Dua hari sudah Livy di rawat di rumah sakit, selama dua hari juga dia di rawat di rumah sakit ini tidak ada ibu mertuanya datang menjenguk alasannya di rumah sedang sibuk atau apalah. Kalau papih Dirga tidak menjenguk masih wajar selain tubuhnya yang sakit-sakitan. Papih Dirga juga sibuk dengan pekerjaan kantor mengingatkan kalau pekerjaannya pasti bertambah dengan tidak bekerjanya sang putra yang memilih mengambil cuti untuk menemani Livy dan buah hatinya di rumah sakit.
Agam sih tidak masalah dan Livy rasa juga tidak masalah karena Livy pasti sudah tahu kalau dia datang menjenguk juga hanya untuk pencitraan saja. Jadi lebih baik nggak usah deh, Livy juga lagi sedang tidak ingin berpura-pura baik. Apalagi paskah lahiran seperti sekarang ini bawaanya baper banget.
Untung dua hari ini Agam bersikap manis laki-laki yang baru menyandang suami itu pun menyempatkan diri untuk cuti dan memilih menjaga istri dan buah hatinya yang baru lahiran. Sehingga rasa kesal dan dongkol wanita itu sedikit berkurang dengan adanya perhatian dari suaminya yang hampir tidak pernah ia dapatkan selama usia pernikahannya.
Hari ini juga Livy dan juga buah hatinya sudah diperbolehkan untuk pulang. Banyak nasihat dari dokter Lili pada Livy maupun Agam, terutama dukungan Agam terhadap Livy yang mana baru lahiran rentan terkena baby blues. Agam sebagai orang yang pintar tentu tahu apa resiko dari Baby blues itu apa dan resikonya seperti apa.
"Kamu sudah pastikan tidak ada yang tertinggal kan Mas?" tanya Livy karena yang merapihkan barang-barang mereka adalah Agam. Itu karena Oliv yang selalu manja dan ingin bersama-sama dengan sang bunda terus.
"Yakin, paling nanti kalau ada yang tertinggal juga di telpon oleh pihak rumah sakit," ucap Agam dengan santai.
"Iya sih kalau ada yang tertinggal palingan di telpon oleh pihak rumah sakit, tapi kalau bisa ya jangan ada yang tertinggal agar tidak merepotkan orang lain," balas Livy dan di balas senyuman kuda oleh sang suami. Selalu memang Agam kalau diberi tahu santai seperti itu, tapi pada akhirnya menjadikan orang lain menyelesaikan pekerjaanya.
Meskipun malas, dan juga sebenarnya masih betah Livy di rumah sakit. Namun, pada kenyataanya dia harus pulang juga ke rumah sang suami dan kembali bertemu dengan ibu mertua. Kalau orang lain tidak betah di rumah sakit dan berharap untuk cepat pulang ke rumah mereka justru hal sebaliknya terjadi pada Livy wanita itu justru yang betah di rumah sakit dan tidak ingin pulang dan bertemu dengan wanita yang bermuka dua itu.
"Kamu kenapa sih, aku perhatikan kok kurang bersemangat untuk pulang? Apa kamu masih merasakan kalau tubuh kamu kurang sehat?" tanya Agam yang mana Livy memang dari di rumah sakit hanya diam, dan sesekali suara mendiamkan buah hatinya yang seolah merasakan hal yang sama yaitu gelisah sepanjang perjalanan. Yah bayi baru lahir itu pun seolah tahu bahwa ketika pulang maka dia akan bertemu dengan monster.
"Ah tidak Mas, itu hanya perasaan kamu saja. Mungkin karena Oliv kalau malam bergadang jadi kalau siang gini bawaanya ngantuk dan ingin tidur," elak Livy, tidak mungkin dia berkata terus terang, kalau dia sedang memikirkan Tari.
"Ya udah nanti kamu kalau sudah sampai rumah tidur saja, urusan Oliv biar nanti aku yang jaga, dan kalau dia haus seperti biasa aku akan bangunkan kamu," balas Agam dengan santai, dan Livy pun lagi dan lagi hanya membalas dengan senyuman.
Setelah menempuh perjalanan kini keluarga yang sedang berbahagia itu pun sampai di rumah, dan tentunya sudah di sambut oleh Tari yang nampak sangat ramah dan bahagia. Namun justru semakin membuat Livy jijik melihatnya.
“Livy, Sayang selamat datang. Oh, ya Tuhan kenapa anak kamu sangat menggemaskan sekali,” ucap mertuanya yang membuat Livy sangat ingin muntah. Namun, dia juga masih ingat kalau sudah sampai di rumah ini maka Livy harus kembali ke sandiwaranya. Menjalani lakon menantu yang bahagia dan patuh.
Livy pun mengembangkan senyumnya, dan berpura-pura seperti bestie yang akrab dan juga dekat. “Iya Oma, kenalkan nama aku adalah Oliv, Papah yang kasih nama itu, bagus kan,” jawab Livy dengan menirukan suara anak-anak. Jangan di tanya Livy melakukan itu juga karena agar terlihat baik di mata suaminya. Sama halnya dengan yang dilakukan oleh Tari.
Agam sendiri sudah berjalan lebih dulu ke dalam kamarnya untuk menyimpan peralatan si kecil dan Livy.
“Ingat kamu istirahatnya jangan terlalu lama, pekerjaan kamu sudah banyak,” bisik mertua Livy ketika suaminya sudah jalan lebih dulu. Livy pun mengembangkan senyum masamnya.
“Tenang saja Mamih, aku pasti tahu diri kok,” jawab Livy dengan tetap santai. Meskipun dalam hatinya sudah sangat kondok.
“Bagus karena kalau tidak aku bisa membuat kamu kembali dibuang ke panti asuhan tempatmu dulu.” Tari pun semakin merasa tersaingi dengan hadirnya Oliv karena wanita berpenampilan cetar membahana itu tahu kalau Agam sangat menyayangi putrinya yang bisa saja Livy akan menggunakan putrinya untuk menjerat Agam.
Sebenarnya Livy tidak pernah takut kalau dia akan di buang kembali ke panti asuhan seperti yang wanita itu ancamkan. Bukan Livy terlalu bahagia hidup di rumah ini dan bisa membeli barang tanpa harus bekerja keras seperti dulu. Tapi kembali lagi dengan rencana Tari. Dia juga ingin menguasai harta Agam yang menurut Livy lebih baik jatuh ketanganya dari pada ke tangan Tari.
Bagi Livy tinggal di panti asuhan juga jauh lebih aman dari pada tinggal di rumah mewah ini yang seperti tinggal di neraka. Namun, nyatanya memutuskan kembali tinggal di panti asuhan tidak semudah yang wanita itu ucapakan.
"Anda jangan takut Mamih, saya akan tetap melakukan pekerjaan-pekerjaan itu, tapi itu juga kalau Mas suami mengizinkan itu semua karena Mas Agam sepertinya tahu kalau aku di rumah ini juga dimanfaatkan oleh kalian," ucap Livy dengan setengah di tahan suaranya.
"Kamu jangan banyak alasan yah. Agam mana mungkin melarang kamu mengerjakan sesuatu. Selama ini Agam tidak pernah membantah mamih," balas Tari dengan percaya diri.
"Yah memang selama ini seperti itu, tetapi bukan tidak mungkin kalau Agam sekarang berbeda. Udah yah Mih, karena Agam tadi bilang aku nggak boleh terlalu cape, aku harus istirahat dengan baik," ucap Livy dengan sedikit suaranya dibikin semanja mungkin.
"Dih, amit-amit makin hari makin lunjak tuh menantu tidak tahu diuntung. Lagian mana mungkin Agam percaya sama dia, selama ini Agam selalu lebih percaya sama aku," batin Tari sembari menatap punggung Livy yang sudah naik ke kamar Agam.
"Makin berbahaya nih wanita, aku harus bisa singkirin dia," imbuh Tari lagi, dalam otaknya dia mencari cara lain untuk menyingkirkan sang menantu.
Bersambung....
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments