"Maaf Yang Mulia, tapi tidak mungkin berita tentang Tuan Putri bisa menyebar"
Seorang pria bangsawan berambut cokelat berbicara dengan suara yang lantang.
"Tapi buktinya berita itu sudah menyebar bangsawan Feredrick! Banyak Elves di pasar sudah membicarakan tentang kembalinya Putri"
Semua orang di dalam ruangan itu terdiam, ya, mereka semua sebenarnya sudah tau tentang menyebarnya berita Putri yang telah kembali, tapi tidak ada satupun dari mereka yang berani untuk melapor kepada sang Raja atau lebih tepatnya mereka sengaja tidak melaporkannya dan membiarkan saja berita itu menyebar.
Setelah kejadian penyerangan Alurra dan Iron pada saat di pasar, Raja langsung mengumpulkan menteri-menteri dan bangsawan untuk mencari tahu tentang kasus penyebaran berita ini.
"Mungkin saja para Divs memang sudah tau, tapi bukan kami yang menyebarkan berita itu Yang Mulia!"
Seseorang pria paruh baya berteriak membantah tuduhan mengenai mereka yang menyebarkan berita itu. Tentu saja hal ini membuat banyak orang yang setia pada Yang Mulia Raja marah.
"Turunkan nada bicaramu!"
Sebuah pedang yang dingin menempel di leher pria yang baru saja berteriak, tindakan ini membuat ruangan hening dan dingin.
"Berhenti bangsawan Gerald, saya akan menyelidiki kasus ini dan menangkap pengkhianat itu, sampai di sini saja pertemuan kita"
Pedang di leher pria itu kembali masuk ke sarungnya, bangsawan Gerald, adalah bangsawan yang setia pada keluarga kerajaan. Nenek moyang mereka bahkan mengabdi pada Raja terdahulu dan mengucap sumpah darah.
Kecuali Raja, para bangsawan paling takut kepada bangsawan Gerald.
___*
Berbanding terbalik dengan ruang pertemuan yang sangat tegang, di sebuah rumah besar yang melayang di langit seorang wanita sedang tertawa terbahak mendengar berita penyerangan Sang Putri.
Tyvanni Feredrick, sedang membaca buku sambil meminum tehnya di kamar, dia merasa sangat senang karena rencananya menyebarkan berita tentang Putri yang telah kembali berhasil.
Semua ini memang pantas di dapatkan oleh Putri palsu itu, karena dia adalah Putri yang seharusnya menjadi Putri satu-satunya di kerajaan Elves. Tapi Alurra pelacur itu malah kembali dan menghancurkan segalanya.
"Lihat Alurra, kamu tidak akan bisa menggantikan aku, hanya aku putri satu-satunya kerajaan Elves! Bukan kamu!"
Prang!
Vas bunga cantik yang terletak di meja itu dihempas oleh Tyvanni membuatnya berubah jadi kepingan-kepingan beling.
Sedangkan pelaku, tertawa terbahak-bahak menunjukkan kesenangannya sambil melihat tangannya yang terluka dan tetesan darah yang berasal dari luka itu.
Bukan, bukan dia yang akan terluka, lain kali akan menjadi giliran Alurra. Ya, akan dia pastikan bahwa Alurra akan terluka lain kali.
Suara ketukan di pintu menghentikan kegiatan gila wanita itu, dia mempersilahkan masuk orang yang mengetuk, terlihat seorang wanita paruh baya yang wajahnya sangat mirip dengan Tyvanni menampilkan raut terkejut.
"Apa yang kamu lakukan Tyvanni!"
"Ksatria! Panggilkan Dokter sekarang juga, putriku terluka!"
Yang dicemaskan malah tersenyum menatap wanita paruh baya itu, Tyvanni mendekati wanita itu meletakkan tangannya yang berdarah di pipi wanita itu.
"Aku adalah Putri satu-satunya, benarkan Ibu?"
Nyonya Feredrick sangat ketakutan melihat darah yang menempel di pipinya, dia berteriak meminta ksatria untuk cepat memanggil Dokter.
"Ya, iya, kamu adalah Putri satu-satunya anakku, kamu satu-satunya"
Dengan suara yang gemetar nyonya Feredrick sangat takut sekaligus khawatir dengan keadaan putrinya, tidak pernah dia melihat putrinya bertingkah aneh seperti ini.
Biasanya meskipun dia senang memberontak, tapi tidak pernah sekalipun putrinya bertingkah seperti orang gila yang haus darah! Nyonya Feredrick tidak mengenali siapa yang ada di hadapannya sekarang ini.
Setelah hampir 10 menit dia menunggu dengan tubuh yang gemetar, akhirnya Dokter dan Ksatria itu datang. Mereka membantu membaringkan Tyvanni yang memberontak dan memeriksa keadaannya.
Nyonya Feredrick berdiri di dekat pintu dan tubuhnya masih bergetar, ketakutan, tidak pernah sekalipun dalam hidupnya mengalami hal seperti ini.
Dokter akhirnya selesai merawat tangan Tyvanni yang terluka, dan berbalik melihat ke arah Nyonya Feredrick yang sedang berusaha menenangkan diri.
"Jangan khawatir bangsawan Feredrick, Lady Tyvanni baik-baik saja, lukanya juga akan sembuh dalam waktu seminggu"
Setelah memberitahu tentang keadaan Tyvanni, Dokter dan Ksatria itu keluar dari kamar itu, hanya menyisakan Tyvanni dan Ibunya.
Nyonya Tyvanni mendekat ke arah anaknya yang sedang tertidur karena obat tidur yang tadi di suntikkan oleh Dokter untuk menenangkan Tyvanni yang memberontak.
Iya, begini seharusnya putrinya.
__*
Di sebuah hutan belantara yang lebat ada seorang pria yang sedang duduk di singgasananya, tersenyum dengan mengerikan.
Mata merahnya seakan haus darah, rambut hitamnya menambah suasana mengerikan yang ada di sana.
Sedangkan di sampingnya ada seorang wanita dengan sayap hitam dan tanduk di kedua kepalanya, sedang menuangkan cairan merah ke dalam gelas pria itu.
"Anda sudah mendengar kabarnya kan Yang Mulia?"
Pria itu diam, lalu melemparkan gelas yang tadi di pegangnya. Seluruh orang yang ada di ruangan itu ketakutan, pria itu sangat mengerikan.
Wanita muda bersayap hitam dengan rambut cokelat dan mata almond yang bersujud di hadapan pria itu gemetar ketakutan. Dia gagal, misinya untuk menjaga kunci sampai terbuka gagal.
Seharusnya dia tidak meninggalkan kunci itu sendirian, seharunya para bajingan sialan itu bisa bersabar sedikit dan tidak membakar rumah kunci itu.
Seharusnya mereka tidak berencana menjebaknya ke dalam hutan! Ini bukan salahnya sendiri, Bawahan pria itu sendiri yang mengakibatkan hal ini terjadi, kenapa malah dia yang di salahkan?!
"Elle, aku sudah mengatakan untuk menjaganya sampai kunci itu terbuka. Bahkan tugas semudah itu tidak bisa kamu laksanakan dengan benar!"
Elle, gadis yang sedang bersujud di hadapan pria itu gemetar, dia merasa ketakutan sekaligus marah. Ini bukan salahnya!
"Ini salah bawahan anda, ketua. Jika saja mereka bersabar sedikit sampai waktunya tiba, kunci itu tidak akan lari!"
"Diam!"
Pria itu berdiri dengan marah, berjalan ke arah Elle dan menginjak kepalanya, menyuruhnya untuk kembali bersujud.
"Mereka sudah aku musnahkan, dan sekarang tinggal dirimu. Apa kamu juga ingin aku musnahkan?!"
Elle kembali gemetar, kini rasa marahnya bahkan tidak bisa melebihi tingkat ketakutannya. Dia masih ingin hidup, Rajanya bahkan tidak pernah memperlakukannya seperti ini. Elle menyesal telah menerima tugas dari Rajanya untuk berada di sisi pria ini.
Wanita yang tadinya menuangkan cairan merah ke gelas pria itu, tersenyum melihat Elle yang bersujud ketakutan di bawah pria itu.
Dia berjalan mendekati pria itu dan menggandeng tangannya dengan mesra, mencoba menggoda pria yang sedang marah itu.
"Dia memang tidak becus dalam mengerjakan tugas, Yang Mulia. Kenapa tidak memberikan tugas itu padaku saja?"
"Tidak!"
Elle cepat-cepat menolak, dia tidak akan menyerahkan tugas penting itu kepada wanita licik ini. Tidak akan, wanita ini bahkan bisa mengkhianati Raja mereka, dia pasti merencanakan hal lain.
"Kalau begitu kerjakanlah tugasmu dengan benar, Elle. Tangkap kunci itu"
Elle mengangguk, sedangkan wanita itu cemberut dan menatapnya sinis. Tidak perduli apapun yang wanita itu pikirkan tentangnya, Elle tidak akan pernah menyerah dengan tugas yang telah Rajanya berikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Anonymous
gelong ni cewe
2023-03-31
0
Anonymous
mungkin aja kali
2023-03-31
0