Firasat buruk

Sepulang dari warung aku langsung memasak mie instan di tambah sebutir telur sebagai tambahan protein, tak lupa ku tambahkan bumbu bawang merah serta bawang putih agar semakin gurih sebab ibu meminta kuah yang banyak agar cukup untuk kami berempat.

setelah matang aku segera menaruhnya ke dalam mangkuk besar kemudian membawanya ke meja makan.

sembari menunggu azan maghrib aku memutuskan untuk mandi lebih dahulu sebab badan sudah terasa lengket apalagi terkena uap masakan, membuat tu buh ku terasa gerah.

"bu masakan sudah siap, Jasmin mandi dulu ya" ucap ku pada ibu yang trngah memilah jahitan.

"iya nanti setelah selesai maghrib kita makan bersama"

aku segera berlalu menuju kamar mandi setelah mengambil handuk di jemuran.

tak ku dapati ayah, mungkin beliau masih belum pulang dari ladang karena kebetulan hari ini ayah panen cabai.

selesai mandi dan sholat maghrib kami menunggj ayah di meja makan, hingga saat ini ayah masih belum pulang.

ibu terlihat gusar sedari tadi menatap ke arah pintu dapur, aku pun sama karena tak biasanya ayah pulang terlambat seperti ini.

"ayah kemana ya bu, kok tumben jam segini belum pulang, udah hampir isya tapi ayah belum pulang? " tanya ku pada ibu.

ibu menggeleng, "tadi ayah mu hanya bilang jika ingin memanen cabai di ladang, tapi entahlah sejak dari belum ada pulang sama sekali"

aku melihat adik ku yang tengah menatap mie di dalam mangkuk, pasti ia lapar, hanya saja ia tak berani meminta makan sebab tahu saat ini ibu tengah menyimpan kekhawatiran terhadap ayah.

ku raih piringnya dan segera ku isi piringnya dengan nasi dan mie instan dengan sedikit kuah lalu ku letakkan kembali di depannya.

Jefri menatap ku "makanlah, nanti kakak ayah dan ibu menyusul" ucap ku kemudian.

dengan lahap Jefri makan dengan kuah mie yang hampir menyusut, aku segera beranjak namun ibu menghentikan langkah ku.

"mau kemana Jasmin? " tanya ibu menatap ku.

"aku mau nyusulin ayah ke ladang dulu bu, mungkin pekerjaannya belum selesai makanya ayah belum pulang" jawab ku

sebenarnya sedari tadi perasaan ku sudah tak enak, akan tetapi aku tak ingin memberitahu ibu karena akan membuatnya semakin kepikiran.

"ya sudah, cepat pergi cepat kembali ya, bilang sama ayah kalau belum selesai di lanjutkan besok saja sama ibu" ucap ibu.

aku mengangguk kemudian segera berlari menuju kamar untuk mengambil jaket.

udara malam hari di desa ku sangat dingin, jika tak mengenakan pakaian hangat akan mudah sekali masuk angin, setelah siap aku langsung berpamitan pada ibu kemudian aegers pergi menghampiri ayah.

aku menapaki jalanan temaram menuju ladang, untung saja jaraknya tidak begitu jauh sehingga tak butuh waktu lama aku akan segera sampai di ladang.

sesampainya di ladang, tak ku temukan ayah ada disana, bahkan ayah yang biasanya membuat api unggun pun saat ini tak terlihat.

ladang dalam keadaan sepi dan gelap, namun karena aku khawatir akan keadaan ayah, aku beranikan diri untuk menyusuri ladang.

aku melihat beberapa cabai yang sudah di petik dan saat ini ada di karung di dekat jalan, itu berarti ayah belum selesai, pantas saja tak pulang hingga larut.

namun ketika ku edarkan pandangan ku, tak ku dapati ayah disana padahal aku menyorotkan lampu senter ku ke segala arah. jika ayah ada di ladang, sudah barang tentu ia akan langsung menghampiri ku.

"ayah... " teriak ku kencang memanggil ayah. namun hening, tak ada jawaban apa apa.

"ayah, ayo pulang" teriak ku lagi. nihil. ayah tak menjawab panggilan ku.

perasaan ku semakin tak menentu, karena semakin khawatir, segera ku susuri lagi ladang cabai yang tak seberapa luas ini.

"ayah... " pekik ku terkejut kala melihat ayah yang tergeletak di tanah.

segera ku hampiri ayah dan ku coba untuk membangunkannya, tapi ayah sama sekali tak merespon ku.

"ayah, ayah bangun yah. ayah kenapa bisa sampai seperti ini" aku meraung, menangis sesenggukan melihat ayah ku dengan mata terpejam tak sadarkan diri.

"ayah tunggu disini, Jasmin minta pertolongan dahulu" ucap ku kepada ayah.

aku segera bengkit dan berlari menuju rumah warga terdekat karena jika menemui pak RT, akan memakan banyak waktu.

tok

tok

tok

"assalamualaikum.pak de, pak de, buka pintunya, pak de... " teriak ku mengetuk pintu rumah pak de Somad engan kasar.

ceklek

"loh, Jasmin, ada apa nduk, kenapa kamu nangis?" tanya bude Eni. la membuka menghampiri ku yang tengah menangis.

"ada siapa bu? " tanya pak de Somad yang baru muncul dari dalam rumah menghampiri ku di teras.

"ini loh pak, ada Jasmin, dia nangis" jawab bude Eni.

aku masih memangis sesenggukkan, namun kala melihat pak De Somad, aku segera menghampiri nya.

"pak de, pak de tolong Jasmin, ayah, ayah tak sadarkan diri di ladang pak de. tolong ayah Jasmin" ucap ku terisak, bahkan beberapa tetangga bude Eni pun ada yang keluar rumah menghampiri kami.

"astaghfirullah, ya sudah ayo kita kesana. ibu tolong beritahu tetangga yang lainnya buat nyusul kesana ya" ucap pak de Somad

"baik pak" jawab bude Eni.

pak Somad segera menyalakan mesin motornya dan mengajak ku untuk segera naik ke atas motornya.

aku tak banyak bercerita, setelah mengatakan hal itu, pak de Somad langsung mengantar ku ke ladang, di susul beberapa warga yang seperti nya sudah di beritahu bude Eni untuk ikut menyusulku ke ladang.

"dimana ayah mu? " tanya pak de Somad

"itu, itu disana pak de, ayo... " segera ku pimpin jalan menghampiri ayah yang masih tergeletak.

setelah sampai pak de Somad langsung mengecek denyut nadi ayah

aku sangat khawatir akan terjadi sesuatu hal yang tidak ku harap kan. semoga ayah baik baik saja.

Pak de Somad menatap ku dengan tatapan sendunya, kemudian kembali menatap ayah

"innalillahi wa innalillahi roji'un " lirihnya setelah selesai mengecek denyut nadi serta pernafasan ayah.

Degh

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!