Persiapan upacara kebangkitan

Kejadian di mana Alurra di culik sudah lewat dari 2 Minggu, setelah kejadian itu, penjagaan terhadap Alurra diperketat dan mengakibatkan banyak sekali ksatria yang mengelilinginya.

Mereka tampan, sangat tampan malah. Tapi, Alurra benar-benar tidak menyukai pemandangan seperti ini saat dia tidak bisa bebas melakukan apapun, Alurra merasa sangat bosan. Bahkan buku-buku di perpustakaan tidak bisa menghilangkan rasa bosannya.

Dia berada di kamarnya sekarang, suara ketukan pintu terdengar dan Theodore muncul dari balik pintu, tersenyum dengan konyol kepadanya. Dia berjalan mendekati Alurra.

"Adik, mari kita ke aula Istana sekarang. Pemusik ada di sini, mereka akan memainkan musik untuk kita"

Benar, Setelah lebih dari 1 bulan dia di sini, Alurra lupa bahwa ada yang namanya musik. Padahal biasanya dia sangat tidak bisa tidak mendengar musik sehari saja.

Karena penasaran, Alurra akhirnya pergi mengikuti Theodore ke aula Istana. Di sana terlihat berbagai alat musik seperti suling, gitar, dan alat musik akustik lainnya.

Sangat kuno, namun ya sudahlah, Alurra tidak bisa berbuat apa-apa. Para pemain musik juga adalah seorang Elves, kata Iron, mereka yang bisa memainkan musik sudah di takdirkan sejak mereka lahir, bahkan tanda di punggung mereka adalah alat musik.

Padahal jika di dunia manusia, siapa saja bisa bermain musik jika mereka ingin belajar.

"Ayo, duduk dan lihat. Mereka sangat pandai dalam memainkan musik"

Alurra mengikuti perkataan Theodore, dia duduk di sebelah Theodore. Raja dan Ibu Suri juga sudah ada di sini sedari tadi, sedangkan Eirwen, Pangeran Pertama entah berada di mana.

"Di mana kakak pertama?"

Pertanyaan itu Alurra lontarkan untuk Theodore yang ada di sebelahnya, yang ditanyai menatap Alurra sebentar lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah para pemain musik.

"Ada sesuatu yang harus dia urus, sebentar lagi upacara kebangkitan kekuatan untuk kamu akan dilaksanakan, sebagai pewaris, itu adalah tugasnya"

Upacara kebangkitan kekuatan.

Alurra hampir saja melupakan itu, jadi hari di mana kekuatannya akan dibangkitkan tidak akan lama lagi. Alurra harus menyiapkan diri dan hati.

Setelah percakapannya dengan Theodore berhenti, alunan musik terdengar di telinganya. Sangat bagus, walaupun alat-alat yang digunakan sederhana, tapi entah kenapa Alurra merasa seperti ada sihir yang membuatnya merasa sangat senang.

Jadi begini musik para Elves, mereka mengandung sihir. Pantas saja Iron mengatakan bahwa hanya keluarga kerajaan yang bisa mendengar musik dari para Elves, ini mungkin karena sihir yang terkandung dalam musik tidak bisa di dengar oleh rakyat biasa.

Alurra juga mengerti sekarang mengapa hanya orang yang terpilih dari lahir yang bisa memainkan alat musik, ini pasti karena sihir ini juga.

Sebuah sentuhan di pundaknya menyadarkan Alurra dari lamunan, Theodore yang menatapnya dengan cemas sedari tadi.

"Alurra, apa kamu baik-baik saja?"

Alurra hanya mengangguk, ternyata anggukannya membuat Theodore semakin panik.

"Apa kamu benar baik-baik saja?"

"Berhenti merasa panik kak, aku baik-baik saja"

Setelah Alurra menjawab, barulah Theodore berhenti merasa panik. Dia panik bukan tanpa alasan, dia berpikir bahwa Alurra belum pernah mendengar musik para Elves sebelumnya, jadi dia takut Alurra akan terpengaruh oleh sihir yang terlalu kuat yang terkandung dalam alunan musik para Elves.

"Syukurlah kalau begitu, kakak kira kamu akan terpengaruh oleh sihir yang terkandung di dalam musik ini, Tapi sepertinya itu tidak terjadi"

"Aku baik-baik saja, musik ini malah membuatku merasa senang dan bahagia. Tidak ada yang perlu di khawatirkan"

Jawaban Alurra membuat Theodore akhirnya diam, tidak lama kemudian Eirwen yang sedari tadi tidak terlihat muncul di aula Istana. Dia berjalan ke arah mereka dan duduk di sebelah kanan Raja, membicarakan sesuatu yang membuat Raja mengangguk.

Penasaran, Alurra terus memandangi Raja dan Eirwen yang sedang berbincang dengan serius. Bagaimana tidak, di saat suara alunan musik terdengar, kedua orang itu masih berbicara dengan serius seolah-olah apa yang mereka bicarakan tidak bisa di tunda.

"Lihat apa Al?"

Theodore yang sadar bahwa aku tidak fokus pada alunan musik pun bertanya, lalu mengikuti arah pandangku yang ternyata mengarah pada Raja dan Eirwen, dia mengangguk mengerti lalu mengelus puncak kepalaku dengan lembut.

"Mereka hanya membicarakan tentang upacara kebangkitan kekuatanmu, jangan dipikirkan"

Alurra mengangguk, semakin lama dia semakin bosan. Sepertinya sihir yang ada di dalam alunan musik para Elves tidak terlalu besar untuknya, atau mungkin karena Alurra adalah orang yang cepat merasa bosan. Dia merindukan Iron, sudah 2 Minggu sejak terakhir kali dia bertemu dengan Iron.

Keluarga kerajaan seakan membatasi pertemuannya dengan banyak orang termasuk Iron, andai saja Iron bisa sering mengunjunginya, Alurra pasti tidak akan merasa bosan setengah mati. Alurra berharap Iron akan menyelinap masuk ke kamarnya melalui jendela seperti yang biasa dia lakukan, tapi selama Alurra menunggu, Iron tidak pernah datang.

Sekarang dia tidak lagi mengharapkan hal itu dan mulai menutup jendelanya di malam hari. Selama 2 Minggu ini dia selalu membiarkan jendelanya terbuka karena berharap bahwa Iron akan menemuinya.

Acara musik yang dipersembahkan oleh para Elves pun selesai dan Alurra menghabiskan waktu berharga itu dengan melamun, benar-benar luar biasa. Dia kembali ke kamarnya setelah acara itu selesai, meskipun Theodore mengajaknya berjalan-jalan di taman, dia sedang tidak dalam mood yang bagus.

Sesampainya di kamar, dia melihat seorang laki-laki dengan rambut merahnya duduk di sofa yang biasanya Alurra duduki, dia membaca buku novel yang belum selesai Alurra baca.

"Iron?"

Benar, laki-laki itu adalah Iron. Saat mendengar panggilan dari Alurra Iron langsung berdiri dan bergegas ke arah Alurra, memeluknya dengan erat dan menghirup wangi tubuhnya sebanyak-banyaknya. Setiap mereka bertemu pasti Iron berperilaku aneh, seperti sedang diterpa oleh masalah.

"Aku merindukanmu, Al. Sangat"

"Aku juga Iron, sudah dua Minggu tidak melihatmu. Bagaimana mungkin aku tidak merindukan laki-laki yang sering menyelinap masuk ke kamarku"

Alurra menjawab dengan kerlingan nakal menggoda Iron yang sedang dalam suasana hati tidak baik, Iron yang mendengar godaan dari Alurra terkekeh kecil, sangat manis. Alurra sangat menyukai saat Iron terkekeh, tersenyum, ataupun tertawa.

"Kau bertambah berat badan semenjak datang ke negeri Elves ya"

Sekarang gantian Iron yang menggoda Alurra yang mengakibatkan sebuah pukulan halus mendarat di bahunya. Alurra kesal, bahkan jika dia seorang pemalas, berat badan masih termasuk lingkup sensitif untuk setiap wanita, tidak terkecuali Alurra.

"Aku hanya bercanda, kamu jauh lebih cantik dan lebih sehat sekarang. Seperti putri kerajaan"

Kerlingan nakal kembali Iron tunjukkan kepada Alurra, hal ini membuat Alurra memutar bola matanya.

"Aku memang seorang putri kerajaan, Iron"

Alurra senang, mood yang tadinya hilang kini terisi penuh saat Iron berada di dekatnya. Dia berharap bahwa Iron akan selalu datang menemuinya seperti ini, dan mereka saling bercanda satu sama lain.

Dia berharap, kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir.

Terpopuler

Comments

Ayano

Ayano

Peluk nak peluk. Dah buka puasa kok. Cup cup juga boleh sampe imsak 😏😏😏

2023-04-04

0

Ayano

Ayano

Mantu online kesayanganku 😚😚☺😚☺😚☺

2023-04-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!