kami berempat langsung masuk ke dalam toilet yang sama untuk mengganti pakaian, selain karena tak ingin mengantri, ini juga karena guru olahraga yaitu pak Galih sudah tiba di lapangan.
"sudah? " tanya ku, meski kami di dalam toilet yang sama, akan tetapi kami saling memunggungi sehingga tak ada yang melihat satu sama lain.
"aku sudah"
"sudah"
"yuk keluar, aku sudah selesai"
kami keluar kamar mandi bergantian, di luar beberapa teman sekelas ku masih ada yang menunggu giliran untuk berganti pakaian.
"woy buruan, pak Galih udah nunggu di lapangan noh" Agus, ketua kelas ku tiba tiba berlari ke menghampiri kami yang masih berada di sekitar kamar mandi.
"iya iya, sabar dong mas Agus yang paling ganteng di kelas! " setu Naila
"lagian juga baru lima menit, sabar dong, kita kan mesti benerin konde dulu" sengak Vidya.
aku dan Rania hanya terkekeh melihat ketiga orang itu, ketua kelas kami memang sedekat itu dengan kami berempat hingga bicara saling mengejek atau berteriak sekalipun sudah biasa bagi kami.
"konde apaan, orang pada kuncir kuda gitu" rupanya ketua kelas kami juga tak mau kalah
"sama aja lah Gus, sama sama rambut juga kan" ucap ku.
"ya sudahlah, ayo ke lapangan, yang lain udah apda kumpul noh" ajak Agus.
kami pun berjalan bersama menuju lapangan dimana teman teman kami berada, namun ketika hampir sampai di lapangan, aku terheran sebab disana terlihat begitu banyak siswa, bahkan hampir 2x lipat jumlahnya dari jumlah siswa di kelas ku.
'loh, itu kan? ' apa aku tak salah lihat, Haris dan teman teman sekelasnya bergabung bersama kelas kami.
"itu kok ada kelas sebelah ikut gabung Gus, bukannya mereka biasanya olahraga setelah kita ya? " tanya ku pada akhirnya kepada Agus.
"iya, pak Galih ada perlu nanti setelah jam istirahat, jadi mereka di gabungin sama kelas kita karena kebetulan jam kedua ini mereka jam kosong, gurunya izin katanya" jawab Agus.
kami terus melangkah mendekati kerumunan teman teman yang tengah melakukan absen.
setelah semua di absen, kami pun memulai jam olahraga dari pemanasan hingga pelajaran inti.
hari ini pak Galih membebaskan kita untuk memilih olahraga yang diinginkan, Aku bersama ketiga sahabat ku memilih voli, meskipun kami berempat tidak ada yang mengusai olahraga itu akan tetapi kami ingin mencobanya.
"boleh gabung? " tiba tiba Haris datang menghampiri kami yang tengah bermain bola voli
kami menghentikan aktivitas kami, lalu menoleh ke arah Haris.
"boleh" jawab Rania
aku menoleh ke arah Rania, ia tengah tersenyum malu ke arah Haris.
"hei, kita kan perempuan, masak mau lawan laki laki, mana dia udah pro lagi, nggak nggak, nggak ada! " seru Naila tiba tiba.
"iya ih, lagipula kami belum pada mahir main voli nya, yang ada kami capek kalau harus ngejar ngejar bola terus" sahut Vidya.
"biarin aja lah Vid, Nai. siapa tahu dia bisa ngajarin kita, iya nggak" ucap ku tiba tiba. aku langsung tersadar setelah mengucapkan hal itu, astaga, bagaimana bisa aku mendukung Haris terang terangan seperti ini
"betul tuh kata Jasmin, aku bisa kok ngajarin kalian" kata Haris, pria itu tersenyum senang sebab ada yang mendukungnya.
"ya sudah lah terserah, ayo kita main lagi" ucap Naila.
Haris memanggil salah satu temannya untuk bergabung bersama kami agar jumlah kami tidak jomplang.
Bel istirahat pun berbunyi, kami memutuskan untuk langsung melipir ke kantin sebelum kantin ramai, dan rupanya Haris mengikuti kami dari belakang
"ngikut mulu" celutuk Naila
"biarin lah, udah istirahat ini" sahut Haris cuek
aku hanya mengambil air dingin gelasan sementara yang lainnya tengah membeli es manis.
"aku tunggu di luar ya, buruan jangan lama lama" ucap ku pada ketiganya dan di balas dengan acungan jempol
aku memutuskan untuk keluar kantin sebab tak enak kala melihat Haris tengah menatap Rania dengan penuh damba, ingin sekali aku mengungkapkan perasaan ku, akan tetapi aku masih malu dan aku masih belum sanggup jika menerima penolakan darinya
"sudah? " tanya ku kepada ketiganya.
"sudah, yuk ke kelas habis itu ganti seragam" ucap Rania.
aku mengangguk kemudian berjalan menuju ke kelas.
ketika mereka keluar, tak ku dapati Haris ikut keluar, mungkin pria itu tengah makan atau nongkrong bersama teman temannya dahulu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments