Bab 10 - Dinikahi Pocong Tampan
Ana dan Risa kembali berjalan berpindah gerbong. Kedua perempuan itu meyakinkan pada diri mereka sendiri bahwa tidak ada yang aneh di dalam gerbong tersebut. Ana dan Risa berusaha menjaga jarak, sementara si wanita berkebaya merah tadi terus mengikuti. Dia berada tidak jauh dari tempat keduanya saat ini.
"Dia ngapain sih ngikutin kita terus?" bisik Ana.
"Tau ah! Nggak mungkin kan kalau dia debt collector," sahut Risa.
"Jangan bicara sembarangan! Hutangku sudah lunas tau!" sungut Ana.
Di gerbong ketiga akhirnya Ana menemukan satu kursi kosong yang berada di sudut gerbong. la dan Risa bergegas menuju kursi tersebut. Dari kejauhan, Ana masih bisa melihat si wanita berkebaya merah tadi yang sedang berdiri, memandang ke arah dirinya.
Anehnya, tak ada satu pun orang yang merasa terganggu dengan kehadirannya. Ia hanya berdiri diam, mematung. Siapa pun seharusnya menegur wanita tersebut agar mau duduk ke kursinya kembali.
Risa meminta Ana untuk mencoba tetap tenang. Perempuan berkacamata itu terus meyakinkan diri bahwa semua masih ada dalam kendali. Meskipun bulu kuduk mereka telah meremang. Dari jendela kereta, hujan mulai turun, sementara, laju kereta mulai memasuki area persawahan.
Ana makin merapatkan jaket. Lalu, memeluk tas punggung sembari sesekali matanya mengawasi ke tempat si wanita aneh tadi yang masih berdiri sedang menatap dirinya.
Di hadapan Ana dan Risa ada seorang lelaki berumur enam puluh tahun yang sedang duduk dalam posisi menunduk. Entah dia manusia atau hantu, begitu batin Ana berkecamuk.
Suhu udara semakin dingin, Ana dan Risa bisa melihat napas mereka mengembuskan udara. Tak lama, lelaki yang ada di depan Ana tampak menggeliat, sebelum akhirnya membuka mata. Sejenak, pandangan mata mereka bertemu, lelaki tua itu mengulas senyum.
"Duh, pake nengok lagi," gumam Ana yang segera berpaling, lalu mengalihkan pandangannya seakan tak Ingin melihat lelaki tua itu. Tak hanya itu, embusan napasnya menjadi lebih cepat, tubuhnya terasa gemetar.
"Aku mau pipis, Na," ucap Risa mengejutkan Ana.
"Duh, hampir copot jantung aku, Sa! Udahlah kau tahan dulu, Sa. Tunggu sampai saja di stasiun." Ana memohon.
"Aku udah nggak tahan, nih. Kau mau aku mengompol di sini?" Risa melihat ke arah toilet dalam kereta api yang terus melaju itu.
Risa lantas bangkit tak mengindahkan Ana. Daripada dia harus mengompol di gerbong, lebih baik dia bergegas menuju ke toilet umum tersebut. Kini, Ana merasa sendirian. Lelaki tua tadi juga bangkit entah menuju ke mana. Mungkin dia risih dan tak ingin mengganggu Ana.
Sementara itu, Risa telah selesai dan keluar dari toilet. Gadis itu terkejut kala mendapati sosok wanita berkebaya merah sudah muncul di depan pintu toilet. Wanita itu menahan tangannya. Risa akhirnya memberanikan diri.
Dia lantas bertanya kepada wanita misterius itu, "Ma-maaf, Anda tak apa-apa, kan? Apa ada masalah sama saya?"
"Pergi dari sini! Cepat pergi dari sini!" titah si wanita itu dengan mata melotot.
Wajahnya terlihat menyeramkan karena ada bekas luka melintang sepanjang pipi ke arah mata.
"Lepaskan saya!" pekik Risa mulai ketakutan.
Ana melihat Risa yang tangannya digenggam oleh wanita tadi. Ana lantas berdiri dari tempatnya duduknya untuk menghampiri Risa.
"Mbak, kenapa ya dari tadi nakutin banget?" tanya Ana menepis tangan wanita itu lalu menarik tangan Risa.
Ana lantas terkejut ketika melihat wanita itu malah menyeringai. Hal ini membuat Ana dan Risa menjadi bingung. Apa yang hendak wanita itu lakukan terhadap mereka?
"Dia kenapa, sih?" tanya Risa.
Ana hanya mengangkat kedua bahu. Dia masih memastikan kalau wanita misterius tadi masih berada di sana. Hal mengejutkan terjadi ketika tak lama kemudian wanita itu mengangkat satu tangannya, lalu menunjuk ke arah gerbong di depan Ana dan Risa.
Tiba-tiba, Ana dan Risa merasa seluruh ruangan ini menjadi sunyi, hening. Keduanya tak bisa mendengar suara apa pun, bahkan rintik hujan dari luar jendela.
Tak lama kemudian, seluruh penumpang yang ada di dalam gerbong tersebut berdiri, memandang ke arah Ana dan Risa dengan pandangan kosong. Kedua perempuan itu lantas terkesiap ketakutan. Ana lantas menggenggam erat tangan Risa.
"Sa, kok keretanya jadi berubah?" Ana mulai panik.
"A-aku, aku juga nggak tahu, Na."
Suasana di luar jendela kereta berubah menjadi gelap seperti malam hari. Sejumlah penumpang bangkit. Mereka menggunakan baju putih. Bahkan penumpang yang menggunakan baju putih itu terlihat pucat dengan tatapan mata kosong.
Ada beberapa sosok yang tubuhnya tak utuh lagi. Pakaian mereka bersimbah darah. Ada yang tangannya buntung dan masih meneteskan darah. Ada pula yang wajahnya terdapat banyak luka dengan bola mata menghilang. Ada pula hantu yang membawa bola matanya sendiri dan menghampiri kedua perempuan tadi. Hantu itu menyerahkan bola matanya pada Ana.
"Mau?" tanyanya.
"Huaaaaaaaaaa!" Ana dan Risa berteriak bersamaan.
"Nggak mau! Buat kamu aja!" pekik Ana.
"I-iya, kamu lebih butuh!" sahut Risa.
"Sa, ayo kita lari!" Ana meraih tangan Risa dan membawanya berpindah gerbong.
Namun, saat berpindah gerbong, Risa dan Ana melihat kelompok orang yang berpakaian aneh. Ada pria bertubuh kekar dengan seragam penjara warna putih. Ada juga pria dan wanita tua yang berpakaian kemeja zaman dahulu yang compang-camping, dan ada juga beberapa anak yang sangat kurus.
"Fix, aku yakin mereka semua hantu, Na," bisik Risa.
"Nenek nenek gila juga tau, Sa, kalau mereka hantu. Masalahnya kenapa kita bisa sampai sini? Kenapa kita bisa ada di kereta hantu?" Bibir Ana terlihat gemetar, tetapi masih menyiratkan kekesalan.
Sekelompok hantu itu berbaris dalam garis panjang. Tangan dan kaki mereka diikat dengan rantai seperti layaknya tahanan penjara.
"Ini kayaknya gerbong pengangkut hantu tahanan ya, Na?" tanya Risa lagi.
"Kayaknya iya gitu. Coba kita jalan pelan-pelan ke arah depan. Siapa tahu kita bisa keluar dari kereta hantu ini," tukas Ana.
Ana dan Risa melewati sosok hantu yang paling depan. Hantu itu sangat besar. Tubuhnya bolong-bolong dengan perut buncit yang penuh luka di permukaan kulitnya. Dia hanya memakai celana yang sobek. Di kakinya ada rantai yang dia seret. Hantu itu seperti monster yang mengerikan.
"Ya Tuhan, cobaan apalagi ini?" Ana mengeluh seraya memeluk Risa.
Sahabatnya itu bahkan sudah menangis ketakutan terlebih dahulu.
"Aku mau pulang, Na. Huuuuaaaaaaaaaa!"
Ana merasakan ada aliran air hangat yang mengalir membasahi kaki kirinya. Ana perlahan menoleh ke arah bawah untuk memastikan. Perempuan ayu itu pikir air itu berasal dari dirinya sendiri, tetapi rupanya tidak.
"Kampret si Risa! Kenapa pake ngompol, sih?"
...******...
...Bersambung dulu, ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Fazlinah Razali
aduh..... lucu sekali..... /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-06-24
0
choowie
ngakak 🤣🤣🤣
2023-09-08
0
ღ☙ Cahyo Utsukushi☙ᰔᩚ
🤣🤣🤣
2023-08-27
0