Sudah seminggu Alurra berada di negeri Elves, dan sudah seminggu juga kejadian Keluarga Kerajaan datang ke rumah Iron itu terjadi.
Alurra dan Iron sedang sarapan di ruang makan yang terletak di lantai 7 rumah Iron, dengan robot pelayan yang melayani mereka. Masakan yang dimasak oleh robot pelayan lebih enak daripada masakan di hotel bintang 5, yah walaupun Alurra tidak tau bagaimana rasa makanan di hotel bintang 5 dia tetap yakin bahwa masakan robot pelayan lebih enak.
Setelah makan Iron mulai membicarakan lagi tentang keluarga kerajaan yang tidak pernah dibicarakan selama seminggu penuh.
"Al, sepertinya sudah saatnya kamu kembali ke keluargamu. Aku tau sangat sulit bagimu, tapi ini juga sulit bagi keluargamu"
Iron benar, sudah seminggu dan Alurra sudah mencernanya baik-baik. Meskipun dia tetap waspada, namun tidak bisa dipungkiri bahwa dia juga berharap memiliki keluarga.
"Jangan khawatirkan apapun, Al. Kamu bisa menghubungiku lewat alat komunikasi ini jika ada apa-apa"
Iron menyerahkan Alat bulat kecil yang seharusnya di tempelkan di telinga, Alurra sangat bersemangat saat Iron menyerahkan alat itu kepadanya, dia sangat penasaran.
"Aku akan mengunjungimu bahkan jika keluarga kerajaan tidak mengizinkannya"
Alurra bingung dengan maksud dari Iron, kenapa keluarga kerajaan tidak mengizinkan Iron menemuinya? Bukankah Iron yang membawanya ke sini? Seharusnya mereka berterima kasih.
"Kalau begitu aku tidak akan pergi, di sini lebih nyaman, Iron"
Iron mendekat ke arah Alurra lalu berlutut dan mengecup tangan Alurra, Mengelusnya dengan lembut, lalu menatap tepat di mata Alurra.
"Mereka hanya mengkhawatirkan mu Al, saat ini siapa saja bisa menjadi pengkhianat, dan bahkan walaupun mereka mempercayaiku, mereka tidak bisa mempercayai banyak prajurit di sini"
"Tapi bukankah prajurit di istana kerajaan juga belum tentu bisa di percaya?"
Iron berdiri membawanya ke lantai atas tepatnya ke kamar Alurra, dia mendudukkan Alurra ke sofa berwarna abu-abu di dekat tempat tidur Alurra. Sedangkan dia duduk di lantai dan merebahkan kepalanya di pangkuan Alurra.
Alurra terkejut dengan tingkah Iron, tangan Iron membawa tangannya ke kepalanya dan Iron menyuruhnya mengusap kepalanya.
"Aku tidak bisa menahannya, Al. Setiap Elves memiliki pasangan yang telah ditakdirkan, dan kamu pasanganku. Sangat bahaya jika kamu tetap berada di sini"
"Bahaya kenapa? Kamu tidak mungkin menyerang aku Iron"
Iron terdiam, dia memejamkan matanya merasa nyaman di pangkuan Alurra. Diamnya Iron membuat Alurra juga diam, dia tidak tau apa yang harus dikatakan.
"Aku mungkin 'menyerang' mu dengan cara yang lain, Al"
Alurra bingung, apa mungkin Iron akan menyakitinya? Tapi sepertinya Iron tidak akan melakukan hal itu. Dia percaya padanya. Iron yang seakan tau apa yang dipikirkan Alurra membantah pikirannya.
"Tidak, aku tidak mungkin menyakitimu Alurra. Aku sangat menyayangimu"
"Kalau begitu aku di sini saja Iron"
Kepala Iron yang awalnya berada di pangkuan Alurra terangkat dan dia berdiri menindih Alurra yang sedang duduk mengurungnya dengan kedua tangannya.
Wajahnya perlahan mendekat ke waja Alurra, menatap mata Alurra dengan pandangan yang tidak bisa Alurra mengerti. Sampai akhirnya sebuah ciuman kasar membuat Alurra tersadar, dia mengerti apa maksud dari ucapan Iron tadinya.
Wajahnya memerah, nafasnya sudah akan habis dan Iron sepertinya tidak ingin mengakhiri ciuman ini. Alurra menepuk punggung Iron dan berusaha menjauh darinya. Akhirnya Iron tersadar dan melepaskan Alurra.
"Aku berbahaya, Al"
"Ya, kamu berbahaya Iron. Aku bisa mati jika kamu tidak juga melepaskan aku"
Iron terkekeh, wajah tampannya selalu terlihat lebih manis saat dia tersenyum ataupun tertawa. Alurra mengambil nafas dengan terburu-buru seolah oksigen adalah hal berharga yang harus dia hirup sebanyak banyaknya.
"Kamu harus kembali ke keluargamu, Al"
Tentu saja Alurra setuju untuk kali ini, dia tidak akan pernah tau bahwa Iron akan melakukan ini. Setidaknya tidak untuk sekarang.
Ini sudah sehari setelah kejadian Iron mencium Alurra, sekarang mereka sudah berada di istana yang sangat berbeda dengan bangunan lainnya, bangunan lain bernuansa modern, sedangkan istana adalah bangunan besar seperti kerajaan di Eropa.
Iron berkata bahwa bangunan itu sudah ada sejak Raja Elves pertama memimpin dan sekarang sudah Raja Elves ke 9. Istana tidak dirubah karena untuk mengenang Raja terdahulu yang membangunnya.
Saat sampai di Istana, mereka di sambut dengan taman yang sangat indah dan luas yang berada di sepanjang jalan menuju pintu masuk Istana, para penjaga juga sangat hormat kepada mereka membuat Alurra yang tidak pernah diperlakukan seperti itu merasa canggung.
Untung saja ada Iron di sampingnya yang terus menggenggam dan mengelus tangan Alurra, membuat Alurra merasa sedikit tenang.
Mereka sudah sampai di dekat pintu masuk Istana, di sana berdiri 4 orang yang menyambutnya, ketiga orang itu dia mengenalinya sedangkan 1 lagi adalah seorang laki-laki berambut hitam namun bermata biru yang tidak pernah dia lihat.
Benar, mereka adalah Raja, pangeran, dan Ibu Suri yang pernah dia lihat, dan sepertinya pemuda berambut hitam itu adalah Pangeran mahkota atau kakak pertamanya. Iron memberitahunya bahwa dia memiliki 2 kakak laki-laki.
Mereka memberi hormat kepada raja dengan Tata Krama kerajaan yang sudah Iron ajarkan kepadanya tadi malam, setelah itu Raja mendatanginya dan memeluknya, disusul oleh ketiga orang lainnya.
"Selamat datang di rumah Alurra, kami sangat merindukanmu, Anakku"
"Terima kasih Yang Mulia"
Raja yang mendengar suara Alurra tersenyum, mereka melepaskan pelukan mereka dari Alurra, menuntun Alurra dan Iron untuk masuk ke Istana. Raja membawa mereka ke ruangan yang dikhususkan untuk berkumpulnya keluarga kerajaan.
"Ini kakak pertamamu, namanya Eirwen Colesta"
Raja menunjuk ke arah laki-laki berambut hitam dan bermata biru itu, tinggi laki-laki itu sekitar 190 cm yang sama seperti Iron, wajahnya tampan namun sedikit terlalu tegas. Berbeda dengan Iron yang sangat manis saat tersenyum, Eirwen sedikit menyeramkan saat tersenyum.
"Di sebelahnya Theodore Colesta, kakak keduamu"
"Ya, Alurra. Aku kakakmu"
Laki-laki itu sedikit berbeda dari Eirwen, matanya juga berwarna biru namun rambutnya berwarna putih keabu-abuan dengan senyum ceria yang sangat menyenangkan, namun wajah mereka tidak terlalu berbeda.
"Kami senang kamu kembali, anakku. Selama lebih dari 19 tahun kami mencari mu, dan akhirnya Iron menemukanmu"
Alurra menatap Iron yang tersenyum ke arahnya, ternyata Iron memang sengaja mencarinya, bukan tertinggal dari teman-temannya. Iron menatapnya seolah berkata bahwa dia tidak berbohong.
Memang sebenarnya Iron tertinggal awalnya, saat itu mereka sedang menjalankan tugas mencari putri yang telah lama hilang sekaligus pasangan Iron yang sudah ditakdirkan.
Entah takdir seperti apa yang terjadi, mereka bertemu. Saat pertama kali memasuki rumah acak karena kedinginan dan kelaparan, Iron bersembunyi di dalam lemari. Saat ketahuan dia sedikit takut, namun saat dia melihat Alurra dengan cermat dia menyadari bahwa Alurra mirip dengan Ratu yang telah meninggal.
Dan tanda di punggungnya membuatnya merasa gerah, itu adalah tanda bahwa Iron telah menemukan pasangannya yang telah ditakdirkan. Saat itulah Iron menyadari bahwa dia telah menemukan putri yang telah lama hilang.
Iron dengan sengaja terus tertinggal dan menginap di tempat Alurra untuk melihatnya, Iron senang, hanya dia saat itu yang bisa melihat kecantikan Alurra.
Namun ternyata takdir berkata lain, Alurra harus di bawa ke negeri Elves lebih cepat dari rencananya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Ayano
Suami ganteng emang berbahaya 🤣🤣
2023-04-03
0
Ayano
Aduh. Kalo yang baca lagi puasa, batal gak ini 😅😅😅. Romantis banget
2023-04-03
0
Mayang
iya ayang
2023-03-25
0