Jelas Alurra tidak menyangka kejadian itu akan terjadi, dia bahkan masih berpikir bahwa laki-laki ini pasti penipu. Namun, hal ini tidak masuk akal. Laki-laki ini aneh. Rambutnya, matanya, Bajunya, Sayap perak dibelakang punggungnya, dan api yang hidup dari ujung jarinya.
"Siapa kamu?"
Tampak raut wajah bingung dari laki-laki itu. Bukankah dia sudah menjelaskan, lalu apalagi?
"Namamu"
Sepertinya dia senang saat Alurra bertanya tentang namanya, tersenyum seperti anak kecil yang diberi permen.
"Iron, namaku Iron"
"Baik, Iron, kapan kamu akan pulang? hari sudah larut dan aku ingin tidur"
Ekspresinya tidak baik saat Alurra mengusirnya, dia berharap Alurra adalah orang yang senang berbasa-basi. Namun sepertinya itu hanya angannya saja, wanita penyendiri dengan tumpukan tagihan listrik mana mungkin melakukan itu.
"Aku, bolehkan aku menginap disini? Sampai hujan salju besok berhenti"
"Menginap? Tidak!"
Mana mungkin Alurra akan membiarkan orang asing yang tidak jelas asal-usul dan apa tujuannya menginap dirumahnya. Walaupun sudah dijelaskan oleh laki-laki yang bernama Iron itu, namun sulit untuk Alurra mempercayai hal tersebut. Lagi pula manusia mana yang akan membiarkan orang asing menginap dirumahnya?
"Tolong, biarkan aku disini satu malam saja, saat hujan salju berhenti aku akan pergi. Aku berjanji,"
"Aku tidak akan mengganggu kamu, aku hanya akan berada di dalam lemari sampai besok"
Orang aneh, kenapa harus di lemari pakaian? Jelas ada kursi atau kasur yang tidak Alurra pakai, atau lebih nyaman di lantai daripada lemari kayu lapuk dan berdebu itu.
Alurra berpikir, sepertinya dia tidak memiliki niat jahat. Ya, jika dia punya maka Alurra sudah selesai sedari tadi.
"Baiklah, kamu boleh tidur di kasurku. Aku tidak akan tidur di sana karna dingin"
Mendengar perkataan Alurra, Iron berjalan menuju kasur, tapi bukannya tidur dia malah meraba-raba kasur dan bantal yang ada di kasur.
"Sudah selesai, tidak dingin lagi"
Alurra yang masih menganggapnya pembohong tentu tidak percaya, namun dia tetap berdiri dan berjalan menuju kasur. Saat duduk diatas kasur, dia merasa hangat. Dingin yang tadi menusuk tulang sudah lenyap.
Dia percaya sekarang. Iron, laki-laki asing yang masuk kerumahnya ini bukan manusia, mengetahui hal itu, Alurra sedikit merinding.
"Kamu, tidak akan membunuhku kan?"
Iron tidak suka saat Alurra mengatakan itu, terlihat dari alisnya yang menyatu dan raut wajahnya yang seolah berkata 'apa maksudmu?'
"Kami para Elves cinta damai, kami tidak akan membunuh selagi tidak ada yang mengganggu kedamaian kami"
Walaupun niatnya sebenarnya untuk membuat Alurra tenang, namun kalimat itu membuatnya semakin panik. Dia baru saja mengganggu ketenangannya.
Iron sepertinya mengerti arti dari tatapan itu. Ia menghela nafas, dan menggeleng.
"Tenang, aku tidak akan membunuh siapapun di sini"
"Siapa namamu? Kamu tidak memberi tahuku siapa namamu, padahal aku sudah memberi tahu namaku. Sangat tidak sopan"
Agar percakapan tentang membunuh ini berhenti, Iron mengalihkan topik pembicaraan, yang sepertinya berhasil karna raut wajah Alurra tidak ketakutan lagi.
"Benar, Aku lupa. Namaku Alurra, artinya seorang peri yang cantik. Nenekku bilang namaku diberikan oleh ibuku"
"Ibumu benar, tidak salah memberimu nama Alurra"
Dia tersenyum sangat menawan, yang membuat Alurra terhibur. Dia setuju bahwa namanya sangat bagus, dan itu satu-satunya yang diberikan oleh ibunya.
"Sudah larut, tidur. Aku akan masuk ke lemari"
Alurra sepertinya tidak setuju dengan yang Iron katakan. Bukankah ada sofa? kenapa harus di lemari?
Namun setelah Alurra menanyakan hal itu Iron tertawa, aneh. Dia berjalan kearah lemari dan masuk kedalamnya.
"Disini lebih nyaman"
****************
Hujan salju sudah mulai mereda, dan hari mulai pagi. Sudah terdengar suara burung berkicau, Alurra terbangun karna silau matahari mengenai wajahnya.
Tiba-tiba dia langsung bangun, bergegas ke arah lemari dan melihat di dalamnya. Kosong. Dia ingat kejadian malam tadi, dan sangat yakin itu bukan mimpi.
Namun sepertinya laki-laki asing dengan penampilan menawan yang malam tadi menyelinap ke rumanya telah pergi. Tentu saja harus pergi, jika tidak Alurra akan menelpon polisi, atau mungkin mengajaknya bermain monopoli?
Setelah hari itu, tidak pernah di temukannya lagi laki-laki bernama Iron dengan rambut emas dan mata merah itu. apalagi laki-laki bersayap. harinya berjalan seperti biasa.
Bahkan hari ini ia membuat teh hangat dan duduk di teras rumahnya sambil melihat jalanan yang dipenuhi salju. hari-harinya sangat biasa.
tidur di siang hari, makan, dan berkeliling kota tanpa membeli apapun. Hidupnya seperti pengangguran yang tidak memiliki pekerjaan. Yah, sebenarnya memang pengangguran.
Di perjalanan pulang dia bertemu Bibi tetangga di sebelah rumahnya yang mengenakan pakaian serba pink dengan rambut blonde dan bibir merah tebalnya.
Alurra yang baru saja ingin melarikan diri mengurungkan niatnya karna sudah terlihat. Wanita itu adalah manusia yang sangat menyebalkan.
"Hai, Alurra"
Dia tersenyum yang membuat keriput di dekat matanya terlihat, bibir merahnya naik ke atas yang bukannya terlihat menyenangkan malah terlihat menyeramkan. Belum lagi aroma mawar yang sangat menyengat yang bisa membuat hidung tersumbat.
"Oh, Halo, Madam Penelope. Apa kabarmu?"
Alurra mengapa canggung, dia tidak terbiasa berbasa-basi, terlihat dari ekspresi wajahnya yang sangat tidak tulus dan senyumnya yang kaku.
"Sangat baik sayangku, sedang apa di sini? Apakah kamu tidak bekerja?"
Sudah kubilang, dia wanita yang sangat menyebalkan. Bahkan lebih menyebalkan daripada saat kuku jari kelingking kita tertabrak meja.
Alurra yang masih mempertahankan ekspresi ramahnya yang canggung berusaha untuk tidak melempar wanita itu dengan sepatu boots hitam tua yang dia kenakan. Jelas-jelas wanita ini tahu bahwa dia seorang pengangguran yang baru saja di pecat dari pekerjaannya.
"Aku sedang bersantai, jadi belum ingin mencari pekerjaan. Madam Apa yang kamu lakukan di sini?"
Sepertinya pertanyaan itulah yang ditunggu oleh wanita serba merah muda itu, Sebab dia tersenyum senang setelah Alurra mengajukan pertanyaan itu.
"Aku yang sudah tua ini sedang berjalan-jalan menghabiskan uang yang sudah aku kumpulkan selama aku hidup"
Ekspresi senangnya membuat Alurra kesal. Ingin sekali rasanya dia melemparkan sepatu jeleknya ini ke wajah jelek wanita tua itu.
"Iya, kamu benar madam. Orang tua memang harus menikmati hidupnya, sehingga saat waktunya di dunia habis dia tidak akan menyesal"
Mengucapkan hal seperti itu sambil tersenyum manis. Tidak tahu darimana Alurra mendapatkan keterampilan itu, namun sepertinya hal itu mampu membuat Madam Penelope marah.
Dia pergi pamit untuk pulang dengan alasan kucingnya belum makan. Alurra juga pulang setelah tidak lama Madam Penelope pulang. Hari-harinya sangat membosankan, bukankah seharusnya dia mencari pekerjaan?
Malas memikirkan hal tersebut, Alurra mulai menyalakan kembali kayu bakar yang sudah mati tadi dan bersiap untuk memasak karna hari mulai gelap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Ayano
Dia gak mungkin ngebunuh calon sayangnya
2023-04-01
0
Mayang
ih ambigu anjirrr
2023-03-18
0
Mayang
Iros yang tampann
2023-03-18
0