Penuh Sandiwara

Dua minggu sudah Livy menjadi istri dari Agam, selama ini memang suami istri itu jarang terlibat obrolan satu sama lain. Agam akan berbicara apabila Livy yang memulai berkomunikasi lebih dulu. Minimnya pertemuan di antara mereka mungkin juga menjadi penyebab mereka jarang terlihat interaksi. Di mana suaminya selalu sibuk bekerja, dan pulang tidak jarang ketika malam sudah menyapa, dan kalaupun pulang lebih awal Agam akan memilih waktu luangnya untuk beristirahat karena alasan cape. Livy pun selalu mencoba mengerti bagaimana capeknya sang suami yang bekerja banting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

Pernikahan Mereka yang tanpa perkenalan lebih dulu juga Livy rasa menjadi kendalanya, belum sepenuhnya tahu satu sama lain. Livy selalu merasa takut apabila ia akan memulai untuk sebuah percakapan dengan suaminya. Sehingga pernikahan dirinya dan Agam terasa datar-datar saja. Agam memang tetap melakukan kewajibannya sebagai suami Livy baik kebutuhan batin maupun lahir. Namun, Livy merasakan tidak ada cinta di dalamnya sehingga seperti hambar hubungan yang mereka jalani, hanya sebatas kewajiban dan tanggung jawab. Bahkan untuk urusan bercinta, Agam melakukannya selalu buru-buru dan Livy merasakan penyatuan dirinya dan sang suami tidak pernah mencapai klimaksnya.

Livy juga pernah berpikir kalau ibu mertua yang jahat dan kejam itu adanya dalam sebuah film atau sinetron saja, tapi nyatanya dirinya kini justru merasakan sendiri. Seolah ia sekarang tengah menjadi peran utama dalam takdir lucu ini, Livy dipertemuan dengan mertua jahat itu.

Tidak pernah menyangka sama sekali kalau mertuanya yang diawal manis dan sangat baik tiba-tiba berubah menjadi jahat dan sok berkuasa. Belum wanita yang berpenampilan menarik itu selalu memperbudak Livy. Baik dari perilakunya maupun Kata-katanya.

Livy merasa di rumah ini seolah tidak dianggap menantu lagi, melainkan pembantu. Perlakuan Tari yang semena-mena dan ucapan yang kadang melukai batin Livy membuat wanita itu semakin tidak kerasan tinggal di rumah mewah milik suaminya.

Andai boleh meminta Livy ingin kembali ke panti dan hidup dengan damai dan bekerja dengan hati yang tulus, bertemu dengan adik-adik panti seperti dulu saat dirinya belum menikah dengan Agam. Namun, semua itu nyatanya tidak bisa juga, itu semua karena ibu mertuanya yang kejam selalu mengancam dengan mulut setajam pedangnya. “Kalau kamu melakukannya, maka aku akan menghentikan menjadi donatur untuk panti itu.“ Kalau sudah seperti ini Livy bisa berbuat apa? Selain mengikuti perannya sebagai menantu yang patut terhadap ibu mertuanya.

“Livy....” Suara lengkingan dari bibir Tari membuat Livy tersentak kaget. Gegas wanita berpenampilan sederhana itu menyelesaikan pekerjaan cuci piring, memang sejak tadi Livy juga sudah selesai, tapi ia yang malas bertemu Tari justru lebih memilih melamun dengan memainkan sabun pencuci piring di tangannya, sesekali meniupnya menjadi balon sabun yang seolah dengan bermain seperti itu sedikit tekanan dalam rumah ini terbang seiring balon-balon sabun yang ia tiup dari tanganya.

“Iya Mih,” jawabnya setengah tersengal karena berjalan dengan sedikit berlari.

“Aku mau pergi, ada urusan. Ingat nanti kamu harus bantu Bibi di rumah ini untuk bersih-bersih rumah dan juga masak. Kamu masak yang enak, karena Agam dan suamiku adalah orang yang pemilih makanan,” ucap Tari, dengan nada yang ketus.

Setiap hari yang Livy perhatikan, pekerjaan mertuanya itu hanya ke luar rumah di pagi hari dan akan pulang tidak jarang di sore hari, serta sebelum pergi selama satu minggu ini selalu memberikan Livy tugas setinggi gunung. Bahkan Livy juga merasa pekerjaannya lebih banyak dari pada asisten rumah tangga di rumah ini.

Lagi, Livy hanya membalas dengan anggukan patuhnya. Meskipun wanita itu ingin protes dengan mengatakan bahwa dirinya tidak bisa. Namun, Livy kembali teringat ucapan mertuanya itu kalau dia bisa menghentikan donatur kapan pun, belum juga Livy yang merasa bahwa ia akan menjatuhkan panti asuhan, lagi pula bunda Asih yang sudah mendidik Livy dengan sangat baik. Wanita kejam itu selalu ada saja ucapan yang membuat Livy tidak bisa berkutik. Mulut yang merah memilik kemampuan untuk menebas mental Livy.

Seperti biasa Tari akan menghampiri Livy dengan sorot mata setajam pedang, dan wanita bersolek paripurna itu membuat menantunya tidak bisa berkutik, dengan lidahnya yang tajamnya melebihi samurai. “Ingat kamu dulunya adalah orang yang makan saja susah, jadi kalau masih mau tinggal di rumah ini, kamu jangan malas,” imbuhnya lagi sebelum Tari benar-benar pergi.

Livy bergeming menatap wanita yang memiliki dua kepribadian, mengayunkan kakinya pergi menjauh dari tempat Livy berdiri. Tangan sebelah kanan Livy memegang dada sebelah kiri, jantungnya memompa darah lebih cepat, secara alamiah emosi pun naik. Wanita itu bukan jelmaan malaikat yang selalu sabar menghadapi cemooh dari mertuanya, andai bukan karena adik-adik panti dan bantuan Tari sangat berarti buat panti asuhan tempat mereka tinggal, sudah Livy bantai balik wanita itu dengan sifat Livy yang bar-bar itu. Selama ini Livy memang pendiam dan terlihat lembah lembut, tetapi kenyataannya Livy memiliki watak yang keras dan juga bisa menyingkirkan sebuah parasit pengganggu.

Namun, Livy tentunya harus berpura-pura nurut, baik, dan lemah lembut demi bantuan tetap di gelontorkan ke panti asuhan ‘Mutiara Kasih’.

“Malas? Sejak kapan aku malas, bahkan hampir setiap hari aku bekerja dari suamiku berangkat kerja dan aku akan berhenti ketika jam pulang kerja suamiku. Bukanya yang malas dia,” umpat Livy pada ibu mertuanya tentu setelah dia pergi. Tentu juga ia sudah memastikan kalau umpatan itu hanya Livy yang mendengarnya, tidak ada antek-antek nenek sihir itu yang mendengar.

Wanita itu ingin protes dengan perlakukan ibu mertuanya yang kejam dan terlihat selalu mencoba menjual kesedihan demi menutupi semua kebusukannya. Namun, lagi-lagi ancamannya yang ingin menghentikan donasi pada panti asuhan membuat Livy harus pasrah, tetapi otak Livy masih saja mencoba mencari cara agar ia bisa membuat ibu mertua percaya pada Livy dan setidaknya berpihak padanya dan dirinya bisa tahu rencana apa yang sebenarnya sedang Tari susun.

“Rasanya tidak mungkin dia sampai memerankan sandiwara dengan begitu apiknya hanya untuk menarik simpati papi Dirga dan Agam. Pasti ada yang rencana lebih sedang wanita ular itu rencanakan,” gumam Livy dalam hatinya.

Di rumah mewah ini Livy seperti seorang musafir yang tengah tersesat dalam perkampungan yang tidak menginginkan kehadirannya. Satu-satunya orang yang ia melihat ketulusannya adalah hanya papi Dirga. Beliau selalu bertanya bagaimana perasaan Livy betah tidak atau sudah makan atau belum? Pertanyaan simpel dan mungkin juga hanya basa basi.

Namun, livy merasa ia terhibur dengan sikap basa basi papi mertuanya, setidaknya ada satu orang yang memberinya semangat. Dan soal Agam? Bahkan Livy pernah mengeluh cape dan ingin menginap di panti, jawabnya selalu membuat Livy seketika terdiam. ‘Aku juga merasa cape kerja, tapi tidak mengeluh’.

Baiklah kali ini Livy juga tidak boleh mengeluh dan ia harus lebih merapatkan barisan, menujukan pada ibu mertuanya kalau Livy adalah menantu yang baik, pengertian dan tidak mudah ditindas.

Huhhh... Livy membuang nafas kasar sebelum ia menyelesaikan tugas-tugasnya yang maha banyak. Rumah yang maha luas dan maha mewah membuat pekerjaan Livy terasa sangat berat, tidak ada hentinya. Apalagi Livy juga bukan ditugaskan untuk beres-beres saja ia juga di tugaskan untuk memasak, belum lagi Livy juga harus tampil cantik, wangi dan bersih ketika suaminya pulang nanti, untuk melakukan tugas yang lain.

“Huh... takdir memang kadang penuh sandiwara.”

Livy tersenyum getir meratapi nasibnya. Nyatanya menikah dengan orang kaya hanya membuatnya terlilit dalam ikatan masalah baru.

...****************...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!