Setelah kardus yang ku temukan di bawah kolong ranjang terbuka, aku tercenung sebab di dalamnya tersimpan rapi buku diary ku yang memang sengaja ku simpan disana.
sejenak aku teringat bahwa dulu aku pernah menyimpannya disana dan meminta ibu untuk tidak membuangnya sebab itu sebuah kenang kenangan ku di masa kecil.
ku keluarkan satu persatu buku diary ku hingga ku temukan sebuah kotak kecil yang terbuat dari kardus dengan di bungkus kertas kado. apa ini, aku rasa tak pernah membuatnya, lama berpikir akhirnya aku teringat akan sesuatu. ini dari Liam, ya Liam, teman masa kecil ku.
Dulu kami berteman sebab dia pernah tinggal di samping rumah ku. namun ketika naik ke kelas 3 sekolah dasar, ayah dan ibunya mengajaknya untuk pindah ke kota karena suatu hal dan itu membuat pertemanan kami akhirnya terputus.
sebelum pergi Liam sempat memberikan hadiah untuk ku "untukmu, dan aku juga mempunyainya"
kurang lebih seperti itulah yang ia ucapkan dulu.
namun hingga saat ini aku belum membukanya sebab terlalu kecewa atas kepergian Liam, dan aku berharap kejadian hari itu adalah sebuah mimpi.
dengan ragu ragu aku meraih kotak kecil itu kemudian segera merobek bungkusannya dan langsung membukanya.
aku ternganga sebab di dalam bungkus kado itu terdapat sebuah kalung dengan bandul setengah hati dengan inisial W dengan sebuah kertas bergambar seorang anak kecil laki laki dan perempuan bergandengan tangan. meskipun gambarannya kurang jelas tetapi aku yakin seperti itu gambarnya.
hampir tujuh tahun kami tak bertemu, meski dulu aku masih begitu kecil akan tetapi aku masih ingat dengan jelas bagaimana baiknya kedua orang tua Liam terhadap ku, bahkan ketika mereka membelikan mainan untuk Liam, mereka juga akan turut serta membelikan ku. dan kalung ini aku yakin bahwa ayah dan ibu Liam lah yang membelikan.
"kalau bandul ini inisialnya W apa jangan jangan Liam punya kalung yang sama dengan inisial J? "
"kenapa aku baru teringat dengan Liam ya, bagaimana kabarnya, dimana sekarang dirinya berada, tante sama om apa kabarnya? " monolog ku.
hhuuhh....
lagi lagi aku merasakan sesak di dalam dada kala harus mengingat dengan teman masa kecil ku, dia baik bahkan tak jarang ketika ada yang menjahiliku, dialah yang menjadi garda terdepan untuk melindungi ku.
"aku baru sadar, rupanya sejak kepindahan mu ke kota, mereka yang jahat pada ku semakin menjadi jadi Liam"
aku selalu sedih ketika mengingat kejadian di masalalu, kadang kala aku ketakutan sendiri dan memilih untuk tak bertegur sapa dengan mereka yang merundungku.
ku seka air mata ku yang tiba tiba mengalir deras, aku segera menyimpan kalung serta surat yang di berikan oleh Liam, dan ku letakkan di dalam lemari pakai an ku agar adik atau ayah ibu ku tak mengetahuinya.
setelah sedikit tenang, gegas ku rapikan kembali kardus yang ku keluarkan untuk ku masukkan kembali ke kolong ranjang setelah itu ku lanjutkan kembali menyapu lantai yang masih kotor.
Ku lihat ibu masih berkutat dengan mesin jahitnya dan adik ku masih bemain mobil mobilannya. Aku segera melanjutkan menyapu serta merapikan beberapa barang yang berserakan setelah itu aku melanjutkan untuk mencuci piring.
pukul 15.30 wib
aku meminta izin ibu untuk ke ladang mencari rumput dan tak lupa aku membawa serta adik ku agar ia tak sendirian bermain di rumah.
"bu aku cari rumput dulu ya, ini Jefri aku ajak sekalian biar nggak gangguin ibu lagi jahit" pamit ku pada ibu.
ibu menghentikan sebentar pekerjaannya kemudian menoleh ke arah ku.
"ayah belum pulang? " tanya ibu.
"belum bu, memangnya ayah dimana? , mungkin setelah ini, aku berangkat dulu bu takut kesorean" pamit ku.
"pamitnya ke sawah tadi, mau menengok kesana"
keluarga ku memang secara mandiri tak memiliki ladang sawah, namun dulu ada salah satu saudara kakek ku yang memberikan sebagian ladang sawahnya untuk di kelola ibu, memang tak banyak dan tak luas, hanya beberapa petak kecil sawah yang di berikan.
meskipun tak dapat mencukupi kebutuhan pokok kami, kami tetap bersyukur mendapatkan rezeki itu.
dan lagi, aku memiliki dua ekor sapi yang setiap harinya selalu ku carikan rumput di sawah ketika musim penghujan dan banyak rumput liar tumbuh hidup.
dulu ayah membeli sapi untuk tabungan jika suatu saat kami sedang kesusahan kami bisa menjualnya, dan kini induk sapu telah beberapa kali melahirkan anakan sapi yang ketika sudah besar, ayah menjualnya guna untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak.
aku berangkat ke sawah dengan berjalan sembari menuntun adik ku, jaraknya tak terlalu jauh, hanya sekitar 10 menitan dari rumah.
sesampainya di sawah, aku segera mengeluarkan celu rit yang ku simpan di dalam karung.
"dek, kamu duduk disini ya, kakak ambil rumput di sebelah sana dulu, kamu main ini saja" tunjuk ku pada rumput yang terlihat lebih tinggi.
"iya kak" jawab adik ku.
aku memberikannya mainan yang tadi sempat ku bawa agar ia tak jenuh, ku sapu pandangan ku, ayah sudah tidak ada di sawah, mungkin sudah pulang dan mampir di tempat lain, pikirku.
tak menunggu waktu lama aku segerakan mencari rumput agar tidak terlalu gelap ketika pulang. hampir 1 jam aku mengumpulkan rumput dan sudah ku masukkan ke dalam karung, kini selesai sudah pekerjaan ku, ku raih botol minum di dekat adikku dan ku minum dengan terburu buru karena dahaga yang luar biasa.
setelah beristirahat sejenak, aku mengajak adik ku untuk pulang.
suasana sore berada di sawah sangatlah sejuk, angin sepoi-sepoi menerbangkan daun daun yang kering berguguran.
aku menelusuri jalanan dengan menggendong sekarung rumput sementara adik ku berjalan di depan ku.
di tengah perjalanan pulang, ku dapati ayah tengah berada di rumah tetangga, sepertinya mereka membutuhkan tenaga ayah ku.
tak ingin mengganggu ayah, setelah menyapanya aku pun langsung berpamitan untuk pulang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments