Bab 13 - Dinikahi Pocong Tampan
Ana mengamati Mbah Karso dengan saksama sampai ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Kenapa Kakek menolong kami?" Ana buka suara setelah keheningan yang cukup lama tercipta.
"Saya hanya membantu kalian. Tujuan kalian ke Pulau Garuda, kan?" tanyanya.
Ana mengangguk. Dia sampai mengejutkan Risa yang sudah terlelap dan menyandarkan kepala di bahunya. Risa sampai mengusap bekas air liur yang menetes di sudut bibirnya yang agak tebal.
"Apa, Na?" tanya Risa.
"Nggak ada apa-apa. Sudah kamu tidur lagi aja!"
Ana lantas menoleh lagi ke Mbah Karso.
"Tujuan saya juga ke Kerajaan Garuda. Saya tau tujuan kalian, maka saya menolong kalian. Perkenalkan nama saya Mbah Karso," ucapnya seraya mengulurkan tangan pada Ana dan Risa.
Ana dan Risa menjabatnya bergantian seraya memperkenalkan diri.
"Saya mau kamu sampai di Kerajaan Garuda dengan selamat. Saya tau tujuan kamu dan saya butuh bantuan kamu," ucapnya dengan tatapan menuju pada Ana.
"Bantuan saya, Mbah?" Ana menunjuk dirinya sendiri.
Mbah Karso tersenyum sambil memegang janggutnya berkali-kali.
"Bantuan apa, Mbah?" tanya Ana lagi.
"Nanti kamu juga tahu. Sekarang, sebaiknya kalian beristirahat saja dulu," ucap Mbah Karso.
"Apa masih lama sampai?" tanya Ana.
"Sekitar satu jam, Nak." Mbah Karso merebahkan bokongnya di salah satu kursi di atas kapal itu.
Meskipun rasa penasaran Ana sangat menyeruak tak tertahan, Risa meminta Ana untuk menurut. Pria tua itu ada benarnya. Mereka butuh istirahat setelah perjalanan melelahkan dan menyeramkan tadi.
...***...
Ana dan Risa sampai. Mereka memasuki wilayah yang layaknya komplek pemukiman besar yang meliputi sejumlah komplek yang lebih kecil, di mana satu sama lain dipisahkan oleh lapangan terbuka. Tanah-tanah lapang digunakan untuk kepentingan publik, seperti pasar dan tempat-tempat pertemuan.
Beberapa warga yang mereka lintasi juga masih memakai pakaian kain batik dan lurik. Meskipun telah hidup di dunia modern tetapi para warga itu masih saja memakai pakaian berjenis kebaya zaman dulu.
"Mbah Karso!" Seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun menghampiri.
Anak itu mengenakan kaus putih bergambar kartun Minnie Mouse dan bawahan rok batik sepan. Rambutnya terurai indah.
"Cah ayu, ada apa?" Langkah Mbah Karso terhenti begitu juga dengan langkah kedua perempuan di belakangnya.
"Mereka siapa, Mbah? Apa mereka sinden baru di sini?" tanyanya.
"Bukan, Nduk. Mereka tamu di sini," ucap pria tua itu seraya mengusap lembut rambut bocah perempuan itu
"Oh begitu. Oh iya, Mbah, kemarin temanku Nina meninggal," ucapnya.
"Hmmmm, begitu rupanya. Kalau magrib jangan keluar rumah ya, Nduk. Sana segera kembali pada ibumu!" titah Mbah Karso.
Anak itu mengangguk lalu kembali pada ibunya yang sedang memikul jagung. Keduanya lantas pergi.
"Mbah, maaf sebelumnya, kenapa kalau magrib nggak boleh keluar? Apa nanti dia meninggal," tanya Ana.
Pria paruh baya itu tidak menjawab. Dia hanya tersenyum lalu mempersilakan Ana dan Risa untuk kembali melanjutkan langkah mereka.
Ana masih tak mengerti siapa pria paruh baya yang membawanya kala itu. Namun, pria tua ini pasti orang terpandang dan dihormati di wilayah tersebut karena sedari tadi beberapa warga yang menyapa pasti menundukkan kepala mereka sebagai tanda memberi hormat.
Ana dan Risa akhirnya sampai di sebuah bangunan megah. Tembok batu merah tebal lagi tinggi mengitari bangunan yang mereka yakini sebuah kerajaan. Pintu besar di sebelah barat menghadap ke lapangan luas. Di tengah lapangan itu mengalir parit yang mengelilingi lapangan. Di tepi benteng ada hiasan patung-patung berbentuk setengah hewan di bagian bawah dan setengah manusia di bagian atas, berderet-deret memanjang. Di sisi gerbang yang mereka lintasi ada tempat tunggu para perwira yang sedang meronda menjaga Paseban.
"Hormat kami, Mbah Karso," sapa salah satu penjaga.
"Apa Paduka Raja masih ada di istana?" tanya Mbah Karso setelah membalas sapaan dengan anggukan kepala.
"Paduka Raja masih berada di istana, Mbah."
"Terima kasih, saya mau membawa tamu kita untuk menemui raja," ujar Mbah Karso.
Mereka dipersilakan masuk ke dalam istana. Mbah Karso memanggil dua orang wanita yang merupakan abdi dalam kerajaan. Mereka menyambut kedatangan Ana dan Risa.
"Ambilkan pakaian bersih untuk mereka. Dan bersihkan kamar yang ada di dekat taman untuk tamu ini!" titah Mbah Karso
"Baik, Mbah." Kedua abdi dalam itu langsung meminta Ana dan Risa untuk mengikuti mereka.
Namun, langkah mereka terhenti sejenak kala seorang pria datang menghadang.
"Siapa yang kau bawa ini, Datuk!" Pria dengan tinggi 180 cm dengan tubuh tegap berisi, kulit gelap, dan rambut dikuncir kuda itu menyapa.
"Dia gadis yang ku cari. Kau harusnya ingat dengannya?" Mbah Karso menunjuk ke arah Ana.
Pria bernama Panji itu mengamati Ana dengan saksama.
"Astaga! Dia perempuan yang ditemui Pangeran sebelum—"
"Katakan pada Paduka Raja kalau mereka akan menemuinya," ucap Mbah Karso memotong perkataan pria bernama Panji itu.
Lantas, Mbah Karso meminta Ana dan Risa untuk mengikuti para abdi dalam.
Setelah keduanya berganti pakaian, Mbah Karso lantas membawa Ana dan Risa menemui sang raja.
"Sa, kamu yakin kita akan baik-baik saja, kan? Nanti gimana kalau raja marah terus kita dihukum begitu," bisik Ana yang langsung terhenyak ketakutan kala melewati alat pemenggal kepala.
Mungkinkah ia akan mendapat hukuman pancung karena mengaku hamil anaknya Pangeran Garuda? Tetapi kenapa akan diberi hukuman sekejam itu?
...*****...
...To be continued. ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Ayuk Vila Desi
ini si Panji asistennya jaya bukan
2023-07-01
0
Sari 🕊
sampai juga mereka, udah lepas dari kereta hantu itu 🙊
2023-03-18
3
Miss
ketemu Mbah Karso, akhirnya mereka diantar juga ke kerajaan Garuda. dikenal pulak mereka sama Mbah Karso, Panji juga ada asisten jaya
2023-03-18
4