Di Mana Suamiku?

Setelah berpamitan dengan sang ibu mertua Livy pun langsung melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit. Ada atau tidaknya sang suami, dia akan tetap melahirkan sang buah hati. Livy mere-mas perutnya yang semakin terasa sakit maha dahsyat.

“Pak bisa lebih cepat lagi, perut saya sangat sakit,” ucap Livy pada sopir keluarganya. Sedangkan suaminya sejak tadi dihubungi sangat sulit.

[Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan.] Selalu saja jawab itu yang Livy dengar.

Rasanya Livy ingin membanting ponselnya, Saat ini usia kandungannya masih tujuh bulan tetapi rasanya dia akan segera melahirkan.

Dengan langkah tertatih Livy berjalan menuju ruang pemeriksaan dokter kandungan yang sudah membuat janji dengan dirinya.

Masih untung Livy memiliki dokter pribadi yang melebihi baiknya seperti mertuanya sendiri sebut saja dia adalah dokter Lili beliau selain bertugas sebagai dokter, dengan kenal dokter Lili, Livy juga menemukan teman untuk bercerita. Bahkan dia tidak menyangka kalau orang lain saja bisa bersikap baik, tetapi mertuanya sendiri justru sangat jahat. Bahkan rasa simpat sebagai sesama manusia seolah tidak ada, hanya harta dan harta yang ada di dalam pikiranya.

Dengan tubuh yang sudah bercucuran keringat Livy masuk ke dalam ruangan praktek dokter Lili yang sejak tadi wanita paruh baya itu sudah menunggu kehadiran Livy itu semua karena livy sebelumnya sudah membuat janji dengan wanita cantik itu.

“Apa Agam tidak tahu kamu sedang butuh bantuannya? Atau setidaknya dia tahu kalau istrinya hamppir melahirkan?” tanya dokter Lili, dokter yang selama ini menjadi dokter kepercayaan Livy bahkan dengan dokter Lili, Livy juga sering bercerita masalah keluarganya. Dokter Lili tahu bagaimana sikap Tari terhadap menantunya, hal itu bisa di lihat dari luka lebam di beberapa sendi karena cidera pada pembuluh darah, tidak lain karena Livy yang terlalu kecapian dalam melakukan pekerjaan rumah.

Livy menjawab dengan gelengan kepala pelan, wanita itu pun kembali cerita mengenai suaminya yang sulit untuk dihubungi. Bahkan sebelumnya Livy sudah memberitahu kalau nomor ponselnya selalu siap untuk dihubungi karena bisa saja dia sewaktu-waktu akan maju dari jadwal persalinanya. Dan benar saja dugaannya benar, kata dokter Lili dia sudah akan melahirkan.

Apalagi kalau Livy ingat bagaimana kerasnya dia bekerja mengikuti kemauan sang mertua. Itu sebabnya Livy selalu mengingatkan sang suami agar tidak meninggalkan ponselnya.

“Astaga, Livy kenapa kamu tetap mau tinggal di rumah itu sih, kalau kamu seperti ini terus yang ada kamu akan semakin terlilit sama wanita licik itu. Kamu pergi saja Livy urusan harta Dirga dan Agam biarkan saja, toh kamu juga punya suami seperti tidak ada suami, apa-apa sendiri.” Dokter Lili justru merasa geram dengan nasib Livy yang cukup memprihatinkan. Namun Livy rasanya tidak ridho lahir batin kalau harta suaminya berpindah tangan pada nenek lampir yang menjadi jelmaan dari mertuanya.

Cukup lama Livy diam. Memang Livy juga sebenarnya sudah ingin pergi dari rumah itu, tetapi dia berpikir kembali rasanya sia-sia pengobananya. selama sembilan bulan ini, kalau pada akhirnya dia akan menyerah saja.

Sembari memeriksa buah hati Livy dan juga menunggu pembukaan, dua wanita beda generasi itu terus bercerita.

"Ini bukan soal harta semata Dok, tapi ini juga soal kemanusiaan. Rasanya Livy sangat tidak terima kalau harta-harta Mas Agam akan jatuh pada wanita licik itu. Dari pada jatuh pada wanita seperti itu lebih baik Livy tetap bertahan setidaknya setengah harta dari milik suami bisa Livy pertahankan, dan bisa Livy gunakan untuk orang-orang yang membutuhkan, dari pada jatuh ke tangan wanita itu yang ada hanya untuk berfoya-foya kalau jatuh ke tangan Livy bisa Livy gunakan untuk membangun panti asuhan yang lebih besar dan tentunya aman dari tetesan air hujan yang bocor kalau musim penghujan," balas Livy dengan yakin. Sudah diputuskan dengan sebaik mungkin kalau dia tidak akan mundur dari rumah suaminya. Kecuali suaminya yang meminta, tetapi sebelum itu terjadi Livy sudah harus memastikan kalau harta milik suaminya dia dapatkan dari pada dikuasai oleh mak lampir.

Dokter Lili pun beberapa kali mengangguk- anggukan kepalanya sebagai tanda kalau wanita paruh baya itu pun sudah paham dengan maksud Livy.

"Kalau itu memang sudah jadi keputuasan kamu saya tidak bisa meminta kamu pergi. Memang benar apa yang dikatakan oleh kamu. Dari pada harta Agam jatuh ke tangan wanita licik itu lebih baik jatuh ke tangan kamu, dan di gunakan untuk kemanusiaan. Kalau di wanita itu hanya akan menjadi tumpukan dosa. Karena sudah jelas digunakan bukan untuk kemanusiaan melainkan untuk maksiat. Tapi aku hanya takut terjadi apa-apa dengan kamu. Apalagi kalau orang sudah dibutakan oleh harta biasanya cara apa pun akan dia tempuh, aku hanya takut suatu saat nanti wanita itu tahu kalau kamu juga berniat menggagalkan rencananya sehingga kamu akan terancam keselamatanya. Belum lagi Agam yang juga kurang melindungi kamu. Sangat mudah laki-laki itu dihasut oleh mak tirinya," balas Dokter Lili yang terlalu cemas dengan keadaan Livy dan juga buah hatinya.

Dengan menahan mulas yang sesekali datang, Livy pun mengembangkan senyumnya. "Dokter jangan khawatir. InsyaAllah Livy akan baik-baik saja. Tuhan selalu ada di belakang Livy. Tuhan akan selalu melindungi Livy."

"Kalau begitu berikan nomor Agam pada saya. Biar saya bantu menghubungi suami kamu. Mungkin saja kalau saya yang menghubunginya Agam akan mengangkat teleponya." Dokter Lili pun akhirnya membantu menghubungi Agam. Kasihan melihat Livy melahirkan seorang diri. Apalagi ini adalah kehamilan pertama, biasanya pasangan lain momen melahirkan pertama kali adalah momen yang paling ditunggu oleh pasanganya. Selain ingin memberikan dukungan dan kekuatan. Mereka juga setidaknya tahu bagaimana perjuangan sang ibu untuk melahirkan sang buah hatinya, jangan hanya tahu bikinya saja yang enak.

Namun, mereka juga harus tahu melahirkan itu perjuanganya nyawa. Bahkan rasa sakitnya yang dirasakan oleh ibu melahirkan adalah antar hidup dan mati yang mana perjuanganya tidak bisa dirasakan oleh laki-laki. Seharusnya sebagai laki-laki mereka hadir di sampingnya, meskipun hanya untuk memberikan dukungan itu sudah bisa mengurangi rasa sakit yang dirakan oleh sang istri.

Sama halnya dengan Livy dokter Lili pun merasakan hal yang sama ketika telponya tidak juga diangkat oleh Agam. Bahkan wanita yang berprofesi sebagai dokter kandungan selama puluhan tahun. Bisa dibilang baru kali ini mendapati pasien yang suami dan keluarganya sangat tega. Yah dokter Lili katakan tega karena demi harta mereka menghilangkan sifat kemanusiaan. Andai dia jadi mertua Livy pasti menyempatkan waktu sedikit saja dari banyaknya waktu yang telah mereka lalui untuk menemani sang menantu melewati persalinan. Kalau dia tidak mau menganggap Livy sebagai menantu terserah. Setidaknya temani Livy sebagai sesama manusia.

Dokter Lili pun menggelengkan kepalanya pelan sembari menunjukan layar ponselnya pada Livy ketika panggilan telepon wanita itu juga tidak direspon oleh Agam.

Terlihat jelas kekecewaan di wajah Livy. Namun, wanita itu segera menarik bibirnya, percuma meratapi nasibnya. Ada atau tidak suami di sampingnya persalinan akan terjadi dokter Lili sudah memberitahu bahwa persalinan  yang Livy lakukan itu prematur.

Namun, Livy tidak usah khawatir, karena buah hatinya sudah siap untuk hidup di dunia ini. Seolah bayi yang dalam kandungan itu pun tahu kalau dia harus kuat sekuat sang ibu karena dunia itu keras.

"Tidak apa-apa Dok, Livy yakin kalau Livy pasti akan kuat melewati ini semua. Mungkin ini adalah cara Allah untuk menguatkan Livy. Tidak mungkin Tuhan membuat jalan yang seperti ini tanpa ada hikmah di dalamnya," balas Livy dengan bibir yang dicoba tersenyum dalam sela-sela sakit yang semakin teramat luar biasa.

Dokter Lili pun membalas senyum Livy. "Kamu memang wanita yang baik. Saya yakin Agam sangat beruntung mendapatkan istri seperti kamu, dan apabila dia berani berbuat macam-macam. Aku pastikan dia adalah orang yang paling menyesal."

Detik berganti dengan menit, dan menit pun berganti dengan jam, tanpa terasa delapan jam Livy merasakan rasa yang sangat nikmata,  dari pembukaan satu rasa sakit menjalar kesetiap sendi tubuh Livy, hingga pembukaan sepuluh. Dari panggilan satu, hingga tak terhitung dokter Lili masih terus mencoba menghubungi Agam, ada harapan terbesit sedikit. Kalu Agam akan mengangkat panggilanya.

Namun, rasa kecewa itu selalu hadir ketika hanya suara operator yang menjawabnya.

Andai bukan karena kasihan melihat Livy yaang berjuang seorang diri melahirkan buah hati dari Agam. Dokter Lili juga tidak akan mau menghubungi Agam terus menerus. Yang berakhir kekecewaan.

"Livy kita berjuang yah. Pembukaan sudah sempurna. Kamu ikuti arahan dari saya," ucap dokter Lili yang dibalas anggukan oleh Livy. Memang dokter Lili juga sebelumnya sudah memberitahukan cara-cara agar sang buah hati keluar tanpa adanya sobekan dan juga rasa sakit yang teramat.

Livy pun dengan sabar mengikuti arahan dari dokter Lili.

Tarik napas... lepaskan! Sekaligus mengejan....

Yah terus... kerja yang bagus....

Tarik nafas lagi yang dalam...

Lepaskan....

Sekali lagi yah, tarik nafas dalam dan buang, mengejan yang kuat...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!