Pada saat ini, Alurra merasa bahwa dia adalah orang paling bodoh di dunia. Jangan Tanya kenapa. Dia tersesat di hutan karna mengejar kelinci yang dia temui di taman waktu itu. Iya, kelinci yang dia lihat di taman saat sedang jalan-jalan dengan Elle.
Musim dingin tentu saja belum berakhir, dan sekarang dia tersesat di hutan yang dingin tidak tau jalan pulang. Sangat bodoh. Dia kedinginan, wajahnya yang pucat semakin pucat karna dingin.
Sudah sekitar 1 jam dia mencari jalan keluar, sebentar lagi akan gelap dan akan semakin dingin.
Lelah, Alurra menyerah mencari jalan keluar yang belum juga di temukannya. Dia duduk di bawah pohon tua yang ukurannya sangat besar. Alurra sudah sangat kedinginan, tubuhnya menggigil.
Tiba-tiba mahluk kecil berwarna hitam terbang ke arah Alurra, siap untuk menyerangnya. Saat dia putus asa, seorang pria tua yang dikenalnya berjalan ke arah Alurra sambil memegang senter, tubuh tua itu tampaknya tidak terpengaruh dengan udara yang sangat dingin ini.
“Kemana kamu akan pergi di hari yang dingin ini, dasar anak bodoh”
Alurra terkekeh, jelas dia tau bahwa Paman itu tidak serius, dia tau bahwa Alurra tersesat. Dia mengulurkan tangannya ke arah Alurra membantunya bangkit. Menuntunnya sampai ke luar hutan.
Alurra merasa sangat bersyukur bertemu paman penjual kayu itu, jika tidak mungkin dia sudah mati kedinginan atau mati karna serangan Divs di sana.
“Terimakasih paman, jika kamu tidak menemukanku di sana, mungkin kamu tidak akan memiliki pelanggan yang bisa memberimu uang di musim dingin lagi”
Pria tua itu menyentil dahinya dengan sangat keras membuat Alurra berteriak kecil. Menurutnya, Alurra sangat tidak tau suasana, bagaimana dia bisa bercanda tentang hal seperti itu pada saat dia sekarat seperti ini. Saat sudah sampai di depan rumahnya, Alurra terkejut mendapati rumahnya yang hangus terbakar. Tidak ada yang tersisa, bahkan tumpukan kertas tagihan listrik yang dia simpan hangus menjadi debu.
Alurra berlari menuju rumahnya yang hangus, melihat bahwa banyak Divs di sana, membakar rumahnya hingga tidak tersisa apapun. Anehnya orang-orang yang berada di sana tidak ada yang menyadarinya, seolah-olah rumahnya yang terbakar tidak terlihat.
Alurra menangis, itu satu-satunya rumahnya. Alurra tidak punya tempat tinggal lagi, rumah tua itu adalah peninggalan neneknya yang seharusnya dia jaga dengan baik. Namun, sekarang hancur akibat ulah para Divs jahat itu.
“Paman,”
Tidak ada sahutan di belakangnya. Saat dia menoleh ke belakang sudah tidak ada orang, hanya dia sendiri. Di malam dingin melihat rumahnya yang hangus terbakar, Alurra hanya bisa menangis, terduduk di jalan aspal yang sudah penuh dengan salju.
“Allura,”
Panggilan itu membuat Alurra menatap ke belakang, Iron berdiri di belakangnya dengan tatapan khawatir. Dia berjalan kea rah Alurra lalu memeluknya, memberikan kehangatan untuk tubuh Alurra yang sudah membeku. Sayap peraknya terlihat bersinar di bawah sinar bulan.
“Tenang, ayo pergi bersamaku Alurra, akan lebih berbahaya di sini”
Keheningan membuat kata-katanya sangat jelas, Alurra menatap ke arah Iron. Dia ragu, Iron bukan seseorang yang seharusnya dia percaya. Tapi entah kenapa Alurra merasa percaya padanya, lebih daripada dia percaya terhadap dirinya sendiri.
Iron yang melihat Alurra menatapnya melepaskan pelukannya dari Alurra, menggenggam tangannya dengan erat. Beberapa Elves datang beberapa saat kemudian, berdiri di belakang Iron. Mereka melihat Alurra lalu menundukkan kepala member hormat.
“Ikut kami, pasti akan menyenangkan!”
“Akan aku bakar juga rumahmu kalau ternyata tidak menyenangkan”
Jawaban Alurra membuat dia terkekeh, Iron memegang tangannya, menampilkan senyuman yang sangat manis mengalahkan madu termanis di dunia. Alurra merasa Iron sedang merayunya, bagaimana mungkin dia tidak tergoda dengan senyum menawan seperti itu?
“Baik, apapun yang kamu mau”
Alurra tersipu, seumur hidupnya baru kali ini dia dirayu oleh seorang pria. Selama ini Alurra hanya sibuk bekerja untuk menghasilkan pundi-pundi uang agar dapat bertahan hidup. Namun, Iron membuat hatinya tidak karuan.
“Diam, jangan merayuku”
Iron tertawa, sangat tampan. Kalian bayangkan saja bertapa indahnya rupa Iron, sayap perak berkilau di belakang punggungnya, rambut merah dan mata indah itu, Semua itu sangat menakjubkan. Ditambah lagi wajahnya lebih tampan dari Zayn Malik. Bagaimana Alurra bisa menanggung semua keindahan itu.
“Jangan tertawa, aku benci wajahmu”
“Tidak benar, kamu menyukainya”
Iron mengusap wajah pucat Alurra yang memerah akibat ulahnya, sangat cantik. Bahkan, bulan sepertinya merestui suasana di antara mereka berdua, cahayanya menyinari mereka seolah para Elves di belakang mereka hanya pemeran sampingan.
“Ayo Alurra, saatnya pergi”
Alurra mengangguk, menyambut uluran tangan Iron, membuat pria itu kembali tersenyum manis. Walaupun merasa sedih, Tapi di dalam hatinya ia senang dan menantikan perjalanannya di negeri Elves.
Iron menggendongnya dengan gaya bridal style, Alurra terkejut sekaligus malu, para Elves memandang mereka. Alurra hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada Iron karena malu.
Dia mendengar Iron terkekeh geli, mereka terbang di langit, pemandangan dari atas sini sangat indah, kota New York dengan gemerlap lampunya terlihat seperti bintang-bintang yang bersinar.
“Sangat cantik”
“Benar, sangat cantik. Bintang yang sedang aku gendong bahkan lebih cantik”
Alurra yang malu sekaligus kesal memukul lengan Iron, saat mereka bertemu pertama kali Iron tidak seperti ini, dia terlihat seperti anak kucing yang tersesat. Bagaimana bisa dia berubah secepat ini.
Pukulan Alurra sama sekali tidak sakit bagi Iron, dia malah tertawa seolah mendapatkan hiburan. Setelah lama di perjalanan, Iron berkata bahwa mereka sudah dekat dengan tujuan, negeri Elves berada di sebuah pulau terpencil yang tidak diketahui manusia.
Saat mereka sampai, Alurra melihat pulau itu adalah pulau yang lumayan besar, mungkin lebih dari setengah Negara Inggris. Mereka turun dan terlihatlah sebuah kota yang bahkan lebih canggih dari kota London. Gedung-gedung bertingkat, bahkan ada beberapa gedung-gedung yang mengambang di langit. Alurra takjub.
“Selama datang di negeri Elves, Alurra”
Suara Iron terdengar membuat Alurra menoleh ke arahnya. Iron tersenyum menatap ke arahnya, Alurra juga tersenyum. Bahkan peristiwa terbakarnya rumah Alurra seperti tidak terjadi.
“Terimakasih, Iron”
“Tidak, jangan katakan itu. Jangan berterimakasih padaku”
Iron sangat tidak suka ucapan terimakasih Alurra, baginya ini adalah hal yang harus dia lakukan. Demi keselamatan Alurra, dia tidak ingin Alurra dalam bahaya. Dia akan mudah mengawasi Alurra jika mereka berdekatan, Iron tidak akan tenang jika Alurra jauh darinya.
Dia tidak mengerti kenapa para Divs menargetkan Alurra, padahal ia sudah sangat berusaha agar tidak terlihat setiap kali dia mengunjungi Alurra. Tapi sepertinya dia kurang berhati-hati, para Divs tetap tau kemana dia pergi.
“Jangan khawatir Alurra, kamu akan aman di sini”
“Tentu saja, aku akan aman denganmu”
Alurra tersenyum, begitu juga dengan Iron. Mereka pergi menuju rumah Iron dan sepanjang jalan Alurra tidak bisa tenang, dia melihat kiri dan kanan, melihat pemandangan kota yang sangat menakjubkan. Iron gemas, ingin rasanya dia mengurung Alurra untuk dirinya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Ayano
Abis ini bakalan dibikin gak bisa tidur 7 hari 7 malem 😏😏😏😘
2023-04-03
0
Ayano
Jangan dong. Nanti abis nikah masa kalian ngontrak. Mama online gak ikhlas ih. 😏😏
2023-04-03
0
Ayano
Tenang nak, kamu bakalan bahagia sama mantu online mama
2023-04-03
0