kebaikan Yuda

Setelah meyakinkan ketiga sahabat ku jika aku baik baik saja, kami berempat kemudian bergegas untuk segera masuk ke kelas masing masing, aku dan Naila langsung belok masuk kelas sedangkan Rania dan Vidya masih harus melewati satu kelas lagi untuk menuju ruangannya.

"eh Jas, kamu tadi tumben berangkat bareng Yuda? " tanya Naila setengah berbisik.

"dia tadi tiba tiba aja dia datang ke rumah ngajakin berangkat bareng pas aku mau berangkat"

Naila manggut manggut "tapi kok tumben ya, perasaan, kamu nggak deket deh sama si Yuda, meskipun dia selalu ngintilin Haris pas ngapel Rania dia juga cuek aja, atau jangan jangan kalian ada hubungan ya, dan kalian sembunyiin ini dari kita kita, hayo ngaku! " selidiknya.

aku mencebikkan bibir ku mendengar celotehan dari sahabat ku itu. "kata katanya tolong di filter dulu neng, mana ada orang yang suka sama aku, aku mah kalah jauh sama kalian" ucap ku

"lah, emang kamu kenapa, kamu tuh manis tahu Jas, apalagi lesung pipi mu, manis pake banget"

aku hanya menggelengkan kepala, mana mungkin seperti itu, jika di bandingkan dengan ketiga sahabat ku, aku akan kalah cantik meski memiliki lesung pipi.

satu persatu teman teman ku berdatangan masuk ke dalam kelas karena bel masuk telah berbunyi disusul beberapa guru yang mengikuti mereka dari belakang untuk menuju ke ruang kelas masing masing.

ujian berlangsung lancar meskipun semalam aku tak belajar, setelah ujian selesai aku pun bergegas untuk pulang.

di perjalanan menuju gerbang sekolah, beberapa guru mencegat ku dan mengucapkan bela sungkawa, aku hanya mengangguk dengan air mata yang lolos dari mata ku begitu saja.

pagi ini aku cukup kuat untuk menahan laju air mata ku saat proses ujian berlangsung, namun ketika selesai dan teringst pesan pesan ayah, aku kembali bersedih.

dengan langkah pelan aku pulang menyusuri jalanan aspal yang sudah berlubang

15 menit kemudian aku sampai di rumah

ku lihat bude Eni duduk bersama ibu di teras sedangkan Jefri tengah bermain di lantai dengan mobil mobilannya.

"assalamu'alaikum bu, bude" salam ku kemudian mengecup punggung tangan keduanya.

"wa'alaikumsallam... "

"gimana Jasmin ujiannya? " tanya bude Eni

"alhamdulillah lancar bude, Arum mana bude, nggak ikut? " tanya ku sembari menoleh ke kanan ke kiri mencari anak bude Eni

"enggak, tadi pas bude kesini, Arum nya belum pulang sekolah"

"oh begitu, kalau begitu Jasmin masuk dulu bude, mau ganti baju" pamit ku.

bude Eni hanya mengangguk kemudian melanjutkan berbicara dengan ibu.

***

3 minggu kemudian

Ujian sekolah ku sudah selesai, meski keadaan ku waktu itu sangat berantakan selepas kepergian ayah, namun aku tetap harus ikut ujian, apalagi saat itu adalah ujian kenaikan kelas.

ketiga sahabat ku pun beberapa kali datang ke rumah hanya untuk sekedar mengajak ku belajar bersama, mereka khawatir fokus ku akan terpecah antara belajar dan duka.

hari ini adalah hari pembagian raport, jika biasanya ayah yang selalu mengambilkan raport ku, kali ini ibulah yang mengambil, dengan berjalan kaki aku bersama ibu berjalan menuju sekolah.

"semoga nanti nilai Jasmin nggak mengecewakan ya bu" ucap ku mrmecah keheningan.

jujur aku sedikit khawatir akan nilai raport ku mengingat waktu itu aku beberapa kali tak bisa fokus mengerjakan soal ujian karena teringat ayah, tapi untung saja ada Haris yang dengan tangan terbuka membantu ku mengerjakan soal yang tak ku ketahui jawabannya.

"aamiin kak... " singkat ibu. memang semenjak kepergian ayah, ibu menjadi pribadi yang tertutup, bahkan sekarang bicara pun sedikit dan seperlunya saja.

aku tak menyalahkan ibu, mungkin dengan beliau diam, beliau dapat menyembuhkan luka hatinya atas kepergian ayah.

beberapa menit berjalan, tibalah kami di sekolah.

sudah banyak para orang tua yang juga hadir mengambilkan raport anak anaknya.

aku mengajak ibu untuk langsung masuk ke kelas mengingat ibu butuh istirahat.

"kita langsung ke kelas saja bu, biar sekalian istirahat" ibu hanya mengangguk, mengikuti langkah kaki ku menuju ruang kelas ku.

***

1 jam berlalu, ibu keluar kelas dengan senyum mengembang yang membuat ku turut hangat melihat senyuman itu.

"bu, nilai Jasmin jelek ya, makanya ibu tersenyum biar Jasmin nggak sedih? " tanya ku

"enggak kok kak, alhamdulillah, nilai kamu bagus. ya sudah ayo kita pulang, nanti Jefri nyariin ibu " ajak ibu

setelah berpamitan kepada ketiga sahabat ku, aku berjalan bersisihan bersama ibu untuk pulang ke rumah.

"bu... " sapa Yuda tiba tiba mencegat langkah kami.

"eh nak Yuda, belum pulang? " tanya ibu

"belum bu, masih nunggu ibu di dalem belum keluar, ibu sama Jasmin mau pulang? " tanya nya ramah, ia bahkan mencium punggung tangan ibu.

"iya ibu mau pulang, kasihan nanti Jefri nungguin di rumah sendirian, ya sudah ibu pulang dulu ya, salam buat ibu kamu" pamit ibu.

"saya antarkan pulang bu, kebetulan saya bosan. menunggu ibu di dalam nggak keluar keluar" cegah Yuda.

"nggak usah nak Yuda, ibu pulang sama Jasmin saja, nanti ibu kamu nyariin kamu loh kalau kamu nggak disini" tolak ibu

"nggak apa apa bu, nanti saya kirim pesan ke ibu untuk nunggu di luar, ayo bu saya antar pulang" ajaknya sembari menggandeng lengan ibu.

aku melongo melihat sikap Yuda yang begitu akrab dengan ibu, pasalnya yang ku. tahu, Ibu jarang keluar rumah dan Yuda pun tak pernah main ke rumah, namun entah dari mana mereka berdua bisa akrab seperti itu.

aku memandang dua orang beda usia ymitu yang perlahan menjauh, gegas aku menyusul mereka.

"bisa bisanya aku di lupakan" gerutu ku sembari berjalan cepat menghampiri ibu dan Yuda yang sudah berada di parkiran.

"ibu beneran mau pulang sama Yuda? " tanya ku pada ibu.

"iya Jas, biar aku yang ngaterin ibu kamu, nanti setelah itu baru aku antar kamu pulang" jawab Yuda

"ya sudah kalau ibu mau di antar Yuda, Jasmin pulang dulu kalau begitu" pamit ku kemudian berjalan pergi meninggalkan ibu dan Yuda.

aku bersyukur ada yang berbaik hati mau mengantarkan ibu pulang, mengingat kondisi kesehatan ibu yang memang belum pulih karena sakit jantung yang di deritanya.

aku melambaikan tangan kala ibu dan Yuda berjalan mendahului ku. "HATI HATI YUD" teriak ku pada Yuda dan di balas acungan jempol.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!