Bab 19 - Dinikahi Pocong Tampan
Tiba-tiba, makam tempat Jaya disemayamkan terdengar rintihan. Para pelayat saling bertatapan penuh ketakutan. Beberapa mundur menjauh.
"Aku denger, Na, ada yang minta tolong dari dalam sana!" sahut Risa.
Dari dalam kuburan yang sudah ditutup tanah merah dan taburan bunga itu, sekali lagi terdengar rintihan yang memilukan.
"Tolooooong."
Suara seorang pria terdengar dari dalam gundukan merah bertabur bunga itu
"Waduh, kayaknya itu suaranya si Jaya. Apa si Jaya lagi kena azab kubur, Sa?" gumam Ana.
"Ngaco kamu! Ini terus-menerus minta tolong, loh." Risa menepuk kepala Ana.
"Mbah Karso, apa yang sedang terjadi ini?" pekik Raja Sumardjo yang juga panik mendekat bersama Ratu Melati.
"Saya juga tidak tahu, Paduka Raja," jawab pria paruh baya itu.
"Mungkinkah Jaya masih hidup, Kakanda?" tanya Ratu Melati dengan raut wajah panik dan cemas.
"Bisa jadi, Ratuku. Lekas gali kuburan ini! Kita pastikan anak ku masih hidup atau tidak!" titah Raja Sumarjo dengan nada tinggi berseru.
Secara bergegas, para penggali kubur tadi lantas menggali kembali makam Pangeran Jaya. Sosok pocong itu terdengar merintih dan minta tolong.
Kemudian, setelah makam itu sudah digali, Pangeran Jaya yang dalam wujud pocong itu diangkat ke atas permukaan tanah samping makamnya.
Seketika itu juga, tubuh Jaya mendadak bergerak dan duduk. Hal itu langsung saja membuat geger pihak kerajaan. Mereka dengan kompaknya mengeluarkan teriakan dengan nada sama serta mundur dengan gerakan yang sama.
Pocong Jaya lalu berdiri, mengibaskan kepalanya untuk membuka kapas penutupnya berkali-kali sampai terlepas. Sekuat tenaga ia berusaha melepas ikatan di tangannya.
Pemuda tampan itu lalu membuka semua penutup wajah dan tubuh bagian atas, menyisakan tubuh bagian bawah yang masih berbalut kain kafan lusuh bekas terkena tanah merah. Jaya tersenyum meringis kemudian.
Sontak saja kepanikan terjadi, semua yang hadir di acara pemakaman sontak saja berteriak dan beberapa di antaranya, malah lari serta ada juga yang langsung jatuh pingsan.
Sementara itu, Ana tampak berpelukan dengan Risa, kedua kaki mereka gemetar.
"A-na, a-ada si po-po-poci, eh pocong, Na," lirih Risa.
"A-aku, aku juga tahu dia pocong, Sa, bukan kunti," sahut Ana.
Pocong Jaya terlihat tersenyum lebar ketika mendapati sosok Ana di dekat makamnya. Dia hendak mendekati Ana, tetapi kedua kakinya terikat dalam keadaan dikafani. Jaya malah jatuh terjerembab setelah tak bisa berjalan. Wajahnya menghantam tanah merah tersebut seiring dengan bunyi berdebam.
"Waduh, pocongnya nyusruk!" Ana langsung mundur beberapa langkah bersama Risa menjauhi Jaya.
"Aku mau ketawa, Na, tapi nggak bisa. Aku takut...," sahut Risa.
Mbah Karso lantas menghampiri tubuh sang pangeran. Dia lalu menyentuh wajah Jaya, menaruh jari di bawah hidung pemuda itu. Dia memastikan kalau masih ada embusan napas yang terasa.
"Dia masih hidup, Paduka Raja! Pangeran Jaya hidup lagi!" seru Mbah Karso.
Raja Sumardjo dan Ratu Melati lantas mendekat. Mbah Karso juga meminta Panji untuk membopong tubuh Jaya ke kamarnya agar bisa mereka bersihkan dan menggantikan pakaian Pangeran Jaya.
Mbah Karso menduga kalau Pangeran Jaya mengalami mati suri. Pemuda tampan nan maskulin itu rupanya bangkit kembali setelah dua hari tak bernyawa.
"Turunkan aku dulu, Mbah!" pinta Jaya pada Mbah Karso dan Panji.
Jaya akhirnya diturunkan dan dalam posisi berdiri. Dia menatap Ana sekali lagi. Dia sangat ingin menghampiri Ana.
"Kamu kenal dia kan, Nak?" tanya Ratu Melati.
Jaya mengangguk, senyumnya makin mengembang.
"Dia istri kamu, dia sedang mengandung anakmu," ucap Ratu Melati.
"Is-istriku?" Jaya terperangah.
"Hai!" Ana melambaikan tangannya menyapa Jaya.
Jari jemarinya itu masih terlihat gemetar karena takut.
"Kami menikahkan kalian semalam demi menjaga kehormatan kerajaan dan bayi itu," ucap Raja Sumardjo.
Jaya tersenyum, hatinya merasa bahagia. Dia lalu mencoba bergerak dan akhirnya melompat karena kakinya masih diikat tadi. Jaya menatap Ana dengan lekat. Kedua tangannya bahkan mencoba terulur ke arah Ana.
Jaya menghampiri dan lantas memeluk tubuh Ana. Aroma harum kapur barus tercium dari tubuh Jaya. Perempuan itu gemetar, menangis, dan ingin berteriak tetapi lidahnya kelu. Namun, hati Ana merasa tenang dan damai. Sialnya, Ana menyukai pelukan Jaya.
Sang pangeran Garuda itu sebenarnya masih mengingat Ana selepas hubungan asmara satu malam mereka. Rupanya, pria itu tak pernah lupa pada Ana. Dia bahkan jatuh cinta pada Ana sejak malam itu. Jaya bahkan mencari Ana tetapi tak berhasil menemukan perempuan cantik yang selalu ia pikirkan itu. Akhirnya takdir malah membawa Ana datang sendiri ke Kerajaan Garuda. Jaya melepas pelukannya, lalu mengusap pipi Ana dan memastikan kalau dia sedang tak bermimpi.
"Aku mencarimu, Nona Ana," lirih Jaya.
Ana sebenarnya ingin memaki dan meneriaki Jaya kalau dia juga mencarinya. Ana bahkan ingin menghabisi nyawa Jaya kalau perlu setelah membuatnya bangkrut. Namun, Ana hanya terdiam menatap Jaya.
Kini, sepasang mata Ana dan milik Jaya bertatapan semakin lekat. Lalu, Jaya memberanikan diri hendak mengutarakan perasaan cinta pada sang istri.
"Ana, aku mencin-"
Tiba-tiba, Jaya kembali jatuh tak sadarkan diri ke pelukan Ana.
"JAYA! JAYA BANGUN!" pekik Ana.
Ana menepuk wajah suaminya berkali-kali. Berusaha menyadarkannya, tetapi tak berhasil.
"Bawa putraku ke kamarnya!" Raja Sumardjo lantas memberi titah kembali pada Panji untuk membawa tubuh Jaya ke kamarnya.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
choowie
🤣🤣🤣🤣
2023-09-09
0
ღ☙ Cahyo Utsukushi☙ᰔᩚ
GK negeri ma endingnya mau ketawa ap ngriii🤣🤣🤣🤣😂🗿
2023-08-27
0
Ayuk Vila Desi
jaya mati lagi nih
2023-07-01
0