"Maafkan saya Livy, selama ini saya selalu mengabaikan kamu. Padahal kamu adalah wanita yang sangat baik," batin Agam selama dalam perjalanan ke rumah sakit hatinya dipenuhi dengan penyesalan, karena sudah mengabaikan perasaan sang istri. Sepanjang perjalanan Agam pun terus menyesali perbuatannya.
Setelah hampir satu jam melakukan perjalanan kini laki-laki yang masih menggunakan setelan jas dengan rapi pun mengayunkan kakinya dengan langkah panjang. Berbekal petunjuk dari petugas resepsionis Agam pun menuju ruangan rawat sang istri.
Livy menatap pada Agam dengan mata yang kembali berkaca-kaca, ada bongkahan kemarahan pada sang suami ketika dia tidak hadir untuk memberinya dukungan melahirkan buah hatinya. Sedangkan bagi suami lain momen menemani istri lahiran adalah momen yang paling penting dan paling ditunggu. Namun nyatanya berbeda dengan suaminya yang justru membiarkannya sendirian menahan rasa sakit yang luar biasa hingga persendiannya seolah terputus seolah di ambang antara hidup dan mati.
Laki-laki yang baru saja menyandang setatus ayah itu pun berjalan menuju ranjang pasien, dengan ke dua mata tertuju pada sang buah cintanya.
“Mas dari mana saja sih?” tanya Livy dengan suara yang masih lemah.
Agam menghentikan langkahnya sejenak. “Ada kerjaan dan ponsel tertinggal di kantor,” jawab Agam tanpa memalingkan pandangannya dari sang buah hati.
“Hampir delapan jam Mas pergi dari kantor? Saya merasakan kontraksi hingga anak kita lahiran delapan jam Mas, seolah anak itu ingin kalau papahnya yang menemani hadir ke dunia ini, hingga delapan jam aku merasakan sakit yang teramat.” Bongkahan kesal pun coba Livy sampaikan meskipun Livy masih mencoba memakai tutur kata yang sopan dan santun lemah serta lembut, semua Livy lakukan demi suaminya tidak menilainya keras dan menyebalkan. Livy harus tetap terlihat baik sama dengan sang mertua yang juga bermuka dua Livy pun ikut mengikuti caranya.
“Iya maaf, Mas memang kalau sudah kerja suka lupa waktu.” Agam menjawab dengan singkat.
“Lupakan, semuanya sudah berlalu yang terpenting semuanya sehat-sehat saja,” jawab Livy dengan menahan kemarahannya meskipun itu rasanya luar biasa sesak di hatinya. Nyatnya menahan marah itu rasanya sama sangat menyakitkan dengan tahu kebohongan ibu mertuanya yang justru membuat dia terlibat dalam pernikahan yang menyakitkan ini.
Livy pun membiarkan sang buah hati di gendong oleh Agam. Seperti pada seorang ayah pada umumnya Agam pun untuk pertama kalinya mengumandangkan Adzan untuk sang buah hati. Meskipun hal itu sebenarnya sudah dilakukan oleh pertugas medis, tetapi mungkin laki-laki itu tidak ingin kehilangan momen yang belum tentu dia dapatkan di lain kesempatan.
Wanita itu pun hanya diam, memperhatikan sang suami yang nampak sangat bahagia memiliki buah hati. Bahkan Agam entah berapa kali mencium putrinya.
"Mas anak kita akan diberi nama siapa? Livy belum memberikan nama untuk putri kita karena mungkin saja Mas ingin memberikan nama untuk anak kita," ucap Livy setelah beberapa lama dia mendiamkan suaminya, dan mencoba mencari sisi baik dari Agam agar bongkahan kemarahanya hilang.
Agam kembali menatap san istri yang masih duduk dengan lemas. "Apa kamu ada ide?" tanya Agam mungkin laki-laki itu belum memiliki nama untuk sang putri.
"Kalau boleh Livy ingin anak kita diberi nama Oliv," jawab Livy dengan santai. "Itu pun kalau Mas mengizinkanya," imbuh Livy yang melihat wajah sang suami seperti tidak menyukai usulanya.
"Jujur Mas sudah menyiapkan nama untuk putri kita yang cantik ini. Namanya Benazier Syam, tapi nama Oliv juga bagus. Bagaimana kalau namanya Oliv Benazier Syam, ada nama Syam dibelakangnya agar orang-orang tahu kalau wanita cantik ini adalah keturunan Syam. Itu nama dari leluhur Mas," ucap Agam dengan bangga mengenalkan nama belakanya.
Livy hanya membalas dengan senyum samarnya. "Livy terserah Mas saja, nama itu pun cantik yang penting dia menjadi wanita yang baik dan tidak rakus serta tidak bermuka dua," balas Livy dia masih selalu ingat bagaimana kelakuan sang ibu mertua yang sangat menyebalkan itu.
"Ngomong-ngomong apa Mamih tidak menemani kamu?" tanya Agam dengan pandangan mata melihat kesekeliling yang mana laki-laki itu tidak juga melihat wanita yang dia panggil mamih. Meskipun mamih tiri, tapi setidaknya ada untuk menemani menantunya untuk lahiran dan juga sebagai dukungan sang ibu yang akan memiliki cucu.
Livy hanya membalas dengan senyum getir. "Kamu kaya nggak tahu Mamih Tari saja, bukanya dia selama ini lebih mementingkan tim arisanya dari pada keluarganya sendiri," balas Livy wanita itu ingin tahu bagaimana reaksi suaminya apakah kali ini akan berdiri dipihaknya atau justru tetap membela sang mamih tirinya.
Masih seperti biasanya ketika Livy membahas Tari maka laki-laki itu langsung memalingkan pandanganya menatap tajam Livy. "Kenapa kamu selalu bilang seperti itu sih. Mamih Tari itu juga pengganti mamih kandung Mas. meskipun dia adalah ibu tiri, tapi selama ini beliau selalu baik sama Mas dan juga baik sama Papih," balas Agam. Masih sama dengan biasanya.
Maka kalau sudah seperti ini Livy hanya bisa diam, karena sekuat dan benar sekali pun. Livy membongkar kebusukan Tari, yang ada malah Agam semakin menuduh Livy yang tidak-tidak lah. Bahkan dulu Agam pernah nuduh kalau ini semua rekayasa Livy untuk membuat dia benci sama ibu tirinya dengan kata lain dia dituduh berbuat fitnah pada ibu mertuanya. Sejak itu Livy semakin sulit untuk membongkar sisi lain Tari karena wanita siluman ular itu lebih dipercaya oleh Agam dan papih mertuanya.
"Livy tidak akan berbicara seperti itu kalau pada kenyataanya memang baik, tapi sudah lah Mas Livy berbicara fakta pun, akan selalu dituduh dengan menyebar fitnah. Livy sangat cape. Sekarang tolong jaga Oliv karena Livy ingin istirahat dulu. Nanti kalau Oliv haus dan lapar bangunkan Livy saja," ucap wanita yang baru saja menyandang setatus ibu.
Dengan perlahan Livy merebahkan tubuhnya, dan memejamkan matanya yang membikin dia semakin lelah bukan melahirkan sang buah hati, tetapi dia menyiapkan kenyataan kalau pulang nanti, yang bisa saja semakin berat dari sebelumnya.
Agam pun menatap sang istri dengan tatapan yang tajam. "Livy sudah berapa kali mengatakan kalau mamih Tari itu memiliki sifat yang bertentangan dengan dihadapan aku dan juga dihadapan papih Dirga, dalam kata lain mamih Tari itu memiliki dua kepribadian. Apa yang diucapkan Livy itu benar atau justru apa yang diucpakan Livy seperti yang dikatakan mamih Tari, kalau istri aku itu kalau aku dan papih nggak ada dia bermalas-malasan dan juga menghabiskan makanan saja dengan menonton drama korea di dalam kamar," batin Agam terus memperhatikan Livy yang sudah memejamkan matanya.
Namun, entahlah wanita itu benar-benar tidur atau justru hanya mendinginkan otaknya saja. Karena sudah berdebat dengan Agam sehingga otaknya serasa mendidih.
"Tapi kalau memang yang dikatakan oleh mamih Tari adalah kebenaran, kenapa tubuh Livy semakin hari justru semakin terlihat kurus. Seolah istriku justru menanggung siksa batin sehingga dia tampak baik-baik saja di luar, tetapi di dalam batinya dia tersiksa hebat," imbuh Agam lagi mulai curiga dengan perubahan fisik sang istri. Padahal kalau orang hamil biasanya berat badanya akan bertambah sehingga lebih berisi, tetapi tidak berlaku untuk Livy yang mana tubuhnya semakin kurus dan juga terlihat kelelahan setiap ia pulang kantor.
Sedangkan yang Agam tahu sang istri tidak mengidam seperti pada wanita lainnya. Ada makanan apa saja Livy makan bahkan Agam tidak pernah memergoki Livy mual muntah dia termasuk hamil yang tidak rewel.
"Apa yang Livy katakan selama ini benar. Kalau mamih Tari selama ini sering memintanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah," batin Agam, laki-laki itu ingin menyelidiki kebenaranya. Karena kalau benar adanya yang dikatakan oleh sang istri itu tandanya Tari memang sedang mengincar hartanya.
Kembali pandangan Agam dialihkan pada sang buah hati yang masih terlelap di dalam gendonganya.
"Kenapa kamu sangat mirip dengan ibu kamu. Apa kamu tidak mau ikut wajah Papah kamu," batin Agam ketika memperhatikan wajah sang putri yang menurutnya sangat mirip dengan sang istri.
"Ah mirip siapa pun tidak masalah yang terpenting kalian baik-baik saja." Agam pun kembali mencium sang putri yang cantik bak boneka itu.
Apakah Agam akan mulai mencari fakta mengenai Tari? Atau justru kecurigaannya akan terlupakan seiring berjalanya waktu?
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Ana Ana
Agam lelaki bodoh,istri nya sudah bilang gitu n sebaliknya mertuanya juga sama Knpa dia g nyari kebenarannya aja siapa yg sebenarnya bohong g ada gunanya kaya kalau g bisa manfaatin uang buat nyari kebenaran n menyelidiki apapun
2023-03-23
1