ada apa dengan Yuda?

Aku beranikan diri untuk menatap manik mata milik Yuda, namun pria itu melengos seakan tak berkenan aku menatap dirinya.

"memangnya apa masalahnya sama kamu?" tanya ku kemudian.

"ck, berarti benar dugaan ku selama ini, kamu diam diam menaruh rasa kepada Haris, seharusnya kamu sadar diri, kamu itu nggak pantas dapetin Haris. lagipula apa kamu akan merebut Haris dari Rania" ucap Yuda, namun kala ia mengatakan hal itu, pandangannya mengarah ke arah lain, bukan menatap ku.

aku menarik nafas ku pelan.

"memangnya apa urusannya sama kamu Yud, padahal kita bukan teman dekat, kita hanya sekedar mengenal satu sama lain karena kamu teman Haris, udah itu saja. tapi kenapa sekarang kamu seolah olah seperti seorang sahabat yang begitu dekat? "

"kamu belum tahu faktanya Jasmin, aku hanya tak ingin kamu terluka"

"apa aku sebegitu buruknya sampai kamu mengatakan hal itu, lalu bagaimana dengan aku, bagaimana dengan perasaan aku, aku juga berhak menentukan siapa yang aku suka Yud.

sebelum kamu mengatakam hal ini, aku sudah lebih dulu merasakan luka itu Yud, melihat kedekatan mereka berdua membuat hati ku sakit, tapi aku nggak bisa menghentikan rasa ini"

beruntung sekolah sudah sedikit sepi, sehingga percakapam kami tidak mengundang perhatian siswa lain.

Yuda menggeleng, entah apa yang ada di pikiran pria itu, tadi ia mengatakan jika aku tak pantas mendapat kan Haris, lalu sekarang mengapa responnya seperti itu.

"kamu belum mengenal dia dengan baik Jasmin, aku harap kamu mendengarkan ucapan ku kali ini karena aku sangat peduli sama kamu.

aku tak melarang mu menyukai pria mana pun, tapi tidak dengan Haris" jelas Yuda kemudian ia berlalu meninggalkan aku yang masih mencerna kata katanya.

"hei Yud, apa maksud ucapan mu tadi" teriak ku pada Yuda, sia-sia, Yuda telah menghilang di antara kerumunan siswa lain yang sedang menunggu jemputan.

apa maksud dari perkataan Yuda, kenapa ia melarang ku untuk melanjutkan perasaan ku pada Haris. ia mengatakan seolah Haris adalah pria buruk yang tidak pantas untuk di kagumi. sebenarnya apa yang terjadi.

masih teringat beberapa tahun lalu, kala aku di rundung oleh beberapa teman sekolah ku dulu, ia pernah menolong ku dari mereka yang mengunci ku sendirian di dalam kelas. dari kebaikannya itulah aku mulai mengagumi Haris. tapi, mengapa Yuda mengatakan hal yang buruk mengenai Haris.

aku menggeleng kuat, mencoba menepis praduga yang muncul dalam benak ku.

karena hari sudah siang, aku bergegas untuk pulang apalagi sudah 10 menit lebih aku berada di depan ruang kesehatan ini. aku tak ingin membuat ayah dan ibu khawatir apalagi aku pulang dengan berjalan kaki yang memakan banyak waktu.

sesampainya di rumah, setelah mengucapkan salam dan masuk ke dalam kamar. aku bergegas mengganti pakaian kemudian menghampiri ibu yang masih berada di ruang jahitnya.

"bu, ada yang bisa Jasmin bantu? "

"masih belum kak, ini tadi ibu habis motong motong kainnya. gimana tadi ujiannya? " tanya ibu

"alhamdulillah lancar bu, ya meskipun nggak semua Jasmin bisa ngerjain sih" jawab ku sembari meringis malu.

"nggak apa apa kak, namanya juga ujian. ada yang mudah ada yang sulit. tapi ibu percaya jika kamu sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjawabnya dengan benar.

sekarang kamu makan siang saja dulu setelah itu baru belajar" ucap ibu.

"baiklah ibu Ratu... " aku segera berlalu meninggalkan ibu menuju dapur, aku memang lapar, apalagi setelah tadi menghadapi ujian yang mengharuskan ku berpikir keras dan juga perjalanan dari sekolah menuju rumah yang hanya ku tempuh dengan berjalan kaki membuat cacing cacing di perut ku meronta ronta meminta untuk segera di beri makan.

setelah mengambil makanan aku kembali menghampiri ibu, kemudian duduk di kursi kosong yang biasanya di pergunakan untuk tamu yang akan menjahitkan pakaiannya.

"ibu sudah makan? " tanya ku sembari duduk

"belum, nanti saja kalau sudah lapar" ibu masih fokus pada mesin jahitnya yang masih menyala.

"ya sudah kalau gitu Jasmin suapin aja ya bu, kita makan sama sama" ucap ku kemudian mulai menyendokkan nasi serta lauk untuk ku suapkan pada ibu.

"eh nggak usah kak"

"enggak apa apa kali bu, ayo makan" ucapku sembari menyodorkan sendok berisikan nasi.

tak ingin berdebat ibu mulai memakan makanan yang aku suapkan padanya hingga nasi di piring ku tandas di makan oleh ibu semua.

hal ini mengingatkan ku kala dulu sering mengganggu ibu ketika beliau sedang makan, beliau yang tengah menyantap nasi dengan lauk ikan asin segera ku hampiri dan memintanya untuk menyuapiku.

"habis bu, aku ambilkan lagi ya"

"ibu sudah kenyang, sekarang giliran kamu yang makan kak" ucap ibuku.

aku pun mengangguk, setelah memberikan segelas air untuk ibu, aku kembali ke dapur untuk mengambil makanan ku

setelah selesai makan, aku kembali ke kamar untuk belajar sesuai dengan perintah ibunda ratu ku. sebelum itu aku kembali membuka kotak pemberian dari Liam. aku semakin penasaran akan keberadaannya dan semoga saja ia masih mengingat ku.

ku raih kalung itu kemudian ku lingkarkan di leherku. selama ini aku tak pernah memakai aksesoris. jangankan kalung, bahkan anting pun aku tidak memakai, sebab memang tidak punya.

aku menuju kaca yang menempel pada lemari bajuku kemudian memandangi kalung yang melingkar cantik di leher ku.

"kenapa kalungnya jadi lebih cantik setelah di pakai" aku tersenyum senyum sendiri kala melihat tampilan ku pada kaca besar di depan ku.

akhirnya aku memutuskan untuk mengenakannya saja, setidaknya ada satu aksesoris yang melekat di ba dan ku.

"akhirnya aku punya kalung juga" seru ku sembari berjingkat senang

tok

tok

tok

"Jasmin... " panggil ibu dari luar kamar. mungkin ibu mendengar suara ku yang heboh di dalam kamar sehingga beliau menghampiri ku.

"eh ibu, ada apa? " tanya ku setelah membuka pintu kamar.

"kamu kenapa teriak teriak, ada masalah? " tanya ibu.

"enggak ada bu" jawab ku. namun aku tak dapat menyembunyikan kebahagiaan ku ini dari pengelihatan ibu.

"jangan bohong, itu kamu senyum senyum sendiri, mana pipi kamu sampai merah begitu, ada apa? "

aku menggaruk pelipis ku sembari nyengir kuda "em, ini bu" ucapku sembari memperlihatkan kalung ku "rupanya dulu Liam ngasih aku kado ini sebelum pergi, ah aku senang sekali bu! " seru ku heboh.

"Liam? oh Liam yang dulu sering main bareng sama kamu, tetangga yang ngontrak di rumah nenek mu. apa kabar ya anak itu, sudah lama sekali ibu nggak pernah dengar kabar keluarganya"

"aku juga nggak tahu bu, bahkan mereka pindah kemana pun aku nggak tahu" lirihku menimpali.

"semoga mereka selalu sehat. sudah sekarang sana belajar, ibu mau lihat adik kamu dulu, tadi katanya mau main kerumah Tio, tapi sampai sekarang belum pulang padahal dia belum makan siang.

kamu jaga rumah dulu ya, mungkin ayah sebentar lagi juga akan segera pulang"

"aamiin... "

"biar aku saj-... "

"sudah kamu belajar saja, biar ibu yang ke rumah Tio jemput adik mu" ibu segera berlalu setelah memotong ucapan ku yang belum selesai.

setelah ibu pergi, aku kembali masuk ke dalam kamar untuk belajar.

Terpopuler

Comments

awan

awan

lanjut thor. semangat terus berkarya

2023-03-24

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!