Bab 14 - Dinikahi Pocong Tampan
Ana langsung menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk membuyarkan pikiran negatifnya.
"Jangan ngaco, deh! Itu cuma hiasan kali, Na," sahut Risa.
"Cuma hiasan, sih, nakutin begitu." Bibir sensual Ana mulai monyong mencibir Risa.
Langkah Ana terhenti, rasanya dia ingin berbalik arah dan kabur.
"Mau ke mana?" Risa menahan Ana.
"Kabur aja, yuk, Sa!" bisik Ana dengan wajah pucat pias ketakutan.
"Gila kamu, Na. Lihat tuh di belakang kamu!" Risa menunjuk dua penjaga yang memegang tombak dan perisai.
Kedua pria tegap itu berada tak jauh dari mereka. Seolah mereka sedang menjaga Ana dan Risa agar tak kabur.
"Jangan macam-macam, Na! Udah kepalang tanggung sampai sini," bisik Risa.
"Iya juga, ya."
Ana akhirnya pasrah dan memilih melangkah kembali. Mbah Karso menoleh lalu memanggil Ana dan Risa untuk membawa mereka lebih cepat melangkah. Ada kelegaan pada diri Ana kala dia sudah berada lebih jauh dari alat hukuman pancung itu.
Tampak tak jauh dari posisi keduanya melangkah, seorang pria tampak berdiri dengan gagahnya di samping kolam ikan kerajaan. Pria itu melempar beberapa butiran pelet warna-warni ke arah kolam.
Dialah Raja Sumardjo, pria berusia enam puluh tahun yang masih terlihat bugar. Pria itu menoleh ketika mendengar sapaan Mbah Karso
"Hormat saya pada Yang Mulia Paduka Raja," ucap Mbah Karso seraya memberi hormat.
Risa menyikut Ana untuk ikut memberi hormat. Para perempuan itu lantas membungkuk.
"Ada apa Mbah Karso repot-repot datang menemui saya?" tanyanya.
Pakaian mewah berhias emas itu semakin membuatnya gagah. Mahkota dengan aksesoris emas dan permata di kepalanya jelas menandakan dia bukanlah orang sembarangan.
Senyumnya terlukis di wajah pria berusia lima puluh lima tahun itu. Meskipun gurat kerutan terlihat kala dia tersenyum, tetapi pria itu masih terlihat sangat tampan. Dagu terbelah itu bahkan persis seperti milik Jaya.
"Mereka datang ke sini untuk menghadap Paduka Raja." Mbah Karso mempersilakan Ana dan Risa untuk maju.
"Siapa Mereka, Mbah, sampai berani menemui suamiku?!" Suara perempuan terdengar bertanya dengan nada tinggi dari belakang Ana dan Risa.
"Ya Tuhan, kaget aku. Kirain hantu Lastri tadi ngikutin kita," gumam Ana.
"Hush! Ngawur kamu, Na." Risa mencubit Ana pelan.
Seorang perempuan berparas ayu dengan tubuh sintal dan kuning langsat, datang menyapa. Wanita bernama Ratu Melati itu mengenakan kebaya hitam dengan rambut disanggul menggunakan hiasan emas. Dengan tampilan yang tampak klasik namun berkelas dan dipadukan dengan batik kawung picis sebagai bawahannya.
Ana dan Risa saling menyikut satu sama lain sampai akhirnya mereka mengerti dengan kode dari Mbah Karso kalau keduanya harus memberi hormat dengan membungkuk.
"Ha-halo, apa kabar–"
"Ana, hormat yang bener!" bisik Risa memotong ucapan Ana.
"Salam hormat kami, Paduka Raja. Perkenalkan nama saya Risa dan ini sahabat saya, Ana." Risa melakukan sembah sungkem. Sontak saja Ana mengikuti.
Ana membungkuk di hadapan Raja Sumardjo dan Ratu Melati, orang tua dari Jaya. Sebenarnya Ratu Melati merupakan ibu tiri dari Jaya. Dia hanyalah istri muda yang tak bisa memiliki keturunan. Namun, Raja Sumardjo sangat mencintainya. Setelah menikah dengan Melati, sang raja tak pernah ingin memiliki selir lagi.
"Begini, Yang Mulia Paduka Raja. Saya mau mengakui kalau saya sedang mengandung anaknya Jaya. Saya dengar dia anak Anda, iya kan?" tanya Ana.
Ana mengatakan tujuannya datang ke Kerajaan Garuda untuk meminta pertanggungjawaban pada Jaya.
Raja Sumardjo dan Ratu Melati tampak melotot. Mereka tak percaya mendengar penuturan Ana yang mengejutkan.
"Jangan ngomong sembarangan, ya! Bisa-bisanya kamu mengaku hamil anaknya Pangeran Jaya!" hardik Ratu Melati.
"Saya punya buktinya, Bu. Eh, Yang Mulia Ratu," tukas Ana.
Dia memberikan foto usg mengenai bayinya dan hasil laporan kehamilan.
"Apa kau yakin ini anaknya Jaya?" tanya Ratu Melati.
"Saya sangat yakin, Ratu. Saya hanya melakukannya dengan Jaya. Kenapa Anda tidak tanyakan saja pada Jaya?" sahut Ana.
"Hmmm, sayangnya kita tidak bisa melakukan hal itu." Raja Sumardjo menyela dan meraih lembaran foto usg itu. Dia mengamatinya dengan saksama.
Tak lama kemudian, ia melempar lembaran itu ke wajah Ana.
"Kau pikir aku bisa percaya dengan foto buram ini, hah?" pekik sang raja.
"Itu foto usg, Pak, eh Yang Mulia. Masa gitu aja dibilang foto berambut, sih?" Ana mulai kesal.
Risa buru-buru menahan Ana agar tidak terbawa emosi.
"Yang Mulia Paduka Raja, saya punya bukti yang lebih akurat, dan saya pastikan Anda pasti mengenali Jaya," sahut Risa membela Ana.
"Apa itu?" Ratu Melati menatap tajam pada Risa.
Gadis itu menyerahkan ponselnya, lalu menunjukkan video yang sempat viral dan menghancurkan karir Ana. Kedua iris cantik sang ratu langsung membulat, begitu juga dengan sang raja. Mereka menatap tajam tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Ratu Melati dengan seenaknya langsung membawa ponsel Risa ke sebuah aula. Dia akan menunjukkan lebih jelas pada suaminya.
"Lah, ponsel aku kenapa dibawa?!" pekik Risa. Gadis itu menarik tangan Ana untuk mengejar sang ratu.
Rupanya Ratu Melati bertindak di luar nalar Risa dan Ana. Sontak saja kehebohan terjadi. Kejadian memalukan langsung menohok Ana. Pasalnya, Ratu Melati meminta Panji, sang asisten untuk menghubungkan video mesum Ana ke layar proyektor.
"Mereka mau ngapain?" bisik Ana.
"Nonton video kamu kayak disidang gitu. Ya, bisa dibilang nobar," sahut Risa.
"Gila! Mereka mau nonton bokep berjamaah, gitu? Haduh, mana badan aku lagi yang bakalan mereka lihat." Ana langsung saja berusaha menutupi adegan panas tersebut yang terpajang besar-besar di dinding.
"Kami mau melihatnya dengan jelas," ucap Ratu Melati.
"Ya, nggak gini juga caranya! Masa ditonton orang banyak? Ratu mau mempermalukan saya, ya?" bentak Ana.
Ratu Melati akhirnya meminta para abdi untuk pergi dari aula kerajaan karena telah membuat malu Ana. Padahal, memang itulah keinginan sang raja untuk memperlakukan Ana. Di permaluka depan banyak orang.
Namun, Risa kembali menarik Ana. Berbekal video panas yang mereka miliki, Ana dapat wmenuntut pertanggungjawaban. Risa memberi ide untuk mengeruk harta kerajaan milik Jaya demi membayar hutang Ana dan mengembalikan kejayaanya lagi.
Ana setuju. Ia tak gentar. Dia bahkan mengancam akan membuka aib kerajaan tersebut ke media. Awalnya, sang raja menolak dan sangat marah. Dia bahkan ingin memerintahkan sang patih untuk menghabisi Ana.
"Duh, gimana ini, Sa?" Ana memeluk Risa. Keduanya ketakutan.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
ღ☙ Cahyo Utsukushi☙ᰔᩚ
agak Laen 🗿🙂
2023-08-27
1
Ayuk Vila Desi
untung nobar nya gak jadi...
2023-07-01
0
Sari 🕊
ginilah orang modern ketemu orang yang masih tinggal di kerajaan 😀
2023-03-18
3