Malam harinya selepas sholat isya, aku memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kamar, aku kembali teringat kado yang sempat di berikan Liam untuk ku.
ku raih kotak yang ku simpan di dalam lemari, ku keluarkan kembali kalung liontin setengah hati dan ku pandangi dengan lekat.
"apa mungkin dulu mereka tak berani merundung ku karena takut akan kemarahan mu ya Liam, lalu setelah kamu pergi, mereka langsung merundung ku seolah setelah kepergian mu, adalah hari kemerdekaan untuk mereka? "
tak ingin terlalu larut dalam suasana rindu akan teman masa kecil ku, aku segera menyimpan kembali kalung itu pada tempatnya kemudian aku menyambar buku sekolah ku untuk ku pelajari.
di tengah fokus ku pada buku buku pelajaran ku, ibu masuk ke dalam kamar kemudian menghampiri ku yang tengah belajar.
"maafin ibu ya kak, gara gara ibu, kamu harus membagi waktu mu untuk belajar dan membantu ayah ibu di rumah" ibu membelai kepala ku, menumpahkan segala isi hatinya.
ibu ku, meski terkadang cerewet dan suka mengomel, tetapi beliau sangat menyayangi kami anak anaknya, ia tak pernah bermain tangan apalagi membentak keras dengan emosinya, ibu hanya akan berteriak atau memarahi ku hanya sekedar agar aku bisa lebih disiplin.
"ibu apaan sih, Jasmin nggak ngerasa di bebani, justru Jasmin ngerasa seneng bisa bantuin ayah ibu, lagipula kalau harus belajar terus terusan, ini kepala ku bisa meledak bu, lebih baik aku melakukan hal lain, itung itung prndinginan kepala! " seru ku menenangkan ibu.
aku tahu beberapa bulan terakhir ini kesehatan ibu kurang baik, jadi sebisa mungkin aku tak ingin ibu kelelahan apalagi kepikiran.
untuk pekerjaannya sebagai penjahit, aku meminta ibu untuk bisa menentukan sendiri sesuai batas kemampuannya. aku tak memaksa untuk ibu menerima semua pelanggan yang datang untuk menjahit, hanya jika ibu sanggup maka terima, jika tidak, lebih baik menolak.
"makasih ya kak" sebelum keluar kamar, ibu kembali mengelus kepala ku. hati ku bergetar, kenapa perasaan ini sangat aneh, aku harap ibu selalu sehat.
***
keesokan paginya, aku bangun lebih awal karena tak ingin membuat ibu ku marah karena aku terlambat bangun, ku lihat ibu sudah berada di dapur tengah menyiapkan sarapan untuk kami.
"masak apa hari ini bu? " sama seperti hari hari sebelumnya, aku setiap pagi selalu membantu ibu ku menyiapkan sarapan untuk kami.
"sayur asem sama tempe goreng kak, kebetulan kemarin ibu udah belanja sayurannya, jadi langsung di masak saja dan nanti siang nggak perlu masak lagi" jawab ibuku.
ibu masih membersihkan sayuran sementara aku memutuskan untuk membuat bumbunya saja, meski masih belajar dan banyak bertanya, ibu dengan senang hati mengarahkan ku.
'suatu saat nanti kamu akan mengetahui alasan mengapa ibu mengajari kamu memasak sejak kecil kak'
itulah kalimat yang di ucapkan ibu kala aku bertanya mengapa aku harus sudah belajar memasak sedari kecil.
kembali ku racik bumbunya dan segera memasaknya dengan di pandu oleh ibu, beliau sangat senang kala kami bisa memasak bersama.
ku lihat ayah ku mengambil ember di dapur dan membawanya menuju ke kamar mandi, sepertinya ayah hendak mengambil air untuk sapi sapi kami minum, itulah Rutinitas kami di pagi hari, sejak bangun dari tidur, kami segera melakukan semua pekerjaan rumah yang bisa di kerjakan.
setelah selesai sarapan dan mengecek kembali buku sekolah yang akan ku bawa, aku segera beranjak dari kamar menuju teras sebab ayah masih memanasi sepeda motor nya.
"aku sudah siap yah" ucap ku menghampiri ayah, ternyata adik ku Jefri sudah lebih dulu siap dan tengah menemani ayah memanasi sepeda motor nya.
setelah berpamitan dengan ibu, kami pun segera berangkat ke sekolah.
"hati hati yah! " seru ibu kala motor hendak melaju.
menikmati suasana pagi berangkat sekolah bersama ayah membuat ku sangat senang, setelah mengantarkan Jefri ke sekolah kini giliran ayah mengantar ku ke sekolah ku.
sesampainya di sekolah, setelah mencium tangan, ayah segera pamit untuk pulang sedangkan aku menghampiri Vidya yang ternyata sudah menunggu di tempat biasa.
"Vid... "
"mana yang lain? " tanya ku mendekat ke arah Vidya.
"hei Jas, Rania sama Naila belum dateng, paling juga sebentar lagi sampai! "
benar saja, setelah selesai mengatakan hal itu, Naila dan Rania datang dengan mengendarai motornya masing masing.
"tumben siangan? " tanya ku pada Rania dan Naila yang berlarian menghampiri ku dan Vidya
huh huh huh...
"iya nih, tadi pas di jalan Rania di hadang sama Haris, katanya mau di ajak berangkat bareng, padahal kan Rania bawa motor sendiri, ya sudah nggak jadi deh" jawab Naila cepat.
uuhh
hati ku apa kabar?
kenapa rasanya sakit sekali mendengar orang yang kita suka ternyata mengejar wanita lain.
sadar Jas, kamu nggak ada apa apanya di bandingin dengan Rania, sadar hei, sadar.
Aku menggelengkan kepala ku pelan untuk mengusir pikiran pikiran buruk yang Berterbangan di kepala ku.
Rania yang mengetahui gelagat aneh ku pun langsung menegur "hei Jas, kenapa, sakit? "
"eh em enggak kok. yaudah yuk masuk, jam pertama pelajaran matematika, gurunya killer, kalau kita terlambat sedikit saja, bisa bisa di hukum kita" ajak ku kepada mereka bertiga.
kami pun segera beranjak menuju ke kelas. ketika hendak berbalik, aku melihat Haris datang tak lama setelah kedatangan Rania dan Naila.
'Fokus Jas, Fokus!'
Jam pelajaran pun di mulai, pak Hadi, guru matematika paling killer menurut kami pun telah masuk ke kelas dengan membawa aura kegelapan.
bagaimana tidak, jika beliau mulai mengajar, tak ada yang berani menggoda apalagi mengajaknya untuk sekedar mencairkan suasana. pasti setelah ini beliau akan memberikan segudang tugas untuk kami kerjakan.
"selamat pagi anak anak" sapanya dengan sedikit senyum.
"selamat pagi pak... "
"baik, kita mulai pelajaran pagi hari ini, buka buku paket halaman 30! " serunya memulai pelajaran.
2 jam pelajaran telah selesai, kami berempat merasakan seolah asap tebal keluar dari kepala kami, akhirnya guru killer kami selesai mengajar, kini saatnya beristirahat sebenar sembari menunggu jam pelajaran selanjutnya yaitu pelajaran bahasa Indonesia.
setelah jam prlajaran bahasa Indonesia selesai, kami pun beranjak hendak ke kantin sebab jam pelajaran telah selesai dan kini saatnya jam istirahat.
ketika hendak keluar, tiba tiba seseorang masuk ke dalam kelas kami membuat beberapa teman teman ku yang lainnya di buat melongo.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments