bukan mimpi

Cahaya mentari pagi menyorot masuk melalui celah jendela yang tertutup, aku mulai mengerjabkan mata kala cahaya itu menyilaukan mata.

rupanya semalam setelah puas menangis aku keyoduran hingga pagi.

ku tolehkan pandangan ku ke samping dimana ada Jefri dan ibu yang masih terlelap, kembali air mata ini jatuh melihat kedua orang yang sangat ku sayangi saat ini tengah terpuruk.

aku segera bangkit kemudian keluar kamar dengan perlahan, ku lirik jam yang tertempel di dinding menunjukkan pukul 6 pagi.

aku bergegas ke dapur. Sebelum memutuskan untuk membuat sarapan, aku terlebih dahulu mengecek meja makan barangkali ada lauk yang tersisa.

"ibu semalam nggak makan" lirih ku sembari menatap nasi serta mie yang sudah mengembang penuh di atas meja makan.

rupanya semalam ibu benar benar menunggu kehadiran ku dan ayah hingga beliau tidak makan malam, namun karena musibah semalam, ibu tak sempat untuk makan.

alhamdulillah nasi semalam tidak basi, aku akan membuatkan nasi goreng untuk ibu dan Jefri.

setelah selesai aku bergegas mandi untuk segera berangkat ke sekolah.

meski dalam keadaan duka, akan tetapi aku tak ingin izin sebab hari ini masih jadwalnya ujian.

selesai mandi dan berpakaian, aku membangunkan ibu serta adik ku untuk segera bangun dan sarapan.

hari ini aku meminta Jefri untuk di rumah saja menemani ibu.

"bu, dek, bangun yuk sarapan" ucap ku menggoyangkan pundak ibu dan Jefri

kedua orang terkasih ku itupun mengerjapkan matanya, kemudian mulai bangkit dari ranjang.

"kamu sekolah kak? " tanya ibu

"iya bu, Jasmin masih ada ujian, sayang kalau minta izin, nanti setelah selesai ujian, Jasmin langsung pulang kok, hari ini biar Jefri di rumah dulu"

"ya sudah, maaf ibu belum sempat buatin sarapan buat kamu-"

"Jasmin sudah bikin sarapan bu, ayo kita keluar, kita sarapan dulu" ajak ku sembari menuntun ibu keluar kamar sedangkan Jefri sudah keluar kamar lebih dahulu sedari bangun tadi

tiba di dapur ku lihat Jefri tengah mencari sesuatu, kepalanya melongok keluar pintu dapur.

"cari apa dek? " tanya ku

"ayah mana kak, kok nggak ikut sarapan? " tanyanya polos.

aku dan ibu saling berpandangan, adik ku yang malang, ia bahkan lupa kejadian kemarin, atau ia menganggap kejadian semalam hanyalah mimpi.

tak terasa bulir bening ku kembali menetes, ku hampiri adik ku dan menuntunnya untuk duduk si kursi makan.

"dek, ayah sudah nggak ada, jadi jangan cari ayah lagi ya, adek doakan ayah supaya ayah tenang di rumah barunya" ucap ku pelan. ku tangkup kedua pipi adik ku yang tiba tiba basah karena air mata.

ibu mengusap pelan pundak ku, mencoba menenangkan hatiku.

"jadi, yang semalam itu bukan mimpi, ayah beneran sudah meninggal kak? "

aku mengangguk pelan, sungguh berat mengatakan kebenarannya "kamu harus ikhlaskan ayah dek"

tiba tiba Jefri tergugu semakin keras, pasti hatinya juga terluka mendapati fakta yang ternyata ayah sudah meninggal.

"kenapa ayah ninggalin kita kak, ayah kan janji mau ajakin Jefri jalan jalan ke kota, kenapa ayah malah pergi ninggalin kita, huhuhuu... "

"Jefri tenang, ada kakak sama ibu, kakak janji suatu saat nanti, kakak akan ajak kamu jalan jalan sama ibu, tapi kakak mohon ikhlaskan ayah ya dek" lirih ku mendekap tu buh mungil adik ku.

Jefri mengangguk, tangisnya kini sudah mereda hanya menyisakan isakan kecil dari bi birnya.

ku lirik ibu yang ternyata juga masih menangia namun beliau mampu meredam tangisnya sehingga kami tak mendengar tangisnya.

"bu sudah, kita harus bangkit, ibu jangan berlarut larut dalam kesedihan, ada kami yang akan selalu berada di sisi ibu" ucap ku menatap ibu.

ibu tersenyum sembari menghapus air matanya, meski usia tak lagi muda, namun perasaan cinta dan sayang antara ibu dan ayah tak bisa di ragukan lagi.

aku beranjak dari duduk kemudian mulai mengisi satu persatu piring dengan nasi goreng yang sudah mulai dingin setelah itu ku tuang air minum di gelas masing masing.

"ibu makanlah" ucap ku pada ibu yang masih enggan menyantap sarapannya sedangkan Jefri sudah lebih dulu makan sesaat setelah aku memintanya untuk segera makan.

"baiklah jika ibu tidak mau makan sendiri" segera ku ambil alih piring ibu kemudian mulai menyendok nasi goreng dan ku sodorkan ke arah ibu.

"ayo makanlah bu" dengan cepat ibu membuka mu lutnya, mungkin karena tak ingin membuat ku kecewa akhirnya ibu bersedia untuk ku suapi.

kami makan sepiring berdua, setelah selesai barulah aku berangkat ke sekolah.

"ibu nggak usah pegang kerjaan apapun biar nanti Jasmin yang beresin sepulang sekolah, ibu sama adek istirahat saja, Jasmin berangkat dulu bu, assalamu'alaikum" pamit ku ketika hendak berangkat, ibu mengantarkan ku sampai ke teras bersama Jefri.

Tin

tin

suara klakson membuat ku yang masih berpamitan dengan ibu pun seketika menoleh ke belakang, rupanya Yuda datang dengan mengendarai motornya yang semalam.

Yuda turun kemudian menghampiri kami yang masih berdiri di teras rumah.

"loh Yud, kamu ngapain kesini? " tanya ku pada Yuda yang sudah berdiri di samping ku, ia tak menghiraukan pertanyaan ku, ia justru mendekati ibu kemudian bersalaman.

"bu... " sapanya

"iya, nak Yuda tumben kesini, ada apa? " tanya ibu yang keheranan mendapati Yuda mampir ke rumah

"oh itu, saya mau jemput Jasmin bu, mau ngajak berangkat bareng boleh? "tanyanya.

semalam sebelum pulang Yuda menanyakan perihal perizinan sekolah ku, namun ku katakan padanya jika aku tetap akan masuk sekolah seperti biasa karena sedang ada ujian. mungkin karena itulah pagi ini Yuda mampir kerumah.

"apa tidak merepotkan nak Yuda? "

"tidak bu, kan kita searah"

"ya sudah kalian berangkatlah, hati hati di jalan ya, nak Yuda, jangan kebut kebutan ya" pesan ibu.

Yuda mengangguk, setelah berpamitan, aku dan Yuda pun bergegas berangkat ke sekolah.

tak ada percakapan yang berarti kala kami berangkat, hanya sekedar menanyakan kabar kemudian kembali hening, aku yang masih berduka pun juga enggan untuk bertanya meski sebenarnya ingin menanyakan perihal kedatangannya pagi ini.

sesampainya di sekolah, setelah menurunkan ku, Yuda bergegas memarkirkan motornya sedangkan aku menghampiri teman teman ku.

kala melihat ku, Rania, Naila dan Vidya langsung berlari dan berhambur di pelukan ku.

"Jasmin kami turut berduka cita ya. maaf karena semalam kami nggak bisa nemenin kamu" ucap Rania.

aku membalas pelukan mereka, setelah terlepas aku kemudian mengangguk memaklumi ketidakhadiran mereka sebab hari memang sudah malam. "nggak apa apa kok, santai saja" ucap ku.

"tapi, kamu kok masuk, kamu nggak izin buat di rumah aja? nanti kan bisa ujian susulan" tanya Rania

"aku udah nggak apa apa kok, lagipula ayah sudah di antar ke rumah barunya, jadi nggak ada alasan buat aku nggak masuk sekolah" jawab ku

"tapi kan ---"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!