Suara orang berbicara terdengar di mana-mana, sangat ramai, banyak Elves yang pergi ke Festival kembang api yang di adakan di pusat kota di dekat pasar Elves.
Tidak terkecuali Alurra, ditemani oleh 3 orang yang sedari tadi memasang wajah cemberut, Alurra berjalan ke sana kemari melihat keramaian yang menyenangkan.
Sedangkan ketiga orang di dekatnya dengan hati-hati memandang sekitar, menyingkirkan hal-hal yang mencurigakan agar gadis itu bisa berjalan-jalan tanpa adanya bahaya.
"Al, jangan lari, kamu akan hilang jika terlalu cepat"
Alurra menoleh ke belakang, Iron yang telah memegang lengannya, menyuruh Alurra untuk tidak terlalu terburu-buru. Sedangkan kedua orang lainnya melotot melihat tangan Iron yang memegang lengan Alurra.
Eirwen, menarik kerah baju Iron, membawanya sedikit menjauh dari Alurra, sehingga tangannya yang tadi memegang lengan Alurra terlepas.
"Benar, kamu harus berhati-hati Al. Tubuh kecilmu itu bisa terinjak oleh orang-orang yang berkumpul di sini"
Theodore yang sedari tadi diam, mencari kesempatan untuk mendekat ke arah Alurra, dia membiarkan kedua orang bodoh itu bertengkar.
Sedangkan Alurra, merasa sangat kesal dengan ketiga Elves ini. Mulai dari mereka keluar dari Istana, mereka sudah menceramahinya tentang berbagai hal yang tidak boleh dia lakukan.
'Al, saat berada di sana kamu harus selalu dekat dengan kita'
'Jangan terburu-buru'
'Jangan pergi ke sana dan bla BLA BLA BLA'
Alurra sudah sangat kesal! Dia melipat kedua tangannya di depan dada, melihat tingkah bodoh ketiga orang yang menemaninya ini.
"Hentikan!"
"Tidak bisakah kalian menjagaku dengan tenang? Jangan bertengkar, Jangan menceramahi aku, dan jangan melarang aku! Jika tau begini, lebih baik aku berdiam diri di kamar dan tidak keluar!"
Akhirnya ketiga orang itu diam seperti anak kecil yang baru saja di marahi. Alurra tidak perduli, yang penting mereka diam dan tidak mengganggunya.
"Al, di sana, ada Elves yang sedang menjual barang unik"
Theodore menunjuk ke salah satu tempat yang menjual berbagai hal unik di negeri Elves, kalung anti sihir, ramuan penggoda, gelang dengan kekuatan wangi yang menggoda lawan jenis, dan banyak hal aneh lainnya.
Namun, Alurra tertarik dengan sebuah pedang berkarat dengan ukiran hijau di sekitar gagang pedang tersebut. Alurra menyukainya, entah kenapa seperti ada magnet yang menariknya ke arah pedang itu.
"Aku ingin yang ini"
Dia mengambil pedang itu dan menunjukkannya ke Eirwen yang berada di sebelahnya, Eirwen merasa heran tapi dia tetap mengangguk.
Tapi saat mereka ingin membayar pedang itu, ada seseorang yang merenggutnya dari tangan Alurra. Tyvanni, melihat bahwa Alurra tertarik dengan pedang aneh itu langsung merebut pedang itu dari tangan Alurra.
"Ini milikku!"
Ucapannya membuat keempat orang itu menatap tidak suka padanya, jelas-jelas pedang itu akan di bayar oleh mereka. Benar-benar tidak tau malu.
"Pedang itu milik Alurra dan dipegang pertama kali oleh Alurra, jangan merebut barangnya"
Tyvanni yang biasanya selalu dipenuhi keinginannya merasa sangat tidak senang dengan situasi saat ini, dia marah, sangat marah.
"Kak Theodore, biasanya kakak akan memberikan apapun yang aku inginkan. Aku menginginkan pedang ini"
Theodore yang namanya di sebutkan melotot melihat Tyvanni yang sedang membujuknya, apakah wanita ini gila? Dia bukannya memberikan apapun yang Tyvanni inginkan, namun, setiap kali wanita itu menginginkan sesuatu dia pasti akan merengek dan Theodore tidak ingin telinganya sakit.
Tapi sekarang berbeda, Alurra, adiknya menginginkan sesuatu untuk pertama kalinya, tentu saja dia harus mendapatkannya untuk Alurra.
Dengan cepat Theodore mencengkram lengan Tyvanni yang memegang pedang itu, dan mengambil pedang itu secara paksa, kemudian memberikannya kepada Alurra dengan senyuman manis meminta pujian.
Alurra sudah pasti menerimanya, dia tidak akan mengalah. Hei, dia tidak selemah itu, pedang ini adalah yang pertama kali dia lihat dan dia sentuh, dan sudah pasti miliknya!
"Terima kasih kakak"
Tyvanni yang tidak menyangka bahwa Theodore akan memperlakukannya seperti ini merasa malu, dia merasa sangat malu.
"Kak...."
Dengan nada lirih, dia memanggil Theodore dan menatapnya dengan pandangan sedih, tapi yang di tatap malah balik memandangnya dengan pandangan jijik.
Karena malu, dia pergi dari sana dengan menghentakkan kakinya. Tyvanni sangat kesal, dia pasti akan membalas semua ini!
Alurra berhasil mendapatkan pedang yang dia inginkan, dan Iron membelikannya kalung anti sihir untuk berjaga-jaga jika dia dalam bahaya.
Festival kembang api juga sudah akan memasuki puncaknya, para Elves beramai-ramai menuju tempat di mana kembang api akan dinyalakan. Saat Alurra menoleh ke belakang, dia sudah tidak melihat ketiga orang lainnya.
Alurra panik, dia belum terlalu hapal dengan jalan pulang ke Istana, dia pasti tersesat.
Dalam kepanikan, Alurra berjalan di antara orang-orang yang berhimpitan ingin melihat acara puncak festival kembang api, namun, saat akan keluar dari kerumunan, Alurra ditarik dan dipukul dari belakang membuat kesadarannya hilang.
Di sisi lain, Iron, Theodore, dan Eirwen panik karena tidak melihat Alurra yang selama ini bersama mereka.
"Sial! Jika bukan karena pencuri itu tadi, tidak mungkin kita kehilangan Alurra"
Setelah membeli berbagai barang unik tadi, mereka membayar semuanya dan lanjut berjalan-jalan, namun, uang Theodore di curi dan saat mereka dengan panik menangkap pencuri itu, Alurra menghilang.
"Seharusnya kalian menjaga Alurra dan biarkan aku menangkap pencuri itu sendiri!"
Kedua orang lainnya diam, lalu mereka meninggalkan Theodore yang sedari tadi tidak berhenti mengomel.
"Hei, Tunggu aku!"
Mereka mencari Alurra ke setiap tempat tapi belum juga menemukannya, Iron sangat panik, dia khawatir. Dia merasa sangat bodoh karena meninggalkan Alurra yang ceroboh sendirian.
"Alurra!"
Dia meneriaki nama Alurra, namun tidak juga ada sautan. Sial, bagaimana Iron bisa menemukannya.
Dalam keadaan putus asa, tiba-tiba tanda di punggungnya menghangat, berarti Alurra ada di dekatnya!
Dia berusaha menyusuri jalan gelap itu sampai akhirnya dia sampai di pinggir hutan, sirine di dalam hatinya berbunyi seakan sadar bahwa Alurra sedang dalam bahaya. Iron dengan wajah panik dan penuh kekhawatiran terbang masuk ke hutan dengan cepat.
____*
Alurra bangun, melihat di sekitarnya dipenuhi pepohonan tinggi, dia di hutan. Alurra merasa takut, seumur hidupnya dia tidak pernah merasakan yang namanya diculik.
Ups, mungkin selama ini dia hidup dengan penculik, namun dia tidak pernah tau dan tidak pernah menyadarinya.
"Kamu sudah bangun, Alurra"
Suara ini, Alurra sangat mengenalinya, bertahun-tahun dia bersama orang ini, tidak mungkin Alurra tidak mengenalinya.
"Elle,"
Benar, sahabatnya yang cerewet. Sahabatnya yang sangat dia sayangi, sahabatnya yang sangat dia percaya.
Elle telah berdiri di hadapan Alurra, dia melihat Alurra dengan pandangan sinis. Tidak pernah selama ini Alurra melihat tatapan seperti itu dari seorang Arabelle.
Sedih, tentu saja Alurra merasa sedih, dia merasa dikhianati oleh orang terpercaya. Elle yang tadinya berdiri di depan Alurra kini berjongkok Sambil mengelus wajah Alurra.
"Kenapa?"
Alurra bertanya, kenapa Elee melakukan ini? Kenapa dia mengkhianati kepercayaannya? Kenapa Elle sangat kejam, memisahkannya dari keluarganya selama ini.
"Alurra, ayo kita kembali ke London. Rumahmu di sana sudah aku perbaiki, setidaknya tunggu satu bulan lagi, kamu harus bersabar satu bulan lagi jika ingin mati"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments