pemakaman Ayah

sembari menunggu pakde Somad menyiapkan keperluan untuk pemakaman ayah, aku kembali ke kamar untuk menemani ibu dan Jefri, kala aku masuk, ibu masih sesenggukan dengan gumamam lirih yang meminta agar ayah kembali.

bude Eni yang sadar aku masuk kamar pun menjauh dan duduk di depan ibu sedangkan aku mendekat kemudian duduk di samping ibu.

teringst perkataan pak de Somad yang meminta ku menjadi kuat agar ibu dan adik ku tak terlalu terpuruk atas musibah malam ini.

"bu, ayah akan di makamkan hari ini juga, ibu yang ikhlas ya, biar ayah tenang dan lapang kuburnya, ibu masih ada Jasmin dan Jefri yang akan selalu menemani ibu hingga nanti, Jasmin janji akan selalu menemani ibu dalam suka maupun duka seperti ayah...

bu, Jasmin mohon, meski terasa sangat sulit, tolong ikhlaskan ayah ya bu" lirih ku menahan sesak kala bi bir ini meminta ibu untuk ikhlas.

bagaimana bisa aku meminta ibu untuk ikhlas sedangkan diri ku saja masih sangat sulit, kematian mendadak ayah membuat dunia ku runtuh seketika.

ku seka air mata ku mencoba untuk terlihat tegar di hadapan ibu dan adik ku.

"mbak Jasmin, itu ada temannya di luar" Arum, anak perempuan bude Eni melongok di ambang pintu memanggil ku.

"siapa? " tanya ku menoleh ke arahnya.

"itu mas Yuda mbak, dia di luar sama bapak" aku mengangguk, setelah berpamitan sebentar pada ibu, aku bergegas keluar untuk menemui Yuda.

sesampainya di luar, ku lihat Yuda tengah duduk bersama warga lainnya yang ikut mengajikan ayah.

ku edarkan pandangan ku, barangkali ada teman teman yang lain yang turut ikut datang, rupanya ia sendiri. ku tepuk pelan pundaknya kemudian ia menoleh ke arah ku.

"Yud... " sapa ku

Yuda menoleh "Jasmin, aku turut berduka cita ya, kamu yang tabah, semoga ayah kamu di lapangkan kuburnya dan husnul-khatimah, aamiin" ucapnya sembari menepuk pelan pundak ku.

"aamiin, makasih Yud udah menyempatkan datang malam malam kesini" Yuda mengangguk, aku tak menyangka sikap ketus yang pernah ku berikan pada Yuda tak di anggap serius, bahkan ia yang pertama datang dari banyaknya teman yang ku kenal.

setelah melewati banyaknya proses untuk pemakaman ayah, kini semuanya telah siap, aku yang sedari tadi duduk bersebelahan dengan Yuda sambil mengaji pun kemudian beranjak masuk ke dalam kamar untuk menjemput ibu di dalam.

"sebentar, aku panggil ibu dulu" pamit ku pada Yuda setelah pakde Somad meminta ku untuk memanggil ibu dan Jefri.

"iya.. "

aku kembali masuk ke dalam kamar, ku usap lengan ibu untuk menenangkan nya.

"bu, ayah akan segera di berangkat kan, jika ibu sanggup, ayo kita keluar, jika tidak pun tak masalah, Jasmin akan temani ibu disini" ucap ku memberitahu.

"ibu mau melihat ayah untuk yang terakhir kalinya kak" lirih ibu setelah sekian lama terdiam.

aku mengangguk, kemudian membantu ibu untuk beranjak dari kasur dan memapahnya keluar kamar, sedangkan bude Eni menuntun Jefri di belakang.

sampai di tempat pembaringan ayah, ibu duduk bersimpu, ia tak mengeluarkan air mata, namun aku yakin ibu hanya mencoba kuat dan tegar di hadapan ayah agar ayah bisa tenang.

"yah, tunggu ibu ya, nanti kita akan sama sama lagi" lirih ibu namun masih bisa ku dengar.

Jefri yang masih berdiri di samping ku pun ku minta untuk duduk, ia menatap ayah dengan tatapan kosong, mungkin saja adik ku tengah mengenang memori kebersamaannya bersama ayah.

"kamu harus tegar supaya ayah bisa tenang" bisik ku padanya.

Jefri mengangguk, dengan sekali kedipan mata, air matanya langsung jatuh di pipinya.

Waktu menunjukkan pukul 20.30 wib. setelah selesai di sholatkan, ayah segera di berangkat kan.

aku berjalan bersama ibu dan Jefri tepat di belakang ayah, tak lupa ada bude Eni dan Arum yang ikut bersama ku.

satu jam kemudian semua prosesi pemakaman ayah telah selesai, pakde dan bude langsung mengajak ku untuk pulang karena hari sudah larut, bukan hanya ada kami, rupanya Yuda sedari tadi juga turut mengantarkan ayah sampai di peristirahatan terakhir nya.

aku mengangguk, setelah selesai mendoakan ayah, aku ibu dan adikku langsung berjalan pulang bersama dengan bude, pakde dan Yuda.

"terima kasih telah membantu Jasmin pakde bude, maaf selalu merepotkan kalian" ucap ku kala kami sampai di depan rumah. di rumah sudah sepi karena warga telah pulang setelah mengantarkan ayah.

"kamu jangan sungkan meminta tolong sama bude dan pak de, kalau kami bisa dan mampu, kamu pasti akan bantu, kamu yang sabar dan tabah ya, jadilah kuat di hadapan ibu dan adik mu" ucap bude Eni.

"InsyaAllah bude" hanya itulah kata yang mampu keluar dari bi bir ku.

setelah membantu ku membereskan tikar yang di buat untuk duduk, bude dan pak de pun berpamitan untuk pulang, tinggalah Yuda yang masih setia berada di rumah ku.

"pulanglah Yud, sudah malam nanti orang tua mu nyariin kamu" ucap ku pada Yuda yang masih membersihkan beberapa sampah di teras.

"iya setelah ini aku pulang" ucapnya sembari menaruh sampah di tong sampah. "kamu jangan banyak nangis, selalu doakan ayah kamu agar beliau bisa tenang disana, aku pamit pulang dulu ya" pamitnya.

"iya, makasih sudah datang, maaf merepotkan" ucap ku

"tak masalah, aku senang membantu mu" ucapnya kemudian keluar dari teras menuju motornya yang terparkir tak jauh dari rumah ku.

setelah kepergian bude, pakde dan Yuda, kini rumah benar benar kembali sepi, hanya ada aku, ibu dan Jefri. ku tatap sekeliling. di semua sudut rumah selalu mengingatkan ku pada almarhum ayah, kilasan kenangan bersama beliau kembali hadir hingga tak terasa air mata ku terjatuh kembali setelah beberapa saat tak keluar.

tak ingin terlalu larut dalam kesedihan, setelah mengusap kasar air mata yang meleleh, aku pun bergegas masuk dan tak lupa mengunci pintu.

ku hampiri ibu dan Jefri yang sudah masuk kamar lebih dulu setelah tadi sampai rumah.

ku lihat ibu dan adik ku telah berganti pakaian. Jefri telah tertidur pulas sedangkan ibu masih melamun sedari tadi.

"ibu belum tidur? " tanya ku mendekat.

"ibu belum ngantuk kak, kamu tidur saja ibu nggak apa apa kok" jawabnya.

aku ikut merebahkan tu buh ku di samping ibu.

ku raih tangan ibu dan ku elus dengan lembut "ibu harus kuat demi ayah"

"semoga ibu mampu kak"

malam ini baik aku maupun ibu tak ada yang bisa tidur, bayangan kebersamaan bersama ayah selalu berputar di kepala hingga aku sulit untuk memejamkan mata.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!