Berdebar

Bel berbunyi, semua siswa yang masih di luar kelas pun langsung berbondong bondong masuk ke dalam kelas masing masing.

dari tempat ku duduk saat ini, dapat ku lihat jika Haris tengah berjalan menuju ruang kelas yang sedang ku tempati.

jantung ku berdegup kencang dan semakin kencang kala Haris semakin dekat hingga ia tiba di depan meja ku kemudian melongok nomor meja di sebelah ku.

"hei Jas, ternyata kita satu meja" sapanya kemudian duduk di sebelah ku.

aku tak dapat menyembunyikan kegugupan ku, dan itu tertangkap oleh mata Haris yang tengah menyiapkan alat tulis nya.

"kenapa, sakit? " tanyanya

"eh eng-enggak kok Ris, cuma gugup aja, ini kan ujian pertama, apalagi satu kelas sama kelas lain, jadi agak canggung" jawab ku sedikit tergagap, untung saja aku masih bisa berpikir alasan yang logis supaya Haris tak curiga.

Haris tersenyum, entah itu senyum apa, rasanya sedikit kurang nyaman ketika melihat senyumannya.

"santai aja lagi! " seru Haris.

tak lama pengawas ujian pun datang, setelah membaca doa kami di berikan soal ujian satu persatu.

"ingat, jangan ada yang mencontek atau saling lempar jawaban. jika ketahuan akan langsung saya ambil kertas ujiannya! "seru bu Mutia pengawas kelas kami.

" iya bu... " jawab kami serempak.

2 jam waktu yang di berikan untuk mengerjakan semua soal ujian, hari ini ada dua mata pelajaran yang akan di uji, yaitu Bahasa Indonesia dan Matematika.

syukurlah ujian kali ini aku bisa menjawabnya dengan mudah meski ada beberapa soal yang mengecoh pikiran ku, apalagi ada Haris yang duduk tenang di samping ku, membuat aku semakin tidak fokus untuk mengerjakan soal sosl ujian.

tak terasa 2 jam telah berlalu, bu Mutia meminta kami untuk segera mengumpulkan soal serta jawaban sebab waktu telah habis.

aku menghembuskan nafas pelan kala soal serta jawaban telah sampai di tangan bu Mutia, semoga saja hasilnya memuaskan. doaku dalam hati.

kami kembali ke tempat duduk masing masing sebab ujian kedua akan segera di lanjutkan.

Naila menepuk pundak kanan ku, sehingga aku langsung menoleh ke arahnya.

"Gimana Jas, mudah nggak soal soal yang tadi? " tanyanya.

"mudah setelah sulit sih, ya semoga saja hasilnya bagus, aku malah ketar ketir sama soal matematika nya Nai, semoga aja nggak sesulit bayangan ku" ucap ku memberitahu.

matematika adalah kelemahan ku. entahlah, jika harus hitung hitungan dengan banyak angka apalagi banyak rumus membuat ku menjadi pusing, semoga saja soal yang keluar sesuai dengan kisi kisi yang sudah di ajarkan.

"selamat pagi anak anak! " sapa pak Galih yang ternyata pengawas ruangan kami. kami sedikit bersorak mengingat pak Galih adalah orang yang santai, tidak sehoror guru yang lainnya ketika menjadi pengawas.

"pagi pak" jawab kami serentak

Ujian kedua pun di mulai, seperti ujian pertama. setelah selesai membagikan soal ujian kami segera menyelesaikan nya sebelum bel pulang berbunyi.

di tengah fokus ku mengerjakan soal essay, Haris tiba tiba menepuk lengan ku pelan. aku menoleh ke arahnya yang ternyata juga tengah melirik ku.

"ada apa? "tanya ku tanpa suara.

" barter jawaban dong, nomor satu essay plis! " aku mengangguk, sedikit menggeser kertas jawaban ku untuk di contek olehnya.

aku memang bodoh karena dengan suka rela telah memberikan Haris contekan, akan tetapi entah mengapa hatiku sangat senang bisa berinteraksi dengan laki laki yang selama ini ku kagumi.

setelah selesai menyalin, ia kemudian menyodorkan kertas jawabannya, rupanya ia hanya belum mengerjakan soal nomor satu, sedangkan yang lainnya sudah ia selesaikan semua.

"boleh? " tanya ku ragu

"boleh, salin aja" ujarnya kemudian.

aku segera menyalin jawaban nomor 5 yang memang dangat sulit ku pecahkan, dengan cepat segera ku selesaikan agar pak Galih tak mencurigai kami karena telah saling melempar jawaban.

namun ketika aku telah selesai menyalin jawaban, ku lirik teman teman ku yang ternyata sama dengan ku dan Haris, mereka juga tengah saling memberikan kode untuk mencari jawaban.

Bel pun berbunyi, setelah selesai mengumpulkan soal ujian, kami pun langsung pulang sebab ujian hari ini memang sudah selesai.

keluar kelas, aku bersisihan dengan Haris. karena tadi belum sempat berterima kasih, akhirnya aku menghentikan langkah kakinya dengan memegang lengannya.

"Ris" Haris berhenti kemudian menoleh ke arah ku

"ya? " tanyanya sedikit terkejut.

"makasih ya buat jawaban yang tadi, aku bener bener nggak bisa mecahin soal rumit kayak tadi" ucapku

"iya sama sama. lagipula aku juga nyontek kamu kan, jadi impas. makasih ya"

"iya sama sama"

setelah berterima kasih, aku pun langsung pamit untuk pulang sedangkan dia berbelok menuju kelas lain, sepertinya ia akan menghampiri Rania sebab kelas yang di tuju mengarah ke ruang krlas Rania.

aku menghembuskan nafasku pelan, ternyata sulit menyukai seseorang dengan sembunyi sembunyi seperti ini, aku berjalan gontai menuju keluar sekolah, hari ini aku akan jalan kaki sendiri sebab tak ingin merepotkan ayah.

baru saja keluar gerbang sekolah, Yuda, teman Haris yang juga satu kelas dengan ku ketika ujian tiba tiba menghampiri ku.

"Jas... " panggilnya

"eh Yud, ada apa? " tanya ku, aku melipir sedikit minggir agar tidak menghalangi jalan

"nggak ada, cuma mau memastikan sesuatu sama kamu"

aku mengurutkan kening ku sebelum menanyakan lebih jauh lagi. "apa? " tanya ku kemudian.

"ikut aku" ajaknya sembari menarik tangan ku menuju tempat duduk di depan ruang kesehatan yang tak jauh dari gerbang sekolah

"eh Yud, ini apa maksudnya? " tanya ku, aku sedikit berlari sebab mengikuti langkah kaki Yuda yang lebar.

ia meminta ku untuk duduk di kursi depan UKS sementara dirinya hanya berdiri menatap ku dengan pandangan yang sulit di jelaskan.

"ada apa sih Yud? " tanya ku heran, sebab sedari tadi pria itu diam saja.

"kamu suka kan sama si Haris? " tanyanya setelah beberapa saat tercipta keheningan.

"apaan sih, nggak jelas banget deh kamu Yud" ucap ku, aku hendak berdiri namun Yuda meminta ku untuk duduk kembali.

"udahlah Jas, nggak usah banyak alasan. benar kan apa yang aku katakan, kamu suka sama Haris yang ternyata sahabat kamu juga menyukai orang yang sama, sedangkan yang di pilih Haris itu sahabat mu, bukan kamu. lebih baik kamu berhenti dari sekarang sebelum kamu menyesal" ucapnya dengan penuh keseriusan.

aku semakin bingung dengan sikap Yuda yang tiba tiba seperti ini, apalagi ia juga menjelek jelekan Haris yang adalah temannya sendiri. untuk apa coba ia melakukan hal itu?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!