Bab 5 - Ana Kecelakaan
Di Heavenly Butik, Ana dan Risa menemui Bima di ruangannya. Kala itu, Bima juga tengah bersiap merapikan kantornya.
"Kebetulan kalian ke sini. Aku dan para karyawan akan pergi. Kau benar-benar memalukan, Ana!" ucap Bima dengan ketusnya pada Ana.
"Kau yang membuatku hancur, kan?" Ana mencengkeram kerah kemeja yang Bima kenakan.
Bima lantas menepisnya dab mendorong bahu Ana. Untung saja Risa dengan sigap menangkap tubuh sang sahabatnya itu.
Ana dan Risa lantas mencecar Bima dengan beragam pertanyaan.
"Aku tak tahu apa pun soal video itu! Asal kalian tahu, ya, camcorder ku juga hilang." Bima menegaskan dengan raut wajah yang tak kalah kesal.
"Kau yakin? Ini bukan alasanmu untuk berbohong, kan?" tuduh Ana.
"Untuk apa aku berbohong? Apa untungnya buatku? Harusnya kau sadar kalau ini semua teguran untuk tingkah nakalmu itu!" Bima memilih untuk melangkah keluar dari ruang kerjanya, dan dengan sengaja dia menabrakkan diri ke bahu Ana.
"BIMAAAAAA!"
Ana berteriak dan melempar banyak kertas dan foto dari atas meja kerja Bima. Tungkainya terasa lemas seolah tak mampu menahan bobot tubuh rampingnya. Dia hempaskan bokongnya ke atas sofa. Mengacak-acak rambut dan sesekali masih berteriak.
"Ana! Aku mencarimu sedari tadi." Diana salah satu asisten Ana masuk ke dalam ruangan Bima.
"Apa lagi? Hal buruk apa lagi yang menimpaku hari ini?" Ana menghela napas dalam.
"Astaga! Kau apakan ruang kerja Mas Bima?" Gadis berkacamata dengan rambut keriting yang dikuncir itu sampai tersentak kala melihat beberapa kertas dan foto berserakan di lantai.
Tak lama kemudian, Tomy datang menyusulnya masuk ke ruangan Bima.
"Sudahlah, biarkan saja! Kau bawa kabar apa lagi buatku? Pasti buruk, kan?" tanya Ana.
"Hmmmm, sangat buruk. Para investor dan pihak yang akan memberikanmu endorse menarik minatnya. Mereka tak akan bekerjasama lagi dengan kita," ucap Diana terdengar dengan nada terisak.
"Apa?! Siapa saja yang menarik minatnya pada kita?" tanya Ana memekik dengan kesal sambil menggebrak meja.
"Hampir semua, Na. Ini catatanku." Diana menyerahkan buku binder warna merah muda miliknya.
Ana menelisik dengan saksama.
"Gila! Ini benar-benar gila! Bahkan ada yang masih terikat kontrak dengan kita? Seenaknya saja mereka memutuskan kontrak sepihak. Ini tak bisa dibiarkan, Di!" tukas Ana.
"Tapi, posisi mereka kuat, Na. Kau yang melanggar kontrak dengan skandal ini. Belum lagi hutang butik ini di bank. Cepat atau lambat, mereka pasti akan mengirimkan debt collector yang menyeramkan pada mu," ucap Diana.
"Aaarrrggghhh!" Ana berteriak sekuat tenaga.
Lagi-lagi, kekacauan di ruangan Bima bertambah buruk.
...***...
Malam hari pukul sepuluh di sebuah club malam dalam kota metropolitan, Ana terlihat menikmati pesta dengan segelas wine di tangannya.
"Ana, long time no see. Let's have a party baby!"
Seorang pria tinggi dengan rambut ikal berwarna cokelat, berseru seraya membenturkan dinding gelas kristal berisi minuman memabukkan itu pada gelas milik Ana. Padahal perempuan berparas ayu tersebut sudah terlihat mabuk. Namun, Ana tetap mencoba bertahan. Tubuh ramping nan sintal berbalut dress Channel itu terus bergerak gemulai seiring dentuman musik dalam club malam tersebut.
Desainer muda itu memang menyukai pesta dan kehidupan glamor. Semua yang melekat pada tubuhnya bermerek ternama dengan harga yang fantastis. Meskipun ia terlahir sebagai anak yatim piatu, tetapi Ana bisa mengubah hidupnya. Wanita itu berhasil sukses menjadi perancang busana terkenal.
Namun, kasus video asusila antara Ana dan Jaya malah membuat karir Ana hancur dan memiliki banyak hutang. Banyak investor lama dan yang baru akan menggunakannya sebagai bintang iklan endorse, memilih angkat kaki meninggalkannya.
"Yuhuuu, baby! Let's have a party until dawn!" Ana balas berseru pada pria itu. Dia tak peduli dengan nasibnya kini.
Malam itu, Ana hanya ingin berpesta. Dari kejauhan, dua orang pria bertubuh tegap dan kekar terlihat mengamati Ana dari meja bartender.
"Lihat, Mike! Di sana ada dua pria yang sedang mengamatiku, ya?" bisik Ana di telinga pria bernama Mike tersebut.
"No way! Hapus pikiran nakalmu itu! Mereka terlalu dewasa untukmu. Apa kau berniat menggoda mereka?" tanya Mike.
"Hahaha, kau itu lucu sekali, Mike! Kau pikir aku akan menyukai pria botak yang kepalanya berkilau terkena lampu, begitu? Hahahaha!" Ana tertawa terbahak-bahak.
Tawanya makin pecah bersamaan dengan dentuman musik dan tawa riang serta teriakan beberapa pengunjung di tengah kerumunan para muda-mudi penyuka pesta itu.
Mike lantas izin pergi ke toilet meninggalkan Ana. Tiba-tiba, kedua pria yang Ana bicarakan tadi mendekat.
"Permisi, apa Anda Nona Rizkina Bunga Kusuma?" tanya pria yang berkacamata hitam dan kepala plontos itu.
"Iya, bagaimana kau tau namaku? Oh, sebentar, jika kau berusaha mendekatiku, maaf sekali kau bukan tipeku," ucap Ana sampai menahan perutnya yang terasa sakit karena tertawa.
"Kami juga tidak tertarik pada Anda, Nona. Kami perwakilan dari Bank Sentosa. Anda harus ikut dengan kami untuk mempertanggung jawabkan perbuatan Anda. Hutang Anda sudah lewat tenggat waktu," ucap pria itu.
"Astaga, Bank Sentosa? Memangnya Diana belum membayar hutangku, ya?" tanya Ana.
"Kami belum mendapat laporan kalau hutang Anda sudah dibayar. Kami hanya tahu kalau Anda belum bayar hutang dan harus segera melunasi," ucap pria itu.
Namun, tak semudah itu Ana akan menurut. Dia berniat melarikan diri. Ana lantas saja mendorong dua pria itu sampai jatuh ke lantai dan berseru, "Tolong aku, mereka penjahat yang akan menculikku!"
Sontak saja penjaga club malam tersebut langsung menghadang para debt collector itu. Ana berhasil masuk ke dalam Toyota Yaris miliknya itu. Ana langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesekali dia melirik ke arah kaca spion untuk memastikan kalau dirinya tidak dikejar.
Sayangnya, dua penagih hutang bertubuh besar dan kekar itu berada di belakangnya sambil mengendarai Avanza warna silver.
Kedua mobil itu melaju kencang berkejar-kejaran di jalan raya menembus malam yang semakin pekat. Ana mulai merasa pusing dan beberapa kali oleng dalam mengemudi yang diakibatkan karena pengaruh alkohol.
Sampai akhirnya, wanita itu tak kuasa mengendalikan mobilnya saat menghindari truk besar yang melintas dari arah depannya.
Brak!
Mobil yang dikendarai Ana menabrak pembatas jalan.
...******...
...Bersambung dulu, ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
ღ☙ Cahyo Utsukushi☙ᰔᩚ
IQ athour nya di atas rata² y🗿💅
2023-08-26
1
Ayuk Vila Desi
ana...terlalu santai meskipun udah di kejar2 depcolektor
2023-06-30
0
a y a
ana sih kelewatan, di bawa santuy padahal hidup nya udah ngik ngik sakaratul maut wkwkwk
2023-03-11
0