"hei Ran... " sapanya.
rupanya yang masuk ke dalam kelas kami adalah Haris bersama dengan keduanya temannya, Luki dan Yuda.
ini adalah kali pertama Haris datang ke kelas kami menemui Rania, sebelumnya pria itu hanya akan mendatangi Rania ketika di parkiran sekolah atau seperti tadi pagi, menghadangnya di tengah jalan.
namun sepertinya harinini dirinya mulai ingin menunjukkan secara terang terangan kepada semua teman temannya jika dirinya saat ini tengah mendekati Rania.
kembali ku tekan perasaan ku terhadap Haris agar tidak semakin menggebu gebu.
akhirnya kami urung ke kantin sebab kedatangan tamu yang tidak di undang.
"eh, hai Ris, ada apa? " tanya Rania.
"nih buat kamu" seraya menyodorkan coklat untuk Rania, dengan senang hati sahabatku itu pun menerimanya. "makasih ya"
"iya, ya sudah aku balik ke kelas dulu ya, bye... " ucapnya kemudian berbalik keluar kelas.
ku lihat Rania tengah senyum senyum memandangi coklat yang di berikan Haris, sepertinya keduanya memang saling suka, apa aku terlalu jauh menyukai Haris?
"ya udah yuk langsung ke kantin, laper nih" Naila langsung beranjak dari duduknya.
"yuk lah... " jawabku dan yang lainnya.
kami berempat keluar kelas bersama sama, aku sedikit tersentak kala mendapati teman ku di masa lalu tengah duduk di depan kelas ku sembari memakan camilannya.
aku tak berniat untuk menyapa mereka sebab rasa trauma yang dulu pernah aku rasakan kembali hadir ketika melihat wajah mereka.
untung saja ketiga sahabat ku mengajak ku berbicara sehingga aku dapat dengan mudah untuk bersikap acuh kala melintas di hadapan mereka.
kantin dalam keadaan ramai, aku memilih untuk membeli air gelas dan satu bungkus roti sementara ketiga teman ku membeli nasi.
kami memilih tempat duduk yang sedikit ujung karena memang di situlah yang masih kosong.
"kok nggak beli makan? " tanya Vidya kala melihat ku hanya membeli air minum dan juga roti.
"enggak, aku masih kenyang soalnya tadi sarapan banyak" sebenarnya bukan kenyang alasan ku hanya membeli roti dan air, melainkan uang saku ku yang hanya cukup untuk membeli roti dan segelas air mineral.
"nih kalau mau, kita makan bareng bareng " ucap Rania sembari menyodorkan piringnya yang berisi nasi dan soto
"enggak usah lah, kalian makan aja, aku makan roti aja buat ganjel perut, jaga jaga ntar laper pas pelajaran, kalau di isi nasi takut kekenyangan" alibi ku.
mereka pun mengangguk dan kembali menikmati nasi soto di piring nya begitu pula dengan ku.
jika hari biasanya aku dan teman teman ku membawa bekal, namun ketika di hari jumat seperti ini, kami libur sebab sekolah tak sampai pukul 11.00 wib telah selesai.
setelah selesai menghabiskan sepiring soto dan mengembalikan piringnya, kami pun kembali ke kelas sebab sebentar lagi bel masuk akan segera berbunyi.
benar saja, sesampainya kami di kelas, bel masuk pun berbunyi, beberapa saat kemudian, guru bahasa Indonesia datang sembari mengucapkan salam.
***
hari demi hari berlalu begitu cepat, tak dapat ku pungkiri bahwa kini perasaan ku terhadap Haris semakin lama semakin menggebu gebu, meski sudah ku coba untuk melupakan dirinya, namun hati ku berkata lain, aku masih menyukainya.
dia yang selalu terlihat ramah dan baik kepada teman temannya, dia yang pintar dan mudah bergaul membuat benih benih cinta itu muncul.
di tengah lamunan, aku tersadar kala mendengar ada yang melempar sesuatu pada dinding rumah ku.
aku keluar kamar untuk mencari ibu dan ayah, rupanya keduanya belum tidur, atau mungkin telah terbangun dari tidurnya kala mendengar suara dari luar.
"yah, bu apa terjadi lagi? " tanya ku pada ayah dan ibu yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
ibu paham maksud ku, ia mengangguk lemah "iya kak, sudah kamu temani adik mu dulu, biar ayah dan ibu disini sampai suaranya hilang" ucap ibu ku meminta ku untuk segera kembali ke kamar menghampiri adik ku yang masih tertidur.
aku hanya menurut karena yak ingin membuat ibu ku semakin kepikiran.
Nenek ku, dialah orang yang tengah melempar batu pada dinding rumah ku, aku tak tahu motif apa yang mendasari beliau melakukan hal itu, yang ku tahu hal itu di lakukan sudah sedari dulu. seolah keluarga kami ini adalah benalu yang memang harus segera di musnahkan.
aku terduduk di pinggiran kasur sembari mendengarkan teriakan dari bi bir nenek ku, segala macam sumpah serapah ia lontarkan pada keluarga ku.
lama lama telinga ku panas, aku tak sanggup mendengarnya, ku tutup kedua telinga ku kuat kuat agar suara suara cacian itu tak terdengar oleh telingaku.
bukannya pergi, suara suara itu terdengar kembali dan bahkan sangat keras membuat ku ingin meledakkan kepala ku.
"dasar jelek"
"dasar bocah miskin"
"anak nakal"
"sia*an"
entah bagaiamana bisa, umpatan yang di lontarkan pembuli ku dulu kini terdengar lagi.
segera ku lantunkan sholawat hingga pikiran ku kembali tenang.
ibu masuk ke dalam kamar kemudian menghampiri ku yang masih menutup telinga, ia menepuk pundak ku kemudian duduk di samping ku, dapat ku lihat raut wajah beliau seperti seorang yang tengah mempunyai banyak beban.
ibu memegang kedua tangan ku kemudian melepas nya dari telingaku.
"sudah berhenti" lirih ibu.
"bu, kenapa hal ini terus terusan terjadi, ada apa sebenarnya? " tanya ku pada ibu.
ibu menggeleng tanda iya juga tak tahu "ibu tak pernah menentang apa yang nenek mu katakan Jasmin, bahkan ibu sama sekali tak pernah protes atas sikap tidak adil nenek mu sama ibu, tapi entah lah, ibu juga tak tahu apa yang mendasari nenek mu memperlakukan keluarga kita seperti ini, biarkan saja, suatu saat nanti nenek pasti akan berubah"
ibu, kenapa hati mu begitu lapang ketika mendapat ketidak adilan, sebenarnya terbuat dari apa hati mu itu bu
"bu, doakan semoga Jasmin nanti sukses ya, biar bisa belikan rumah untuk ibu, supaya kita bisa segera pindah dari sini".
namun ibu kembali menggeleng " bagaimana bisa ibu pergi jika masih ada kakek mu disini Jasmin, ibu tak tega jika harus meninggalkan beliau, jika suatu saat kamu sukses, buatlah rumah impian mu kak, ibu akan selalu mendukung mu"
"kita ajak kakek buat ikut sama kita bu! "
"kakek pasti tidak akan mau karena disini rumahnya, biarkan saja semua terjadi, kita nikmati saja semua yang ada, suatu saat nanti hal ini tak akan pernah terjadi lagi"
memang hanya kakek lah yang menyayangi ibu, terbukti dari tanah rumah ini yang beliau berikan untuk ibu, maka dari itu, ibu sangat enggan untuk pergi dari rumah ini meskipun kenyataan pahit yang selalu beliau terima
"baiklah terserah ibu saja, tapi jika suatu saat ibu sudah tak tahan, lebih baik kita pindah dari sini"
ibu pun mengangguk, tak lama ayah datang menghampiri kami, seperti biasa, setelah kejadian seperti itu, ayah pasti selalu mengecek keadaan luar terlebih dahulu baru setelah itu beliau bisa beristirahat.
rumah nenek ku berada tepat di sebelah kanan ku, sementara sebelah kiri ku adalah rumah tante ku, rumah yang dulu sempat di huni oleh keluarga Liam, rumah itu adalah rumah milik kakek yang memang di sediakan untuk tante ku, namun dulu tante ku belum menikah sehingga rumah itupun di sewakan, namun saat ini rumah itu kembali di huni sejak tante ku menikah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments