Pagi hari telah tiba dan Alurra sudah bangun, dia memandang ke arah jendela, dari jendela terlihat pemandangan negeri Elves yang sangat indah.
Tidak pernah terbayangkan oleh Alurra bahwa dia bisa datang ke negeri Elves. Sebelumnya dia bahkan tidak tau bahwa ada Elves. Walaupun merasa senang, Alurra juga merasa sedih, rumahnya telah hancur, padahal itu adalah satu-satunya hartanya yang di tinggalkan oleh neneknya.
Alurra tidak pernah tau wajah ibunya, saat Alurra kecil neneknya pernah berkata bahwa ibunya sudah meninggal, sedangkan ayahnya bahkan tidak pernah dia mendengar kabar tentang ayahnya. Setiap kali Alurra bertanya, nenek seperti kebingungan.
Suara ketukan pintu membuat Alurra berhenti memandangi pemandangan di luar jendela, lalu mengalihkan perhatiannya ke arah pintu yang masih diketuk.
"Nona, saya robot pelayan nomor 215 ingin mengantarkan sarapan"
Alurra terkekeh, suara robot itu benar-benar kaku tidak bernada. Apalagi dengan angka 215 itu, sebanyak apa robot yang ada di rumah ini?
"Silahkan masuk"
Robot itu membuka pintu lalu masuk membawa beberapa makanan dan menaruhnya di atas meja di samping tempat tidur.
"Terima kasih robot pelayan nomor 215"
Alurra terkekeh, dia menertawakan dirinya sendiri yang menirukan suara robot. Adapun robot itu hanya memandang Alurra, kaki dan tangan pendeknya bisa memanjang.
"Tidak perlu berterima kasih, nona. Ini sudah menjadi tugas kami robot pelayan"
Robot pelayan itu pergi setelah mengantarkan sarapan, terlihat makanan mewah di atas meja. Alurra bersemangat, dia belum pernah makan makanan mewah. Dia mencari uang untuk membayar tagihan listrik.
Alurra baru memikirkannya, rumah ini sangat besar, bagaimana bisa mereka membayar listrik? Pemikiran konyol.
Setelah selesai makan, Alurra mandi dan mengganti bajunya. Iron datang setelah dia selesai mengganti baju, dengan pakaian serba putih dia menghampiri Alurra.
"Al, sudah selesai bersiap? Ada orang yang ingin bertemu denganmu di bawah"
Tentu saja Alurra bingung sekaligus panik, kira-kira siapa yang ingin bertemu dengannya? Mungkin itu orang tua Iron, atau bisa jadi Elle.
"Apa itu Elle? Dia di sini?"
Namun ternyata Iron menggeleng, dia menjelaskan bahwa yang menunggunya di bawah adalah orang yang sangat penting untuk Alurra, hal ini membuat Alurra semakin bingung. Tidak ada satupun kerabatnya yang dia tau, neneknya sudah meninggal dan satu-satunya orang yang penting untuknya kini hanya Elle.
Dan Iron, mungkin.
"Ayo Al, mereka menunggu"
Mereka berjalan menuju lantai bawah, Alurra menggunakan pakaian berwarna hijau muda dan Iron yang menggunakan pakaian berwarna serba putih. Mereka tampak serasi ketika turun bersama.
Saat sampai di lantai bawah, terlihat 2 pria dengan usia yang berbeda duduk di sofa dan 1 orang yang sepertinya pengawal berdiri di samping sofa. Ketika mereka melihat Alurra dan Iron mereka tersenyum dan kesedihan terlihat di mata kedua pria itu.
"Iron ini,"
"Iya Yang Mulia"
Kedua pria itu langsung berdiri dan memeluk Alurra dengan air mata yang mengalir, Alurra yang tidak mengerti apa yang terjadi terkejut saat kedua pria itu memeluknya, dia berusaha melepaskan pelukan itu.
"Iron, apa ini? Siapa mereka?"
"Mereka orang tua dan kakakmu Al,"
Tidak mungkin Alurra percaya begitu saja, selama ini tidak pernah sekalipun neneknya memberitahu tentang ayahnya, apalagi kakaknya. Iron pasti berbohong.
"Tidak mungkin Iron, Aku cuman punya Ibu dan nenek"
Iron menggeleng mendekati Alurra, lalu menggenggam tangannya berusaha menenangkan Alurra. Lalu menyuruh mereka duduk terlebih dahulu, dia dan Alurra juga duduk kemudian.
"Bukan aku yang harus menjelaskan Al, benar bukan Yang Mulia?"
"Iya Alurra, kamu sebenarnya adalah putri kerajaan Elves yang telah lama hilang. Ibumu meninggal setelah kamu berumur 6 bulan, dan kamu di culik oleh seorang Imp yang membawamu ke dunia manusia"
Orang yang barusan bicara adalah Raja dari negeri Elves sekaligus orang yang sedari tadi Iron panggil dengan sebutan Yang Mulia. Dia berbicara sambil menatap Alurra dengan tatapan kerinduan, sedangkan pemuda di sebelahnya hanya menatapnya dengan sedih.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Kenapa aku yang diculik, kenapa bukan dia?"
Alurra menunjuk pemuda di sebelah Raja, dan berkata dengan nada bergetar. Dia tidak mempercayai semua ini, jika orang itu ingin menculik anggota kerajaan kenapa bukan pemuda itu saja? kenapa harus dia yang mengalaminya?
Neneknya juga tidak pernah berbuat jahat padanya, walaupun dia hidup dalam kemiskinan selama ini dia tetap bisa bertahan hidup, dia diberikan kasih sayang.
"Karena kamu memegang sesuatu yang tidak semua orang punya anakku, kamu memiliki kekuatan kehidupan di jantungmu yang bisa membuka buku harian ajaib milik ibumu, hanya kamu yang bisa"
Alurra terkejut, memang benar ada sebuah buku harian peninggalan ibunya. Neneknya pernah berkata bahwa itu adalah buku harian ibunya, namun saat Alurra ingin membukanya itu tidak terbuka.
"Aku tidak bisa membukanya"
Sang Raja tersenyum, tentu saja tidak akan semudah itu untuk membukanya. Butuh beberapa cara agar buku itu dapat dibuka.
"Kamu bisa, tapi belum sekarang. Kekuatanmu belum bangkit, butuh beberapa upacara kebangkitan untuk membangkitkan kekuatanmu"
"Iya, ayah benar. Kembalilah ke kerajaan dan laksanakan upacara kewajiban lalu tinggal lah bersama kami"
Pemuda di sebelah Raja akhirnya berbicara, Alurra mengalihkan pandangan ke arahnya lalu melihat matanya yang penuh kesedihan dan kerinduan.
"Perhatikan sikapmu Theodore, kita sedang di tempat umum. Kamu bukan anak kecil lagi, perhatikan tata Krama"
"Baik ayah"
Iron yang sedari tadi diam dan duduk di sebelah Alurra tersenyum lalu mulai menggenggam tangan Alurra lagi, membuat Alurra menatap Iron yang juga sedang menatap Alurra.
"Ini kebenarannya Al, aku sudah bercerita tentang Divs pengkhianat kaum Elves saat kita berada di rumahmu, dan Imp adalah dalang dari semua ini. Merekalah yang menghasut Divs agar mengkhianati kamu Elves"
"Lalu maksudmu nenekku adalah Imp yang menculik ku?"
Iron diam, menatap Alurra cukup lama, lalu menatap ke arah Raja yang mengangguk kepadanya. Membiarkannya memberitahu semua yang sebenarnya terjadi.
"Tidak Al, nenekmu hanya pelayannya yang Imp itu suruh untuk menjagamu. Penculik yang sebenarnya adalah orang terdekatmu, Elle, sahabatmu"
Alurra langsung menepis tangan Iron yang sedari tadi menggenggam tangannya, lalu berdiri sambil menatap tajam ke arah Iron dan dia lainnya.
"Kalian berbohong! Kalian yang merencanakan semua ini. Kalian yang membakar rumahku, dan kamu yang tiba-tiba muncul di rumahku sangat aneh, seharusnya aku menyadarinya!"
Iron berdiri berusaha menenangkan Alurra, memeluknya yang sedang menangis dan mengusap rambutnya. Alurra memberontak, dia tidak ingin pembohong itu menyentuhnya.
"Tenang Alurra, biarkan kami menjelaskannya. Kami tidak akan menyakitimu apalagi merencanakan hal jahat itu, jadi tenanglah Al"
Saat Alurra sudah tenang, mereka kembali menjelaskan semuanya. Saat Raja sedang menjelaskan tiba-tiba seseorang menerobos masuk ke rumah Iron.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Ayano
Pake sihir
2023-04-03
0
Maheswarip
bagusss, aku sudah mampir hehe
2023-03-21
0