Bab 9 - Dinikahi Pocong Tampan
"ANA! JANGAN GILA KAMU!"
Risa menarik tangan Ana. Lagi-lagi, sahabat setianya itu menolongnya dan meyakinkan Ana agar tetap bertahan.
"Biarkan aku mati, Sa. Aku bingung dan aku tak siap dengan kehadiran anak ini!" pekik Ana.
"Bukan begini caranya, Na! Kau harus meminta laki-laki itu pertanggungjawaban! Eh, kau harus meminta pertanggungjawaban laki-laki itu pokoknya, Na."
"Bagaimana caranya? Kita nggak tau dia ada di mana?" Ana terlihat frustasi.
"Aku tahu di mana dia berada!" Risa meyakinkan Ana.
"Kau bohong, Sa. Kau hanya ingin menghentikan aku, kan?" tuding Ana.
"Aku tidak berbohong. Aku tahu di mana Jaya berada. Bekas tanda lahir di pinggang pria itu menjadi bukti kalau Jaya merupakan keturunan raja dari Kerajaan Garuda. Aku barusan cek tentang Batik Garuda dan melihat profil kerajaan tersebut di yousube," ucap Risa meyakinkan Ana.
"Lalu, aku harus bagaimana? Datang ke sana dan membunuhnya, begitu?"
"Dasar bodoh!" Risa menoyor kepala Ana.
"Hissh kalau aku bodoh aku akan–"
"Bunuh diri? Itu bodoh, kan?" Risa lantas memperlihatkan layar ponselnya pada Ana.
"Nih, lihat! Kalau kau menikah dengan anak raja, maka masalah keuanganmu akan kembali normal. Bahkan kau bisa menjadi lebih kaya raya, betul kan kataku?" Risa mengerling.
Setelah Ana berpikir dengan singkat, perempuan itu akhirnya setuju.
"Bagaimana kita bisa menemukannya?" tanya Ana lagi.
"Setelah kau keluar dari rumah sakit ini, kita akan ke Pulau Garuda," jawab Risa.
"Baiklah." Ana menurut.
"Mbak, nggak jadi bunuh diri? Saya siap mengajarimu, nih...." Hantu wanita tua memanggil Ana.
Ana menoleh dan langsung menarik tangan Risa untuk berlari.
"Kenapa sih, Na?" tanya Risa.
"Di sini banyak setan, Sa! Huaaaaaaaa!"
Padahal sebelumnya Ana yang sedang labil terlihat cuek dengan hantu, begitu dia mau hidup, rasa takut akan hantu malah menyeruak.
"Cari mangsa baru lagi lah. Manusia labil yang nggak punya iman terus dikit-dikit baper kepenginnya bunuh diri," ucap hantu si sipit.
"Setuju!"
...***...
Setelah diperbolehkan keluar dari rumah sakit dan istirahat dua hari di rumah seraya mempersiapkan perjalanan jauh mereka, akhirnya hari itu Ana mengikuti Risa pergi ke kerajaan tersebut menggunakan kereta api. Menurut Risa, ongkos kereta api lebih murah ketimbang naik pesawat. Hanya saja waktu tempuh akan lebih lama. Ditambah lagi, mereka masih harus menaiki kapal layar untuk menuju ke Pulau Garuda.
Hari ini, stasiun kereta api terlihat lebih ramai dari biasanya. Sembari menunggu kereta tiba, Ana dan Risa hanya membawa tas ransel di punggung mereka. Risa duduk membolak-balik halaman notebook yang ada di tangannya, mencoba mencari kembali detail yang mungkin dirinya lewatkan tentang Pangeran Jaya.
Tiba-tiba, seseorang menepuk bahu Ana, gadis itu menoleh dengan membuka mata lebar melihat ke seorang lelaki yang sedang berdiri di hadapannya. Lelaki itu melihat dirinya dengan tatapan yang konyol.
"Mbak cantik, ada korek?" kata si lelaki asing tersebut. Tubuh kurusnya mengenakan jaket kulit berwarna hitam dan tas selempang hitam. Di sela jemarinya, terselip sebatang rokok.
"Woi, Mbak, punya koreknya? Buat ngerokok, nih!" seru pria itu lagi.
"Kau pikir aku perokok?! Ya, nggak ada lah!" bentak Ana mulai sewot.
Dia menatap lelaki dengan sorot mata yang sengit. Melihat hal itu, si lelaki beringsut melangkah mundur. Takut dengan respons tidak ramah dari perempuan yang berada di hadapannya. Dari kejauhan terdengar seseorang berteriak memanggil lelaki itu.
"Joko, ayo buruan!"
Lelaki di hadapan Ana kemudian menatap kawannya. Seseorang dengan rambut gondrong. Pria agak gemuk itu kembali menoleh kepada Ana sembari tersenyum ke arahnya.
"Jangan galak-galak, Mbak! Nanti ndak dapat jodoh loh," ujarnya.
Mendengar hal itu, hampir saja Ana berdiri menghantam wajah si lelaki yang tidak sopan itu kalau perhatiannya tidak dialihkan dengan tarikan tangan Risa.
"Sabar, Na," bisik Risa.
"Joko, buruan! Wes, asu!" pekik kawan pria itu tadi.
Lelaki itu pun berjalan pergi sembari berkata kepada kawannya,
"Iya, iya, Jangkrik!"
Mereka pun pergi, Ana hanya bisa menggeleng melihat mereka perlahan hilang ditelan keramaian stasiun. Padahal Ana akan kembali bertemu mereka setibanya di Pulau Garuda nanti.
"Kereta kita sampai, Na, ayo naik!" titah Risa.
Ana mengangguk. Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Sudah lebih dari lima jam Ana dan Risa duduk di gerbong kereta. Puluhan orang datang dan pergi,
membuat keduanya bertanya-tanya, apakah kereta itu akan menuju Stasiun Mancur.
"Sa, kamu yakin ini keretanya?" bisik Ana.
"Benar, kok. Lihat aja karcis kita menuju Stasiun Mancur. Dari sana kita cari pelabuhan terus naik kapal buat nyebrang ke Pulau Garuda," sahut Risa.
Tiba-tiba, pandangan mata Ana teralihkan pada hal lain, seorang wanita yang sedang melihat dirinya sembari tersenyum dengan sorot mata yang janggal. Ana mencoba mengabaikan dirinya, tetapi perempuan yang dikuncir kuda itu merasa seolah-olah wanita itu sedang mengawasi dirinya.
Pandangannya tak pernah berpaling sedikit pun dari dirinya. Ekspresinya juga begitu ganjil, membuat Ana merasa tidak nyaman dibuatnya.
"Sa, kok si mbak itu serem banget, sih? Kenapa dia melihatku seperti itu?" bisik Ana.
"Ah, hanya perasaanmu saja kali. Sudah jangan hiraukan." Risa sempat melihat ke arah wanita tadi. Namun, wanita itu sedang berpaling ke arah jendela.
Merasa ada yang salah dengan si wanita berbalut kebaya merah yang tampak asing tersebut, Ana berniat untuk berpindah dari gerbongnya saat ini. Ia mengangkat tas punggung lalu berdiri dari kursinya.
"Kau mau ke mana?" Risa menahannya.
"Aku mau pindah, yuk! Takut aku sama kebaya merah," ajak Ana.
Risa menghela napas sejenak lalu akhirnya setuju dengan ajakan Ana.
Namun, tiba-tiba si wanita tadi melakukan hal yang sama. la ikut berdiri, lalu berjalan mengikuti, hal ini membuat Ana semakin yakin bahwa ada yang salah dengan wanita itu. Pakaian yang wanita tadi gunakan menyiratkan seperti wanita keraton. Atasan kebaya merah, bawahan jarik motif parang, serta rambut yang disanggul berkonde. Wanita itu melangkah pelan-pelan mendekat.
"Ayo, Sa, buruan kita pindah!" ajak Ana yang bergegas pergi.
Sesekali ia melihat ke belakang, tempat si wanita tadi. Wanita itu masih saja berjalan menyusul dirinya. Tidak hanya itu, Ana juga merasa aneh ketika pandangan mata semua orang yang ada di dalam gerbong yang kini dia pijak, malah tertuju ke arah dirinya.
"Sa, kamu merasa ada yang aneh, nggak? Kok, hawa gerbong ini jadi nggak enak, ya?" bisik Ana.
"Untuk kali ini, aku merasa hal yang sama sama kamu, Na. Gerbong ini dingin. Terus kau lihat mereka itu. Kenapa semua penumpangnya pucat, ya?" sahut Risa.
"Duh, jangan-jangan kita ikutan jadi cameo yang lagi syuting film horor," bisik Ana.
"Ngaco, kamu!" sungut Risa.
"Ayo, buruan! Kita pindah gerbong lagi!" ajak Ana.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Ayuk Vila Desi
jangan2 kereta hsntu
2023-07-01
0
Rika93
hororr nihh.. jngan2 naik kereta hantuu😫😫
2023-03-26
0
Sari 🕊
jangan terlalu cepat buat bunuh diri Ana
2023-03-18
3